
"Em.., baguslah, tapi Bunda kangen sama kalian," Naya merenggangkan tangan nya dan bak gayung bersambut salah satu bayi nya minta di gendong oleng sang Ibu.
Naya menggendong Kayla dan memberikan ASI-nya, masih dalam gendongan pun Kayla dikerubungi anak-anak dan tante-tante, bagaikan semut mengerubungi gula.
Membuat Naya memberikan lagi Kayla, "Udah kenyang ya sayang, tapi kalian belum bobo deh," Kayla di ambil seorang Ibu-ibu.
"Oh ini mantu kamu ya,? ibu dari cucu kembar ini," ucap salah seorang Ibu.
"Iya dia, maklum lah, emang sama-sama dari kampung tapi.., sudah lah," sambil mengibaskan tangannya.
Deg.., hati Naya mencelos mendengar ucapan Bu Hesa meski tidak di lanjutkan.
Naya menjadi gak enak hati dan gak habis pikir kenapa Ibu mertuanya menjadi sinis kembali, tapi biarlah kalau cuma sikap yang buruk terhadapnya, yang penting sayang banget pada kedua buah hatinya.
Setelah memberi asi pada Arif, Naya mendekati meja makan, bersiap makan siang, kebetulan keluarga besar sudah berkumpul.
Sembari menunggu suaminya Naya berbincang dengan adek dari Ibu Hesa, dia begitu ramah dan baik pada Naya, "Semoga kau betah di sini ya,? mau nginap kan di sini,?" tanya Tante Lia namanya.
"Iya Tante, mau nginep barang satu atau dua malam saja," Naya mengangguk dan tersenyum ramah.
"Kau asli mana,? bukan orang Kalimantan kan," lanjut Tante Lia kembali.
"Em.., aku asli Sukabumi Tante," lagi-lagi Naya mengangguk.
"Oh, asli sunda ya,? gimana betah tinggal di Kalimantan, apa pernah pulang kampung setelah pindah ke sini," tanya nya lagi.
"Alhamdulillah betah Tante, em.., belum sempat, mungkin nanti bila anak sudah berusia satu tahun akan di ajak ke sana," timpal Naya lagi, terlihat Dimas sedang turun dan berbincang dengan Dery tampak serius mengobrol kan sesuatu.
"Iya jenguk lah orang tua mu di Sukabumi, mereka pasti merindukan kalian, semenjak menikah gak pernah sekalipun kan,?" tambah Bapak mertua.
"Bagai mana mereka ke sini untuk jenguk anak cucu Pak, buat makan saja mungkin masih kekurangan mereka," ucap Bu Hesa sambil menuangkan nasi ke piring suaminya.
"Mama?" tegur Maria pada Bu Hesa.
Seketika Naya menoleh pada Ibu mertua, dan langsung wajah Naya merah padam, merasa malu dengan ucapan Ibu mertuanya, namun menurut dirinya sekarang apa lagi jaman sudah berubah, semiskin-miskinnya keluarga nya di kampung tidak pernah tidak makan, sekalipun orang tuanya sudah renta namun masih mampu untuk bekerja, dan juga masih ada anak-anak nya yang memperhatikan.
"Orang tua 'ku memang orang miskin tapi..,kalau soal makan alhamdulillah tidak ada kata tidak makan, dan tidak pernah meminjam uang hanya untuk makan, tidak pernah, bahkan orang tuaku sangat sederhana tidak pernah memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak penting, yang tidak bisa, cukup memiliki dengan apa yang mereka mampu saja," ujar Naya panjang lebar kemudian menunduk, menelan saliva yang tercekat di tenggorokan.
"Dan, orang tua 'ku gak ingin membebankan pada anak-anaknya," timpal Naya kembali.
Bapak mertua terdiam memikirkan ucapan istrinya, menelaah pantas kah berucap seperti itu..? Bu Hesa pun termangu mendengar ucapan Naya yang begitu berani membela diri.
Bapak mertua menyenggol tangan sang istri dengan geramnya, sembari berbisik dan melihat kearah makanan yang ada didepan matanya. "Kenapa bicara seperti itu sih.?"
"Emang kenapa,? memang benarkan," sahutnya sangat pelan tak mau kalah.
Naya menunduk, makan yang kelihatannya enak-enak jadi gak berselera, seketika selaera makan pun hilang, tiba-tiba Dimas duduk dekat Naya, "Loh sayang kok belum makannya.?"
"Belum," sahut Naya sambil menghela napas, dan mengambil piring untuk suaminya, kemudian menuangkan nasi dan lauk paiknya.
"Ya udah kita makan berdua saja," lirih Dimas.
"Aku gak lapar," gumam Naya sambil menyandarkan bahunya ke kursi.
__ADS_1
"Sayang, nanti sakit loh habis perjalanan juga," bujuk Dimas
"Iya neng, makan?" Tante Lia menunjuk makanan, Naya hanya tersenyum samar.
Orang-orang pada makan termasuk Dery denagn sangat lahapnya, Naya cuma menyuapi suaminya, sungguh ia tidak berselera sedikitpun.
"Kenapa tidak makan Nay? kan habis perjalanan, memangnya gak tertaeik dengan makanan yang lezat ini hem,? jangan khawatir di meja ini semuanya halal kok, kali ini tidak ada bahan b2 nya kok," Bapak mertua melirik menatunya yang satu ini gak makan.
"Iya Kak, kebetulan saat ini gak ada masakan yang mengandung b kok, percaya deh sama Aku," Maria nimrung, membuat Naya menoleh kearah Maria.
"Kakak kebetulan belum lapar Maria, Pak, nanti juga kalau Naya lapar pasti makan kok," dengan senyuman dibuat seramah mungkin.
