
Naya ingat sebuah foto dan akan membicarakan dengan Dimas, bila Dimas selesai sholat magrib, apa maksudnya coba menyimpan foto mantan,? kalau di ponsel sih tidak ada, dua nama yang menjadi satu D&S.
Dimas selesai sholat magrib usai membaca doa dia berdiri menyimpan sejadah di atas meja, dengan masih mengenakan sarung Dimas naik ke tempat tidur, dimana Naya berbaring mengenakan selimut, namun tidak tidur.
Naya meringsut bergeser duduk bersandar di bahu tempat tidur, dengan menarik selimut, Naya mengurai rambut ke depan bahu kanannya, membuat Dimas meraih rambut dan mencium wanginya.
"Kenapa sayang,? sembari menempelkan rambut ke hidungnya.
"Gak," Naya tampak ragu-ragu mau bicara tentang foto itu.
"Hem.., dari siang gelisah banget gak bisa tidur kayanya,?" meraih kepala Naya agar bersandar di pundaknya namun Naya menolaknya.
Dimas menatap heran, istrinya sedikit bersikap aneh hari ini, mungkin karena lagi datang M makanya seperti itu Dimas pikir, dan tak membuat Dimas kesal, Dimas meraih kepala Naya kembali tapi kali ini bukan untuk di sandarkan ke bahunya melainkan, Dimas memiringkan wajahnya dan merasakan hangatnya napas dari mereka berdua yang menyapu kulit masing-masing.
Keduanya saling bersitatap memandangi netra mata keduanya, Dimas semakin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri untuk menyentuh lembut bibir Naya, namun Naya mengelak nya serta memalingkan muka ke lain arah, Dimas semakin heran dan kesal, tak biasanya Naya tidak mau di sentuh oleh dirinya.
"Kenapa sayang,? emang ada ya,? larangan wanita yang lagi M tidak boleh di sentuh,?" dengan tatapan kesal.
Naya tidak segera menjawab, kecuali tatapan yang entah kemana.
"Sayang lihat aku,?" Dimas memegangi dagu Naya dengan jarinya membuat wajah Naya berhadapan dengannya namun tidak dengan mata Naya yang melihat ke bawah.
Dimas semakin tak habis pikir pada Naya, "Sayang, kenapa sayang marah kah sama aku,?" lirih, "Apa salah aku,? sikap sayang bukan bercanda dengan mendiamkan aku, tapi.., benar-benar membuat aku kesal, tau gak.?"
Dengan helaan napas Naya menatap manik mata Dimas, "Kalau kau merasakan aku diamkan,? kan baru kali ini, bukan seharian ini atau pun dari kemarin, tidak kan,?" dengan nada ketus saliva nya sudah mulai tertahan di tenggorokan.
Dimas terdiam sejenak dengan tangan mengusap pipi Naya lembut, dan ingin Naya singkirkan tangan itu dari pipinya.
"Iya memang benar baru kali ini, tapi itu akan menjadi kebiasaan yang,? kali ini aja aku bisa gila, gimana seharian,? jangan diamkan aku seperti ini,?" lagi-lagi Dimas menyentuh bibir Naya yang lembab dengan jarinya, ingin sekali menikmati dan menggigitnya.
Naya raih tangan Dimas, menjauhkan dari wajahnya, "Siapa wanita di foto itu,?" Naya menatap sekilas lalu berpaling lagi.
Dimas terdiam dengan pertanyaan Naya terhadapnya, "Foto apa,? yang mana,?" Dimas melihat sekitar ruangan yang ada hanya foto mereka berdua.
"Jangan pura-pura gak tau lah,?" semakin ketus.
"Benar yang, aku gak mengerti dengan foto yang sayang maksud,? di mana,? di ponselku hanya ada gambar kau sayang,?" Dimas membelai rambut Naya.
"Wanita berkerudung, dan bahunya kamu rangkul,? mantan kau kan,? kenapa masih tersimpan dengan baik, berarti kah dia,? kenapa kau tidak nikahi saja dia,? cantik sempurna dia, tidak seperti aku," ujar Naya kesal dan menahan tangan Dimas agar tidak menyentuhnya.
