
Tanpa menoleh. "Tak usah Bi.!" Naya masuk ke dalam kamarnya, duduk di sofa sebentar, lalu ke kamar mandi mau mengambil air wudhu.
Dimas sudah berada di garasi, membuka helmnya, dan meninggalkannya tak lupa mengunci pintu garasi.
Dimas berjalan membuka kunci pintu rumah, ia sudah tak sabar ingin bertemu sang istri, ia melihat seorang wanita paru baya, tengah bersih-bersih lantai.
Dimas pikir pasti ini PRT baru di rumahnya, "Maaf Bibi siapa.?"
Bi Taty yang sedang fokus bersih-bersih kaget mungkin dia tidak mendengar suara pintu terbuka, tidak tau ada yang masuk, bi Taty menjawab dengan terbata-bata, "Saya-saya PRT di sini Tu-Tuan."
"Oh, istri saya mana,?" sambil berjalan menuju kamar miliknya.
"Ibu, di kamar Tuan," sahut bi Taty sesaat menghentikan kerjaannya.
Dimas mempercepat langkah kakinya, lantas membuka pintu, klik...,pintu terbuka, Naya tengah duduk di atas sofa dan tangannya sibuk dengan ponsel.
"Assalamu'alaikum..,? yang aku pulang," sambil mengunci pintu, berjalan mendekati sang istri, sebelumnya menyimpan tas, kunci motor dan ponsel miliknya di atas meja.
"Wa'alaikum salam," Naya melirik waktu di layar ponsel sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, mencium punggung lengan sang suami.
Dimas duduk di samping Naya dan merengkuh tubuh Naya, "Aku kangen kamu yang,? sangat kangen, kali ini jangan tolak aku sayang,?" berbisik di telinga Naya.
Ia mencium kepala Naya yang tanpa kerudung, kepala, kening, hidung, pipi, telinga, dagu bibir, semuanya tidak luput dari sentuhan Dimas.
Naya tersenyum samar, merasa heran juga kenapa dengan sikap suaminya seperti ini, "Yang makan dulu sana, dan sholat dulu."
Dengan napas yang sangat berat, Dimas memboyong Naya ke tempat tidur, langsung di rebahkan dan ia kungkung, sedikitpun Naya tak menolak perlakuan suaminya dengan tatapan sayu dan pasrah Naya berkata, "Setelah ini sayang buru-buru sholat ya.?"
Dimas hanya mengangguk, tak sedikitpun melepas kungkungan nya pada sang istri, bergegas membuka kemejanya dan dilempar begitu saja.
Naya melirik baju yang Dimas lempar, "Yang, jangan lupa, baju yang kita buka di kala mau berhubungan pasutri, di lipat dulu, jangan dibiarkan berserakan tak jelas, karena takutnya menjadi sarang jin dan syetan.!"
Dimas berdecak kesal mendengar ucapan istrinya, tak ngerti apa hasratnya sudah naik ke ubun-ubun, gara-gara godaan seorang Citra di luar membuatnya ingin melepaskan kebutuhan biologisnya pada sang istri, namun Dimas tak membantah perkataan Naya lantas ia turun memungut pakaian yang ia lempar tadi dan sedikit melipatnya.
Kemudian terjadilah adegan penyatuan dua insan yang bercinta, mereka begitu menikmati indahnya memadu kasih, sehingga keringat saling bercucuran akibat pembakaran gairah yang tak mampu Dimas tunda lagi, sampai tubuh Dimas terkulai lemas, Dimas melepaskan Naya dan berbaring di sisi sang istri.
Ia sesaat memejamkan mata ingin melepas lelah, namun begitu puas dengan yang telah ia lakukan, Naya melirik dan memiringkan badan menghadap ke Dimas, sambil menjepit selimut agar menutup tubuhnya, jari menari-nari di dada Dimas, "Yang.., sudah pukul 13.45 wib, mandi dulu dan di lanjut dzuhur, nanti keburu sore.?"
Dimas tak menjawab, lalu membuka mata bangun, tek terlewatkan ia mengecup kening sang istri, cup..., "Makasih sayang,?" lama.., bibirnya menempel di kening sang istri.
