
"Wa'alaikum salam..,? hati-hati ya,?" ucap Naya, memandangi kepergian Dimas menuju garasi.
Naya balik ke kamar mengerjakan kebiasaannya, di tengah-tengah aktifitasnya.
Bi Taty mengetuk pintu, dan berkata, "Bu..,? Bibi berangkat belanja dulu ya.?
"Iya Bi hati-hati,?" sahut Naya dari dalam kamar.
"Baik Bu,? Assalamu'alaikum.,?" bi Tati pergi meninggalkan kamar Naya yang tertutup.
"Wa'alaikum salam..," gumam Naya pelan, selesai duha, Naya membereskan peralatannya.
Kemudian Naya perlahan berjalan ke dapur mau membuat kue, seperti yang di rencanakan dari sebelumnya.
Naya mengumpulkan satu demi satu bahan yang akan ia gunakan, kali ini ia mau bikin kue kering, aja buat mengisi toples, tapi.., Naya ingat di sini kan setidaknya dekat sama mertua, ia ingin mengirim kue kek.
Naya mulai membuat adonan buat kue kek nya, kemudian di panggang, di oven listrik.
Bi Taty baru pulang dari belanja, membawa banyak sekali belanjaan, "Maaf Nyonya Bibi lama,? pulangnya, habis macet."
"Gak apa-apa Bi, yang penting selamat sampai tujuan," ucap Naya lirih.
"Ia Bu, alhamdullah," sahut bi Taty sambil membereskan sayuran ke lemari pendingin, "Oya Bu ini kembaliannya," bi Taty mendekati Naya menyodorkan selebar uang lima puluh ribu, Naya memandangi uang tersebut.
"Ambil aja bi, buat jajan," Naya memberikannya pada bi Taty.
"Beneran, buat Bibi Bu,?" bi Taty seakan tak percaya.
"Iya Bi simpan aja," Kata Naya fokus dengan kerjaannya, membuat adonan kue kering.
"Makasih Bu, makasih ya Allah,?" bi Taty menadahkan tangan ke atas dan bibirnya komat-kamit.
Naya sekilas tingkah bi Taty, "Ya Allah.., semoga bermanfaat," gumam Naya dalam hati.
"Bu itu lagi memanggang apa,? kenapa gak nunggu Bibi dulu, biar Bibi yang kerjakan," mengambil minum dan meneguknya.
"Nggak apa-apa Bi, baru ini juga." sahut Naya sembari menggiling kacang, oya Bi tolong ambilkan minum haus."
"Baik Bu," memberikan segelas air putih pada Naya.
"Makasih Bi,? oya Bi nanti siang katanya aku mau di ajak keluar, jadi tolong di bereskan bikin kuenya ya,?" Naya menatap bi Taty penuh harap.
"Iya Bu, pasti Bibi bereskan, jangan khawatir sudah tugas Bibi ini mah," jawab bi Taty.
Kue kek yang pertama sudah matang dan siap di kasih toping, sementara yang satu lagi baru di masukan oven oleh bi Taty, selesai ngasih toping, Naya di bantuin bi Taty mencetak buat kue keringnya.
"Setelah kek yang satu lagi matang, Bibi bersiap masak aja, mencetak biar aku dulu yang ngerjain, sebelum aku bersiap-siap pergi.
"Baik Bu,?" sahut bi Taty mengangguk pelan, tak lama menunggu kek yang ke dua sudah matang, dan setelah di kasih toping di masukan cup besar lalu disimpan di tempat sejuk.
"Emang ini buat ke mana ya Bu,?" tanya bi Taty menatap Naya yang tengah menunduk asik mencetak kue.
"Hah, iya Bi, itu buat mertuaku, kalau yang satu buka aja Bi buat di makan kok," Naya mengangkat kepalanya.
"Siapa yang akan mengantarkan nya Bu,?" tanya bi Taty lagi.
"Ojek online kan ada Bi," kata Naya lirih melirik asistennya.
"Oh, iya he..,he.., masak apa untuk makan siang Bu,?" tanya bi Taty.
"Em.., sup aja Bi sama ayam goreng, kalau Bibi mau makan sama apa,? terserah, gimana maunya Bibi aja," Naya melirik sekilas,
"Bibi mah apa aja juga jalan Bu,!" sambil mesem.