Dimas mulai mengerti dengan maksud Naya, "Oh, ceritanya istri aku yang tersayang ini cemburu ya,? tapi foto yang mana? siapa, mantan aku cuman Satu perasaan dan sayang pun tau mantan aku.?"
Naya menatap Dimas dengan tatapan nanar, "Silvi.?"
Dimas membalas tatapan Naya dengan sangat dalam, "Iya sayang, tapi.., sayang lihat di mana foto itu.?"
"Di tumpukan pakaian, tersimpan rapi di sana,? sengaja kah,?" Naya menunduk dalam.
Pikiran Dimas menerawang, ia baru ingat kalau ia pernah menyimpan selembar foto ketika masih dekat dengan Silvi, itu sudah lama, dan selama itu juga pakaiannya tidak di buka sama sekali, menjadi wajar kalau foto tersebut tidak terjamah oleh siapa pun.
Dimas tersenyum lebar, "Oh, karena itu sayang dingin sama aku,?" sambil meraih tangan Naya, lagi-lagi Naya tepis.
"Sayang, itu sudah lama, dan aku sendiri tidak ingat sama sekali kalau sayang tak mengatakan soal itu, dan mungkin juga bajunya gak pernah aku pake lagi, jadi aku gak tau kalau gambar tersebut masih ada," sambung Dimas lirih.
__ADS_1
Naya menunduk dalam, tidak menatap Dimas yang lekat memandanginya dengan senyum yang merekah, rupanya Naya Cemburu melihat foto tersebut, "Aku tidak ada apa-apa lagi dengannya, aku bertemu dia terakhir ketika dia menikah, kan aku cerita sama sayang,? waktu itu."
"Sayang..,?" Dimas mengangkat wajah Naya dengan jari telunjuknya, hingga Dimas melihat jelas wajah sang istri, terlihat mata Naya menitiskan air bening, "Percayalah sayang,? aku hanya mencinta dirimu seorang, dia hanya masa lalu, dan masa depan aku sekarang, adalah wanita yang ada di hadapanku sekarang ini, yang mendiamkan aku gara-gara cemburu pada sebuah gambar, walaupun hanya sebentar mendiamkan dan marah pada diriku, cukup membuat diriku gila," Bisik Dimas terus meluluhkan pujaan hatinya.
"Tapi.., jangan menyimpan barang itu, cukup dalam hati saja," dengan nada manja, dengan menempelkan telunjuknya pada dada Dimas.
"Sayang.., tiada siapa pun di hati ini salain dirimu,?" Dimas meraih tangan Naya dan dia tempelkan di dadanya Dimas.
Dengan pandangan sayu, "Benarkah,?" Naya mencari kejujuran Dimas dari matanya, yang menunjukkan bahwa semua yang di katakan itu adalah benar,
"Apa sayang melihat ada kebohongan dari mataku.?" Dimas mencium tangan Naya yang ada dalam genggaman nya.
Naya geleng-geleng kepala, "Yang.., jangan sakiti aku,?" dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Siapa yang akan menyakiti dirimu sayang,? aku akan berusaha menjaga dirimu dari siapa pun kau hanya milikku, hanya milikku," memeluk tubuh Naya sangat erat, sementara waktu mereka saling berpelukan, setelah puas memeluk istrinya Dimas melepaskan tubuh Naya, mengangkat dagu Naya perlahan dan Dimas memiringkan wajahnya lalu bibir Dimas ******* bibir sang istri tanpa penolakan, tangan Naya merangkul punggung Dimas.
Di luar, tengah terjadi hujan gerimis suaranya gemericik, menambah mereka semakin asik dengan aksinya, tangan Dimas bergerilya kemanapun yang dia suka, apa lagi kalau sudah menemukan dua tempat yang tinggi dan sangat empuk membuat tangannya semakin betah bermain di sana.
"Awas kebablasan yang,?" ucap Naya di sela ciuman yang mulanya lembut dingin, menjadi kasar dan panas bukan hangat lagi, penuh gairah.
