Bukan Mauku

Bukan Mauku
Dimas panik


__ADS_3

"Hem.., kenyang, makasih sayang,?" Dimas membereskan piring bekasnya makan ke atas meja dekat sofa, lalu mengajak Naya berbaring dan tidur, "Sayang, malam ini libur dulu ya bulan madunya, aku capek,?" bisik Dimas di telinga Naya, dan Naya hanya tersenyum simpul.


Pukul 07.00 Naya baru bangun, karena habis shubuh mereka tidur kembali, Naya melangkahkan kakinya ke kamar mandi tuk bersih, lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower, terasa segar, tak lama kemudian Naya keluar dengan jubah mandinya.


Usai mengenakan pakaian dengan rapi dan wangi, duduk di depan cermin lalu menyisir rambutnya, terus mengikatnya sederhana, Naya beranjak mendekati sang suami yang masih nyenyak bak baby tengah tidur pulas.


Naya memainkan jari-jemarinya dari dada hingga ke pipi Dimas, dengan pelan menusuk-nusukan jarinya ke pipi Dimas, "Yang.., bangun.?"


Namun Dimas tek bergeming, masih seperti semula, kemudian Naya mengecup pipinya, barulah Dimas bergerak dan membuka matanya sedikit, "Bangun, kan sudah tidur,?" Naya tersenyum.


"Hem..," gumam Dimas dengan malas.


"Bangun yang, sudah siang,?" sambil mengelus dada Dimas yang tanpa pakaian.


"Masih ngantuk yang, lagian hari libur ini, kalau hari kerja gak mungkin Ayah tiduran kaya gini,?" dengan masih memejamkan mata.


"Emang siapa juga yang bilang ini hari kerja,?" Naya menyandarkan kepala di bahu Dimas yang masih tiduran, "Yang.., stok di dapur sudah menipis, belanja yuk,? ajak aku belanja sekali-kali, di biarin di rumah terus yang, gak mau kah mengajak aku jalan-jalan,?" ujar Naya sembari memeluk sang suami.


"Kasih aja Bibi uang belanjanya, biar belanja sendiri, kan beres,?" dengan malasnya.


"Kalau gitu, aku ikut Bibi aja belanja ya? boleh ya,?" Naya bangun dan duduk bersandar di bahu tempat tidur.


"Hem..," gumam Dimas.


"Beneran boleh,?" Naya menatap lekat.


Dimas membuka matanya, "Beneran apa,?" sambil mengucek matanya dan duduk di samping Naya.


"Aku mau ikut belanja sama Bibi, boleh ya,?" ucap Naya penuh permohonan.


"Nggak, gak boleh, kecuali sama aku,?" Dimas menatap mesra.


"Sayang juga gak mau ajak aku,?" ucap Naya memalingkan muka.


Dimas mendongakkan kepala dan memejamkan mata, "Ya sudah, aku mandi dulu,?" dengan malasnya, Dimas turun dari tempat tidur menuju kamar mandi tuk bersih-bersih.


Naya juga turun dari tempat tidur, menyiapkan pakaian untuk Dimas, lalu beres-beres tempat tidur,


Tak lama Dimas kembali, dengan begitu segar, Dimas langsung mengenakan pakaian di bantu Naya merapikannya, mengeringkan rambut dan menyisirnya.


"Yang, mau di bikinkan sarapan apa,?" tanya Naya sembari menyisir rambut Dimas yang duduk di bawah.


"Nggak, kita makan di luar saja, yuk kita berangkat,?" Dimas berdiri dan mengulurkan tangan Ke Naya, Naya hanya menatap tangan itu.


Naya turun dari tempat tidur, tak lupa mengenakan kerudungnya, Naya melangkahkan kakinya mengikuti Dimas yang sudah lebih dulu berjalan membukakan pintu.


Dimas menunggu Naya, setelah Naya melintasi pintu, Dimas hendak menggendong Naya namun Naya menolak dengan alasan, "Sayang duluan aja panaskan mobil dan bilang sama Bibi tuk siap-siap ikut belanja," ucap Naya mendongak melihat wajah tampan suaminya.


Dimas termenung sebentar, lalu mengangguk dan berlalu dari Naya, "Hati-hati yang,?" Dimas memandang cemas.