"Nanti minta laginya,?" Dimas mengulum senyumnya, sementara Naya membelalakkan matanya, lantas Dimas menyingkap selimut mengenakan handuk, bergegas melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Naya menggeleng pelan sambil melihat suaminya, sampai hilang di balik pintu, kemudian ia bangun mengenakan pakaiannya, menunggu Dimas keluar baru ia akan bersih-bersih.
Tak selang lama, Dimas keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pinggang, Naya memalingkan pandangan dan berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Hati-hati yang,?" kata Dimas sambil mengeringkan rambutnya.
Tanpa menoleh Naya hanya bergumam, "Hem.!"
Selesai sholat Dimas menunggu sang istri keluar dari kamar mandi, ia duduk di sofa, dengan membuka sebuah laptop di pangkuannya.
Naya keluar, dari kamar mandi lantas mendekati meja rias, mengeringkan rambut dan menyisirnya, usai memakai kerudung, langsung Dimas mendekati, "Lapar yang, makan yuk.?"
Naya memandangi Dimas dari cermin, "Makan lah, kan udah siap, oya sudah bertemu bi Taty belum.?"
"Oh, udah yang, semoga dia betah ya? menemani bunda di rumah,?" ucap Dimas, sambil memangku Naya keluar kamar, untuk makan siang.
Naya pun tersenyum, dan mengalungkan tangan di leher Dimas, bi Taty keluar dari kamarnya melongo, "Ahai..., romantisnya Tuan sama Ibu.!"
Dimas tertawa, sementara Naya malu-malu, sampai di dapur Naya di turunkan duduk di kursi bersebelahan dengan Dimas, "Makan Bi.?"
__ADS_1
Sebelum mengambil piring Naya melihat bi Taty, "Sudah makan belum Bi? atau makan bareng yuk.?"
"Sudah Bu, maaf tadi Bibi makan duluan, seperti yang Ibu suruh makan duluan saja, kebetulan Bibi sudah lapar tadi, maaf Tuan dan Ibu, Bibi sudah lancang, mendahului makan,?" bi Taty menunduk dalam.
Sesaat Naya dan Dimas saling pandang, kemudian Naya angkat bicara, "Tidak apa-apa Bi, lagian kan aku yang suruh, Bibi gak perlu sungkan, anggap aja rumah anak Bibi sendiri, jangan menunggu di tawarin dulu."
Bi Taty merasa tenang dengan ucapan Naya, walau baru sehari ini, namun sudah terlihat kebaikan majikannya.
"Iya Bi, benar kata istri saya, oya Bi tolong jagain juga istri saya di kala saya tidak ada,?" Dimas menimpali perkataan Naya yang memberi sedikit kebebasan pada PRT di rumahnya, bi Taty mengangguk.
"Kalau mau bersih-bersih rumah pake aja alatnya jangan dengan tangan capek, melipat pakaian pun pake alat, jangan pake tangan untuk meringankan tugas Bibi," sambung Dimas sambil mengunyah suapan dari Naya.
"Terimakasih banget Tuan dan Ibu,? baru hari ini saja sikap kalian sudah menyenangkan Bibi, Bibi pasti betah di sini," ujar bi Taty melukis kebahagiaan di wajah tuanya.
"Sama-sama Bi,?" kata Naya dan Dimas berbarengan, kemudian tidak ada yang membuka suara lagi sampai makan selesai.
Bi Taty mengambil piring bekas makan, "Sebentar Bi,?" Naya berdiri mendekati wastafel, "Bibi ada tugas lain, biar mencuci piring aku aja," Naya mengambil penggosok pencuci piring.
"Tidak Bu, biar Bibi saja,?" bi Taty menatap Naya kebetulan tidak ada tugas lain.
"Biar aja Bi, Naya yang kerjakan kalau dia yang mau, Bibi duduk-duduk saja kalau tidak ada tugas lagi," Dimas menoleh ke arah sang istrinya.
"Tapi.., Tuan,?" bi Taty melirik Dimas merasa gak enak, "Itu kan tugas Bibi."
"Sudah, biar saja," Dimas menatap bi Taty dengan datar.
Naya tersenyum mendengar suami dan PRT nya sedikit debat, "Bi besok bantuin aku bikin kue ya.?"
Bi Taty begitu antusias mendengar perkataan Naya, "Bikin Kue apa Bu,? boleh, tapi untuk acara apa Bu.?"
Dimas mengernyitkan keningnya, "Kue buat apa yang.?"