Naya pun tersenyum tipis, memasukan kue ke dalam loyang, tuk di masukan ke oven, "Bi kalau Bibi sibuk, setelah yang ini matang matikan aja ya,? nanti aja kalau sudah tidak sibuk dilanjut laginya.?"
"Baik Bu," bi Taty mengangguk.
Ningnong...
__ADS_1
Ningnong...
Ningnong...
Bunyi suara bel, "Tolong Bi di lihat siapa,? kalau ojek online suruh aja temui aku dan masuknya lewat dapur aja.?"
"Baik Bu," bi Taty keluar lewat pintu dapur, menghampiri tamu yang berada di depan,
Tak lama bi Taty kembali bersama ojek online, "Bu, ini orangnya dari ojek online."
"Em.., tolong Bi bingkisannya di kasihkan,? maaf tolong ya Bang antarkan ke alamat ini, dan ini ongkosnya, terimakasih sebelumnya,?" ucap Naya memandangi bi Taty dan ojek online bergantian.
Orang tersebut mengangguk hormat, "Baik Bu, terimakasih sudah mempercayai saya."
Kemudian orang tersebut keluar membawa sebuah cup berisi kue, yang akan diantarkan ke alamat yang sudah tertera dalam secarik kertas.
Usai orang itu tiada, "Ya sudah Bi, aku masuk ya,? Bibi sholat dulu aja kompor matikan aja, masaknya santai saja Bi.?"
"Iya Bu, hati-hati bu jalanya," ucap bi Taty melihat majikannya berjalan seperti gontai banget, khawatir jatuh.
"Iya Bi, aku tinggal dulu Bi,?" Naya berjalan menuju kamar miliknya, setelah berada dalam kamar ia duduk di sofa sebentar, lalu beranjak lagi mendekati kamar mandi untuk mengambil air wudhu, ia mau sholat dulu, setelah itu baru ia ingin sementara waktu berendam dalam bathub, "Malas rasanya harus pergi-pergi, mendingan diam di rumah saja," gumam Naya dalam hati, sambil menghirup aroma terapi.
******
Dimas setelah mengenakan helm, langsung menancap gas, melajukan motornya meluncur ke jalan raya menuju Rumah Sakit, di belakang Dimas ada sebuah mobil mewah, pengemudinya sangat cantik dan modis, sepasang matanya sesekali memperhatikan seorang pria yang mengenakan jaket hitam, menaiki sebuah motor, ya itu Dimas.
Selang beberapa puluh menit motor Dimas sampailah di pelataran RS, ia menepikan motornya, turun dan membuka helm, mengenakan kaca mata hitam, berjalan menenteng sebuah tas di tangan kanan, sementara tangan kiri di masukan ke dalam saku.
Tiba-tiba Citra berjalan mendahului Dimas dan bahunya menyenggol bahu Dimas, "Pagi dok.?
Dimas berhenti melangkah, "Pagi juga, sembari menggeleng, Citra berdiri tepat depan Dimas.
"Ups, sorry dok," sambil menyeringai, "Mari dok, saya duluan,?" berjalan melenggak-lenggok begitu indah, sembari mengibaskan rambut bergelombangnya ke belakang, niatnya ingin mencari perhatian sang pujaan hati yang kali ini dia rasa penampilannya begitu menarik.
Namun Dimas sama sekali tak menghiraukan, ia menunduk, sesekali melirik kearah lain, sementara para mantri dan dokter lain yang khususnya masih muda begitu memukau berdecak kagum dengan kecantikan Citra, penampilannya begitu modis dan seksi, mengenakan kaos Stretch yang sangat menonjolkan lekuk tubuh dengan sempurna.
Banyak yang menggoda Citra, diantaranya, "Nona cantik godain saya dong,? mau gak kencan sama saya satu malam saja.?"
Dimas terus berjalan dan mempercepat langkah kakinya menuju ruangan kerja, kini Dimas sudah duduk di kursi kebesarannya, seorang dokter muda menghampiri.
"Pagi dok,? wah.., pagi-pagi sudah di suguhi pemandangan body gold nih, jadi iri saya,?" ujar Endro tertawa sinis.
"Kau suka kan,? ambil bro,? aku sudah punya di rumah yang halal, yang bisa saya pake kapan pun saya mau, ha..,ha..,ha..," Dimas tertawa lebar sembari membayangkan istrinya.
