Bukan Mauku

Bukan Mauku
Gak mood


__ADS_3

Memang benar pria itu dari tiga puluh menit yang lalu mondar-mandir di sekitar rumah, kira-kira🤔 siapakah pria misterius tersebut...??


"Hem.., emang mencurigakan ya Bi,?" tanya Naya.


"Iya Bu, mondar mandir gitu."


Naya mendekati jendela melihat ke sekitar rumah, "Bi, itu bukan.?"


Bibi pun mendekati, "Iya Bu, mukanya serem, badan tinggi gede, kucel juga, iih" Bibi bergidik.


Naya memperhatikan pria tersebut, "Nggak ah gak kenal aku, emang gak di tanya ada keperluan apa gitu,?" Naya menoleh Bibi.


"Tidak, Bibi takut."


"Ya udah tenang aja, belum tentu dia jahat, lanjutkan aja pekerjaan Bibi," dengan lirih.


"I-iya Bu," Bibi turun kembali menuju dapur untuk meneruskan tugasnya.


"Oya Lisa, semua kemas dengan baik ya, jangan sampai ada yang salah," ucap Naya pada asistennya.


"Baik Bu," Lisa mengangguk.


Naya duduk di sofa dengan kertas putih dan pensil di tangan.


Dari jauh terdengar sayup suara adzan magrib, mengajak umat muslim untuk istirahat dan menunaikan kewajibannya, Naya beranjak, bergegas masuk kamar, suaminya masih di posisi yang lama fokus dengan laptopnya.


"Magrib yang"


"Siapa yang bilang duhur,?" sembari menutup laptopnya.


"Jadi gak ke dokter kandungannya,?" tanya Naya menatap lembut suaminya.


"Nggak, dokter nya sibuk, harus bikin janji dulu kan, jadinya besok lusa aja."


"Hem..," Naya dan suami bergantian masuk kamar mandi mengambil air wudu.


Usai sholat, lanjut membaca al-quran bersama, setelah itu Naya turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Naya membantu menata masakan di atas meja makan, "Bi, besok kamar atas ya sebelah kiri kosongkan karena mau di jadikan ruang mesin kerja 'ku, untuk mengangkat barang suruh aja orang yang biasa Bibi mintai tolong."


"Oh, mau di jadikan ruang kerja ya Bu,? melirik majikannya.


"Bener Bi, dan satu lagi, kamar di sebelah kamar Bibi di bersihin juga, karena akan ada pasangan suami istri, yang mau kerja nemenin Bibi di sini."


"Siapa Bu.?"


"Mereka yang kemarin menjaga aku selama di luar daerah itu loh Bi," ujar Naya mengenang waktu itu.


"Oh.., jadi Bibi akan ada temennya ya.?"


"Iya, biar Bibi gak sendiri dan capek sendiri, oya Bi lama deh gak makan kue, bikinkan dong Bi kalau ada waktu, sekalian buat cemilan,"


"Baik Bu, nanti Bibi bikinkan, gimana sudah gak mual Bu.?


"Wih.., masih mual kok tapi kadang-kadang sih," sahut Naya sambil memakan buah.


Lisa yang turun dari tangga, bersiap pulang karena sudah waktunya, setiap hari Lisa pulang ke kosannya karena di sini tidak di sediakan penginapan, "Permisi Bu,? saya pamit pulang dulu."


Kanaya menoleh ke arah Lisa, "Oh iya, makan dulu lah Lisa."


"Ah.., tidak, Lisa ada janji sama kawan, jadi Lisa harus pulang, permisi," ucap.Lisa seraya memutar balik badannya.

__ADS_1


"Oh, ya udah hati-hati ya.?"


Angelica bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut, Naya menatap punggung dia sampai hilang dari pandangan.


Kanaya mendekati anak tangga lalu mendongak, "Sayang, makan dulu yuk,? pekik Naya hingga suaranya bergema di seluruh ruangan.


"Ngapain sih teriak-teriak gitu,?'' tegur bu Hesa, Naya nyengir sembari menoleh Mama mertua.


Tak lama Dima menuruni tangga, "Apa sayang..,?" nyamperin Naya kemudian Duduk berdampingan.


Semua sudah bersiap makan malam, Naya menyuapi Dimas dengan kasih sayang, namun dirinya tidak sedikitpun mencicipi makanannya.


"Kenapa gak makan," sembari mengambil sendok untuk menyuapi Naya.


