Bukan Mauku

Bukan Mauku
Lisa cemberut


__ADS_3

Naya memandangi dari belakang, merasa bangga suaminya sudah bisa sholat sendiri, bacaannya sudah banyak hafalan lumayan, tanpa di suruh pun sudah punya kesadaran sendiri untuk melaksanakan sholat.


"Lapar nih," Dimas melirik istrinya sembari melipat bekas sholatnya.


"Makan," Naya turun dan mendekati meja, duduk perlahan mengambil piring nasi dan sayurnya tak lupa lauk pauknya.


Mereka berdua mulai makan siang dengan piring yang sama Naya mulai memanjakan suaminya dengan cara makan pun disuapi.


Selama makan tidak banyak yang dibicarakan, fokus makan yang mereka lakukan, hanya pikiran mereka yang melayang entah kemana.


"Kenyang Bunda, habiskan aja sama Bunda biar banyak gizi nya," Dimas menyudahi makannya dengan segelas air putih.


Naya membereskan makannya lalu membereskan bekas makan agar nanti tinggal Bibi mengambilnya.


"Mau kemana yang,?" tanya Naya melihat Dimas membawa tas kerjanya hendak keluar.


"Ada pasien di bawah," Dia tergesa-gesa melangkahkan kakinya meninggalkan Naya.


Setelah Dimas pergi Naya membuka laporan konter yang sudah berapa hari ini tidak pernah di cek.


Di bawah bukan cuma ada pasien namun ada Aldo dan Endro juga yang datang, selepas pasien pulang, Dimas berbincang dengan kedua sahabatnya di balkon.


Sementara Naya sehabis ngecek laporan, dia ke ruang kerja menemui Lisa dan asistennya, "Gimana apa ada kendala,?" tanya Naya melihat-lihat bahan-bahan dan yang sudah jadi, berjejer dengan rapi.


"Semuanya berjalan lancar Bu, tidak ada kendala apa pun, seandainya ada pun kami akan atasi sendiri," sahut Lisa sangat percaya diri.


"Bagus lah, gak sia-sia aku percayakan sama kalian," Naya bangga pada kedua asistennya itu.


Naya mengambil beberapa kertas kosong dan balpoin nya lalu menggambar.


Senja merah sudah menampakkan dirinya pertanda sore menjelang malam, Naya merapikan gambar kemudian bangkit berjalan menuju pintu, "Oya aku pergi dulu, kalian lanjutkan kerjanya."


Naya turun ke dapur, sudah lama gak turun ke dapur apa lagi mask buat suami, "Masak apa Bibi-bibi cantik,?" sapa Naya pada para asistennya.


Kedua Bibi menoleh, ''Ibu, ini ada ayam goreng, balado telur, goreng ikan, sayur sup, tumis kangkung.''


"Oh, sedapnya..," Naya menengok masakan yang belum matang sebagian.


"Sini aku bantu," Naya mengambil alih masakan tugas Bi Meri.


"Jangan Bu, Ibu kan baru melahirkan jangan capek-capek, baiknya Ibu duduk aja, duduk manis," ujar Bu Meri mengambil alih kembali.


"Tapi Bi.., bosan dah lama juga gak masak," Naya mengerucutkan bibirnya.


"Ibu cukup diam saja duduk yang manis, biar kami yang masak,'' ucap Bi Taty.


"Baiklah," Naya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Yang, sedang apa di sini,? bukannya istirahat di kamar," Dimas menghampiri dan duduk dekat Naya.


"Bosan yang di kamar terus, tadinya mau masak, eh kata Bibi gak boleh, jadi duduk santai aja," lirih Naya.


"Hem.., kasian sekali istri aku," mengelus kepala Naya lembut.


"Yang lain kemana,?" Naya celingukan.


"Ke lokasi dulu untuk ngecek," sahut Dimas sembari tiduran dipangkuan Istrinya.


"Ayah gak ikut.?"


"Nggak."

__ADS_1


Suara adzan mulai terdengar bersahutan dari kejauhan, Dimas bangun menatap sang istri yang asik melihat YouTube dengan tangan menopang kepalanya.


