Bukan Mauku

Bukan Mauku
Dari lubuk hati


__ADS_3

Pada para reader semua maaf ya, aku jarang up kerena aku sedang asik membaca novel orang, sebab kalau aku asik membaca membuat malas menulis hihihi..


,,,,


"Mas, pesan sandwich satu, jus orange satu, oya kamu mau pesan apa dok.?ucap Karmila melirik Dimas bergantian dengan pelayan kafe.


"Em...,apa ya.?" Dimas sedikit berpikir. "Sandwich aja sama dengan nona ini, dan minumnya jus Apple aja." tambah Dimas pada pelayan kafe yang segera menyediakan pesanan pelanggannya.


Karmila tersenyum. "lama ya kita tidak bertemu atau ngobrol, seperti waktu masa-masa kuliah dulu" kenang Karmila.


"Benar, tapi sekarang sudah berbeda" sahut Dimas.


"Oya, kau tak datang ke pernikahan Dino dan Silvi kah.?" tanya Karmila mengaduk minum yang sudah ada.


"Aku, datang ke sana.! kenapa.? malah kau tak ada di sana waktu itu." Dimas mengerutkan dahinya.


"Justru itu aku cari-cari kau tapi tak aku temukan di sana, aku pikir kau tak datang ke sana." Karmila menyedot minumnya.


Dimas berpikir sejenak, "Kalau boleh tahu ada hubungan apa kau sama Dino atau Silvi.?" Dimas menyelidik, menelungkup kan tangannya di meja.


Karmila mengibaskan rambut panjangnya, dengan senyum merekah memandang wajah Dimas. "Oh, dia itu sepupu aku Dim,"


"Oh," Dimas melihat kearah pelayan yang membawa pesanan, mengangguk pelan.


"Silahkan, selamat menikmati.?" kata pelayan kafe membungkuk kan badannya, lalu pergi.


"Makasih," Dimas menyandarkan badannya di kursi,


"Mari kita makan.!" ajak Karmila mendekatkan piring sandwich dan minuman Jusnya.


Begitupun Dimas, tak butuh waktu lama untuk melahap sandwich itu, tak ada kata yang terucap ketika mereka makan, hanya suara garpu yang bertemu piring.


Dimas meminum Jus apple pesanannya, lalu ia menautkan kedua tangan di dagu, "Sebenarnya ada apa ya mengajak ketemuan di tempat ini.? emm mungkin ada hal yang penting gitu.? yang harus di bicarakan.?" dengan tatapan lekat.


Menerima tatapan yang begitu lekat dari Dimas membuat hati Karmila dag, dig, dug tak karuan, bergemuruh tak menentu, Karmila hanya tersenyum mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.


"Padahal dulu ketika satu kampus biasa aja gak ada yang aneh seperti sekarang" batin Karmila.


"Kenapa tak menjawab.?" tatapan Dimas semakin lekat seakan menusuk ke dalam jantung.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, aku cuman pengen ngobrol aja." dia memalingkan muka dari tatapan Dimas karena malu.


Dimas keheranan, "Cuma itu.?"


Kamila ngangguk pelan, sembari menghabiskan Jusnya. "Aduh hati kompromi dong jangan tak karuan begini.?" batin Karmila menutupi rasa gugup yang tak menentu.


"Oya, sudah malam, gimana kalau kita pulang saja.?" ajak Dimas melihat jam di tangannya.


"Baru jam sembilan Dim. bentar lagi lah.?" Karmila manja.


"Tapi...,besok saya sibuk, jadi takut besok kesiangan" elak Dimas, dengan pandangan dari jam tangan.


"Kalau soal sibuk sih, sama, gak bisa bentar lagi nongkrong dulu bah.?" pinta Karmila sedikit manja.


Dimas beranjak menggeser mejanya, jaket yang asalnya di tenteng sekarang di pake, "Kalau kau masih mau disini sih silahkan, aku mau pulang" tegas Dimas, mengambil kunci motor dari meja.


"Uh, dasar kau ini dari dulu masih aja keras kepala" gerutu Karmila sambil berdiri membereskan kursinya.


Dimas memanggil pelayan tuk membayar pesanannya tadi, "Biar aku yang bayar Dim.!" kata Karmila mengambil uang dari dompetnya.


"Gak, aku aja yang bayar" sahut Dimas memberikan uang pada pelayan itu, dan berjalan meninggalkan tempat itu.


Karmila menyimpan kembali uangnya ke dalam dompet dengan senyum merekah.


