
Dimas melajukan mobilnya untuk pulang, waktu semakin larut bahkan hampir pukul 00.00 Dimas fokus menyetir sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah, capek banget belum sempat istirahat.
Sesampai nya di rumah di sambut pak Mad, Dimas menoleh istrinya yang terlelap tidur, mau di bangunkan tidak tega.
Dimas turun menutup pintu dan mengitari mobil, "Pak tolong masukan ke garasi mobilnya," melirik pak Mad.
Pak Mad mengangguk dan memasukan mobil ke garasinya.
Kemudian Dimas membopong istrinya ke dalam kamar, membaringkannya dengan hati-hati, Dimas membuka pakaiannya lalu ikut berbaring di samping istrinya mata sudah sangat terasa lelah.
Sebelum tidur mengusap dan mencium perut Naya lebih dahulu, "Sehat-sehat ya baby di sana, ayah menantimu," cup.., lagi-lagi Dimas mengecupnya.
Naya menggeliat, merasakan lembab di perutnya, "Hem..," namun tetap terpejam dan lelap kembali, Dimas hanya tersenyum melihatnya, lalu Dimas memeluk sang istri dan segera memasuki alam mimpinya.
****
Hari ini adalah hari minggu kebetulan nanti malam akan di adakan acara ulang tahun bu Hesa yang ke sekian dan sekarang sedang mempersiapkan segala sesuatunya.
Termasuk membeli hadiah buat bu Hesa, Dimas dan Kanaya sedang di pusat pembelanjaan, tepatnya toko perhiasan, Naya tengah memilih cincin berlian 24 karat untuk sang ibu mertua, "Yang, ini aja bagus nih, Mama pasti suka," ucap Naya menyodorkan sebuah cincin kepada suaminya.
"Em..,terserah bunda aja, aku kurang tahu soal perhiasan." jelas Dimas, bunda mau beli gak,? tanya Dimas memandangi perhiasan di tempatnya.
"Nggak ah, ok, Ya udah itu aja Mbak," jelas Naya pada penjaga toko dan penjaga tersebut mengangguk.
"Yang, aku kebelet nih, ke toilet sebentar ya,? tunggu di sini sebentar dan jangan ke mana-mana ya," ucap Dimas mengusap bahu Naya, belum juga Naya menjawab suaminya sudah berlalu pergi meninggalkan dirinya.
Naya menatap kepergian Dimas, lalu membayar cincin yang buat mertuanya tersebut, Naya berjalan mendekati kursi dan duduk manis di sana menunggu Dimas kembali menjemputnya.
Sudah dua puluh menit namun Dimas belum juga menjemput nya, Naya terus menunggu, orang berlalu lalang di sana tapi Dimas belum juga terlihat batang hidungnya, Naya mulai merasa gelisah, akhirnya Kanaya memutuskan untuk menunggu di mobil saja, ia berjalan sambil mencari keberadaan suaminya.
Baru tiga langkah Naya berubah pikiran, ia menanyakan letak toilet di mana dan ia akan menyusul atau mencarinya.
Di depan toilet laki-laki, Naya berdiri menatapi pintu satu-satu bingung juga, harus ngapain masa harus ketuk satu/satu kan gak mungkin.
Kebetulan ada cleaning servis tengah bersih-bersih, "Permisi.., lihat seorang pria masuk atau keluar dari toilet gak.?"
"Oh banyak mbak"
__ADS_1
"Em.., maksud aku seorang pria tinggi, berkemeja putih lengan di lipat, celana panjang hitam, berkaca mata hitam," Naya memberikan ciri-ciri Dimas.
"Aduh kurang tahu mbak, sebab bukan satu atau dua ya," nampak bingung.
Dari pada bingung, Naya menunjukkan sebuah poto dari ponselnya ke orang tersebut, dan orang itu menatapnya lama namun akhirnya menggeleng juga, "Maaf mbak, saya tidak lihat orang tersebut di tempat ini."
Naya semakin gelisah, "Yakin,?" menatap penuh harap.
"Saya yakin mbak"
Naya menarik napas dalam-dalam, berkali-kali di telepon tidak tersambung juga, "Kemana sih,? bikin orang cemas aja."
Karena masih penasaran, "Bisa gak ngecek di dalam, kali aja ada suami aku bang,?" dan orang itu menuruti kata Naya untuk mengecek satu persatu namun hasilnya memang tidak ada, yang ada rasa malu telah menganggu orang yang berada di dalam.
"Ya udah makasih dan maaf ya bang," Naya menyatukan kedua tangannya.
Wajah Naya lusuh, cemas, gelisah takut, kesal dan marah semua berkecamuk menjadi satu, tidak habis pikir kenapa Dimas menghilang, Naya terus berjalan turun menggunakan eskalator, sambil melamun, pikirannya melayang tak karuan, sungguh membingungkan, rasanya pengen nangis, menjerit sekencang-kencangnya, rasa kesal, marah, cemas, gelisah semakin menyesak di dada, dan sewaktu-waktu mungkin akan meledak.
Pas menginjakkan kaki di lantai, "Hi..., cewek godain abang dong.?"
Semua yang tersimpan dan menyesak di dada rasanya ingin meledak saat itu juga, namun Naya masih mencoba menahan, sekilas menatap wajah itu kemudian membuang muka ke lain arah.
Tanpa menjawab Naya terus berjalan menuju parkiran walau kakinya merasa lelah namun ia paksakan demi segera sampai di mobil, meski sedikit bingung, mencari pintu keluar Naya tetap mengikuti langkah kakinya.