"Aku ke atas dulu ya magrib, nanti kalau mereka datang lagi suruh nunggu aja sebentar," sambil melengos menaiki anak tangga.


"Ok," Naya menatap kepergian suaminya.


Aldo dan Endro datang menghampiri Naya, "Dimas kemana," tanya Aldo.


"Em.., abang barusan sholat, kalian tunggu aja, itu pesan dia," sahut Naya.


Endro membawakan aie putih untuk Aldo lalu duduk di sampingnya, "Saya pikir pekerja sekarang lumayan bagus apa lagi ada campur tangan Dery sangat bisa dipercaya."


"Iya bener, saya sangat suka," sahut Aldo sambil melamun matanya menatap kosong ke arah Naya.


"Suka, suka apa yang kau maksud." Endro mengernyitkan keningnya heran.


"Hah..,tadi kau bicara apa,?" melirik Endro yang menatapnya tajam.


"Itu, cara kerjanya Dery."


Aldo mengangguk dan nyengir, "Iya, saya suka dengan kerjanya Dery."


"Hem," Endro menggeleng.


Tidak lama Dimas turun mengenakan sarung lantas duduk dekat istrinya.


"Kalian sudah kembali, makan belum,?" pandangan Dimas melihat kedua sahabatnya.


''Cukup lama, belum nih, apa kira-kira kita akan di tawari makan,?" ucap Endro sembari mengernyitkan keningnya.


Dimas menoleh kearah Endro dwngan tatapan tajam, "Kau baru datang pertama kali bukan, sampai gak tau kebiasaan di sini segala, kalau mau makan, makan saja jangan sungkan-sungkan, kecuali tidak ada yang bisa dimakan."


"Sialan kau.''


"Sudah, tuh makannya dah siap," Lirih Naya mengusap tangan Dimas.


"Eh.., nak Aldo dari kapan, kok tante tidak melihat kalian dari tadi,? sapa Bu Hesa menghampiri.


"Oh dari tadi tante, apa kabar,?" Aldo mengulurkan tangan pada Bu Hesa yang lantas di sambut oleh Bu Hesa dengan sangat ramah.


"Oh sangat baik, seperti yang kau lihat, kapan katanya mau bawa anak kalian kesini, tapi belum juga," sambung Bu Hesa sambil duduk di kursi meja makan.


"Itu, tante mereka sedang berada bersama Ibunya, jadi belum bisa di ajak kesini," ujar Aldo.


"Oh begitu," ucap Bu Hesa lagi sembari mengangguk.


Lisa dan asistennya turun, mau pulang dan berpamitan terlebih dahulu pada Naya sebagai bosnya, "Bu kami pamit mau pulang."


"Oh," Naya melihat putaran jarum jam di ponselnya, "Eum.., kalian makan dulu sana, nanti kalau sudah makan baru pulang," ucap Naya sambil menunjuk ke meja makan.


"Anterin Al, Lisa kasian naik angkutan umum malam-malam," ucap Endro melirik Aldo.


Aldo menoleh Endro, "Hah.., saya ada urusan-!"


Lisa dengan berani mendekati dokter Aldo dan mengelus bahu Aldo, "Boleh ya dok aku numpang,? aku suka risih kalau digodain dalam angkutan umum, apa lagi kaki aku luka kena air panas dok, boleh ya, aku numpang mobil dokter Aldo.?"


"Situ risih, apa lagi saya," gerutu Aldo dalam hatinya.


"Tapi.., saya masih.., maksud saya sepulang dari sini masih ada urusan jadi maaf saja, mungkin Endro bisa memberi kau tumpangan," sambil melirik Endro yang membulatkan matanya.


"Kebetulan saya mau menjemput Citra, jadi maaf aku pun gak bisa," ujar Endro menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


Dimas menggeleng pelan, "Kau yang nawarin tumpangan tapi kau juga gak bisa, gimana sih kau ini.?"


"Saya harus jemput yayang di suatu tempat, apa jadinya kalau saya bawa dia, bisa-bisa saya kena damprat nanti."


Lisa berdiri dan cemberut, merasa kesal tidak ada satupun yang bisa ia mintai tolong, "Ya sudah tidak apa kok."