"Iya sayang," dengan suara terengah-engah dan melanjutkan aksinya mencumbu sang istri sampai posisi pun berubah, menjadi berbaring, dan Naya berada di bawah tubuh kekar Dimas, pakaian atasan Naya hilang sudah entah kemana, Dimas bertambah asik bermain-main dengan benda kenyal milik Naya, membuat lupa akan makan malam mereka.
Walau hasratnya tak sepenuhnya tersalurkan, namun Dimas merasa cukup puas bisa menjamah tubuh sang istri, dengan napas berat, dan terengah-engah Dimas merebahkan tubuh di sisi sang istri, dan sebelumnya mengecup kening Naya dengan lama..., menempelkan bibir di sana.
Naya menggeser tubuhnya ke pelukan sang suami, Naya membenamkan wajah di dada suaminya sampai tertidur, mereka pun sama-sama tertidur.
Bi Taty di bawah, gelisah menengok ke lantai atas tidak ada yang turun untuk makan malam, rasanya percuma dia masak banyak untuk bertiga tapi tak ada yang makan kecuali dirinya sendiri.
Sekitar pukul 10 malam Dimas terbangun, ia mengucek matanya perlahan menggeser tubuh Naya supaya berjarak dengan dirinya, Dimas bangun dari tidur, perutnya sudah keroncongan minta makan.
Dimas turun dari tempat tidur, berjalan keluar kamar setelah menutup pintu ia menuruni tangga menuju dapur, sampai di meja makan membuka tudung saji, hanya ada makanan untuk satu orang saja, "Apa Bibi tidak masak,?" gumam Dimas.
Mendengar suara dari dapur bi Taty membuka pintu kamarnya, rupanya Dimas sedang duduk menghadapi meja makan, "Maaf Tuan, Bibi pikir Tuan gak ma-makan, jadi Bibi kasihkan pada tetangga, takut mubazir kata Ibu juga."
Dimas menatap bi Taty tanpa ekspresi, "Tak apa Bi," Dimas teruskan melahap makannya.
"Maaf, Bibi tidak meminta ijin dahulu,?" ucap bi Taty.
Dimas meneguk air minum mineral, "Tidak apa-apa Bi, apa lagi kata Ibu begitu, ya sudah,!" dengan santainya.
Selepas mencuci tangan, Dimas kembali ke atas, "Ya sudah Bi aku naik dulu ya,? lanjutkan tidurnya, maaf saya sudah ganggu Bibi.?"
"Oh, tidak apa-apa Tuan, sudah tugas Bibi kan,?" sahut bi Taty memandangi punggung majikannya.
Dimas melangkah menaiki tangga, berjalan dengan santai masuk ke dalam kamarnya, clik.., suara kenop pintu di putar, Dimas masuk dengan kembali menutup pintu, nampak Naya tak bergeming dari tidurnya, Dimas langsung menuju kamar mandi, ia baru ingat belum sholat isya, dan ia harus bersih-bersih terlebih dahulu.
Setelah bersih-bersih Dimas keluar dengan handuk, di pinggangnya, lalu mengambil setelan tidur, terus menunaikan sholat sendirian.
Selepas menyimpan bekas sholatnya Dimas naik ke tempat tidur memperhatikan wajah istrinya dengan senyum puas, "Aku sangat beruntung memiliki dirimu," cup.., mendaratkan bibirnya di kening sang istri.
Pandangannya turun ke bawah leher yang tertutup selimut, perlahan selimut itu Dimas tarik ke bawah sampai dada dengan senyum licik ia mendekat dan membuat tanda kepemilikan di beberapa tempat, sementara Naya hanya menggeliat, membuat Dimas semakin menyeringai.
Sudah merasa puas, Dimas merebahkan dirinya di samping sang istri lalu menjemput mimpinya yang tadi tertunda akibat rasa lapar yang mengganggunya.
__ADS_1
Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan, Naya menyipitkan matanya, melirik ke arah jam sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi "Nyenyak betul aku tidur,? kalau gak salah dari sebelum isya deh aku tidur,?" bergumam sendiri, Naya bangun, sebelumnya menggeser tangan Dimas yang memeluknya erat, Naya turun dari tempat tidur dengan tujuan kamar mandi tuk bersih-bersih badan terasa lengket.
