Bukan Mauku

Bukan Mauku
Season 2


__ADS_3

Di rumah yang lumayan mewah, berdiri seorang pemuda yang tampan dan berbadan tegap. Berdiri di atas balkon, memandangi alam sekitar. Dalam hati dan pikirannya melayang, mencari bayangan orang tua nya yang selama ini rasanya tidak pernah ia tatap.


Dia besar bersama tiga laki-laki, sahabat dari orang tuanya. Dan hanya sesekali di asuh oleh nenek nya, beda dengan sang adik yang seratus persen di bawah asuhan sang nenek.


"Oma, Kayla pengen makan dong, kok bi Meri gak masak sih. Gak tau apa aku ini pulang kuliah lapar." Rajuk Kayla dengan sangat manjanya pada sang oma.


"Sayang ... bi Meri sudah masak kok di meja ada," jawab omanya. dengan sangat lirih.


"Tapi, Kayla gak suka Oma ... bukan masakan yang Kayla suka." Keyla tetap merajuk.


"Ya, sudah. Oma masakan kesukaan mu. sebentar ya?" omanya beranjak dari sofa.


"Oke, jangan lama-lama ya Oma?" ucap Kayla dengan ringannya.


"Kayla, apa kau tidak lihat? Oma sudah tua. Sudah waktunya kamu yang layani, bukan melayani. Kau sudah besar bisa melakukan apapun sendiri, berhenti bersikap manja!" sergah pemuda tampan yang muncul dari arah belakang.


Pemuda itu Mengenakan kemeja putih yang ia biarkan beberapa kancing terbuka mengekspos dada bidang nya. Lengan bajunya ia lipat sembarang aja.


"Abang apaan sih? datang-datang marahin Kayla, tuh salahin bi Meri yang masak nya bukan selera aku." dengan masih suara manja.


"Makanya masak sendiri. Jangan apa-apa bi Meri, apa-apa Oma, lihat. Oma sudah tua kayla ... ngerti gak?" tambah pemuda itu tambah geram dibuatnya.


"Oma yang mau kok," ucap Kayla tambah kesal dan memajukan bibirnya ke depan.


"Kalau kamu yang minta itu sama aja nyuruh, Oma. Jangan terus memanjakan Kayla. Nanti ke enakan! Kayla bukan anak kecil lagi, sudah dewasa. Sudah kuliah, sudah sepantasnya mengurus dirinya sendiri." Menatap omanya yang berdiri mengamati kedua cucunya berdebat.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi. Oma gak mau kalian bertengkar!" bu Hesa ngeloyor ke dapur untuk menyiapkan makan Kayla.


Arief menggeleng kasar. Matanya menatap tajam gadis manja itu. Gadis yang selalu bikin ia jengkel dengan ulahnya yang super manja tersebut.

__ADS_1


Gadis berambut panjang itu menjulurkan lidahnya. Mencibir sang kakak yang tambah kesal dibuatnya.


Kemudian Arief melengos pergi entah ke mana. Tinggallah Kayla yang menunggu sang oma memasakkan untuknya.


"Ini sayang, makannya dah siap!" bu Hesa menyajikan di meja tepat depan sang cucu kesayangan. Kayla.


"Makasih, Oma." ucap Kayla yang langsung menyantap makannya. Namun apa yang terjadi di suapan yang kesekian kalinya.


"Apa ini Oma?" menunjuk sebuah rambut yang ada di piringnya.


"Oh, maafkan Oma sayang. Gak sengaja, buang saja rambutnya." suara bu Hesa dengan sangat lirihnya pada sang cucu.


"Apaan? jorok gini," sergah Kayla sambil menghentakkan piring itu di meja. Wajahnya masam, penuh kemarahan. Lalu meninggalkan meja makan begitu saja.


Bu Hesa hanya melongo melihat punggung sang cucu.


Brakkh!


Piring pecah berserakkan, beserta isinya terlempar ke mana-mana.


Sungguh terkesiap hati bu Hesa, tidak menyangka cucu nya akan berbuat macam itu. "Sayang? apa-apaan itu," bu Hesa berjongkok. Dekat pecahan piring tersebut.


Bi Meri yang sedang di belakang juga berlari mendatangi tempat yang tadi terjadi ke gaduhan. "Ada apa Nyonya besar?" matanya melihat bu Hesa dan Kayla bergantian.


Kayla berdiri dengan mata melotot. Bibirnya manyun tangannya mengepal, dengan tanpa dosa berlalu pergi dari tempat itu. Bergegas menaiki anak tangga hendak ke kamarnya.


Bu Hesa menangis. Sungguh cucu yang dia manjakan selama ini sikapnya bukan cuma manja tapi juga sedikit arogan.


Bi Meri membantu bu Hesa agar duduk di kursi. "Duduk Nyonya. Biar saya yang bereskan."

__ADS_1


Setelah bu Hesa berdiri dan duduk, dan masih menyeka air matanya yang terus keluar. Bi Meri mengambil sapu dan serokannya.


"Ya, Tuhan ... kenapa makanan ini di buang-buang? masih banyak orang yang kelaparan juga, dulu waktu ada bu Naya paling anti membuang makanan." Gumam bi Meri.


Semunya sudah bersih. "Baiknya Nyonya besar tidur siang, jangan di pikirkan lagi kejadian tadi." Ucap bi Mari pada bu Hesa yang melongo di meja makan.


"Iya, Meri saya mau istirahat dulu. Kalau cucu saya meminta sesuatu layani dengan baik." Bi Hesa berdiri.


"Mereka sudah pada dewasa Nyonya, apalagi Non Kayla itu jangan di manja terus. Akhirnya gak ada dewasa-dewasa nya." Celetuk bi Meri.


"Kamu, tau apa Meri? dia cucu saya. Hak saya kalau mau manjakan dia." Ketus bu Hesa malah berbalik marah.


"Memang benar kata Nyonya itu. Benar. Tapi ... kalau sudah kejadiannya seperti ini. Gimana?" bela bi Meri.


"Ah ... kamu tuh cuma pembantu di rumah ini." Mendengus kesal, lalu melengos meninggalkan tempat tersebut.


Bi Meri menggeleng. Membuang napasnya dengan kasar. "Hem ... didikan yang kurang tepat."


Arief yang sedang mengendari motornya tiba-tiba ingat sesuatu. Ingat kalau dia akan menemui seseorang, makanya ia segera putar haluan. Melesatkan motornya ke suatu vila, yang sering ia gunakan untuk menenangkan diri dari penatnya pikiran. Capeknya dengan segudang aktifitas kesehariannya.


Tidak selang lama, akhirnya sampai juga di depan sebuah vila yang di belakangnya ada banyak pohon buah-buahan. Dan tentunya terawat dengan baik.


Arief berlari kecil, setelah memarkirkan motor kesayangannya. Ia masuk ke dalam vila dengan menenteng jaket di tangan.


"Hai, Om apa kabar?" dengan sopan nya Arief mencium tangan si pria yang ia panggil om itu ....


****


Hai ... aku sapa lagi nih para reader yang suka dengan cerita Naya dan Dimas. Ini season 2 apa kalian setuju gak ni? bila "Bukan Mauku" ada season 2 nya?

__ADS_1


__ADS_2