Tanpa menoleh Dimas berkata. "Ambil aja"


Akhirnya mereka berjalan berdampingan keluar menuju parkiran.


"Kau membawa kendaraan.?" melirik Karmila yang merogoh dompet mencari kunci mobil miliknya.


"Iya, aku bawa mobil kok." Karmila menunjukan sebuah kunci, Dimas berdiri di dekat motornya memakai helm dan menyalakan mesin, dan sebelumnya berpamitan pada Karmila, yang di balas dengan anggukan, kemudian ia melajukan motornya meninggalkan begitu cepat.


Karmila yang masih berdiri hanya bisa menatap kepergiannya.


Setibanya di rumah, Dimas langsung masuk ke dalam kamar, membuka jaket, meletakkan jam tangan, kunci di meja, ia merogoh saku mengambil ponselnya, mencari kontak my love.


Tut, tut, tut...! panggilan tersambung.


"Halo, sapa seseorang dengan suara parau.

__ADS_1


"Halo, sayang sudah tidur kah, gimana kabarmu.?" tanya Dimas mendudukkan tubuhnya di kasur.


"Hmm, iya sudah tidur, ada apa? telepon malam-malam.?" tanya Naya mencoba membuka matanya.


"Sayang bukan kah sudah biasa, kalau aku suka telepon malam-malam.?" Dimas sedikit heran.


Naya yang baru nyadar bahwa yang bicara dengannya itu Dimas. "Sayang,? apa maksudnya panggil aku sayang.? sejak kapan?" ia bingung apa Dimas mabuk atau apa.


"Iya sayang, sejak kapan.? ya..., sejak sekarang, mulai sekarang aku akan panggil kamu sayang.!" Dimas menyeringai.


"Aku gak ngerti.! kenapa begitu.?" ia tak mengerti maksud Dimas. sedangkan Dimas menggaruk kepala yang tak gatal.


"Uuh...,! dengar aku baik-baik ya.? aku sayang kamu" ucap Dimas menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Aku tau kalau kamu sayang sama aku, dari dulu kan.?" Naya dengan polosnya.


Dimas yang mendengar itu tersenyum bahagia, "Itu kamu tau yang.?"


"Terus,? aku harus bilang apa.?" tanya Naya kebingungan.


"Apa kamu sayang sama aku, pasti kamu gak sayang sama aku iya kan.?" goda Dimas sedikit merajuk.


"Aku sayang kamu kok" jawabannya tak terduga meski itulah sesuatu yang di harapkan oleh Dimas.


"Tapi...,!" Naya menghentikan sejenak ucapannya.


"Tapi apa kak.?" Dimas penasaran.


"Selama ini aku sayang sama kamu tapi sebagai kawan, sebagai adik, itu kan yang kamu bilang dari dulu.? hi..hi..hi." ujar Naya, pikiran melayang-layang.


Mendengar ucapan Naya membuat hati Dimas menjadi melengos, "Gak kak, bukan begitu maksudku.! sesungguhnya aku sangat sayang, aku cinta sama kamu dari sebelum kamu menikah dulu." ujar Dimas sembari menyandarkan bahunya di bahu tempat tidur.


Mata Naya yang tadinya ngantuk berubah seketika, ia membelalakkan matanya. "Apa benar yang di katakan Dimas kali ini hmm.?" ia selalu tak menanggapinya dengan serius, bila Dimas berkata seperti itu, tapi sampai detik ini kata-kata yang sama, selalu terucap lagi dan lagi.


"Tahu kah kamu, aku sangat sedih dengan apa yang kamu alami, aku kecewa kau menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak bertanggung jawab padamu." Dimas menghela napas dalam.


Naya hanya termangu mendengar ucapan dari Dimas, ia mendengarkan dengan sangat serius.


"Aku pun harus tahu diri waktu itu aku punya kekasih, semakin lama aku semakin menyadari, bahwa aku telah jatuh hati pada seseorang yang belum pernah aku temui, melihat wajahnya saja hanya dari sebuah gambar, namun aku sangat yakin aku sudah jatuh cinta, aku jatuh cinta sama kamu, dari lubuk hati yang dalam aku cinta kamu, aku gak rela kamu di sakiti orang, aku gak rela" Dimas lirih ia berkata benar-benar dari lubuk hatinya yang terdalam.

__ADS_1


,,,,


Ayok dong reader semua yang sudah mampir meninggalkan jejak dong komen sebanyak-banyaknya. jangan lupa lake juga. dukung aku agar tambah semangat guys..!


__ADS_2