Bukan Mauku

Bukan Mauku
Aku gak butuh janji


__ADS_3

"Ok, saya pulang dulu, permisi,?" Dimas mengambil baju kebesaran yang tadi dia simpan di sofa lalu bergegas berjalan keluar rumah, mendekati motornya, setelah memakai helm Dimas mengangguk pada Sonia yang berdiri depan pintu, tidak butuh waktu lama motor Dimas melesat meninggalkan tempat tinggal Sonia.


Sesampainya di halaman, Dimas menyimpan motor, langsung bergegas masuk rumah di sana ada Rita Tengah bermain, Ibunya di dapur nongol dari dapur, "Met sian dok.?"


"Siang, hi.., Rita,?" Dimas mencolek anak itu, lalu mempercepat langkahnya ke kamar miliknya, "Assalamu'alaikum.., sayang.?"


Dimas menutup pintu, tampak istrinya berdiri dekat jendela menoleh ke arahnya, "Wa'alaikum salam..," Naya mencium punggung tangan suaminya yang langsung memeluk.


"Kangen istriku yang bawel," Dimas membawanya ke sofa dan duduk di sana, cup mengecup kening tangannya membelai rambut sang istri dengan lembut dan mesra.


Sementara waktu mereka berpelukan, lama-lama Naya mencium bau aneh dari badan Dimas, "Bau apa nih,? kok bau minyak wangi Ayah lain dari biasanya,?" Naya menjauh dari pelukan Dimas menatap penuh tanda tanya.


Dimas tersentak, "Masa,?" aku rasa biasa aja, kan Bunda tau parfum aku," Dimas ikut mendengus mencium bau dari tubuhnya.


"Justru itu," sorot mata Naya tajam.


"Oh, mungkin karena tadi aku mengantar dokter Sonia pulang, motornya di bengkel jadi Ayah mengantarnya pulang, iy- iya bener bun," Dimas tak berani menatap Mata Naya.


Sorot mata Naya semakin tajam, menatap curiga, "Oh," sangat singkat, entah kenapa hatinya terasa sakit, dada sesak, saliva rasanya tercekat di tenggorokan, mata Naya berkaca-berkaca dia merasa ini bukan kali pertama Dimas mengantar Sonia, karena kemarin pun ada bau yang sama namun baru kali ini dia bertanya.


"A-aku minta maaf gak minta ijin dulu, karena itu cuma kebetulan, sama-sama dari kerjaan, dan jalan kita satu arah," ucap Dimas hendak mengusap air bening yang jatuh di pipi Naya.


"Ya benar, itu cuma kebetulan dari kerjaan, aku tau, aku ngerti, tapi.., terserahlah," Naya memasang hetdset di kupingnya.


"Bunda, aku dan dia tidak ada apa-apa percayalah,? iya bukan cuma sekali ini, tapi dua tiga kali, sungguh yang tidak ada apa-apa," wajah Dimas memelas.


Naya tak bergeming tak ingin mendengar apa pun dari Dimas, ia percaya sama suaminya namun hati Naya mungkin lagi sensitif, menjadikannya rapuh.


Hati Dimas jadi gusar merasa bersalah, dia mengusap rambutnya kasar, Naya sama sekali tidak mau bertatap muka dengannya, "Yang,?" Dimas meraih tangan Naya namun Naya lepaskan, akhirnya Dimas masuk kamar mandi.

__ADS_1


"Kau tau aku gak mungkin mengkhianati Bunda, aku sayang Bunda, tak ada niatku untuk berpaling darimu, apa lagi sekarang, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, tidak-tidak akan ada yang lain di hati ini selain Bunda," isi pesan singkat yang Dimas kirimkan ke no ponselnya Naya, berharap dia baca.


Naya menyiapkan pakaian untuk Dimas, sebuah notifikasi muncul di ponsel Naya yang nama kontak Love you too, dengan malas ia membuka dan membacanya, Naya menarik napas kasar setelah membaca itu, bukan tak tak luluh namun entah kenapa ia merasa kesal banget pada suaminya.


Dimas, keluar kamar mandi, setelah mengenakan semua pakaiannya dia melaksanakan sholat duhur, sesai itu Dimas mendekati Naya di sifa, "Yang makan yuk,? lapar nih," Dimas lembut, namun Naya tetap jutek, jangankan menjawab, melirik pun tidak, malah pura-pura tidur.