Namun Naya menggeleng seraya berkata, "Enek, mual," sangat lirih.


Kedua netra mata Dimas menatap Istrinya yang sesekali menahan mual, Dimas menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menoleh Bibi, "Bi tolong bikinkan susu hangat buat Ibu."


Bibi pun mengangguk, " Baik Tuan," segera membuatkan nya untuk Naya.


"Kenapa, kurang sehat bukan kamu,?" tanya Bapak mertua.


Naya menggeleng, "Tidak, aku baik-baik aja kok Pak."


"Kau masuk angin kali," tambah bu Hesa bola matanya tertuju ke mantunya.


Lagi-lagi Kanaya menggeleng.


"Ya udah, istirahat ya,?" Dimas menyudahi makannya dengan meneguk air putih.


"Aku gak apa-apa," elak Naya kekeh merasa dia baik-baik saja toh memang biasa.


Naya meminum susu hangat yang di buatkan bi Taty, dengan meminumnya ia merasa lebih baik.


"Iya, sudah lebih baikan kok sekarang," sambil menarik senyumnya.


"Dihabiskan dulu susunya, kita Naik ke kamar istirahat yuk,?" ajak Dimas menunggui istrinya menghabiskan susu hangatnya.


Setelah itu Dimas dan Kanaya beranjak dari duduknya jalan bergandengan menaiki tangga, sementara orang tuanya sudah duluan meninggalkan meja makan.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar, usai melaksanakan sholat isya keduanya mengganti pakaian tidur.


Dimas duduk bersandar di bahu tempat tidur, Naya menyandarkan kepalanya di pundak Dimas dan lengan Dimas merangkul pinggang istrinya.


Kecupan demi kecupan kecil Dimas berikan di kening sang istri, jarinya mengangkat dagu Kanaya agar mendongak padanya.


Kedua bola mata Dimas menatap penuh damba, setelah beberapa minggu ini berpuasa, miliknya yang selalu bangun namun tidak kunjung mendapat kehangatan, akhirnya kini meminta juga haknya.


Mereka saling bersitatap, dengan sorot mata yang sayu Kanaya pasrah, tak tega juga membiarkan suaminya merasa tak di anggap, bukan sengaja apa lagi melupakan kewajiban, tidak sama sekali.


Hanya Naya merasa capek karena sibuk, maklum ini bulan pertama Naya merintis usahanya, yang lumayan terbilang cepat banyak peminatnya, sekarang ini pun seharusnya mendesain, memotong, dan menjahit sempel, namun apa salahnya mendahulukan kan memenuhi kewajiban sebagai istri.


Dengan napas mulai berat suara pun parau, pertanda hasrat telah membuncah naik ke ubun-ubun, tubuh mulai bergetar hebat, tidak menunggu lama Dimas langsung tancap gas, dengan alasan untuk menengok debay yang masih di dalam perut, 🤭 dan memenuhi kewajiban ia sebagai suami, desahan-desahan kecil tertahan di bibir sang istri.


Suara-suara kecil yang keluar dari Kanaya semakin membuat darahnya semakin mendidih, di setengah perjalanan, pintu di gedor dari luar begitu keras, membuat keduanya kaget, sontak membuat Dimas berhenti dengan apa yang ia lakukan, dengan penuh rasa kecewa, Dimas memungut pakaiannya, lalu di kenakan, suara gedoran pintu itu tidak bisa di biarkan karena terus-terusan di gedor.


Naya semakin menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, malu jika di lihat orang luar, sambil mengacak kesal rambutnya Dimas mendekati pintu, blaak pintu di buka nampak Bapaknya berdiri depan pintu, dengan wajah cemas.


Dimas berdiri seakan menutupi pintu yang terbuka setengahnya, "Ada apa Pak,? menatap tajam.


Bapak Dimas menatap putranya dari atas sampai bawah yang nampak aneh, acak-acakan, "Itu.., ada yang kecelakaan di depan butuh pertolongan mu Dimas, cepat tolong mereka."

__ADS_1


Dengan sedikit malas ia seraya berkata, "Bapak duluan aja, aku mau ngambil peralatan sebentar," ucap Dimas, setelah mendengar jawaban seperti itu, Bapak nya langsung turun meninggalkan tempat tersebut.


Dimas sendiri ngeloyor masuk ke dalam kamar dengan rasa bingung gimana dengan yang masih tegang di bawah sana, sesaat Ia berdiri di tepi tempat tidur, perlahan Naya membuka selimut yang menutup kepalanya dan melihat Dimas berdiri disitu.


