Bukan Mauku

Bukan Mauku
Merindukanmu


__ADS_3

"Gimana mau menjenguk.? kan jauh.?" tanya bi Nina menatap suaminya.


"Nanti aja kalau sudah di pindahkan ke Sukabumi, baru menjenguk" balas Naya merenung.


Kini Naya benar-benar merasa hampa tiada yang mengisi kekosongan hatinya, ia juga ingin seperti yang lain di cinta mencinta berbagi rasa.


Hingga hadirlah seorang bernama Ilham orang Kalimantan Timur, usianya lebih muda, hari-hari tak ada waktu yang terlewat, tanpa mengobrol di telepon.


Kalau dalam bahasa gaulnya sih LDR, tiada hari tanpa bucin hi..hi..hi..,! namun hanya bertahan 1,5 bulan saja semua berubah menjadi hambar, bayang kan saja dalam kurun waktu 1,5 bulan ada kurang lebih lima kali kalimat putus yang terucap dari Ilham, membuat semua ambyar, yang awalnya ada rasa suka, sayang, hati yang berbunga bak taman kota penuh bunga, eh..,itu cuma sesaat, lambat laun menjadi layu dan kering tak tersisa.


Sampai akhirnya Naya memutuskan bahwa hubungan ini tak bisa di lanjut lagi, ia lelah dengan sikap Ilham yang tak dewasa, mulanya Ilham merajuk tak mau di putusin sehingga ia tetap sering telepon meski tak Naya angkat, namun lama ke lamaan ia pun jera.


Yang biasanya inten di telepon dan juga di FB, kini hilang, seolah tak ada apa-apa, dan kejadian ini tak membuat patah hati, karena itu ia anggap hanya sebagai singgahan sesaat.


Suatu malam Naya duduk di teras bersama David, sedangkan yang lain berbincang di ruang tengah.


"Kamu beneran sama Melia zak.? Naya menoleh David yang menyeringai.


"Iya teh, insya'allah, kalau jodoh sih." David nyengir.


"Ya semoga aja ada jodoh, tapi.., emang dia mau di ajak ke Kalteng.?" Naya menaikan alisnya.


"Gak tahu juga sih.!" sahut David membuang asap rokok ke langit-langit.


"Hemm..,! tapi..,aku tahu kamu sudah...,itu--!" goda Naya mendelik dan tak meneruskan kalimatnya ada David yang duduk di sampingnya.


"Apaan.?" David menyeringai penuh curiga.


"Sudah Itukan, ayo..., aku tahu kamu.!" Naya nyengir menunjuk David dengan telunjuknya.


"Jangan sembarangan lah, jangan berpikir macam-macam." sahut David sembari membuang muka dari tatapan yang penuh selidik itu.


"Hah dasar.., playboy.!" Naya membuang pandangan ke lain arah.


"Dasar apa.? Dasar laut.? apa yang playboy,?" David manyun.


David melirik "Teh tahu gak.?" "Egak" sambar Naya.

__ADS_1


"Ich, belum selesai ngomong, aku tuh niatnya sih serius, tapi gak tahu juga kan tergantung jodoh." ujar David. menatap lembut Naya yang monyong.


"Ya, aku Doa kan yang terbaik aja buat kamu, semoga dapat jodoh terbaik.!" tutur Naya tersenyum manis.


"Iya dong harus.! Apa lagi..!" dengan pandangan yang jauh.


"Apa lagi apa hah.? jangan bilang lebih jauh." Naya menatap tajam, entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Egak teh gak ada apa-apa." David mencubit pipi gembul Naya.


"Ishh.., sakit tahu.?" Naya meringis mengusap pipinya.


"Makanya jangan berpikir yang macam-macam apalagi ngeres." tambah David mengulum senyumnya.


"Emang, gak mau ngaku aja." gerutu Naya mencabik kan bibir ke depan.


"Beberapa hari agi aku akan balik berduaan dengan kawan yang mau cari kerja, dan si Wildan aku tinggal biar nanti kalau sudah sembuh pulang di antar A Heri saja." ucap David yang asik dengan rokok di tangan.


"Hemm, akan di tinggal lagi" sedih, tangannya mengusap bahu David.


