Bukan Mauku

Bukan Mauku
Hamil


__ADS_3

Meski Dimas merasakan lelah, capek namun rasa itu kalah dengan gairah memadu kasih yang ada pada dirinya, begitupun dengan Naya walau kepala pusing-pusing, namun tak bisa menolak dari cumbuan sang suami, bahkan sangat menikmati, akhirnya mereka melakukan penyatuannya di kamar, di malam yang begitu syahdu, dan hening, tanpa ada penghuni lain di rumah tersebut, kecuali mereka berdua.


Pagi buta Dimas sudah bangun dan bersih-bersih, sementara Naya masih tiduran badan terasa lelah, tulang berasa remuk, kepala pusing, mual menyerang, rasanya tak mampu bangun, Dimas panik melihat sang istri, "Kenapa yang.?"


Naya meringis, "Badan sakit, pusing, mual, rasanya gak mampu bangun," dengan lirih.


"Kok Bisa,? apa semalam Ayah kasar,? perasaan biasa aja," Dimas tampak berpikir.


"Nggak, bukan karena itu yang," Naya meringsut duduk bersandar, selimut di jepit dengan tangannya.


"Ya sudah, aku bantu," Dimas menarik selimut, lalu memakaikan jubah mandi, kemudian membawa Naya ke kamar mandi untuk bersih-bersih tubuhnya.


Dimas mengisi air hangat di bathtub, "Yang aku bisa sendiri, keluar saja, nanti aku panggil," ucap Naya menatap sendu Dimas.


"Tapi yang,?"


"Sudah keluar saja,? mungkin sayang mau bikin sarapan,? aku gak tau mampu apa tidak ke dapurnya nanti," sambung Naya lirih.


Dengan tatapan iba, Dimas meninggalkan Naya di kamar mandi, "Nanti kalau sudah, panggil Ayah ya,?" Naya pun mengangguk, Dimas bergegas ke dapur untuk membuat sarapan.


Naya masuk ke dalam bathtub merendam diri dengan air hangat, kepala pusing banget, dan oo.., perut mual-mual, Naya beranjak membilas tubuhnya dengan air bersih, kemudian memaksakan diri berdiri mengenakan jubah mandi, namun setelah mengenakan jubah mandi, ingin mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut, kepalanya semakin pusing penglihatan berkunang-kunang dan seakan berputar.


Tangan Naya mencari sesuatu yang bisa di pegang, badannya sangat lemas tak kakinya tak bisa lagi menyangga berat tubuhnya, "Ayah..,? panggil Naya suaranya sangat pelan, gubrakkkk.., tubuh Naya terjatuh dan pingsan, kepalanya membentur ember, hingga ember pecah.


Dimas membuat sarapan yang mudah saja masak mie, setelah matang ia simpan di atas meja makan, hatinya sangat gelisah, "Sudah 30 menit kok belum manggil juga,?" Dimas bergegas ke kamar langsung mengetuk pintu kamar mandi.


Tok..


Tok..


Tok.., "Sayang sudah belum mandinya,? lama banget,?" lama tidak ada yang menyahut, "Yang,? dengar aku kan.?"


Karena tidak juga ada suara dari dalam, membuat Dimas tambah cemas, Dimas membuka pintu perlahan, di bathtub tidak ada orang, Dimas mengedarkan pandangannya, tiba-tiba Dimas tercengang, Dimas melompat, menghampiri Naya yang tergeletak di lantai, "Sayang, sayang kenapa,?" menepuk-nepuk pipi Naya yang tak bergerak.


Dimas menempelkan jarinya depan hidung Naya, lalu dia mengendong tubuh Naya di bawanya ke tempat tidur, "Bunda bangun sayang,?" Dimas menangis, segera menelpon bidan dokter setempat, dan mengoleskan minyak angin di pelipis dan batang hidung Naya.


"Bangun sayang,? bangun, jangan membuat aku khawatir, bangun sayang bangun,? jangan tinggalkan aku,?" Dimas memeluk Naya.


