
Dimas menggandeng pinggang Naya untuk masuk ke dalam mobil, duduk di samping kemudi, kemudian Dimas bergegas mengitari mobilnya dan duduk belakang kemudi, "Bismillah."
Naya memasang sabuk pengaman, di bantu oleh Dimas sebelum menjalankan mobilnya, kemudian Dimas melajukan mobil menyusuri jalan di malam gelap hanya untuk mencari mie ayam gerobak.
Hujan gerimis masih menghiasi malam, sudah hampir tiga puluh menit jalan belum juga menemukan yang mereka cari, wajah Naya sudah mulai di tekuk, sesekali Dimas menoleh dan selama perjalanan Naya lebih banyak diam.
"Sayang.., kok di tekuk gitu wajahnya,? senyum dong, jangan buat ayah makin stres nih."
Naya menoleh, "Stres kenapa.?"
"Stres lah di diemin sama istri, mana belum ketemu mie ayamnya, mana hujan gerimis," sambil melihat-lihat yang jualan, namun belum ketemu juga.
Naya terdiam kembali dan menatap cemas, matanya tetap fokus memperhatikan setiap yang jualan.
Sesekali Dimas bertanya pada abang pedagang akan keberadaan yang jualan mie ayam, ada cuman agak jauh katanya, itupun gak tau masih jualan atau nggak sebab sudah malam gini.
Setelah berucap terimakasih, Dimas langsung menuju yang orang itu bilang, dengan harapan masih ada jualan.
Selang beberapa puluh menit akhirnya pandangan keduanya menemukan gerobak bertuliskan mie ayam ceker, "Itu yang gerobaknya, tapi.. kayanya sudah berbenah yang," wajah yang awalnya sumringah berubah jadi sedih lagi.
Dimas sebentar melirik kearah istrinya, "Kita kan belum tahu itu masih ada apa sudah habis, jangan sedih dulu, lagian kan bisa di ganti dengan yang lain."
"Gak mau, pokoknya pengen makan itu," dengan nada sedih.
Dimas menepikan mobilnya, karena masih gerimis, Dimas mengambil payung, lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu buat Kanaya, setelah pintu terbuka Naya keluar tangannya bergelayut mesra pada Dimas begitupun tangan Naya menggandeng pinggang Naya, yang satunya memegangi payung. berjalan berdempetan se payung berdua.
Naya duduk di bangku, Dimas menghampiri si abang yang jualan, "Permisi masih ada bang mie ayam nya.?"
"Aduh.., sudah abis Abang, lagian ini sudah malam, sudah mau tutup nih," sahut si abang.
"Tolong lah bang, sudah satu jam lebih saya muter mencari mie ayam gerobak dan baru nemu sekarang," ucap Dimas sedikit memelas.
"Maaf ya, saya mau pulang, sudah malam."
"Tolong bang, jangan tutup dulu, istri saya lagi ngidam, tolong lah bang, bikinkan gimana pun caranya, saya berani bayar lebih deh, kasian bang,?" semakin memelas, sembari melirik kearah istrinya yang nampak lelah.
Si abang garuk-garuk kepala yang tidak gatal, "Aduh gimana ya, sebenarnya sih masih ada kalau buat du porsi sih, cuma sudah malam, tapi..,baik lah kasian kalau memang sedang ngidam, tunggu ya sebentar."
"Iya bang, aduh..,makasih banyak bang, semoga Allah membalas kebaikan si abang ini." ucap Dimas dengan wajah ?sumringah.
"Tapi.., nau di makan di sini apa di rumah,?" menatap Dimas.
"Oh, di sini aja bang, kami makan di sini," sahut Dimas sambil mendekati Naya dan duduk di bangku yang sama.
"Gimana yang,?" tanya Kanaya menatap sang suami.
"Iya, bentar di bikinkan dulu sayang sabar ya,?" Dimas mengusap pundak Naya yang ke tutup kerudung.
__ADS_1
Naya menyatukan kedua telapak tangan dan gosok karena merasa kedinginan kebetulan dia gak bawa jaket.
Melihat Naya kedinginan, Dimas langsung membuka jaketnya dan ia balut kan di tubuh bagian belakang sang istri.
Naya memandangi jaket Dimas yang ia kenakan sekarang, "Kenapa, kan kamu juga kedinginan.?"
Dimas mesem, "Nggak apa-apa, aku kuat kok, kasian baby kita kalau bunda masuk angin," bisik Dimas sambil tersenyum.
Naya menatap penuh kasih, "Makasih?"
"Iya, sama-sama sayang," akhirnya pesanan mie ayam datang, dan Naya langsung menyantap hangat-hangat.
"Awas masih panas yang,?" Dimas menggeleng melihat Naya menyantap mie ayam ceker yang masih mengepul asapnya, seperti orang kalaparan berhari-hari tidak menemukan makanan hahaha.
Dimas baru menghabiskan setengah porsi, namun milik Naya tinggal mangkuknya saja, "Sayang, aku sudah kenyang nih, mau di habiskan gak,?" tanya Dimas sambil menyodorkan mangkuk miliknya.
Naya begitu lahap memakan mie juga cekernya di lahap habis, melirik mangkuk milik suaminya yang masih tersisa setengahnya, "Bener sudah kenyang,?" menatap Dimas yang sedang memandangi dirinya.
