
Karena sudah terdengar adzan magrib telepon pun di matikan dulu, Naya mau sholat magrib terlebih dahulu, nanti aja pas mau tidur di sambung lagi rencananya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 menit, Naya tengah menatap gelapnya malam melalui jendela, sang penguasa malam telah menggantikan siang, meski malam yang gelap namun sangat bermanpaat, yang diantaranya waktu yang tepat untuk beristirahat, dari segala aktifitas ataupun rutinitas umat manusia di dunia pana ini.
Naya mendudukkan tubuhnya ditepi tempat tidur, ia merenung sampai kapan seperi ini.? "Lelah aku lelah menunggu..,aku terbelenggu--! Naya menoleh ponsel yang berdering, dengan tatapan sayu ia mendekatkan benda tersebut ke telinganya.
"Iya..?"
"Sayang, sudah tidur kah.?" sapa orang di sebrang sana.
"Sudah, ini sudah di alam mimpi." sahut Naya sekenak nya aja.
"Hah.., ada-ada aja bah..? masa orang yang dalam mimpi bisa nyambung kaya gini.?" ucap Dimas.
"Bisa lah." irit.
"Kangen yang, ingin cepat menikah,"
"Dengan siapa.?" sambar Naya.
"Sama dirimu lah, masa dengan cewek lain." sahut Dimas.
"Kali aja, mencari yang lain." kata Naya ketus.
"Yang.., tak ada wanita yang ingin aku nikahi, aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu.!" Dimas meyakinkan. "Hanya kamu yang aku mau yang, yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku, dimana anak laki-laki yang tampan seperti aku, dan anak perempuan yang cantik seperti bunda, menjadi anak-anak yang sholeh dan saleha, itukan impian kita yang.?" penuh harapan.
Naya terdiam tanpa sepatah katapun, ia tak bisa menjawab apapun perkataan dari Dimas barusan, hatinya malah bagai terhiris, pedih, bibir kembali bergetar dengan mata yang nanar penuh dengan air yang rasanya ingin membludak.
"Yang hanya bunda yang aku cintai, wanita kedua dari Ibuku." sambung Dimas.
"Yang..," panggil Naya lirih.
"Apa sayang.?"
"Aku hanya wanita lumpuh, jadi tak ada yang bisa diharapkan dari wanita sepertiku," ucap Naya dengan suara bergetar.
"Nah.., nangis lagi, jangan nangis sayang, aku yakin sayang akan menjadi istri yang baik, Ibu yang baik buat anak-anak kita nanti."
"Tapi gak akan bisa mengurus suami, mengurus diri sendiri pun aku sudah sulit apa lagi mengurus suami, apa lagi anak, mungkin saja aku tak mampu memberikan anak kepadamu, dengan kondisi seperti ini." Sangat berputus asa.
__ADS_1
"Yang jangan bicara seperti itu, aku akan mendampingi apapun dirimu, aku janji sayang.! bila perlu kita cari pengobatan untuk bunda, mau kan.?" kata Dimas merasa terharu mendengar ucapan Naya.
Naya berpikir banyak perbedaan diantara mereka berdua, rasanya sulit jika bersatu, mulai dari latar belakang yang berbeda, keyakinan, pendidikan, keuangan, kondisi, bahkan mungkin dari postur tubuh juga, ia sangat tidak percaya diri.
"Yang..,aku akan menjadi mualaf itu sudah jadi keputusan aku, sayang bantu aku ya ajarin aku tentang agama islam,?" harap Dimas.
"Aku gak bisa, aku tak pandai tentang agama." elak Naya merendah.
"Aku tahu, sayang bisa, kamu juga pandai, tentang itu yang.., ya..ya..ya.?"
Tuk beberapa saat Naya terdiam kembali, tak tahu harus berkata apa, mata yang berkaca-kaca menerawang jauh.
"Jika hari ini masih mendengar kabar dariku, esok atau lusa, mungkin hanya sebuah kenangan, bahwa satu masa aku pernah kau kenal, melewati waktu yang cukup panjang, mengobrol bareng, dan menangis tertawa bersama, semoga aku akan kau kenang meski perkenalan kita hanya di udara..!" ujar Naya sembari menyeka air mata,
Dimas terperangah mendengar ucapan Naya. "Apa maksud bunda.? emang bunda mau kemana.?"
"Tidak kemana-mana, cuma aku merasa kita gak akan pernah bertemu apa lagi menikah." tegas Naya mungkin mereka tak akan pernah bertemu apalagi menikah pikirnya.
"Yang.., kita pasti bertemu, dan kita akan menikah, kita gak mungkin tidak menikah jika pertemuan itu ada." ucap Dimas terus meyakinkan kekasihnya.