"Yang.., aku kenapa,?" suara Naya sangat pelan.


Dimas mencium kening Naya, "Bunda sudah sadar,? tadi Ayah sudah bilang, biar Ayah bantu, namun Bunda keras kepala, kenapa bisa pingsan sayang,? Bunda jatuh hem,?" menggenggam tangan Naya erat.


"Ta-tadi aku merasa pusing banget, badanku lemas dan akhirnya terjatuh, kepalaku membentur ember kalau gak salah,?" Naya lirih sembari meringis.


Dimas menempelkan punggung tangannya di pelipis dan bawah telinga, "Sayang demam."


"Pak dokter,? ini dokternya sudah datang,?" suara Pak Madun dari belakang Dimas.

__ADS_1


Dimas menoleh, Pak Madun dengan seorang dokter wanita, "Dok tolong istri saya dok,?" dengan nada sangat khawatir.


"Baik lah dokter Dimas, saya akan periksa istri anda, permisi,?" dokter wanita itu memeriksa Naya.


Pak Madun keluar untuk bersih-bersih rumah, Dimas duduk di sofa memperhatikan Naya yang tengah di periksa.


Setelah beberapa saat Dimas menghampiri dan duduk di samping Naya, dokter pun selesai dengan senyuman melihat wajah cemas Dimas.


"Bagaimana dok keadaan istri saya,?" Dimas penuh penasaran.


Dokter tersenyum, "Istri anda cuman demam biasa dan kelelahan mungkin karena perjalanan kemarin, lagian biasa lah wajar juga tubuhnya lemah, maklum kan lagi hamil muda, lagi masa-masa ngidam bukan,?" dokter tersebut mengira kalau kehamilan pasiennya sudah di ketahui.


"Apa dok istri saya hamil,?" Dimas kaget.


"Iya, hamil muda," ucap dokter yang bernama Sonia itu.


Dimas dan Naya saling pandang, "Kenapa sayang tidak bilang kalau sayang ham-!"


Naya menggeleng lemah, "Aku gak tau yang,?" memotong kalimat dari Dimas.


Dimas membantu Naya perlahan duduk bersandar, kemudian Dimas merangkul Naya, "Makasih sayang,? kita akan menjadi Ayah dan Bunda dari anak kita,?" Naya menitiskan air mata tak tau harus berkata apa hanya air mata bahagia yang mengalir dari sudut mata Naya, begitupun Dimas menangis sangat bahagia mendengar sang istri tengah hamil.


Dokter Sonia bengong dan merasa haru melihat pasangan di depannya itu, "Saya kira kalian sudah tau bahwa Ibu ini tengah hamil muda.?"


Dimas melepas rangkulannya, menoleh dokter Sonia, "Tidak dok, saya baru tahu sekarang," dengan senyuman bahagia lalu memandangi wajah istrinya yang pucat.


"Makasih banyak dok,?" rona bahagia terlihat jelas di wajah dokter bedah yang tampan itu.


"Istrinya di jaga, vitaminnya, makanannya juga, banyak makan sayuran dan juga buah-buahan, jangan capek, jangan stres, apa lagi di kehamilan pertama serta usia kehamilannya masih sangat muda banget, baru enam tujuh minggu, harus benar-benar di jaga banget," ujar Sonia.


"Baik dokter,? sekali lagi saya ucapkan makasih banyak,?" Dimas menjabat tangan dokter Sonia, dokter umum yang masih muda dan cantik.


"Ibu Naya, cepat sembuh ya demamnya,? dan segera melewati masa-masa ngidamnya juga, jaga diri jaga kesehatan pula," ucap Sonia pada Naya.


"Iya dok, makasih," lirih.


"Oya dok, apa jadi masuk hari ini,?" Sonia mengalihkan pandangan pada Dimas.


"Sepertinya belum bisa masuk hari ini dok,! mengingat istri saya seperti yang anda lihat,? mungkin hari esok saya masuk, dan akan saya usahakan besok masuk," jelas Dimas.


