
Dimas meletakkan tangannya di atas dada Naya, detak jantungnya sudah lumayan normal, "Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi padamu yang,?" gumam Dimas lirih, dan berbaring di samping Naya, tangannya memeluk erat Naya.
Beberapa waktu kemudian Naya terbangun, membuka mata melirik ke samping Dimas tengah memeluknya, dan menatap dirinya, "Yang maaf ya aku sudah membuat kamu malu,?" lirih Naya.
Dimas bangun dan duduk, "Kenapa bilang gitu yang,? kita jalan bukan baru kali ini, sebelumnya gak pernah ada yang nyinyir tentang kita,? kali ini saja dan tidak akan ada terulang lagi,?" ujar Dimas mengelus tangan Naya dan menciumnya, Naya yang duduk di sampingnya tersenyum.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf, karena tadi tidak menghiraukan permintaan kamu yang, hingga kau ketakutan seperti itu yang, maafkan aku,?" Dimas menatap netra mata Naya yang juga tengah menatapnya.
"Tidak apa-apa yang, aku sudah tidak apa-apa kan,?" dengan seulas senyumnya.
Dimas pun tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naya, Dimas menyentuh bibir Naya dengan lembut, napas keduanya menyapu pipi masing-masing, lama keduanya menyatukan bibir mereka dan sangat menikmati sentuhan tersebut, tangan Dimas menarik tengkuk Naya tuk memperdalam ciumannya, napas pun semakin berat memacu gairah yang semakin memanas.
Tangan Dimas semakin menggerelia ke mana-mana, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar dari luar, membuat Dimas merasa kesal dan menghentikan aktifitas yang baru mau di mulainya.
Tok..
Tok..
Tok.., "Abang,? abang ada di dalam,?" suara dari luar, Dimas turun dari tempat tidur, dan Naya merapikan semuanya, agar tidak nampak acak-acakan.
Dimas menghampiri pintu lalu membukanya, "Ada apa,?" dengan nada datar.
"Saya ganggu ya,? sorry,?" ucap Sandi celingukan.
Dimas melintasi Sandy setelah menutup pintu, duduk di sofa, "Sama siapa ke sini,?" tanya Dimas.
Sandy pun mengikuti Dimas duduk di sofa sebelah Abang nya, "Sama keluarga, juga Maria, di bawah."
"Oh," sahut Dimas sambil memijat keningnya.
Bi Taty datang membawa boneka yang besar mau di antar ke kamar Naya, "Maaf Tuan, Ibu sudah--!"
"Sudah Bi masuk aja," Dimas langsung memotong perkataan bi Taty.
"Baik Tuan," bi Taty membuka pintu lalu masuk ke dalam menghampiri Naya yang tengah duduk di sofa kamar, "Bu ini bonekanya,?" bi Taty meletakkan boneka tersebut di sofa.
Naya melihat bi Taty, "Bi, yang satu ambil aja buat cucu Bibi.?"
"Hah..,? buat cucu Bibi,? beneran Bu,?" seakan belum percaya.
"Iya, satu Buat cucu Bibi, yang ini punya aku, dan itu buat anaknya Sandy, kalau anak Maria kan gak ada yang cewe," ujar Naya menjelaskan.
"Aduh.., makasih ya Bu,?" bi Taty mengambil boneka untuk cucunya, "Di bawah ada Sandy sama keluarganya juga Maria sama putranya Bu," bi Taty memberi tahu Naya.
"Oya, jadi yang bicara sama suami aku Sandy ya Bi,? aduh bisa-bisa anak Maria iri sebab aku gak beri apa-apa, sementara anak Sandy sudah aku siapkan boneka," Naya berpikir sejenak, dia tidak mau di bilang tidak adil.
"Gimana atuh Bu,?" tanya bi Taty menatap majikannya.
"Em.., biar aku pikirkan Bi,"
__ADS_1
"Ya sudah, Bibi turun dulu Bu,?" bi Taty pamitan.
"Iya Bi," Naya pun beranjak dari duduknya setelah bi Taty keluar dari kamarnya, Naya keluar dan melihat Dimas tengah berbincang dengan Sandy sesekali Dimas memijat batang hidungnya, sekilas Naya tersenyum.
Sandy menoleh Naya keluar dari kamarnya, "Pa kabar kak.?"
"Em.., baik Sandy, sudah lama,? mana yang lain,?" tanya Naya pada adik iparnya.
"Mereka di bawah Kak," jawab Sandy sembari meneruskan obrolannya, Dimas hanya melihat sekilas pada istrinya lalu mengalihkan pandangan pada Sandy, mereka tampak serius dengan obrolannya.
Naya menuruni anak tangga, benar saja di bawah ramai oleh keponakannya, ya itu anak-anak Sandy dan Maria, Naya menghampiri dan duduk bersama mereka.
"Hi.., apa kabar semuanya,? keponakan aku yang ganteng-ganteng juga cantik,?" sapa Naya dengan ramahnya.
"Baik kak," sahut Jelita dan Maria berbarengan.
"Syukur lah,! Kalau kalian gimana hem,?"
"Baik tante," sahut anak-anak tersebut, Naya menyentuh pipi mereka dengan senyum merekahnya.
"Suami kamu mana Maria gak ikut kah,?" tanya Naya pada Maria.
"Kerja dia kak, maklum, suami aku kan bukan pegawai kantoran seperti yang lain ketika hari minggu libur," sahut Maria.
