
Dimas dengan wajah berseri merasa lega, setidaknya sudah hampir sampai inilah detik-detik pertemuan, dengan seseorang yang sangat ia rindukan, "Biar saja om, nanti juga pasti pasti bertemu, terus aja jalan pasti ketemu kok," ucap Dimas ia ingin memberi kejutan pada calon istrinya.
Mobil terus melaju melewati jalan, mata Dimas tak pernah lepas dari semua sisi kanan dan kiri tiba-tiba ia melihat di depan sebelah kiri ada sebuah papan nama gang, "Berhenti Pak.?" mobil berhenti.
Dimas tak lekas turun dari mobil melainkan masih duduk di dalam mobil, mengedarkan pandangannya, ke bawah tepat sebelah kiri ada sebuah jembatan dan di depannya ada dua rumah yang satu permanen masih baru, dan satunya lagi nampak rumah agak tua, namun sedikit ada bekas renovasi.
Detak jantung Dimas mulai tak beraturan, berdebar begitu kencang, Dimas menarik napas begitu dalam kemudian ia hembuskan, om Fadil sudah berdiri di luar berdiri di samping pintu mobil, "Yang mana rumahnya Dimas.?"
Dimas tak menjawab, kini Dimas tengah menutup pintu, dan mengambil koper bawaannya, mata Dimas tertuju ke dua rumah yang diseberang jembatan, begitupun dengan mata om Fadil mengikuti pandangan Dimas tersebut.
"Aku yakin dia tinggal diantara dua rumah itu om.!" jawab Dimas dengan pandangan tak lepas dari tempat yang di tuju.
Perlahan tapi pasti Dimas berjalan turun, menuju jembatan tersebut, dalam pikirannya, rumah pertama yang menghadap jalan, pasti rumah Mamanya Anisa, ya itu adik Naya, dan yang ini menghadap dinding rumah yang pertama, pasti tempat tinggal kekasih hatinya, kedua rumah teresebut berdempetan, sehingga kalau mau ke rumah ketiga rus masuk gang tepatnya depan rumah Naya.
Dengan perlahan, Dimas berjalan belok masuk gang, yang ya itu depan rumah, di sana ada teras tempat duduk, tak ada seorang pun di tempat tersebut, terus berjalan akhirnya menemukan pintu yang terbuka, dan di sana ada seorang wanita berambut panjang di ikat biasa, pakaian sederhana, badan nampak berisi, pipi gembul, tengah duduk di teras dapur dengan kaki menjuntai ke bawah, ia sibuk dengan Ponsel, katanya dia punya hobi baru ya itu menulis novel.
Mungkin dia tidak menyadari akan kedatangan Dimas yang berdiri depan pintu, sementara om Fadil dan supir duduk di teras luar.
"Assalamu'alaikum..? Dimas mengucap salam dengan seutas senyuman, ia yakin kalau wanita tengah duduk itu adalah Kanaya yang ia cari, Naya mendongak kan kepalanya, menoleh ke sumber suara,
"Wa'alaikum sa_lam...!" bengong, seolah tak mengenali Dimas.
Dimas langsung masuk menghampiri Naya ia berlutut tepat didepannya ia memeluk Naya, "Yang aku datang, aku penuhi janjiku selama ini pada dirimu."
__ADS_1
Naya kaget bukan main, mulanya ia berusaha menolak pelukan Dimas, namun menyadari kehadiran Dimas, ia terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, sangat terharu, akhirnya bertemu juga dengan orang yang selama ini di nantikan, seakan tak percaya dengan pertemuan tersebut, mengingat sudah terlalu sering rencana pertemuan gagal dengan beribu alasan.
Dimas terus memeluk tubuh Naya, tak perduli di lihat orang, yang penting ia dapat meluapkan kerinduan yang selama ini terpendam, dengan rasa yang masih tak percaya, tangan Naya memeluk punggung Dimas.
Air mata terus mengalir, Naya tak mampu berkata-kata hanya air mata saja yang keluar, sebagai ungkapan isi hatinya, ia merasakan betapa nyaman pelukan orang yang ia sayang, dan selama ini dekat dengannya hanya lewat suara kini benar-benar nyata, dan dapat di rasakan sentuhan darinya.