"Atau kak Naya mau gak aku perkenalkan sama makanan khas di sini, enak loh dan tentunya halal juga," sambung Maria.
"Em.., boleh, ide bagus tuh," Naya mengangguk.
"Kalau tahu tidak mau makan, sekalian saja saya bubuhi bahan b biar tambah lezat," ucap Bu Hesa sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Mama.., lupa ya? dulu aku kan energi daging itu, lagian sekarang gak boleh buat kami memakannya," Dimas menatap wajah wanita separuh baya tersebut.
"Oh iya lupa Abang..," Bu Hesa nyengir.
"Hem..," gumam Dimas.
Akhiranya acara makan pun selesai, baby Arif dan kayla kecapean, mereka tertidur nyenyak di kamar Ayahnya, Naya berdiri di balkon sendiri, sementara Dimas mengobrol sama Bapak dan yang lainnya.
"Lagi apa Kak, jangan melamun nanti ayam tetangga pada mati loh," suara Maria dari belakang Naya.
Naya menengok karah suara tersebut, "Hem.., emang apa hubungannya,?" menatap heran.
"Ah kau ini ada-ada saja, gak nyambung bah," sambar Tante Lia menepuk bahu Maria hingga Maria meringis.
"Tante, sakit," Maria memegangi bahunya.
Naya tersenyum melihat Tante dan ponakan itu, "Oya Tante tinggalnya di mana.?"
"Tante di kampung sebrang," sahutnya sambil duduk di kursi yang ad adi situ.
"Kenapa Tante gak pernah main ke rumah sih Tante, jadinya kita baru ketemu sekarang," tanya Naya kembali.
"Ya.., kan sekarang bertemu juga," timpal Tante Lia.
"Sering aku ajak Tante nya gak mau loh Kak," tambah Maria.
"Eh.., oya kau gak perlu ambil hati omongan Ibu mertua mu itu ya, anggap aja radio butut, bibirnya seperti ember rombeng," ujar Tante Lia membuat Naya menahan tawanya mendengar ucapan Tente Lai barusan.
"Tante, bagaimana pun itu Mama 'ku, kok bicara gitu,?" Maria ketus seolah gak suka Tantenya membicarakan Mamanya.
"Emang siapa yang bilang dia nenek kau Maria..,? emang begitu dia orangnya, memang aku harus bilang kebalikannya apa," Tante Lia geram pada Maria.
"Tapi jangan depan mata 'ku juga Tante," kilah Maria lagi.
"Ya kalau gak mau depan mata kau pergilah, ngapain kau ke sini juga," ucap Tante Lia seolah meyuruh Maria pergi.
__ADS_1
"Ih..,Tante, dia kan ipar aku masa gak boleh menemuinya, aneh nih Tante." elak Maria sambil memanyunkan bibirnya.
"Dia juga istri ponakan 'ku," Tante Lia gak mau kalah.
"Eh Tante, aku ponakan Tante bukan sih,?" Maria mentap Tantenya.
"Bukan, kah musuh dalam selimut 'ku," Tante Lia sok ketus namun sudut bibirnya tertarik menampakan senyuman.
"Tante, bukankah musuh dalam selimut itu namanya suami ya,? seperti suami aku kalau dalam selimut selalu mengajak perang, dia punya pedang, lah aku punya apa coba,?" ucapan Maria ngelantur membuat Naya lagi-lagi menahan tawanya begitu juga dengan Tante Lia yang tertawa dan menggeleng kepala.
"Ngelantur aja kau," Tante Lia memukul pelan bahu Maria.
"Ih Tante jahat main pukul mulu," Maria mendelik dan pindah posisi ke sebelah Naya.
"Kau yang aneh," sahut Tantenya, suasana yang tadinya mau serius malah jadi bercanda.
"Tapi kan iya," Maria menggaruk kepalanya yang gak gatal.
"Iya, suami kau yang punya pedang, kau yang punya tempat buat nyimpennya, nyadar kau.?"
"Nggak tau ah pusing," timpal Maria kembali.
"Aneh ya neng, dia yang ngomong dia juga yang pusing, sengklek bener nih orang."
"Hi..,hi..,hi.., dasar Maria-Maria," Naya menggeleng, "Oya ngomong-ngomong kalian berdekatan gak sih tinggalnya," tanya Naya pada keduanya.
"Nggak," jawabnya serempak, "Aku 10 menit juga sampai dari sini Kak," sahut Maria.
"Oh iya kah," Naya mengangguk tanda mengerti.
"Lagi apa nih, kok istri 'ku di jagain dua selir sih,?" Dimas datang dan memeluk sang istri dari belakang.
"Abang ganggu aja deh," Maria menoleh.
"Ganggu apa emang,?" masih dengan posisi yang sama.
"Ya ganggu, mengganggu obrolan wanita," timpalnya lagi.
"Hah, oya besok akan di adakan perayaan 17 agustusan yang, terus Mama akan mengadakan syukuran juga untuk kita dan baby kita juga," Dimas sangat antusias.
Naya melirik, "Dalam satu hari bukan acaranya,?"
"Ya nggak lah Bunda, bosok perayaan kemerdekaan, lusanya syukuran buat kita."
Naya termangu, berarti kemungkinan tinggal di sini akan lebih lama malas banget batin Naya, namun apa daya tidaj bisa apa-apa juga gak mungkin pulang sebelum selesai.
"Syukurannya secara apa ya,?" tanya Naya lagi menatap suaminya dari samping.
"Secaya dayak lah, pasti, apa lagi kan kami oranf dayak," sambar Maria.
"Tapi aku bukan orang dayak yang, bahkan kita kan muslim yang," Naya seakan kurang setuju dengan rencana keluarga suaminya.
****
__ADS_1
Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vot nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.