"Itu yang.., buat di buang, he..he..he.., ya di makan lah yang, buat apa lagi, kalau bukan buat ngemil, kamu sering nanyain cemilan kan,?" Naya mengelap tangannya.
"Nggak ah Bi besok aja, hari ini Bibi banyak istirahat aja, pasti capek,?" kata Naya dengan seutas senyum.
"Capek apa Bu,? hari ini gak sibuk kok," timpal Bi Taty.
"Iya hari ini, mungkin esok lusa Bibi akan sibuk juga,? nikmati hari ini dengan banyak istirahat Bi,?" Naya mendudukkan tubuhnya dekat Dimas.
"Yang, besok siang setelah aku pulang, bersiap ya,?" ucap Dimas mengelus tangan Naya dengan lembut.
Naya menatap heran, "Bersiap untuk apa,? jangan-jangan--!" gumam Naya pikirannya sudah aneh-aneh.
Baru mau menggerakkan bibirnya, Dimas sudah bersuara dengan lirih, "Besok kita pergi ke ahli tulang, memeriksakan kaki bunda, siapa tau ada harapan buat sembuh,?
Naya mengalihkan pandangan pada kedua kakinya, "Kalau gak sembuh gimana,?" dengan sangat lirih, merasa punya pikiran negatif saja.
Dimas menghela napas panjang, "Em.., bunda harus semangat dong yang, emang bunda tidak mau kalau bunda bisa sembuh hem,? setidaknya kuat berjalan jauh, tidak cepat capek."
"Aku terserah kamu saja," Naya menunduk dalam.
Bi Taty hanya mendengarkan perbincangan pasutri tersebut, dan akhirnya buka suara, "Bibi doakan semoga Ibu sembuh, seperti yang di katakan oleh Bapak dokter barusan, eh maksud Bibi Tuan."
Dengan senyum samar, "Terserah Bibi saja mau panggil saya apa.?"
"Bibi panggil Tuan aja, Bibi ke kamar dulu ya Tuan dan Ibu nyonya, kalau perlu apa-apa panggil aja Bibi,? ucap bi Taty berdiri ingin meninggalkan majikannya, sebab takut ganggu mereka.
"Kalau di panggil akan langsung muncul ya Bi,? ting..,ting..,seperti Jinny oh Jinny he..,he..,he..," sahut Naya nyengir.
"Ha..,ha.., jin kali ah Bibi,?" sambil masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Dimas pun memboyong sang istri ke dalam kamar biar ngobrol di sana saja, "Bi saya pergi ya,? pekik Dimas, Naya hanya senyum saja.
Setelah berada di kamar, mereka duduk berdua di sofa, Dimas bermanja-manja pada sang istri tiduran di pangkuan Naya dengan manjanya, "Yang tau gak kenapa,? tadi aku pulang-pulang langsung minta jatah.?"
Naya menggeleng pelan, "Nggak."
"Di tempat kerja ada seorang wanita yang mengejar aku, sudah aku bilang sudah menikah tapi dia kekeh selalu mendekati diriku, dengan bermacam cara, penampilannya seksi, cantik, tapi aku tidak tergoda karena cintaku hanya untuk bunda,?" ujar Dimas sembari memejamkan matanya dengan tangan di lipat di atas dada, sangat menikmati tiduran di atas paha sang istri.
Naya tak menjawab sesekali terdengar helaan napas Naya yang kasar, merasa sesak dada Naya mendengar cerita dari suaminya, pasti wanita itu ebih sempurna dibanding dengan dirinya, barusan aja bilangnya begitu, seksi dan cantik.
"Aku janji akan setia pada satu wanita yang selalu aku cinta dan sangat aku sayangi, aku ingin bunda menjadi Ibu dari anak-anakku, dan aku ingin Bunda mengandung benih dari ayah, apa pun kondisi bunda," Dimas membuka mata melihat wajah Naya yang memalingkan muka ke sembarang tempat.
"Sayang mau kan menjadi dari anak-anak ayah,?" Dimas bangun dan duduk di sisi Naya, yang masih membuang muka, tangan Dimas menyentuh dagu istrinya agar menatap dirinya tapi.., ternyata di sudut-sudut mata Naya terlihat jelas buliran-buliran air bening yang ingin tumpah dari bendungannya.
Dimas merasa heran dan kaget, "Sayang kenapa menangis hem,?" Dimas mengusap air mata Naya dari pipinya, namun Naya hanya menggeleng pelan.