"Beneran nih,? wah.., saya sih bukan suka lagi, banget, siapa sih yang gak suka sama wanita secantik dia," Endro berdecak kagum sambil menggeleng.
"Dekati bro sampai dapat, saya dukung bro," kata Dimas penuh dukungan.
"Terimakasih bro,? oya rencananya saya mau main ke rumah kau nanti sore, boleh,? ucap Endro dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya sih boleh, tapi.., kebetulan ada rencana keluar bersama istri, takutnya gak gak buru-buru pulang, gimana kalau hari minggu saja,?" ujar Dimas.
"Em.., sibuk ya,? hari minggu.., lihat nanti lah," kata Endro.
"Ok lah, sorry ada pasien," Dimas menunjuk pasien dan suster memasuki ruangan tersebut.
Endro pun beranjak dari duduk dan meninggalkan Dimas.
Beberapa jam kemudian, Dimas sudah menangani pasien, ia berjalan melintasi koridor, mau ke kantin mau minum kopi, dari belakang terdengar suara Citra memanggil, tanpa menoleh Dimas terus berjalan
"Dok, tunggu,? ih..," Citra setengah berlari mengejar Dimas sampai ngos-ngosan, "Mau ke kantin ya,? sama-sama ya.?"
"Iya," singkat Dimas terus berjalan, kini Citra berjalan dengannya berdampingan.
"Gabung bro,?" tiba-tiba Endro mengikuti dari belakang.
Citra menoleh dan cemberut, "Ganggu aja," gumam Citra dalam hati.
"Yuk bro dengan senang hati," Dimas melebarkan senyumnya pada Endro yang berjalan di sebelahnya.
__ADS_1
Mereka bertiga sampai di kantin, Citra duduk berdekatan dengan Dimas, karena dimana Dimas duduk pasti Citra pun duduk, sebelum minuman datang Dimas berdiri dengan alasan mau ke toilet, nah Endro ada kesempatan nih untuk dekeketi Citra.
Endro duduknya pindah ke tempat Dimas, "Buat apa kau pindah duduk,?" Citra memutar bola matanya yang bulat nan indah itu, dan Endro hanya nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Senyum-senyum, kau ganteng apa,?" ucap Citra dengan sinis.
"Hei.., Nona cantik, coba kau lihat aku dengan benar, wajahku tak kalah tampan dari Randy pangalila, senyumku juga nih,?" Endro memperlihatkan senyuman manisnya yang emang mirip dengan Randy sang bintang sinetron tersebut.
Citra menatap Endro lekat-lekat, "Iya sih tampan juga, tapi lebih tampan si Dimas deh," batin Citra.
"Tampan kan,? Nona, kau saja tak melihatnya," Endro memainkan alisnya,
"Hah kau aja terlalu perasa, geer," Citra menggeleng sambil menyedot minumnya.
Dimas keluar dari toilet, mau bali ke meja, melihat Endro tengah mendekati Citra, Dimas tersenyum senang, "Sebaiknya aku tinggalkan mereka saja berdua kebetulan bentar lagi jadwal pulang," Dimas melihat jam di tangannya, sambil mengendap-ngendap berjalan tak ingin kelihatan oleh Citra, kini Dimas sudah jauh meninggalkan mereka, mengambil barang-barang di ruangannya.
"Pulang dok,?" sapa seorang suster pada Dimas yang berpapasan di koridor.
"Iya sus, mari, saya duluan," Dimas mengangguk, begitupun suster tersebut membalas dengan hormat.
Setelah mengenakan helm Dimas menaiki motornya tak menunggu lama langsung menancap gas melaju dengan kencang, yang ada dalam pikirannya adalah sang istri di rumah.
Tak selang lama Dimas sudah sampai di halaman rumah, sengaja tidak memasukan motor ke garasi karena mau keluar lagi bersama sang istri, sebenarnya Dimas juga mempunyai mobil namun di simpan di tempat orang tuanya, karena untuk ia pribadi lebih suka memakai motor, tapi mengingat sekarang sudah punya istri biar lebih mudah kalau jalan ia berencana akan mengambil mobil tersebut.
Ia membuka helm dan di gantungkan pada motor, kunci ia masukan saku, "Assalamu'alaikum..?
"Wa'alaikum salam.., Tuan," bi Taty dari dapur.
"Ibu mana Bi,? istri saya,?" sambil berjalan.
