
Sonya menjatuhkan tubuhnya keatas kasur, dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia alami di danau.
Sekelebat bayangan Marwan kembali muncul saat dia memikirkan penikahan,Sonya menangkup wajahnya dengan kedua tangan ada kepedihan mendalam di hati Sonya tentang gagalnya pernikahannya dahulu.
Sonya pun bangun memposisikan dirinya terduduk. Kemudian beranjak mengambil wudhu untuk menunaikan kewajiban beribadahnya.
Sementara di tempat lain, di dalam mobil tepatnya, nampak Ersya yang terus melirik ke arah Isco yang tak bicara sejak kejadian itu.
"Ko jadi kacau begini sii," batin Ersya.Entah apa yang ada difikiran Isco saat ini membuat Ersya enggan untuk berbicara padanya terlebih wajah datar dan dingin itu kembali nampak pada raut wajah Isco.
Hari ini selang dua hari setelah kejadian tempo hari.. Sonya datang ke kantor,namun kali ini tujuannya berbeda dia langsung menuju ruangan Isco.
"Masuk.." Terdengar sautan dari dalam saat Sonya mengetuk pintu Direktur itu.
Saat itu Isco yang tengah berkutat dengan berkas-berkas ditangannya tiba-tiba tertegun melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
Namun beberapa detik kemudian dia sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Duduk.." Titahnya.
Sonya pun mendudukan dirinya di kursi berhadapan dengan Isco, sementara Isco berpura-pura melihat berkas yang ada ditangannya dia berusaha menghindar bersitatap dengan Sonya.
__ADS_1
"Begini Pak, saya kemari untuk memberikan ini." Kata Sonya sambil menyodorkan sebuah amplop putih.
"Apa ini?" Tanya Isco yang kemudian mengambilnya.
Setelah membukanya dan membaca kertas didalamnya, Isco mengerutkan keningnya kemudian menatap Sonya dalam, "surat pengunduran diri??" Katanya lirih.
"Ya, saya harap bapak dapat menerimanya." Kata Sonya.
"Ok baiklah.." Kata Isco, tak ada kata lagi keluar dari mulutnya, hingga Sonya undur diri dan tiba di meja kerjanya membereskan semua barangnya.
"Eh pembawa sial sepertinya dipecat," ucap Hesti kegirangan karena berpapasan dengan Sonya dilobi kantor.
Sedari tadi Sonya mencoba kuat entah kenapa meski dia yang menginginkan keluar dari pekerjaannya,, ada rasa panas dan sesak didadanya terlebih respon Isco, membuat Sonya tak habis fikir.
Sementara Isco terlihat di ruangannya memperhatikan gerak gerik Sonya dari jendela, hingga Sonya selesai dan masuk mobilnya kemudian pergi melajukan mobilnya. Isco terus melihatnya sambil tangannya di masukan ke saku celananya..
"Kakak..!!" Suara itu terdengar memecah keheningan ruangan itu.. Isco pun menoleh, ternyata Ersya.
"Kakak, apa benar kakak memecat Sonya?" Kata Ersya.
"Tidak.." Kata Isco santai.
__ADS_1
"Tapi kata karyawan lain begitu," kata Ersya.
"Anak kecil tau apa? Kembali bekerja sana!" Ucap Isco tak menghiraukan rengekan Ersya.
Seminggu telah berlalu Sonya melalui harinya tinggal di rumah bersama ibunya meski ada perasaan getir dalam hatinya dan sakit yang tak bisa diungkapkannya tentang bagaimana lelucon konyol ditepi danau itu.
Siang itu tepatnya pukul 09:35, dikala Sonya tengah sibuk membantu ibunya di dapur terdengar suara gemuruh mobil di depan rumahnya..
"Kok sepertinya ribut sekali didepan," kata Bu Hartati.
"Mungkin tetangga kita beli mobil baru bu," kata Sonya.
Tak lama kemudian terdengar salam dari pintu depan, Bu Hartati menghampiri pintu dan membukanya..Alangkah kagetnya dia ketika membuka pintu, Sonya yang penasaran ibunya lama buka pintu akhirnya menyusul.
Sama seperti Bu Hartati Sonya pun tercengang dengan apa yang dilihatnya..
bersambung...
nah loh,,ada apa gerangan??
apakah tetangga mau pamer segitu niatnya sampai ketuk pintu..kkkkk
__ADS_1
baca terus yaaaaa..