"Sayang bilang, kenapa apa yang bunda pikirkan,? bilang jangan buat ayah khawatir, apa bunda sakit,?" dengan lirih dan semakin tak mengerti.
Lagi-lagi Naya membuang muka ke lain arah, "Aku hanya.., merasa sakit aja, merasa sesak, suami aku pasti banyak disukai wanita cantik dan sempurna, iya kan.?"
Dimas tertawa kecil ia mengerti kenapa istrinya menangis, rupanya dia cemburu, pada dirinya yang bercerita tentang Citra, "Ha..,ha..,ha.., sayang cemburu.?"
"Nggak cemburu sih cuma--!"
"Cuma apa sayang,? kalau bukan cemburu? bunda gak mau kan ayah dekat dengan wanita lain,? begitupun ayah gak pernah rela walaupun cuma cerita bunda di dekati pria lain," Dimas meraih punggung Naya hingga tubuhnya menempel dengan tubuhnya, menatap kedua manik mata Naya yang masih nanar, "Katakan sayang,? katakan, bahwa kau hanya milikku.?"
"Kamu kenapa sih? aku ini istrimu, tentu saja aku hak kamu," sambil bertatapan.
"Katakan bunda cemburu pada ayah,? katakan sayang, katakan,?" sembari menaikan alisnya, tangan tak sedikitpun melepaskan dekapannya.
Bukan menjawab Naya malah menunduk dalam, begitu berat untuk mengucapkan walau sekedar kata cemburu, "Aku-aku gak cemburu kok, hanya kesal saja."
Dimas senyum penuh kemenangan, merasa senang, di cemburukan oleh sang istri, yang menandakan dia sangat mencintainya, "Terimakasih sayang, berarti bunda sangat sayang sama suamimu ini, iya kan,? wajahnya menyeringai, cup.., mengecup lembut b**** sang istri, hinga Naya memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Naya mendorong pelan dada Dimas agar terlepas, Dimas tidak menghiraukan begitu saja, tangan menekan tengkuk sang istri, dia melakukannya semakin dalam, tiba-tiba ada suara pintu di ketuk.
Tok..
Tok..
Tok..
"Maaf Tuan, ada tamu mencari Tuan,?" pekik Bi Taty, membuat Dimas bergelinjang, dan Naya merasa lega serta bebas dari suami yang ingin selalu memangsanya.
"Cik.., siapa sih mengganggu kesenangan orang saja,?" dengan raut wajah kesal, tak lupa merapikan penampilannya yang sedikit acak-acakan akibat tangan Naya yang meremas bajunya.
"Sabar yang, jangan begitu, tamu kan adalah raja hi..,hi..,hi..," terkekeh sendiri, "Iya Bi, bilang tunggu sebentar,?" balas Naya.
Sebelum pergi Dimas menatap Nya dengan tajam, Awas ya nanti malam,? tidak bisa lepas lagi, habis kau nanti,!" semnari senyum tipis.
Naya bergidik, "Ih, takut, udah sana.., lihat siapa di luar.?"
"Iya bawel,?" semakin hari Dimas semakin merasa Naya adalah candu yang terus membuat dirinya ketagihan, Dimas mempercepat langkah kakinya, Di ruang tamu sedang duduk seorang pemuda yang tak kalah tampan darinya, dia seorang arsitek, untuk membuat lift yang menghubungkan lantai dasar ke lantai dua.
"Sore pak,?" sapa pemuda yang bernama Dery itu, berdiri dan mengulurkan tangan pada Dimas.
Setelah berjabat tangan, mereka duduk berhadapan, "Anda yang akan mengerjakan pemasangan lift di rumah ini,?" tanya Dimas dengan ramah.
"Iya pak, emang di mana letaknya,? Dery mengangguk ramah juga.
"Mari, saya tunjukkan," Dimas berdiri di ikuti oleh Dery, Dimas menunjukkan tangga yang ingin ia pasang kursi lift tersebut yang khusus buat sang istri.
__ADS_1
,,,,
Tiada kata selain kata Assalamu'alaikum..,w.r.b semoga menjadi pahala untuk yang menjawab juga, terimakasih reader yang masih setia berkenan mampir di kisah Kanaya dan Dimas. jangan lupa lake, komen, rating dan vote nya🙏