"Ya, kan di karenakan musibah zak, makanya tersendat rencana kepulangannya." Naya menautkan jari-jari tangan.


"Yaps, tapi aku pasti akan ke sini lagi secepatnya kalau dia siap menikah denganku, " tersenyum.


"Iyalah," seru Naya.


"Oya si Dimas ada telepon gak.?" tanya David membuang puntung, dan merebahkan tubuhnya.


"Gak tau zak, beberapa bulan ini dia gak ada kabar, di telepon juga gak aktif, no yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, hi..hi..hi.." Naya menirukan suara operator.


"Sibuk kali teh dia," sahut David.


"Mungkin juga sih." Naya termangu dengan tangan di dagu, kadang ia pun merasa kehilangan dengannya.


"Hemm, bilang aja kangen dia" goda David tertawa.


Naya terhentak mendengar kalimat sepupunya, ia mengernyitkan dahinya. "Apaan sih kamu.? jangan ngadi-ngadi ah," Naya mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Hah, aku tahu sebenarnya kau itu suka sama dia," David beranjak meninggalkan Naya, menghampiri Heri di ruang tengah, Naya hanya tertegun mencerna ucapan David, ia menatap kepergian laki-laki itu.


Naya berbaring tak lepas dari selimut yang membalut tubuhnya, di pikirannya terbayang sebuah nama Dimas, teringat akan suaranya, sikapnya yang selau lembut padanya, di sudut matanya tak terasa ada buliran air mata menetes ke pelipisnya, entah apa yang ia rasakan, dan entah apa pula yang dipikirkan.


******


Dimas yang sulit di hubungi memang tengah di tugaskan di pedalaman sehingga sinyal pun susah di dapat, dan sengaja membiarkan Naya tanpa kabar, ia yakin akan perasaannya sendiri, yang akan selalu menyayangi mencintai, meski belum bisa memiliki, dan jelas-jelas Naya meragukan yang ia rasakan,


Dimas tengah berbaring, kedua tangan mengganjal kepalanya, menatap langit-langit pikirannya melayang-layang terbang di awan, ingatannya penuh dengan fantasi,


"Sayang aku merindukanmu" gumam Dimas memejamkan matanya, bersama keheningan dan angin malam yang membawanya ke alam mimpi.


Pagi-pagi di dalam kontrakan Dimas tengah siap-siap berangkat kerja.


"Pagi..,! sarapan bareng yuk.?" dokter Karmila mengacungkan tangannya yang menenteng kantong berisi makanan.


Dimas yang sudah menenteng tas, menoleh ke sumber suara itu, ia menatap wajah dokter cantik yang ada di hadapannya, kini mata mereka saling bertatapan, membuat Karmila sedikit gugup jantung berdegup kencang.


"Sarapan yuk dok.?" Karmila menyembunyikan rasa gugupnya, dia duduk duluan di meja menyiapkan makanan buat sarapan, Dimas pun menghampiri dan duduk di depan Karmila.


"Kenapa mesti repot-repot sih dok.?" ia memperhatikan makanan di meja.


"Gak papa kok, lagian kan sekalian, jadi gak repot kok." Karmila senyum manis menyodorkan sarapan ke depan Dimas.


"Kayanya enak nih." Dimas langsung melahap nasi goreng yang di bawakan Karmila, sedangkan Karmila memandangi Dimas yang lagi makan, tersipu bahagia karena yang ia bawa gak sia-sia.


Tak butuh waktu lama nasi goreng Dimas pun sudah raib tak tersisa. "Makasih dok buat sarapannya.?" kata Dimas meneguk minum, yang telah disediakan oleh Karmila.


"Sama-sama juga dok," Karmila tersenyum, sembari membereskan bekas makannya.


"Biar saya aja dok yang membereskannya." Dimas mengambil alih, kerena sudah waktunya berangkat kerja, mereka pun bergegas keluar berjalan mendekati motornya Dimas, dan mereka berangkat berboncengan.


,,,,


Ayok guys, dukung aku terus ya lake, komen sebanyak-banyaknya ya.? agar aku tambah semangat belajar nulisnya.


Terimakasih ya para reader ku 🙏

__ADS_1


__ADS_2