Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mau pulang


__ADS_3

Kemudian mereka makan siang bersama, dengan pak Mad juga bi Meri serta anak-anaknya yang baru datang, tak ada perbedaan suku maupun agama, para tetangga pun satu per satu berdatangan untuk mengucapkan terimakasih dan selamat jalan.


Sampai malam masih banyak orang bertamu, termasuk para dokter di sana, tak ketinggalan juga Sonia yang berpenampilan begitu cantik, berkunjung tuk mengucapkan selamat jalan.


Mereka memberi oleh-oleh, ada yang memberikan cinrdamata, Dimas dan Naya berbincang dengan semuanya, hingga larut malam, suasana ramai di rumah itu, dikarenakan ramai di rumah, sehingga pak Mad juga istrinya tak sempat pulang dari kediaman Dimas.


Akhirnya para tamu pulang juga, Naya tampak lelah sekali, sampai-sampai tertidur di sofa, Dimas membopongnya ke kamar, setelah membaringkan istrinya di tempat tidur, Dimas balik lagi keruang tengah, "Pak.., tidur aja di sini gak usah pulang, sudah larut, besok pagi juga kesini lagi, jadi udah aja kalian tidur disini," ucap Dimas pada pak Mad dan istrinya.


Pak Mad yang sedang beberes serta istri, hanya mengangguk dan meneruskan kerjaannya rumah.


Suara burung yang saling bersahutan, sinar mentari pagi menyapa dengan kehangatannya, sepasang pasutri masih tertidur lelap di balik selimutnya, di sebabkan semalam tidur terlalu larut, sehingga habis subuh melanjutkan mimpi indahnya yang tertunda, Naya mengibaskan selimut dan membuka matanya perlahan, rasanya mata begitu sepat begitu sulit untuk melek.


Naya menepuk tangan Dimas, "Yang.., bangun..,? udah siang juga, kita kan mau pulang."


"Hem.., emang pukul berapa nih,?" tanya Dimas sambil memicingkan matanya ke arah sang istri.


"Sudah pukul delapan yang," sahut Naya duduk bersandar di bahu tempat tidur.


"Bentar lagi yang," dengan malasnya, Dimas menarik selimut dan memejamkan mata kembali.


Naya menggeleng pelan melihat tingkah Suaminya yang menarik selimut sampai kepala, "Ih.., kapan pulangnya yang.?"


"Nanti.., santai aja, yang penting pulang secepatnya," dengan suara parau.


Naya bengong sesaat, lalu turun perlahan menapaki lantai melangkah ke kamar mandi, setelah dua puluh menit di dalam kamar mandi Naya keluar dengan jubah handuknya.


Mengambil pakaian yang memang sudah di siapkan, setelan dengan kerudungnya, usai berganti pakaian Naya duduk depan cermin, untuk memoleskan bedak di kulit wajahnya, parfum dan body losien, lalu di kemas ke dalam plastik, tinggal barang-barang Dimas yang masih di meja rias, dari cermin terlihat Dimas menggeliat.


"Yang bangun..,?" menatap cermin.


Dimas menoleh kearah Naya sembari menggosok matanya, "Hem..," bangun dan mengibaskan selimutnya.


"Di lipat dulu biar rapi selimutnya,?" titah Naya masih menatap cermin.


"Bawel," gerutu Dimas.


"Kenapa juga mau sama aku, dah tau alu bawel," ketus Naya.


"Mau gimana,?" sahut Dimas.


"Jangan mau."


"Hah.., suka, cinta, sayang, emang semua rasa itu bisa di suruh,? Bunda ini ada-ada aja," Dimas mendekat pada Naya yang masih duduk depan cermin.


Dimas mengusap kepala dan mencium rambut Naya, "Hem.., wangi, udah mandi kah.?"


"Sudah, mandi sana, belum sarapan juga, lapar ih," gerutu Naya sambil memakai kerudungnya.


"Ya sudah, sayang makan duluan, biar Ayah nanti aja belakangan makannya," titah Dimas.

__ADS_1


"Tapi.., kan barang-barang Ayah belum di bereskan, makanya mandi dulu,?" Naya menoleh.


"Oke, sayangku, cintaku, aku mau mandi dulu," cup mencium pipi sang istri.


Naya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Jangan lama-lama yang,?" pinta Naya.


"Tenang aja sayang, paling satu jam," pekik Dimas dari balik pintu.


Lima belas menit kemudian Dimas sudah berdiri di belakang Naya dengan lilitan handuk di pinggang, meraih Baju dari atas tempat tidur, Naya membantu memasangkan kancing kemeja pendek Dimas, mengeringkan rambutnya, dan terakhir menyemprotkan parfum ke tubuh Dimas, lalu di kemas masukan plastik yang tadi, jadinya sian jinjing.


"Apa ada yang ketinggalan yang,?" Naya melirik Dimas.


Dimas menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruangan kamar tersebut, "Tidak ada, tidak ada yang ketinggalan, semuanya sudah berada di mobil, kecuali plastik-plastik ini, Dimas menunjuk plastik yang barusan dan plastik pakaian kotor yang masih Naya kemas.


"Sudah sayang,?" tanya Dimas pada istrinya.


"Sudah yang," Naya menyimpan kantong plastik berdekatan di meja rias biar nanti pak Mad ambil dengan mudah.


Dimas menggandeng lengan Naya ke luar kamar, tangan Dimas yang satu lagi meraih ponsel dari meja dan di masukan sakunya.


Setelah melintasi pintu kamar, Naya balik badan dan mengusap perutnya pandangan tertuju ke dalam kamar, yang beberapa minggu ini ia dan suami tinggali, "Kenapa sayang,?" Dimas pun melirik kearah yang Naya pandangi.