Beberapa saat mereka berpelukan, dengan dada yang bergemuruh, jantung yang berdetak begitu kencang, sesaat mereka berdua hanyut terbawa perasaan,
Perlahan Dimas melepas pelukannya, Dimas memandang wajah yang selama ini hanya dekat dengan suaranya, kini benar-benar nyata ada depan mata, "Sayang jangan menangis lagi, ada aku yang akan selalu mendampingi dirimu dalam suka maupun duka, akan senantiasa menjagamu, bagai manapun adanya dirimu," Dimas menangkup kedua pipi Naya dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
Naya yang mendengar ucapan Dimas, semakin terharu, hingga bertambah deras tetesan air mata di pipinya, Dimas menghapus air mata Naya dengan jarinya.
Kali ini Naya membuka bersuara, "Tapi aku lumpuh yang.., aku tak pantas untukmu, aku tidak mungkin bisa tuk menjadi istri yang baik, untuk dirimu, aku lumpuh." Naya menunduk dalam.
Dimas beranjak dari berlututnya, kemudian duduk di samping Naya, ia baru sadar kalau mobil belum di bayar, "Bentar sayang." Dimas keluar menemui om Fadil dan supir, ternyata mereka tengah berbincang dengan orang tua Naya, Dimas berjabat tangan dengan beliau, dia yakin kalau dia Bapaknya Naya, dan baru sadar kalau adegan yang tadi itu di tonton banyak orang rumah.
Dimas mendekati supir, "Pak makasih ya.? sudah mengantar saya ke tempat tujuan dengan selamat.?" Dimas memberikan beberapa lembar uang pada supir, keduanya berjabat tangan.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya pamit pulang, semoga lancar dan betah Pak." kata supir tersebut tersenyum.
"Iya Pak, pasti." sahut Dimas dengan rona wajah yang penuh kebahagiaan.
Naya baru menyadari mungkin adegan pelukan tadi di saksikan orang rumah, wajahnya menjadi memerah, kini hatinya merasakan betapa bahagia, namun ada rasa was-was yang lumayan besar, takut terjadi ini itu, ataupun terjadi sesuatu yang tak di harapkan, sehingga di wajahnya ada sebuah kecemasan.
__ADS_1
Dimas membawa koper, kembali mendekati Naya yang masih duduk di tempat semula, Dimas membuka kopernya dan mengambil sebuah cincin, yang ada huruf DK dari sana, Dimas berjongkok di depan Naya. "Maukah menikah denganku.?" dengan tatapan penuh harap.
Dengan pandangan mata yang nanar, perasaan Naya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, seutas senyuman getir di bibir seakan menggambarkan segalanya.
"Jawablah sayang,?" jantung Dimas semakin berdebar, menunggu jawaban dari Naya.
"Tapi...,aku--!" ucapannya terpotong oleh Dimas, sembari menggeleng. "Aku tidak butuh alasan apapun, kecuali jawaban iya atau tidak.?" seakan penuh penekanan, meskipun tau pasti Naya bakal terima, karena buat apa bertahun-tahun dinantikan, jika akan di sia-siakan.
Pandangan Naya tertuju pada cincin itu, sesekali melihat manik mata Dimas yang nampak tulus mencintainya, Perlahan Naya mengambil cincin dengan senyuman yang merekah, "Aku mau,"
Betapa bahagianya hati Dimas mendengar jawaban dari wanitanya, ia segera pasangkan cincin itu di jari manis Naya, untung saja ukuran cincinnya standar jadi pas di jari Naya.
Semua yang ada di rumah itu turut bahagia akan kebahagiaan Dimas dan Naya, mereka saling melempar senyuman.
"Begitu nampak raut wajah yang bahagia dari keduanya." lirih om Fadil, yang memandangi Dimas&Naya.
Dimas menatap lekat wajah wanitanya, dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya, alangkah bahagianya ia saat ini, mungkin tinggal menghitung jam saja untuk mereka memasuki hubungan yang lebih erat, ya itu suami istri.
Dimas mendekati Naya hendak memeluk dengan tangan yang sudah di rentangkan, namun Naya mencegah dengan menggeleng kepalanya pelan, Dimas menoleh kebelakang dengan senyumannya, akhirnya hanya menggenggam erat tangan Naya.
"Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri sayang, siap-siap ya.?" Dimas pelan, Naya hanya mengulum senyumnya.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih kepada yang masih setia mengikuti kisah Naya dan Dimas.🙏 terus dukung aku ya reader ku, agar aku tambah semangat dalam berkarya, tepatnya sih, belajar berkarya, terus lake, komen, dll nya yang kalian lebih mengerti lah.