
Perkataan Naya seolah menusuk hati, bagai pedang menghujam dada, terasa sakit, pedih, membuat luka tak berdarah, dia merasa sesak sekali di dada, tak mampu lagi berkata-kata.
Yuda tertunduk dalam, tak ada lagi harapan untuk kembali bersama Naya, sia-sia sudah kedatangannya.
"Om mohon maaf, atas segala kesalahan kami.? kami menyesal, kami menyesal sekali," ucap paman Yuda.
"Dulu aku sangat berharap, ketika suamiku tak bisa aku harapkan, ada orangtuanya yang dapat mengingatkan, memberi sedikit perhatian sama menantunya, namun Tidak, apa kerena aku lumpuh om.? tapi aku sama sekali tidak pernah meminta, apalagi memaksa untuk di nikahi Yuda, tidak pernah om." Naya menatap paman Yuda, dan menyeka air matanya.
"Sekarang kalian datang, ketika aku bahagia, kedatangan kalian hanya membuat luka, maaf," sambung Naya menundukkan kepalanya, tak ingin lagi melihat Yuda.
"Jangan nangis sayang, nanti cantiknya hilang." bisik Dimas di telinga Naya, hingga membuat Naya tersenyum getir, namun tak terlihat oleh orang lain, karena ia menunduk.
Yuda merasa hancur, namun harus berlapang dada menerima kenyataan, yang penting sudah meminta maaf, yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam, Yuda melirik sendu pamannya, dan paman Yuda berpamitan pada pak Nanang, juga meminta maaf telah menganggu acara hari ini.
"Dek, sekali lagi mas minta maafkan mas," Yuda menatap Naya yang tertunduk.
"Sudah aku maafkan tanpa di pinta pun," sahut Naya tanpa menoleh sekilas pun.
Yuda mengulurkan tangan, ingin meraih tangan Naya, lagi-lagi di tepis Dimas. "Jangan sentuh istri saya." dengan tatapan sangat tajam.
"Saya hanya ingin berjabat tangan untuk yang terakhir kalinya," ucap Yuda dengan nada tinggi, mereka saling bertatapan.
"Kau harus tau, kau laki-laki yang bodoh, karena sudah meninggalkannya," ejek Dimas, "Jangan cuma melihat pisik, lihat juga hatinya."
Perkataan Dimas membuat hati Yuda panas, darahnya mendidih, "Hei, kau harus mengakui, aku yang lebih dulu menikmati tubuhnya,"
Dimas tak mau kalah. "Ya, aku mengakui itu, tapi..aku lah yang paling menikmati kehormatannya, dan akan terus dan terus, karena aku tak akan pernah meninggalkannya sekalipun."
Naya terkejut dan tidak menyangka, ketika mendengar ucapan seperti itu dari kedua laki-laki tersebut, ia mendongakkan kepalanya, menatap kedua laki-laki tersebut bergantian.
"Cukup, aku tak ingin mendengar kalian berdebat, tolong hormati aku." akhirnya melirik sang suami, Dimas merasa bersalah atas apa yang barusan ia ucapkan.
"Maaf sayang.?" Dimas mencium kapala Naya, "Maafkan aku sayang.?"
Yuda dan pamannya beranjak dari duduknya. segera melangkahkan kakinya untuk pulang, yang sebelumnya bersalaman dengan pak Nanang dan sebagian orang yang ada di tempat itu, tapi.. tidak dengan Naya.
"Sayang.., kita ke kamar ya.? kamu istirahat di sana." Dimas mengusap kepala sang istri dengan lembut, Dimas menggendong Naya membawa ke kamar miliknya.
Kini Naya menyandarkan kepalanya di dada Dimas, tangan Dimas memeluk bahu Naya. "Maafkan aku sayang, tak bermaksud menyakitimu.?" dengan mengecup pucuk kepala Naya.
"Kamu jahat, harus membahas itu segala," sahut Naya.
__ADS_1
"Lagian dia yang duluan, sayang, bukan aku." elak Dimas mencium tangan istrinya.