"Iya, tenang aja yang,?"sahut Naya sembari memasukan ponsel ke sakunya.


Dimas mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga, Naya di belakang mengikuti, menuruni anak tangga, sampai di bawah mata Naya mencari keberadaan bi Taty, bi Taty keluar dari kamarnya sudah siap, "Bi sudah siap.?"


"Sudah Bu" sambil berjalan mendekati Naya, "Mari Bu,?" ucap bi Taty, Naya dan bi Taty berjalan beriringan, menghampiri Dimas yang tengah memanaskan mobilnya.


Dimas tersenyum memandangi istrinya, "Sudah kuat jalan jauh sayang.?"

__ADS_1


Naya pun membalas dengan senyuman, "Alhamdulillah yang, lumayan jauh, meski masih banyak capeknya sih ketimbang kuatnya."


"Tidak apa-apa yang, segitu juga sudah ada kemajuan," Dimas mengusap lengan Naya dan membukakan pintu mobil untuk segera duduk di sebelah kemudi, sedangkan bi Taty duduk di belakang.


"Bibi turut bahagia melihat Ibu sudah ada kemajuan jalannya Tuan," sambar bi Taty dari belakang, Dimas menoleh ke arah bi Taty.


"Iya Bi, tolong jaga dia ketika saya tidak ada ya Bi,?" pinta Dimas pada bi Taty sambil menutup pintu, lalu mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi, "Sebentar, pintu rumah sudah di kunci belum.?"


Naya melirik kebelakang, melihat bi Taty, "Sudah Tuan,?" sahut bi Taty.


Dimas menjalankan mobilnya setelah memasang sabuk pengaman masing-masing, dengan pandangan fokus ke jalan Dimas begitu gesit memainkan kemudinya.


Tak lama di jalan mereka sudah sampai di swalayan terdekat, Dimas turun membukakan pintu untuk Naya, namun Naya malah bengong, "Yang, aku tunggu di mobil aja ya,? kamu sama Bibi aja belanjanya," ucap Naya dengan ragu.


"Kalau gak mau turun, buat apa ikut,? tunggu aja di rumah selesai," Dimas kesal, bi Taty sudah di luar dan menatap majikannya,


"Ayok Bu,? katanya ingin belanja,? bosan di rumah,? yuk sama Bibi jalannya,?" ujar bi Taty.


"Aku malu," Naya masih terdiam di mobil, ck.., Dimas membopong Naya dan membawanya ke dalam swalayan di ikuti oleh bi Taty dari belakang.


Naya melingkarkan tangan di leher Dimas, "Yang sudah turunkan aku, biar aku jalan sendiri," pinta Naya setengah berbisik.


"Bukan kah malu,? untuk jalan, sudah biar aku gendong, eh duduk di troly ya biar aku dorong," Dimas menyeringai.


Bi Taty menyodorkan troly ke dekat Dimas, dan Dimas mendudukkan Naya di troly lalu mendorongnya, mulanya Naya merasa malu tapi lama-lama merasa seru, di wajahnya tak lepas dari senyuman, sesekali memilih dan mengambil belanjaan di simpan di troly yang bi Taty bawa, Dimas dengan senang hati mendorong sang istri.


Naya melihat boneka besar-besar dan lucu-lucu membuat Naya sangat tertarik, "Yang..,?" panggil Naya melirik Dimas yang melihat sebuah merek produk di tangannya.


"Hem apa sayang,?" mengalihkan pandangannya pada Naya, lantas Naya menunjuk ke arah boneka yang berjejer dengan rapi, Dimas menoleh ke arah yang Naya tunjukkan kemudian membawa Naya ke sana.


Naya terkagum melihat boneka tersebut, dengan mulut menganga, Dimas mengambilkan salah satu boneka panda bertuliskan love, "Ini suka gak yang,?" memberikan pada Naya, yang langsung Naya mengambil dan memeluknya.


Sejenak Dimas terdiam dan memperhatikan boneka-boneka tersebut, "Kalau boleh sih, kalau gak boleh juga tidak apa-apa kok," ucap Naya lagi, dengan nada sedih.