Sambil mengangguk, "Iya habiskan lah."
Naya pun tersenyum.menarik mangkuk dan menghabiskan mie ayam sisa Dimas kebetulan cekernya gak dimakan sama sekali oleh Dimas, dalam hitungan detik tinggallah mangkuk nya yang tersisa.
Dimas mesem aja, merasa lucu melihat sang istri, bibirnya merah kepedesan, Naya meneguk air mineral berkali-kali, "Nah kan sudah ayah bilang jangan terlalu makan pedas."
"Yang.., gak enak kalau gak berasa pedasnya, bagai sayur tanpa garam, bagai diriku tanpa dirimu, eyyya..., ha..,ha..,ha," Naya tertawa lepas namun segera menutup mulutnya dan tengok kanan dan kiri, yang sudah sepi hampir tidak ada orang hanya beberapa gelintir orang aja.
Dimas menggeleng pelan sambil tertawa kecil, "Bisa juga nge gombal yang."
"Nggak tau," Naya menggelengkan kepalanya.
"Kalau mie ayam itu untuk di miliki dan dinikmati oleh semua orang,"
"Iya"
"Sedangkan kamu cuma milik 'ku dan hanya aku yang bisa menikmatinya, iyyes,?" mengepalkan tangan ke udara dan menarik nya.
"Emangnya saya makanan bapak,?" Kanaya tak berhenti tertawa kecil, begitupun si abang mesem-mesem bae.
"Satu lagi, bunda tau gak kenapa kalau bulan bersinar selalu di temani bintang.?"
"Nggak tau juga," lagi-lagi menggeleng.
"Sebab, kalau bunda yang menemani bulan, ayang pasti tidak ada kawan," sambung Dimas sambil terkekeh.
Sambil meneguk air minum Naya tersenyum dan mendelik kan matanya, "Udah ah, udah malam, si abang nungguin," Naya dan Dimas melirik si abang yang datang mengambil mangkuk kotor, sekalian Dimas membayar lebih mie ayam nya.
"Wah.., ini uangnya kebanyakan bang,?" menatap uang yang sudah di tangan.
__ADS_1
"Ambil aja, makasih banyak abang sudah mau melayani kami malam-malam begini yang seharusnya abang sudah di rumah istirahat, eh.., harus melayani kami."
"Oh makasih juga bang, ya gak apa-apa, saya senang juga bisa melayani kalian berdua, semoga baby nya sehat-sehat," sahut si abang mie ayam.
"Gara-gara si ibu itu tuh bang, ngidamnya aneh-aneh, minta mie ayam hampir tengah malam, masih mending si abang nya baik hati, coba kalau beneran habis atau gak mau layani, bisa berabe nih."
Naya menoleh dengan tatapan datar, "Yang buat aku ngidam siapa.?"
"Saya"
"Aku mengandung anak siapa.?"
"Anak saya dong"
"Ya udah salahin aja bapaknya, ngapain salahin aku, aneh.."
"Haduh.., iya ya salah saya,?" sedikit berpikir.
"Udah pulang," Naya berdiri hendak menerobos gemerciknya hujan namun Dimas menarik pergelangan Naya sehingga Naya kembali ke belakang ngebentur tubuhnya Dimas.
Menatap wajah sang suami yang bermuka datar, "Kenapa.?"
"Apanya yang kenapa, itukan hujan masih, tunggu sebentar kenapa kita jalan pakai payung," ucap Dimas dengan nada kesalnya.
Naya malah nyengir, "Oh iya, hehehe"
"Oh iya," Dimas mengolok Naya, "Malah ketawa lagi," gerutu Dimas sambil menggandeng rapat tubuh Naya agar tidak kena hujan sedikitpun.
Setelah istrinya duduk di dalam mobil, Dimas bergegas mengitari mobil, menutup payung ia simpan di belakang.
Dimas bersiap menyalakan mesin, Naya membuka jaketnya dan di berikan pada Dimas, "Ini pake lagi, aku sudah gak kedinginan kok, ambillah."
"Iya lah gak kedinginan, orang sudah berada di mobil," jelas Dimas dengan nada dingin.
"Bukan cuma itu sih, tapi.., sekarang kan aku bisa memeluk suami 'ku," Naya memeluk suaminya menyandarkan kepalanya di bahu Dimas, jari Dimas mengelus pipinya.
Pelukan Kanay semakin erat, "Makasih sayang, sudah mengajak 'ku makan mie ayam, makasih banget," sembari mendongak.
Dimas mengecup kening sang istri, "Sama-sama bunda," beberapa saat Dimas membiarkan sang istri memeluk tubuhnya.
"Sudah dulu pelukannya, bisa-bisa kita bermalam disini yang kalau gini terus," suara Dimas memecah keheningan.
Naya langsung melepas pelukannya, dan duduk di tempatnya mencari posisi enak, ia merasa capek sekali.
Dimas melajukan mobilnya untuk pulang, waktu semakin larut bahkan hampir pukul 00.00 Dimas fokus menyetir sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah, capek banget belum sempat istirahat.
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? karena komen dari kalian menambah 'ku semangat, untuk menulis, terimakasih juga bagi yang sudah ngasih saran atau masukan makasih banyak ya.!!