"Gini aja, kalian makan dulu, terus habis itu kalian diantar Pak Mad pulang, gimana,?" Naya memberi solusi untuk pekerjanya.


Lisa masih cemberut, tadinya ingin diantar pulang sama Aldo bukan Pak Mad supir majikannya.


"Nah.., itu ide bagus Bun, yuk kita makan,?" Dimas berdiri dan menggandeng tangan istrinya.


Semuanya mengambil kursi masing-masing duduk dan mengambil piring serta menu-menu yang sudah tersedia di meja makan.


"Bapak mana Mak,?" Dimas melirik Ibunya yang sudah mulai menginyah makanan.


"Eum..., Bapak ada di kamar katanya masih kenyang tadi sempat makan di luar," sahut Bu Hesa setelah menelan makannya.


"Oh.., ya sudah."


Selesai makan Lisa dan kawannya bersiap pulang dan dianterin oleh Pak Mad.


"Pak tolong antar mereka sampai ke kosannya ya,?"perintah Naya pada Pak Mad yang berdiri tegak dan mengangguk.


"Baik Bu," lalu memutar tubuhnya maua menyiapakan mobilnya.


Langkah Pak Mad di ikuti oleh Lisa dan kawannya yang sebelumnya berpamitan pada bos disana yang itu Naya.


Setelah Lisa keluar, Aldo dan Endro pun berpamitan, "Oke, makan sudah dan obrolan sudah selesai juga kini masanya SMP(selesai makan pulang," Aldo beranjak dari duduknya menggeser kurai agar rapi kembali.


"Iya nih, takut yayang saya marah, pulang juga ah," Endro pun berdiri sembari meneguk minumnya, "Saya mau SMP(selesai makan pacaran, dulu ya," sembari melengos meraih jaket dan mempercapat langkahnya keluar menuju teras dan mengambil motor.


Lain lagi dengan Aldi yang berjalan dengan tenang dan santai, "Pacaran terus.., sampai puas," perkataan Aldo ditujukan pada Endro, sementara Endro hanya melirik dan mengepalkan tangan ke udara.


Di kamar Dimas cahayanya sudah berganti temaram, Naya sudah berbaring dan berada dalam pelukan suaminya, "Besok-besok di sini akan ada tangis bayi, dua lagi, mana ada waktu untuk berdua kaya gini," Naya mendongak melihat wajah suaminya yang terlihat remang-remang.


"Makanya ingin puas-puasin berduaan dan pelukannya," semakin mempererat pelukannya, "Tapi sayang."


"Tapi sayang apa,?" lagi-lagi Naya mendongak.


"Sayang banget, ck ck ck," Dimas bedecak kecewa, "Gak bisa bulan madu,"


"Hem.., kirain apaan, laki-laki yang ada dalam pikirannya mesum mulu, gak nyadar kali ya istrinya harus mengandung melahirkan, karena siapa coba,? karena ulahnya," gerutu Naya sambil membenamkan wajahnya di dalam pelukan Suaminya, "Makanya jangan buat istrinya hamil dan melahirkan."


"Huus, kok ngomong gitu sih sayang," Dimas pelan sembari mengusap punggung Naya, "Kalau istri gak hamil dan melahirkan, gimana kita punya keturunan hem.?"


"Habis pikirannya kesana.., mulu," Naya mendongak sesaat lalu tiduran lagi.


"Wajar dong sayang.., kan normal, coba kalau aku gak normal, gak akan punya pikiran seperti itu," ucap Dimas sambil terpejam, "Emangnya mahu punya suami gak normal hem..,?" suara Dimas mulai hilang.


Naya terdiam kemudian senyum-senyum sendiri, sembari mengelus dada suaminya.


"Bobo yuk,? ngantuk nih," tanpa membuka matanya dan mempererat lagi pelukannya.


Naya menarik selimut sampai menutupi leher, komat-kamit membaca doa kemudian memejamkan matanya, semoga hari esok Allah masih memberi kesempatan untuk membuka mata serta menghirup udara segar.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tertidur dengan pulasnya, apa lagi Dimas merasa lelah dengan aktifitasnya, dan tidur lebih cepat adalah lebih baik baginya, dari pada sulit tidur yang akhirnya pikiran melayang tak karuan.


,,,,


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2