Dimas menoleh pada Naya yang memeluk bonekanya, "Kata siapa gak boleh,?" Dimas mengusap kepala Naya, "Yang mana,? aku ambilkan."


Naya sumringah wajahnya begitu cerah dan sangat antusias, "Beneran boleh,? beneran sayang boleh,? aku kirim buat keponakanku.?"


Dimas memberi isyarat dengan matanya dan anggukan, "Boleh lah, uang sayang yang pegang juga kok, mau yang mana biar aku ambilkan,?" lantas Naya menunjuk dua boneka besar yang dia suka dan Dimas mengambilkannya, "Biar langsung di bungkus aja yang, dan langsung di paketkan ke alamat yang di tuju," ucap Dimas memegangi boneka tersebut.


"Yang, he..,he..,he.., ambil dua lagi ya,?" titah Naya, sambil tertawa kecil.


"Buat siapa lagi yang,?" Dimas mengerutkan dahinya.


"Satu buat anaknya Sandy dan satu lagi buat cucu Bibi Taty," Naya tersenyum.


"Oh," Dimas membulatkan mulutnya, "Ok lah," Dimas mengambil dua lagi, Naya turun dari troly, dan semua boneka di simpan ke troly.


"Sudah belum,?" tanya Dimas melirik Naya, yang berdiri di sampingnya.


"Sudah cukup yang, oh ya bi Taty mana,?" Naya celingukan mencari bi Taty.


"Bibi menunggu di kasir yang, kalau sudah membeli bonekanya, kita bayar, eh sayang yang bayar, kan uangnya di sayang,?" ucap Dimas mendorong troly yang berisi boneka menuju kasir, "Bisa gak jalannya,?" tanya Dimas pada Naya yang berjalan di belakangnya.


"Bisa, tapi pelan, jangan terlalu cepat yang capek," sahut Naya.


"Iya yang, pelan-pelan aja, hati-hati juga," Dimas memelankan langkahnya.

__ADS_1


Setelah sampai di kasir, benar saja bi Taty sudah menunggu di sana, "Ya ampun Bu, memborong boneka panda sebanyak itu,?" bi Taty berdecak tak percaya.


"He..,he..,he.., iya Bi," sahut Naya.


Naya membayar belanjaan keperluan dapur, lalu membayar boneka, yang dua di bungkus rapi karena mau di paketkan, sementara yang tiga di bungkus dengan plastik saja, usai semua selesai, bi Taty membawa barang-barang ke mobil, Dimas dan Naya berjalan pelan bergandengan.


"Sayang, lapar nih makan dulu yuk,?" seru Dimas pada Naya.


"Boleh, makan di mana,?" tanya Naya.


"Tuh di depan ada resto,?" ucap Dimas menunjuk resto yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Naya melihat ke arah yang Dimas tunjukkan, "Bi sudah siang makan dulu yuk,?" Naya melirik bi Taty yang berdiri dekat mobil.


"Baik Bu,?" mereka masuk ke dalam resto dan memesan menu makanan dengan selera masing-masing, namun makannya tetap saja pasti satu untuk berdua.


Benar saja setelah makanan datang, Dimas dan Naya makan dalam satu piring, dan seperti di rumah Dimas makan dari tangan Naya istrinya, tidak perduli orang sekitar memperhatikan, dan berbisik "So wet," ada juga yang berbisik "Ih manja," namun Dimas dan Naya tidak perduli.


Sementara bi Taty sudah merasa biasa dengan tingkah laku majikannya, mau di rumah mau di luar sama aja, selalu mesra, selesai makan mereka beranjak, dari tempat duduknya, ada lagi yang berbisik, "Kok istrinya jalannya gitu ya tidak normal,?" ada juga yang berkata, "Suaminya begitu tampan, tapi istrinya biasa aja," Naya mendengar itu wajahnya memerah dan malu, dan Dimas terdiam wajahnya merah padam, giginya mengerat, merasa kesal buat apa orang-orang di situ menggunjingkan mereka.


Dimas ingin nyamperin orang yang menggunjingkan mereka namun lengannya Naya pegang erat, "Yang kita pulang,? tidak perlu nyamperin mereka buat apa, pulang yuk.?"