"Tapi..,kan gak perlu di jawab, tak perlu kau melayaninya," mendongakkan kepalanya perlahan.
"Dan benar kok--!" ucapan Dimas di potong oleh Naya dengan menempelkan jarinya di bibir Dimas, Naya menggeleng pelan. "Jangan di teruskan, cukup kamu yang rasakan." dengan tatapan sendu.
Dimas mengangkat dagu Naya dengan jarinya, mendekatkan wajahnya di wajah sang istri, jantung Naya berdebar tak karuan, ia memejamkan matanya, tinggal dua senti lagi sampai tujuan, di dapur begitu riuh, membuat Naya membuka mata dan Dimas pun menjauh, ia membuang napas kasar, dan kesal, menghempaskan kepalanya di bantal.
Naya yang melihat ekspresi suaminya kecewa, tersenyum melirik sang suami, yang beranjak lagi duduk di tempat semula, dengan muka cemberut, "Sabar sayang, maklum kan suasana ramai juga." Naya mengusap dada suaminya lembut, Dimas meraih tangan istrinya,
"Bulan madu yu yang.? ke tempat yang tiada orang, kecuali kita berdua, agar tak satupun yang mengganggu kita.!" menyentuhkan tangan Naya ke pipinya.
"Biar dunia serasa milik berdua ya yang.? yang lain cuma ngontrak hi..hi..hi.." Naya terkekeh sendiri.
"Bukan yang, yang lain cukup tutup mata dan telinga saja, selama kita bermesraan," Dimas menyeringai.
"Hem..,sampai kapan.?" Naya menaikan alisnya, "Sampai kita puas." sahut Dimas terkekeh.
"Kalau gak puas juga.? gimana.?" tanya Kanaya menaikan bahunya,
"Hah, pokonya jangan ada yang mengganggu kita yang..," Dimas kehabisan kata-kata.
"Mau kemana yang.?" tanya Dimas melihat Naya beranjak.
"Ngapain.?" tanya Dimas menatap lekat.
"Mau tidur yang.!" Naya mengulum senyumnya.
"Hah..bawel." sembari mencubit hidung Naya.
"Mandi sana..,! ucap Naya sembari berjalan, perlahan meninggalkan Dimas yang berdiri dekat jendela.
Naya kembali setelah beberapa lama ke kamar mandi, Dimas mengerutkan keningnya, "Katanya mau mandi.? kok gak jadi.?"
"Udah kok yang." sahut Naya meraih mukena mau sholat ashar.
"Masih memakai baju itu.?" Dimas mengamati Naya yang yang mulai sholat, kemudian ia pun keluar menuju kamar mandi.
Naya membuka mukenanya, melirik Dimas yang baru masuk dengan handuk melilit di pinggang, "Bentar lagi berkumpul yang."
"Hem," Dimas memakai pakaiannya, dengan rapi, kemudian Dimas menyusul Naya ke ruang tengah, di sana sudah ada Ibu-ibu. yang di antaranya keluarga besar Naya.
__ADS_1
Dimas duduk di samping sang istri, setelah para tetangga datang berkumpul semua, acara pun di mulai, di awali dengan Basmalah dan hamdalah, lalu lajut membaca A-qur'an dan bacaan sholawat kepada Nabi muhammad saw.., memohon kepada Allah SWT.. agar di beri keberkahan, di jadikannya rumah tangga Dimas dan Naya sakinah mawadah warahmah.
"Sebelumnya aku minta waktu sebentar, kepada semuanya, Kanaya mau mengungkap kan sesuatu." kata Ibu yang membawakan acara, setelah sebelumnya berbisik dengan Naya.
"Assalamu'alaikum..,? aku dan keluarga mengucapkan terimakasih banyak, atas kehadiran semuanya yang telah memberikan doa yang tulus buat aku sekeluarga, dan aku meminta waktu sebentar kepada semuanya, karena ada yang ingin aku sampaikan khususnya kepada orang tuaku." ucap Naya mengedarkan pandangannya pada yang telah hadir di tempat tersebut.