Naya masih dengan buliran air matanya, tak ada kata yang pantas untuknya selain kata Rapuh.
"Aku gak butuh janji.! yang aku butuhkan bukti, bukan janji." kata Naya.
Dimas diam, termenung, sedikit bingung, tadi sang Mama menyuruhnya ke Cirebon untuk menemui Pamannya, harus jalan mana yang harus di tempuh.? kalau Cirebon dulu takut tidak bisa ke Semi tujuan semula, tapi bila ke Semi bagai mana dengan permintaan sang Mama.?
Naya yang tak mendengar suara Dimas bicara jadi kesal lalu mematikan telepon.
Naya menarik selimut, dan membaringkan dirinya di kasur yang sudah jelek itu, mencoba menepis semua pikiran jelek, serta rasa gundah gulana dalam hatinya.
*****
Sesat Dimas menyadari teleponnya terputus, kemudian melakukan panggilan ulang, namun tak kunjung juga Naya angkat. "Sial.., kenapa gak di angkat sih sayang.?" Dimas mengacak rambutnya kasar.
Akhirnya ia memeluk guling, dan tertidur dengan pulas.
Sang mentari sudah menampakkan dirinya di ufuk timur, Dimas tengah duduk di sudut rumah makan buat sarapan, seorang pelayan laki-laki menghampirinya. "Pesan apa Pak.?"
Dimas menyatukan tangannya di dagu. "Em...,nasi goreng dan teh manis satu."
__ADS_1
"Baik Pak.?" orang itu berlalu dari tempat tersebut.
Tiba-tiba ponsel Dimas bergetar, ia merogoh saku celananya, melihat siapa yang memanggilnya, ternyata sang Mamanya.
"Halo Mak.? ada apa.?" tanya Dimas.
"Dimas, kau di mana.?" bukannya menjawab malah balik nanya.
"Saya lagi di tempat makan, mau sarapan Mak," sahut Dimas menyangga dagunya.
"Kapan mau berangkat ke tempat Paman kau.? jangan lupa jenguk beliau, jangan kemana-mana lagi.?" bu Hesa penuh desakan.
Dimas terdiam sesaat, alasan apa yang tepat untuk Mamaknya, "Iya Mak aku akan berangkat ke sana, saat ini kepala agak pusing," alasan Dimas iya Mak.
"Minum obat cepat" kata bu Hesa dari sebrang sana.
"Iya Mak, mau sarapan dulu." sahut Dimas.
"Ya sudah, cepat-cepat pulang." sambungnya. tut..tut..tut. panggilan terputus.
Seorang pelayan datang membawa pesanan Dimas. "Silahkan..,selamat menikmati." sembari menyodorkan sepiring nasi dan segelas teh manis.
Dimas mengangguk pelan. "Makasih mas." langsung menyantap sarapannya, sembari berpikir, Ibunya belum merestui dirinyaa dan Naya jelas dia akan menentang, makanya menyuruh langsung ke tempat pamannya.
Dimas sudah berbincang dengan Pamannya, akan ketemuan di Semi, biar Paman menjadi saksi bila terjadi pernikahannya nanti.
Usai makan ia meneguk segelas air teh manis sampai tandas, setelah melakukan pembayaran, Dimas kembali ke penginapan untuk mengambil barang-barang di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 wib, Pria tampan berkemeja putih pendek, celana jeans itu mengemas barangnya tak satupun yang tertinggal di sana.
Beranjak membawa koper keluar kamar tersebut menuju lobi hendak melunasi pembayarannya di sana, selesai pembayaran Dimas berjalan menuju jalan raya mencari transportasi, untuk tujuan Semi, ia menunjukkan sebuah alamat kepada supir tersebut, dan Supir itu mengangguk pelan.
"Bisa Pak antar saya ke alamat tersebut.?" tanya Dimas penuh harap.
"Baik pak, insyaallah bisa." sahut supir tersebut, melajukan mobilnya, Dimas dengan wajah yang sumringah menyandarkan punggungnya ke kursi mobil, dengan senyuman bahagia bergumam. "Akhirnya.., tunggu aku sayang." rona bahagia begitu nampak di wajah tampannya.
Supir yang tangah fokus menyetir sesekali melirik dari kaca spion sedikit keheranan, melihat ekspresi wajah penumpangnya.
,,,,
__ADS_1
Hari ini mod author begitu turun, mau di hiatus sayang juga, kalau kalian suka dengan kisah Naya dan Dimas ini ayok dukung dong...,reader ku🙏 biar aku tambah semangat, berikan lake sebanyak-banyaknya dong. komen juga, rating dan vote nya aku yakin kalian baik semua🙏 terima kasih.?