"Oh gak apa-apa, yang penting kan halal Maria, di syukuri aja yang ada," sambung Naya.
"Oh iya Chika, tante punya hadiah boneka buat Chika mau,? bonekanya besar, mau gak,?" Naya memegangi tangan Chika putri bungsu Sandy dan Jelita.
"Aku juga mau tante,?" kata dua anak laki-laki, menghampiri.
"Aduh.., tante gak punya hadiah buat kalian berdua, yang ada cuman buat Chika, gimana dong,?" Naya menyatukan kedua tangan di depan dadanya.
Kedua anak laki-laki tersebut bersikap sedih, membuat Naya tak tega, "Gimana dong,? kan tante takut kalian berdua tidak suka kalau tante belikan," Naya menatap kedua ponakannya, "Em.., kalian maunya di belikan apa.?"
"Apa ya,?" mereka malah bingung, membuat Naya tersenyum begitupun Jelita dan Maria.
"Em.., bagai mana kalau mentahnya aja, mau gak,?"
"Mau tante mau,?" sahut mereka berdua.
"Ok," Naya mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah dari sakunya, dan di berikan pada kedua ponakan laki-lakinya, mereka tampak senang sekali dan berjingkrak dan bersorak.
"Aku mana kak,?" Maria menengadahkan tangannya pada Naya.
"Ih, kamu ini, malu lah, anak kita aja sudah cukup kok,?" kata Jelita melirik Maria.
Maria gak perduli dengan ucapan Jelita, "Biar aja, aku kan gak seperti kak Jelita yang kecukupan."
Naya mengulas senyumnya, "Sudah, Maria emang mau beli apa sih,?" Naya memberi dua lembar uang pada Maria, dengan sangat senang hati Maria terima.
__ADS_1
"Terimakasih kak,?" ucap Maria, gini dong kak Jelita kalau jadi kaka ipar, jangan pelit-pelit," Maria melirik Jelita sembari mencium uang di tangannya.
"Sama-sama," jawab Naya, lalu Naya melihat Chika yang nampak sedih, "Loh, kok Chika sedih sih,?" mengusap pucuk kepala Chika, anak itu mendongakkan kepalanya sambil berkata, "Hadiah buat aku mana tante,?" matanya berkaca-kaca membendung air mata.
"Astagfirullah, tante lupa sayang, tapi adan kok, bentar ya,? bentar nanti Bibi ambilkan," Naya menoleh ke arah dapur, "Bi..,?" panggil Naya.
Bi Taty langsung menghampiri, "Ita Bu,? ada apa.?"
"Bi tolong ambilkan boneka yang di sofa, ada di kamar, boneka buat Chika tau kan,? ambilkan sebentar,?" suruh Naya.
"Baik Bu, Bibi ambilkan dulu," bi Taty berlalu ke kamar Naya tuk mengambil boneka seperti yang majikannya pinta.
Tak lama bi Taty kembali membawa boneka yang masih di bungkus plastik di ikat dengan pita sangat cantik, "Chika tuh bonekanya," Naya menunjuk yang di bawa Bibi, chika langsung menghambur berlari mengambil dari bi Taty.
"Chika suka gak sayang,?"
"Chika suka banget tante, makasih ya,?"
"Iya sama-sama sayang," Naya senyum bahagia melihat mereka bahagia.
"Aku mau berenang ah," Maria beranjak dari duduknya mau ke kolam renang, di ikuti Jelita, dan anak-anak, tinggallah Naya duduk di sana sendiri, Naya pun berdiri melangkahkan kakinya ke dapur tuk bantu masak bi Taty, karena ada banyak orang otomatis rus masak banyak.
Setelah berada di dapur Naya langsung memegang pisau memotong sayuran yang sudah tersedia di meja.
"Bi, masaknya agak banyakan ya,?" Naya melirik bi Taty yang tengah memasak.
"Iya Bu pasti, ini Bibi sudah siapkan masak banyak," sahut bi Taty.
"Hem..," Naya melanjutkan memotong sayuran, setelah beberapa waktu Naya berkutat di dapur, Dimas dan Sandy turun, Dimas berdiri berpangku tangan memperhatikan istrinya.
Naya melirik suaminya yang terdiam, "Kenapa Tuan,? apa ada yang bisa saya bantu.?"
Dimas melangkah mendekati duduk tepat di belakang Naya berdiri, "Ada, butuh servis," dengan datarnya tanpa ekspresi.
Naya menoleh, "Apaan sih.?"
"Bikinkan jus yang, kepala aku pusing," pinta Dimas sembari memijat batang hidungnya.
"Minum obat ya,?" Sambil membuatkan jus, Bi tolong urus dulu yang kompor,?" Naya menoleh bi Taty.
"Baik Bu," bi Taty mengambil alih posisi Naya.
"Gak perlu, gak butuh obat," sahut Dimas dengan nada dingin.
Tak menunggu lama jus pun sudah siap, "Nih yang,?" Naya memberikan gelas jus pada Dimas, Dimas langsung meneguk jus tersebut sampai tandas.
Naya menarik napas dalam melihat sikap Dimas seperti itu, masakan pun sudah siap di sajikan, bi Taty menata di meja makan, dan Naya naik ke atas hendak ke kamarnya, kebetulan sudah memasuki waktu sholat dzuhur.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