Dimas mengikuti perkataan Naya, berjalan menghampiri mobilnya, Dimas membukakan pintu mobil, Naya pun masuk dan duduk, setelah memasangkan sabuk pengaman Dimas mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi, setelah memastikan bi Taty sudah berada dalam mobil, Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.


Naya ketakutan dangan kecepatan mobil yang begitu cepat, "Yang jangan ngebut aku takut,?" beda dengan bi Taty yang santai aja, namun Dimas tak mendengar kan Naya dia tetap mengemudikan mobil dengan kecepatan sangat tinggi.


Naya menangis ketakutan dan memang jantungnya sedikit lemah, hingga berdebar begitu sangat kencang, berdetak tak teratur, "Yang hentikan,?" pekik Naya mencengkram lengan Dimas, membuat Dimas memelankan laju mobilnya dan melirik Naya yang sangat ketakutan, detak jantungnya terus berdebar dan merasa sesak.


Dimas panik, ia membuka jendela biar udara masuk, mobil menepi dan berhenti, "Kenapa sayang,?" Naya tak menjawab, hanya menetralkan detak jantungnya dan mengusap air matanya di pipi.


"Ibu, tidak apa-apa,?" tanya bi Taty mengusap bahu Naya.


Naya tetap tidak menjawab, dadanya masih terasa sangat sesak, Dimas membingkai wajah Naya dengan kedua tangannya, "Sayang jangan buat aku cemas sayang, sayang tidak apa-apa kan hem...?"


Naya menggeleng pelan, "Sepertinya Ibu belum terbiasa dengan kecepatan mobil yang ngebut Tuan,?" ujar bi Taty, dan Dimas pun melihat bi Taty sesaat, Dimas menghela napas dalam, lalu memberi minum air putih pada Naya.


Setelah meneguk air putih Naya agak lumayan tidak terlalu sesak di dadanya, ia bersandar ke belakang kursi, "Jalan yang, tapi.., jangan ngebut,?" Naya memejamkan matanya.


Dimas menatap lekat dan membelai pipi istrinya, lantas mendaratkan ciumannya di kening sang istri, kemudian Dimas melajukan mobil dengan kecepatan sedang, Naya tertidur.


Dimas fokus dengan setirnya walau sesekali melirik sang istri yang tertidur, terlihat wajahnya sedikit pucat, "Maafkan aku sayang,?" gumam batin Dimas.


Tak selang begitu lama, kemudian Mobil sudah sampai di halaman rumah, langsung masuk garasi, "Bi keluarkan dulu semua belanjaannya, simpannya nanti aja setelah semua di keluarkan,?" perintah Dimas.


"Baik Tuan," bi Taty mengeluarkan semua belanjaan dari mobil, setelah semua di keluarkan, baru dia bawa ke dapur satu/satu, Dimas mau membantu namun di cegah bi Taty, "Tuan biar semua ini Bibi yang bereskan, Tuan urus Ibu saja."


"Tapi.., Bi,?" belanjaannya kan banyak," ucap Dimas menatap bi Taty.


"Tidak apa-apa Tuan, biar Bibi saja, sudah biasa kok, sudah urus Ibu aja, bawa Ibu ke kamar,?" titah bi Taty.


"Saya juga akan mengurus istri saya Bi tapi.., niatnya mau bantu Bibi dulu sebentar," sahut Dimas sambil membuka pintu mobil, untuk membopong Naya yang masih tertidur.


"Tidak apa Tuan, Bibi bisa sendiri," Bi Taty membereskan belanjaan ke dapur.


Dimas membopong Naya ke kamarnya di lantai atas, Dimas menaiki anak tangga dengan hati-hati menggendong Naya, sesampai di kamar Dimas menidurkan Naya di atas tempat tidur, dengan sangat pelan tak ingin Naya terbangun, Dimas pasang selimut sampai dada, Dimas menggenggam tangan Naya dan menciumnya, "Maafkan aku sayang,?" cup Dimas menciumi tangan Naya.


Dimas meletakkan tangannya di atas dada Naya, detak jantungnya sudah lumayan normal, "Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi padamu yang,?" gumam Dimas lirih, dan berbaring di samping Naya, tangannya memeluk erat Naya.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2