Melihat sikap Naya yang dingin tidak mengeluarkan sepatah kata pun, senyum Dimas seketika hilang dari bibirnya, merasa sangat bersalah, karena telah meninggalkan dirinya dengan alasan ke toilet, padahal ia bertemu rekan-rekannya yang belum Naya kenal.
Dimas mengikuti langkah Naya, "Sayang, dengar aku,? aku minta maaf agak lama ninggalin bunda," tangan Dimas meraih pergelangan tangan Naya namun Naya tepis kan dan masuk ke dalam mobil duduk di jok belakang, kebetulan mobil di kemudikan oleh pak Mad.
Dimas mengitari mobil dan masuk duduk di sebelah Naya, wajah Naya menghadap kearah jendela seakan tidak ingin melihat wajah suaminya, "Sayang," panggil Dimas lagi, namun Naya malah menyuruh pak Mad untuk jalan.
"Jalan pak"
"Yang.., ayah minta maaf, tadinya mau ke toilet nggak sengaja bertemu dengan rekan-rekan lalu berbincang sebentar, bunda kenapa buru-buru pergi,? kan sudah ayah bilang tunggu sebentar," ujar Dimas menatap wajah istrinya yang lesu, Dimas menggenggam jemari Naya namun lagi-lagi Naya menghindar.
Bibir Naya bergetar menahan semua rasa yang menyesak di dada, "Kau suruh 'ku menunggu sebentar,? satu jam kau bilang sebentar, ayah bilang mau ke toilet nyatanya ayah ketemu rekan-rekan.?"
"Iya, sebentar."
__ADS_1
Naya menatap tajam dengan mata sudah mulai berkaca-kaca tak mampu lagi menahan, "Ayah bilang sebentar,? satu jam kau bilang sebentar, apa susahnya sih bilang kalau mau ketemuan, bila perlu antar kan aku ke mobil agar menunggu di mobil saja, bukan membiarkan 'ku menunggu di sana sendirian tanpa ada yang 'ku kenal seorang pun di tempat asing bagiku, gimana kalau terjadi apa-apa padaku.?"
"Iya aku minta maaf sayang.?"
"Aku mencari ke toilet mengecek satu/satu, namun hasilnya tidak ada, aku takut terjadi apa-apa, orang di sana bilang tidak pernah melihat orang yang aku cari, kamu jahat, membiarkan aku sendirian, hik..,hik..,hik..," akhirnya tangis Naya pecah semua yang memenuhi ruang dadanya membludak juga.
"Iya ayah jahat"
Pak Mad bingung dengan apa yang terjadi, hingga majikannya menangis tersedu.
Dimas merasa tak tega dan merasa sangat bersalah, lalu meraih pundak Naya kemudian mendekapnya erat, tapi.., Naya memberontak, "Kamu tidak tahukan apa yang aku rasakan,? aku merasa kehilangan, aku merasa di buang di tempat asing, kamu jahat hik..,hik..,hik..," menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Ayah mengaku salah yang," Dimas kembali mendekap tubuh sang istri sangat erat mengusap punggungnya berharap Naya lebih tenang namun tangis Naya malah semakin kuat di pelukan suaminya.
Dalam pelukan Dimas Naya terus menangis tersedu, memilukan yang mendengarnya, "Menangis lah sayang, bila itu bisa membuat 'mu merasa lega, ayah mengaku salah," cup.., Dimas mengecup pucuk kepala sang istri dengan sangat lembut tangannya terus mengusap punggungnya.
Pak Mad seolah mengerti, dia menepikan mobil untuk sementara waktu sampai majikannya tenang dan berhenti menangis.
Lama-lama Naya pun merasa sedikit tenang, perlahan tangisnya berhenti tinggallah sesenggukan, mengangkat kepala mengusap kedua pipi yang basah dengan jari-jarinya.
Kedua tangan Dimas membingkai wajah Naya menatap lembut bola matanya yang masih penuh dengan buliran air mata, "Ayah mohon maaf, sama sekali tidak berniat buat bunda menangis, apa lagi berniat jahat sama istri yang sangat aku cintai ini, tidak mungkin, mau kan memaaf kan ayah sayang,?" sangat lirih.
Naya mengambil tisu untuk menyeka air matanya, ia mengeringkan pipinya yang tadi terkena hujan air mata, Dimas juga mengelus sudut mata Naya yang masih rembas dengan air bening.
Kemudian Dimas mengambil buket bunga roos, "Ini bunga buat bunda, ayah sengaja membelinya buat sayang," namun Naya hanya melirik dengan ekor matanya, hati Naya masih kesal dengan kejadian tadi, namun Dimas faham bila istrinya masih marah padanya.
"Pak, kita pulang sekarang,?" ucap Naya dengan suara yang serak, dan pak Mad mengangguk terlihat dari kaca spion, menyalakan mesin melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Perjalanan kali ini tidak ada yang bersuara kecuali suara mesin mobil, Naya terus mengeringkan wajahnya, mengusap wajah, tidak ingin di lihat orang rumah tahu kalau dia habis menangis, apa lagi kalau terlihat matanya sembab.
Dimas terdiam sesekali mengelus pipi sang istri itupun sedikit menghindar, "Cari makan dulu yuk,?" ajak Dimas, namun Naya menggeleng pandangannya keluar jendela, dia jadi bingung entah harus dengan cara apa lagi agar bisa membujuk hati bidadarinya itu.
,,,,
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? karena komen dari kalian menambah 'ku semangat, untuk menulis, terimakasih juga bagi yang sudah ngasih saran atau masukan makasih banyak ya.!!
__ADS_1