Bukan Mauku

Bukan Mauku
Di anggurin


__ADS_3

Dimas pun mengusap kembali pipi Naya yang basah, lalu mengusap pipinya sendiri, kemudian mereka meneruskan makannya yang tadi terpotong oleh sebuah drama yang membuat melo, sedih-sedihan, peluk-pelukan. ah sebuah pasangan yang cengeng dan sangat romantis, setiap saat mesra, ups kan author sendiri yang nulis ya hehehe.


Usai makan mereka hendak tidur siang, namun Dimas malah sibuk dengan laptopnya, hanya Naya yang tertidur di sampingnya Dimas.


Setiap hari Naya hanya diam tak ada yang bisa dia lakukan, sekalipun masak, mencuci, bersih-bersih semuanya di lakukan pak Mad beserta istri, siang maupun malam, Pak Mad baru pulang ketika di rumah sudah tidak ada pekerjaan sama sekali dan itu permintaan Dimas, setiap hari suka ada aja pasien yang datang ke rumah, membuat rumah kadang ramai, namun membuat Naya merasa suntuk, hari-hari paling Naya menemani Rita bermain, Naya membelikan mainan seperti boneka, untuk Rita bermain.


Seminggu sudah Dimas dan Naya tinggal di tempat ini, di sebuah malam setelah sholat isya, Dimas dan Naya berada di ruang tengah duduk di sofa, "Yang..,?" panggil Naya pada Dimas yang duduk di samping Naya namun dia sibuk dengan laptop di pangkuannya.


"Hem..," sahut Dimas tanpa melirik sedikit pun.


"Aku bosan, gak boleh ngerjain apa pun, kerjaku cuman duduk dan duduk," dengan nada manja menyandarkan kepala di bahu Dimas.


"Siapa bilang gak ada kerjaan,? melayani suami, menyuapi makan, menyiapkan pakaian, menemani tidur, kan itu tugas Bunda," masih tak bergeming, sorot mata tetap tertuju pada layar laptop.


"Tapi kan, di rumah biasanya aku masak buat sarapan, bantuin masak sama bi Taty, di sini aku benar-benar gak boleh ngapa-ngapain, suntuk yang," sambung Naya.


Dimas menoleh dan menghentikan aktivitasnya, "Sayang, kau tengah hamil muda, aku tidak ingin kamu ke napa-napa ngerti,? Ayah tidak ingin Bunda kecapean, terus kenapa-kenapa dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, ingat kata dokter kandungan, Bunda harus istirahat total, sebelum kandungan dan Bunda sendiri benar-benar kuat, sayang harus ingat juga, wanita yang sehat pun ada kalanya lalai dan terjadi sesuatu pada kandungannya, apa lagi Bunda, Bunda lemah, harus selalu dalam pengawasan, itu untuk diri Bunda dan calon baby kita sayang tolong mengerti,?" ujar Dimas panjang lebar.


Naya terdiam dan menunduk ada rasa sedih dalam batinnya, sedih dengan kondisi dirinya yang orang bilang tidak normal, Naya menarik napas kasar, membuang pandangan ke lain arah.


Dimas merangkul bahu Naya, "Maaf sayang.., bukan Ayah ingin membuat Bunda sedih, tapi.., ini semua untuk kebaikan Bunda juga hem,?" Dimas memandangi wajah Naya dengan teduh, tersirat kesedihan dari wajah sendu istrinya.


Naya hanya Diam, tak tau harus berkata apa, menyilang kan tangan di dada dan mendorong tubuhnya ke belakang, ke sandaran sofa.


Dimas kembali melanjutkan kesibukannya dengan laptop di pangkuan, Naya berdiri melangkahkan kakinya menuju kamar, Dimas melirik sekilas, dan Naya tak berkata apa-apa pun.


Naya masuk dan menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, tengkurep meluk guling, dadanya terasa sesak dari tadi, kata-kata yang tercekat di tenggorokan, akhirnya ia keluarkan dengan tangisan, air matanya berjatuhan, membasahi guling yang di peluknya, menangis tersedu namun tak bersuara karena sebisa mungkin membenamkan wajahnya di bawah bantal, menggigit guling agar tangisnya tak bersuara.

__ADS_1


Dimas berdiri di belakang Naya, dia naik ke tempat tidur duduk di samping Naya, tangannya membelai rambut sang istri dengan mesra, "Sayang kok nangis, emangnya Ayah nyakitin hati Bunda apa,? Dimas merasa tidak berdosa sembari terus mengelus kepala Naya.


Naya sedikit kaget tiba-tiba Dimas berada di dekatnya, tak terdengar suara pintu ketika dia masuk, Naya menggeleng tanpa menoleh suaminya.


"Terus kenapa Bunda nangis hem,?" dengan sangat lembut Dimas membalikan badan Naya agar terlentang, dan Dimas berbaring menghadap Naya dengan tangan sebagai penyangga kepalanya, Naya memandangi wajah suaminya, tangan kirinya mengusap air mata di pipi sang istri, lalu turun mengelus perutnya, "Baby, jangan buat bundanya sensi ya,? Ayah tidak apa-apain Bundanya tapi.., dia malah sedih, jadilah anak yang baik di sayang Bundanya," Dimas seolah mengajak bicara seseorang di depannya.