Dimas bingung harus gimana lagi membujuk Naya, yang sebelumnya tidak sekeras kepala seperti ini, dulu selalu pengertian, lembut dan mengalah, mungkin ini bawaan baby kali, Dimas merasa lapar namun malas juga untuk makan bila tanpa istrinya, Dimas duduk terdiam di sofa bersandar sampai ketiduran, begitupun Naya alih-alih tidak ingin melihat wajah suaminya eh.., malah ketiduran juga.


Sore hari Naya terbangun lebih dulu, melirik suaminya tertidur sembari menyandar ke belakang sofa, Naya mengucek matanya, "Ya ampun..,tadi dia mengajak makan, sudah apa belum ya makannya,?" batin Naya bertanya-tanya.


Naya meninggalkan Dimas di sofa, masuk kamar mandi sebentar lalu balik lagi.


Di dapur, bi Meri dan suaminya, tengah mengobrol, sembari mengawasi bocah kecil itu, Naya mendekati, "Maaf apa melihat Dimas makan siang tadi,?" tanya Naya sembari mengulas senyumnya.


"Ti-tidak Bu, makanan masih utuh ya,? kecuali kami yang makan," sahut Pk Mad menunduk.


"Aku cuma bertanya tentang suami aku, baguslah, kalian makan dari pada mubazir kan, kami tidak makan, di makan sama kalian juga nggak, kan sayang." Naya lembut.


"Tidak ada Bu,"


Em.., bagus lah, oya Bi, tolong ya bawakan makan makan ke kamar, kami mau makan di kamar," Naya kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya, kasian dia kelaparan, "Hi.., Rita,?" Naya mengacak rambut bocah kecil tersebut.


"Oh iya Bu, sebentar saya bawakan,?" bi Mari mengangguk.


Kini Naya sudah berada di sofa, duduk dekat Dimas yang masih tertidur, "Yang bangun,? sudah sore tuh," Naya sangat lirih dan mencium pipi Dimas.


Dimas perlahan memicingkan matanya, langsung melihat sang istri berada dekatnya, "Sayang.,? panggil Dimas.


Naya menatap sendu, "Bangun, sudah sore, sholat dulu sana, nanti kita makan," menunjuk makanan yang di bawakan bi Meri ke kamar.

__ADS_1


"Permisi," bi Meri menyimpan di atas meja.


"Makasih Bi,?" ucap Naya dengan senyuman merekah di bibirnya.


Bibi meninggalkan kamar tersebut setelah mengantarkan makanan, Dimas beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar mandi, Naya menatap punggung Dimas sampai hilang di balik pintu.


"Makan yang,?" ajak Naya setelah melihat Dimas usai melipat sejadah.


Dimas duduk di samping Naya, menatap dengan sangat lekat. "Sayang gak marah lagi kan.?"


"Siapa Bilang,? aku cuma mengajak makan, bukan berarti tidak marah," sembari menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri, lalu menyuapi Dimas.


"Dulu, aku gak gimana-gimana, Citra deketin kamu, karena setau aku, kalian dekat sebatas di tempat kerja aja, tapi kali ini sampai ke rumah segala, bahkan baunya parfum bercampur gitu, wajar dong kalau aku marah,? aku kesal, apa lagi kondisi aku lagi sensi kaya gini, gimana kalau kedekatan kamu sama dia timbulkan fitnah,? aku tau dia tak bersuami, di rumahnya cuma ada dia sama anaknya yang masih belum pada dewasa, asistennya paling," cerocos Naya namun ia tetap menyuapi suaminya.


Di balik mengunyah Dimas tersenyum, "Iya sayang, aku cuma tadi mampir sebentar, gak akan lagi, aku janji,?" Dimas menyatukan kedua tangannya.


"Aku gak butuh janjimu, buat apa janji,?" cuek.


"Makasih sayang,?" emuah mencium pipi kiri dan kanan Naya.


Naya tertawa lebar, "Udah ah makan yang banyak, nanti kelaparan, nanti cari wanita lain karena lapar, istrinya gak ngasih makan, ha..,ha..,ha," membuat Dimas gemas.


"Nggak sayang."


"Nggak apa, gak salah lagi,?" Naya nyinyir, canda tawa mereka kembali menghiasi ruangan tersebut, Naya memang tak tega jika harus mendiamkan suaminya lama-lama, apa lagi makan aja Dimas tergantung pada dirinya, Dimas merasa bahagia, istrinya sudah bersikap ramah lagi padanya, karena memang paling gak nyaman bila di diamkan anggota keluarga terutama istri.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


Nb..


Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐Ÿ™ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐Ÿ™ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya


__ADS_2