"Loh kok masih berdiri di situ,? kasian orang nunggu," dengan sangat lirih.


Dimas mendekati, dengan suara masih parau, "Gimana dengan adik kecil 'ku yang masih bangun, gimana cara mengatasinya,?" jelas Dimas tapak bingung.


"Tapi, di luar mungkin sangat membutuhkan pertolongan Ayah," tegas Naya walau hatinya merasa iba pada suaminya.


Cup Dimas mengecup kening sang istri kemudian menyambar peralatan kerjanya, bergegas keluar dari kamar, dengan langkah yang di percepat meninggalkan kamar bersama hati kesal, kecewa karena tugas nya barusan belum kelar.


Naya menghela napas panjang.., merasa iba, kasian melihat suaminya yang terlihat jelas rasa kecewa dari wajahnya, "Kasian sekali suami 'ku."


Kemudian Naya bangun mengenakan setelan tidurnya, mengikat rambut dan mengambil ponselnya, kebetulan banyak notifikasi dari yang memesan pulsa sampai notifikasi panggilan dari David sepupu Kanaya yang dulu amat dekat dengan dirinya, sekarang dia sudah beristri dan memiliki satu putri, bahkan istrinya orang Kalbar juga namun tinggalnya di daerah transmigrasi yang tepatnya di Kalteng.


Naya coba hubungi balik namun tidak ada jawaban, "Angkat dong zak..,? kangen nih, sudah lama tidak ngobrol," gumam Kanaya, namun tetap tidak ada jawaban, mungkin saja dia sudah tidur.


"Hem..," menghembuskan napas kasar.


Selang satu jam Dimas kembali, setelah mengunci pintu menaruh perlengkapan di tempat, masuk kamar mandi untuk mencuci tangan, tak lama naik ke tempat tidur menarik selimut yang sama dengan Naya, "Sudah bukan, kenapa emang,?" tanya Naya sambil mengelus rahang Dimas.


Setelag menarik napas lalu ia hembus kan kasar, "Kecelakaan tunggal, kakinya sobek," dengan nada dingin.


Naya bergidik, "Sekarang orang nya sudah pulang.?"


"Sudah"


Dimas menambah bantal mencoba terpejam, Naya mencoba mengelus dada Dimas, dengan rasa ragu Naya serta berkata, "Yang.., mau di lanjut lagi gak,?"bisik Kanaya malu-malu.


Dimas membuka mata melirik dan menatap wajah pasrah istrinya lekat, "Tumben nawarin, tapi.., sayang sudah gak mood," sahut Dimas dengan nada datar guys...


Naya terdiam, sedikit kecewa namun Naya tersenyum tipis, "Ya sudah kita bobo," Naya tidur di pelukan suaminya, akhirnya mereka tertidur dengan rasa yang tergantung.


****


Naya sudah membuka konternya, yang di beri nama Kanaya Konter, duduk manis di sofa, tengah melayani orang yang ciri-ciri kemarin sore mondar-mandir depan rumah, dia membeli data, "Sudah masuk Bang, terimakasih dan semoga jadi langganan kami," Naya menyatukan tangan depan dagunya.


"Iya sama-sama mbak, makasih juga, oya nama mbak Kanaya ya,?" orang itu menatap tajam menunggu jawaban dari Naya.


"Iya, i-iya saya, kenapa ya Bang, apa Abang mengenal saya," Naya menunjuk dirinya dengan senyuman ramah.


"Oh tidak mbak, saya cuma-!"


"Cuma apa ya Bang,?" Naya memotong perkataan orang tersebut.


"Cuma.., itu ada orang menitip salam buat mbak."


"Siapa,?" dengan tatapan curiga.


"Dia mandor saya mbak, permisi mbak," orang itu melengos dari Kanaya Konter nya, sebelum Naya melemparkan pertanyaan lagi.


Heran dan penasaran membuat Naya bengong, "Siapa sih,? bodoh ah."


Naya kembali melayani orang-orang yang membeli pulsa, token dll nya, namun dalam pikiran Naya teringat kata mandor.


Mandor apa,? kemarin ada yang datang Dimas bilang mandor, siapa dia kebetulan aku gak memperhatikannya, tapi.., mungkin karena dia tau bahwa aku istri Dimas aja kali.


,,,,


Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,

__ADS_1


Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat, bantu author dong..,!!


__ADS_2