Naya membuka selembar kertas, yang ia pegang, dan Dimas pun hanya mengamati sang istri.
Untuk orang tuaku.
Bapak dan ibu..? aku ucapkan banyak-banyak terimakasih, telah merawatku dengan baik.
Bapak dan ibu..? aku ucapkan terimakasih telah menjagaku, manyayangiku sampai detik ini.
Bapak dan Ibu..? enkau tak pernah malu mempunyai putri seperti aku, dan Bapak telah mengajarkan banyak hal padaku dari kecil, enkau mengajarkan aku belajar membaca, menulis, menghitung dan mengaji, meskipun aku tak sekolah seperti yang lain, tapi aku mampu berpikir, belajar selayaknya anak-anak yang sekolah, setidaknya aku tidak se kuper ataupun bodoh.
Bapak terimakasih.? kau telah mengajarkanku mandiri, bertanggung jawab, menjadikanku, seperti sekarang ini.
Bapak dan Ibu..? aku mohon maaf, karena selama ini aku hanya menjadi beban untuk kalian.
Bapak dan Ibu..? aku mohon maaf, selama ini aku sudah menyusahkan kalian.
Aku mohon maaf sampai detik ini aku belum bisa membahagiakan kalian, meskipun ada di benakku ingin mencukupi, dan membahagiakan kalian, tapi.., aku belum mampu bahkan mungkin tak akan mampu.
Bapak dan Ibu..? aku mohon maaf bila aku sudah memilih seorang pria untuk menjadi teman dalam hidupku ini, seorang yang jauh dari luar pulau sana hingga ada kemungkinan aku di bawanya jauh dari kalian.
Aku sudah sering mencoba mencari seseorang yang lain tuk menjadi teman hidupku, tentunya yang ikhlas menyayangiku, orang yang dekat yang tak ada kemungkinan membawa diriku jauh dari kalian, namun aku selalu gagal, mereka hanya singgah sesaat lalu menjauh dan akhirnya menghilang tanpa jejak,
Bapak dan Ibu..? mohon maafkan anakmu ini, aku telah memilih seorang pria yang latar belakangnya tak seiman denganku, namun aku yakin kami akan belajar bersama untuk memperbaiki diri, aku hanya mencari ketulusan dari pria yang kini menjadi suamiku, ini bukan sebuah kebetulan tapi memang sudah Allah rencanakan, karena untuk kami bertemu dan menikah, kami harus melewati waktu, dan penantian yang teramat panjang, hingga akhirnya duduk di sini berdampingan.
Bapak dan ibu..? mohon restui kami, berdua untuk melewati bahtera rumah tangga yang tak semudah, dengan apa yang di bayangkan, ridhoi kami jika satu saat nanti Suamiku yang menjadi kaki untuk diriku membawaku jauh dari kalian.
Bapak dan Ibu..? mohon doakan kami yang terbaik dari segala yang terbaik, semoga kami terus di jalan Allah subhanahu wa ta'ala, doakan kami khususnya suamiku agar menjadi seorang muslim yang lebih baik.
Terimakasih.
Naya membaca isi kertas tersebut dengan kadang terbata-bata dan menyeka air matanya yang terus menitis di pipi, begitupun yang lain mendengarkan begitu haru, dan tak luput mengusap air bening di sudut mata mereka, apalagi orang tua Naya sangat terharu mendengar itu semua.
"Yang..," panggil Dimas lirih, Naya melirik sang suami, jangan menangis" bisiknya, padahal dia juga sangat terharu.
Pembawa acara menutup acara dengan hamdalah, kemudian merekapun berangsur bubar membawa bingkisannya masing-masing.
__ADS_1
,,,,
Terimakasih reader ku yang masih mengikuti novel ini, terus dukung aku ya, agar aku selalu semangat belajar menulisnya, jangan lupa lake, komen, dll nya🙏🙏