Pandangan Dimas kembali menatap Wajah sang istri, Naya memalingkan muka namun jari Dimas menangkap dagu Naya agar tetap melihat kearahnya, mereka bersitatap, saling menyelami hati lewat netra mata.


Akhirnya Naya memberanikan diri untuk bicara, "Ayah selalu sibuk kalau tidak kerja di luar, dengan pasien di rumah, atau dengan laptop, selalu.., sibuk, gimana aku gak suntuk, gak bosan, gak kesal," Naya mengusap air mata dengan kasar, "Bukannya aku gak mengerti akan kesibukan, tentang kerjaan, tapi.., apa setiap hari gak ada waktu buat aku.?" ocehan Naya, membuat Dimas tertawa lepas.


Dimas terkekeh mendengar ocehan sang istri, yang intinya minta di perhatikan lebih, "Sayang.., emangnya selama ini aku gak merhatiin Bunda hem..,? setiap hari Ayah perhatikan Bunda gak cukup,?" senyumnya masih melebar.


"Perhatian sih, tapi..,kan biasanya juga gak sesibuk itu, jadi kurang istirahat juga," sahut Naya mencabik kan bibirnya.


Dimas memeluk perut Naya, "Yang, kok sekarang gak ngerti sih hem.., aku sibuk kerja, untuk masa depan kita sayang."


Dimas terkekeh sendiri baru ingat, sudah seminggu ini tidak menyentuh istrinya lebih, dengan alasan Naya kurang fit dan dia sendiri memang sedikit sibuk dan sangat lelah, hingga dia lupa istrinya butuh belaian darinya.


"Sayang lupa kah, kalau setiap hari aku membutuh kan permaisuri ku ini,? makan harus di suapin, bobo wajib di temenin, cuman..,-!"


"Cuman apa,?" Naya menaikan alisnya sangat penasaran.


Dimas menyeringai, "Cuman.., Ayah sadar sudah seminggu ini Ayah tidak, berkunjung ke danau madu dan bukit indah yang biasa aku kunjungi, alasannya sih takut di tolak dan Bunda kan kurang sehat, dan tau sendiri aku sibuk sayang," cup Dimas mengecup kening sang istri.


"Biasanya juga gak perduli tuh sekalipun.., walau aku kurang sehat misalnya,?" Naya menatap sangat lekat.


"Itu kan dulu sayang, sekarang beda, Bunda tengah hamil muda, kira-kira kalau kita melakukannya Baby kita terganggu gak ya,? hi..,hi..,hi..," Dimas mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Naya menggeleng, "Nggak, kecuali melakukannya dengan pemaksaan dan sengaja agar dia terganggu atau hilang," Naya pelan.


"Ih.., amit-amit yang, tapi.. beneran gak akan mengganggu,?" Dimas penasaran.


"Ya udah tanyain aja sama dokter ahlinya, malas ah, dia sendiri dokter, tapi.., kaya gitu," Naya membalikkan badan membelakangi Dimas.


Dimas mendekati memeluk dari belakang, "Bercanda sayang, Bunda pengen apa,?" sok polos.


"Ih.., malah nanya, emang dia gak ngerti apa, biasanya dia sendiri yang ngebet minta di layani, sekarang sok gitu,?" gerutu Naya dalam hati.


Dimas merangkul dari belakang menempelkan dagunya di atas leher Naya, napasnya menyapu kulit pipi sang istri, lengannya mulai menyelinap menggapai bukit-bukit indah yang semakin mengembang mungkin karena bawaan berbadan dua.


Naya memejamkan mata menikmati sentuhan itu, lama-lama keduanya semakin bergairah, Dimas menarik bahu Naya agar terlentang, Dimas menyatukan bibir mereka mulanya cuma menempel namun lama-lama menyapu setiap incinya, ******* menikmati manisnya, menggigit benda kenyal tersebut dengan lembut.


Kedua lengan Naya memeluk pundak suaminya, mata terpejam betapa menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang suami, biasanya tiap malam bertempur namun kebetulan seminggu lebih ini berpuasa, dan rasanya semakin mesra, semakin indah ketika rasa kangen tersimpan sementara, sampai akhirnya bertemu.


Dimas melakukannya begitu lembut, dengan ritme yang sangat teratur, begitu rileks dan santai, desahan kecil yang keluar dari bibir keduanya semakin membangkitkan gairah, darah di tubuhnya semakin mendidih, hingga ke puncaknya saat pelepasan, keduanya melenguh panjang, tubuhnya menegang, namun seperti biasa Dimas tidak cukup satu dua kali, bahkan Dimas sanggup saja bila harus melakukannya sampai pagi, namun karena sudah cukup merasa lumayan lelah, apa lagi dengan istrinya sangat kelelahan, dua jam saja bertempur tanpa istirahat, sangat menguras keringat hingga bercucuran.


Dimas semakin pelan dan menyudahi kegiatannya, Dimas terkulai lelah di samping sang istri, menarik selimut agar semakin menutupi keduanya sampai dada, Dimas mendaratkan ciuman di kening, pipi, bibir sang istri, "Makasih sayang,? sudah puaskan hem,? tidak di anggurin lagi kan sama suamimu ini,?" bisik Dimas senyum puas, membuat Naya malu dan membenamkan wajahnya di dada sang suami.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


Nb..


Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐Ÿ™ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐Ÿ™ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2