"Di kamar Tuan," sahut bi Taty sambil balik lagi ke dapur untuk mengerjakan tugasnya.
Clik, kenop pintu di putar dan pintu terbuka, namun Naya tidak ada, Dimas memasuki kamar tak lupa menutup pintu, terus berjalan menyimpan tas dan ponsel juga kunci di atas meja.
"Sayang,?" panggil Dimas sambil mendekati pintu kamar mandi, terdengar suara gemercik air dari sana, pelan-pelan Dimas membuka pintu, "Ahhhh," setengah menjerit Naya terkejut melihat suaminya berdiri di tengah pintu, ia menutupi bagian atasnya dengan tangan, kebetulan pinggulnya masih dalam air.
"Yang, ngapain teriak,? nanti kedengaran orang, nanti di kira ada ap lagi,? Dimas masuk dan menutup dan mengunci pintu, lantas membuka pakaiannya untuk bersih dengan sawer,
"Ih, gak lihat apa,? ada orang lagi mandi, gak bisa nunggu sebentar aja tunggu aku keluar dulu," gerutu Naya cemberut.
Dimas hanya menyeringai dan mendekati bathub mau masuk, Naya segera memalingkan mukanya, ia belum berani menatap utuh tubuh sang suami meskipun sudah haknya, Naya tetap merasa malu.
Dimas bukannya masuk ke bathub malah berdiri depan Naya, "Kenapa memalingkan muka sayang,?" goda Dimas.
Tanpa memandang Naya menggerutu, "Heran, gak tau kah kalau aku malu, kenapa sih yang gak nunggu aku keluar dulu.?"
Dimas masuk ke dalam bathub bersama Naya, duduk berhadapan, "Kenapa sih sayang kelihatannya kesal banget sama aku,? apa salahnya sih mandi bareng,? kemarin-kemari pernah kan,?" dengan lirih serta mendekati sang istri, "Jangan marah ah,? nanti hilang cantiknya."
Dimas memegang dagu sang istri agar tak melihat tembok melainkan melihat dirinya, perlahan Naya pun melihat wajah Dimas, cup.., Dimas mencium kening sang istri, lalu turun b****, Naya sangat menikmati perlakuan lembut suaminya, "Sebentar ya sayang,?" Dimas menatap penuh harapan, sesata bersitatap dan akhirnya Naya mengangguk.
Akhirnya mereka melakukan olahraga siang sebentar, dan mereka sangat menikmatinya sampai-sampai hampir lupa akan rencananya tuk pergi ke spesialis, Dimas membersihkan diri memakai sawer lebih dulu, kemudian memakai handuk, Naya yang sudah mengenakan handuk mandi langsung Dimas bopong ke kamar, Naya mengalungkan tangan di leher Dimas, di dudukannya di kursi rias.
"Yang barusan hampir ketarik tuh handuk, untung kuat ikatannya," Naya melihat handuk suaminya.
"Kalau sampai terbuka kau yang harus tanggung jawab," sambil mengeringkan rambut istrinya dengan handuk bergantian dengan rambut dirinya.
"Loh, kok aku yang tanggung jawab sih,? kan gak sengaja,?" elak Naya sambil memakai losein di tangan.
Dimas berjalan mendekati lemari tuk mengambil pakaiannya, dan juga punya istrinya, "Kalau sampai terjadi, aku akan minta jatah lagi, lagi dan lagi, ha..,ha..,ha.."
"Ih, dasar mesum," Naya bergidik dan menyisir rambut panjangnya.
Setelah keduanya rapi Dimas berjalan mau keluar, berbalik bada istrinya msih duduk di tempat tidur, lantas Dimas balik lagi, mengendong istrinya ke tempat makan, di sana bi Taty masih memnggang kue kering, "Sedang apa Bi,?" tanya Dimas sambil duduk.
"Ini memanggang kue kering," sahut bi Taty menoleh majikannya.
"Coba saya cicipi Bi,? satu aja, mau makan nasi sih," sambung Dimas.
"Baik, Tuan,?" sambil membawa beberapa kue di piring kecil, di simpannya di depan Dimas.
__ADS_1
,,,,
Terimakasih reader ku🙏 masih berkenan mampir di novel ini, semoga kalian suka, kalau gak suka ya.., gak maksa sih, hi..hi..! jangan lupa lake, komen, kasih rating dan vote nya, terimakasih..🙏