Naya berendam dalam bathtub, dengan aroma-aroma terapi membuat nyaman yang menghirupnya, begitupun Naya begitu sangat menikmati wanginya, lima bekas menit kemudian Naya beranjak setelah mengenakan handuk langsung memakai pakaian yang tadi dia bawa.
Saking menikmati wangi terapi, Naya hingga tak sadar Dimas sudah berdiri dan bersandar di pintu dengan menyilang kan tangan di dada, "Selesai belum sayang.?"
Naya kaget sontak melihat ke sumber suara, "Sayang, dari kapan kau di sana.?"
Dimas menarik sudut bibirnya tersenyum, "Dari lama, aku disini gak nyadar ya,?" melebarkan senyumnya.
Naya menggeleng, "Nggak, kebiasaan main masuk aja ih, heran aku, gak bisa di bilangin nih orang," gerutu Naya.
"Tak apa lah, kan aku suami dirimu, kalau bukan tidak mungkin aku main masuk aja," sahut Dimas mendekati shower dan membuka seluruh bajunya, membuat Naya menunduk.
"Sayang,?" panggil Dimas.
"Iya,?" Naya mendekati pintu, tak sedikitpun menoleh orang yang lagi mandi tersebut.
"Kenapa gak noleh,? bukannya kalau sedang bercumbu suka dengan semuanya,? tapi sekarang seolah gak berani melihat gitu,?" goda Dimas, sambil senyum menggoda, namun Naya malah bergidik malu membuka pintu dan segera keluar.
Dimas senyum dan menggeleng, lalu melanjutkan bersih-bersih tubuhnya, sambil membulatkan bibirnya bersiul.
Naya masih berdiri depan pintu, "Pagi-pagi sudah ada pemandangan aneh," membulatkan matanya dan menggeleng pelan.
Kemudian mendekati lemari untuk mengambil pakaian kerja Dimas lengkap dengan **********.
Naya duduk di meja rias memberi bedak tipis di wajah, dan body losion pada kulitnya, kemudian menyisir rambut dan mengikatnya.
Dimas kembali dengan mengenakan handuk, mengenakan pakaian yang di atas kasur, dan melempar handuk pada Naya yang tengah menyisir, membuat Naya memekik kesal, "Sayang...?"
Dimas malah ketawa dan mengambil kembali handuknya, di simpan pada tempatnya, mana mungkin ia tega mengerjai istrinya tersebut.
Usai melaksanakan kewajibannya, Dimas mendekati Naya dan berjongkok, "Rapikan rambut yang,?" titah Dimas yang di turuti oleh Naya, kemudian merapikan pakaian dan menyemprotkan minyak wanginya, Dimas memandangi sang istri sembari menyembunyikan senyumnya.
"Sudah, coba lihat di tas, kali aja ada yang tertinggal, atau apa, oya yang sesibuk apa pun kerjaan dirimu, jangan lupa sholat jika sudah memasuki waktunya," ujar Naya menatap Dimas lembut.
"Tidak yang, tidak lupa, ingat terus, cuma males aja apa lagi sedang sibuk ataupun capek," sahut Dimas jujur.
"Yang.., sholat itu wajib loh,? lagian kan tidak selamanya sibuk, dan sholat juga sebagai istirahat yang,?" sambung Naya.
"Iya sayang, doakan aku bah biar rajin, dan semangat, ok,? dan tolong fahami aku kan masih belajar kan,?" sahut Dimas membelai rambut Naya yang belum di balut kerudung.
"Sayang aku bikinkan nasi goreng ya,?" sambil menatap Dimas sekilas.
"Tidak repot kah sayang,?" tanya Dimas membalas tatapan sendu Naya.
"Insya'allah tidak, aku keluar duluan ya,?" Naya membalikkan badan mengarah ke pintu.
"Aku antar Sayang,? Dimas mau meraih tubuh sang istri, namun Naya tolak, dengan alasan badannya masih pres katanya, kemudian berjalan meninggalkan Dimas yang duduk membuka laptopnya.
,,,,
Semoga kabar reader semua ada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, terimakasih sudah setia mampir di sini๐๐ terus dukung aku ya, jangan lupa lake, komen, rating dan vote nya, agar aku tambah semangat belajar nulisnya.
__ADS_1