Naya menggeleng, "Tidak yang, hanya.., di kamar ini kita tau untuk pertama kalinya bahwa aku hamil," Naya menunduk.


Dimas merangkul bahu Naya, "Iya sayang, di kamar ini pertama kali Ayah tau bahwa kita akan punya baby sayang."


Dimas mengajak jalan Naya ke meja makan, di sana sudah tersedia untuk sarapan, pak Mad dan istrinya yang tadinya berada di ruang tengah, setelah melihat Dimas dan Naya berada di meja makan, pak Mad menghampiri, "Pak, tolong ambilkan dua kantong plastik di meja rias, masukan ke dalam mobil," titah Dimas.


"Oh baik pak dokter," langsung menjalankan tugasnya.


Naya mengambil satu piring dan beberapa menu masakan, kemudian mulai makan, Dimas meneguk air putih, Naya sebelum menyuapi Dimas membuatkan dulu susu coklat, barulah menyuapi Dimas dan dirinya sendiri.


"Nambah gak,?" Naya menatap teduh wajah Dimas.


"Nggak yang cukup," mengangkat tangannya, "Sayang aja nambah lagi yang banyak makannya, Buahnya jangan lupa dimakan," mengupas kan buah manis untuk Naya.


"Hem..," mengangguk.


Dimas mulai sibuk dengan ponselnya, "Yang diminum dulu susunya,? keburu dingin lah."


Dimas menoleh istrinya, "Oh iya," Dimas nyeruput susu coklatnya.


"Ya Allah, aku lupa," Naya menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa sayang,?" Dimas khawatir kenapa-napa.


"Ponsel aku di meja dekat tempat tidur," Naya sudah membuka mulutnya untuk memanggil bi Meri namun Dimas memberi isyarat bahwa ponsel Naya sudah di tangannya.


"Lupa yang, tadi itu," Dimas mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Untung ponsel yamg lupa tuh, gimana kalau lupa sama suami ya,?" goda Dimas.


"Ayah yang lupa istri,?" ketus Naya mencebik kan bibirnya.


"Mana ada,? lupa istri mana ada, ngarang," sahut Dimas sembari meneguk susu sampai tandas.


"Mana ada, ada kalau ada cewe cantik misalnya, hampir aja lupa sama istri, semalam juga matanya lirik terus wanita berbaju merah," ucap Naya.


Dimas menaikan alisnya, berpikir kejadian semalam, "Itu nenek-nenek sayang, nenek-nenek," sambil menyeringai, padahal Dimas sudah merasa takut Naya membahas tentang Sonia.


"Ha..,ha..,ha.., emang nenek-nenek bukan wanita,? wanita juga sayang," tak mau kalah.


"Ya terserahlah, gimana Bunda aja, asal sayang senang aja, gak apa-apa kok," Dimas lirih dan mengusap kepala Naya.


Naya memakan buah manis beberapa potong, lalu meneguk air putih, ooo mual, "Ayah bikinkan susu ibu hamil ya,?" Dimas menatap dengan lembut.


"Nggak-nggak, gak mau, gak enak," sedia minyak kayu putih aja," jelas Naya.


"Ya sudah, ok kalau tidak mau, gak akan maksa," Dimas duduk bersandar ke bahu kursi, dan menyilang kan tangan di dadanya.


"Jangan gitu lihatnya,?" Naya membuang muka, karena Dimas menatap dengan tatapan aneh padanya.


"Kenapa sih menatap begitu,? jadi aneh," sambung Naya.


Dimas tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya, "Emang nya kenap,? memandangi istri emang ada larangan gitu.?"


"Merasa aneh aja, bukan apa-apa," ucap Naya.


"Udah belum makannya,?" Dimas beranjak dari duduknya sambil melirik jam yang melingkar di pergelangannya, "Sudah siang, siap berangkat yuk,?" ajak Dimas.


Naya pun berdiri menggeser kursinya, lalu tangannya bergelayut mesra pada tangan Dimas, kemudian berjalan menuju ruang tengah, di sana ada pak Mad dan istrinya sambil mengasuh Rita.


Dimas dan Naya duduk di sofa sebelah, "Pak, Bi saya minta maaf, jika selama ini kami merepotkan kalian, suruh-suruh kalian dengan tidak sopan, dan maafkan kami bila kami berucap salah pada kalian, yang kami sadar ataupun tidak sadar," ujar Dimas dan di bantu anggukan oleh sang istri.


"Aduh jangan bilang seperti itu dok, karena memang tugas saya juga istri membantu kalian di rumah ini, malah kami yang seharusnya berterimakasih sebanyak-banyaknya, atas kebaikan kalian pada kami, pak Dokter juga Ibu Naya begitu baik sama kami membuat kadang kami merasa malu," ucap pak Mad sambil menunduk begitu juga bi Meri menunduk dalam.


"Tidak Pak, kami yang harusnya berterimakasih pada kalian, sudah menjaga aku bila suamiku tak ada di rumah, oya kapan pun kalian mau, pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian," sambung Naya.


"Terimakasih Bu, iya jika Tuhan mengijinkan mungkin saja suatu saat kami ke sana, lihat situasi di sini dulu," tegas pak Mad.


"Ok, ini gaji terakhir pak Mad, sekali lagi makasih banyak, kalian sudah menjaga aku selama di sini," Naya memberikan sebuah amplop pada pak Mad.


Pak Mad menerima dan saling berjabat tangan, Naya memeluk bi Meri sampai meneteskan air mata, "Nanti Bibi susul aku ya, kita kumpul lagi di rumahku."


Bi Meri tak bisa berkata-kata hanya mengangguk sembari mengusap air mata, Rita bocah kecil yang belum mengerti apa-apa cuma bengong.


,,,,


Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏 agar aku tambah semangat💪

__ADS_1


__ADS_2