"Yang kalau mau masuk kerja, gak apa-apa masuk aja, aku cuman butuh istirahat kok, dan.., yang penting aku butuh vitamin, untuk daya tubuh," ucap Naya, dengan tatapan sendu.


"Nggak, hari ini Ayah akan jagain Bunda, Ayah akan ijin dulu untuk hari ini sayang," Jelas Dimas sembari mengelus kan tangan Naya di pipinya.


"Baiklah, saya akan sampaikan pada kepala RS bahwa anda tidak jadi masuk hari ini, dengan alasan pribadi, ok, urusan saya di sini sepertinya sudah selesalai, kalau ada apa-apa, hubungi saya kembali," dokter Sonia pamit pulang, di antar oleh Dimas sampai ke depan.


Sebelumnya, "Sayang, aku antar dokter Sonia ke depan, dan minta tolong Pak Madun untuk menebus obat,? bentar ya.?"

__ADS_1


Naya mengangguk, "Iya."


Dimas dan Sonia berjalan keluar dari kamar tersebut, setelah di depan, "Dokter bawa motor.?"


"iya benar dokter, permisi,?" mengangguk hormat.


"Hati-hati dok,?" pesan Dimas, dokter Sonia melajukan motornya meninggalkan tempat tinggal Dimas saat ini.


Dimas mengahampiri Pak Madun yang tengah menyiram bunga, "Maaf Pak,?"


"Gimana Pak dokter kabar istri anda,?" dengan tatapan penuh penasaran.


"Sudah agak mendingan Pak, oya saya mau minta tolong Pak kalau Bapak tidak keberatan,?" Dimas ragu-ragu.


"Tentu Pak dokter, bisa, apa yang perlu saya bantu,?" kata Pak Madun dengan sangat ramah.


"Tolong tebuskan obat-obatan yang sudah ada dalam resep ini," Dimas memberikan resep dari dokter, tidak lupa dengan uangnya, "Oya Pak Madun bawa saja mobil saya."


"Tidak usah Pak, lagian tuh motor untuk Bapak selama di sini sudah siap pakai dan maaf saya belum sempat memberikan kuncinya,?" Pak Madun menunduk hormat pada Dimas.


Dimas menoleh tempat yang Pak Madun tunjukkan, benar saja sebuah motor sudah terparkir manis di sebelah mobil milik Dimas, "Oh, tidak apa-apa, ya sudah Bapak ke apoteknya bawa motor itu saja, kuncinya ada kan.?"


"Ada ini Pak," merogoh saku mengambil sebuah kunci motor.


"Iya pake saja Pak, saya menunggu obatnya buat istri saya.?"


"Baik Pak dokter,?" Pak Madun nyamperin motor, untuk pergi ke apotek menebus obat buat Naya, sementara Dimas melengos masuk ke dalam rumah, sebelum masuk kamar mengambil mie yangbtadi dia masak, buah manis, dan air mineral, pisau untuk mengupas buah, di bawanya ke kamar, Naya masih duduk bersandar namun matanya terpejam, Naya membuka mata ketika mendengar suara pintu di buka.


"Sayang makan buah manis dulu ya,?" Dimas mengupaskan buah untuk Naya, Naya melihat mie goreng di meja sepertinya sudah dingin sekali dan belum tersentuh sama sekali, Naya merasa sedih suaminya belum sempat sarapan, kerena kejadian tadi.


"Sayang, belum sarapan ya,?" dengan sorot mata yang sendu.


Dimas yang sedang mengupas buah menoleh, "Jangan memikirkan Ayah, Bunda yang harus cepat sehat," ucap Dimas dan menyuapkan buah pada Naya.


Naya membuka mulutnya sekali kemudian mengambil alih buah itu, "Biar aku makan sendiri, sayang sarapan dulu, mienya sudah sangat dingin, makan dulu sana.?"


"Baiklah, tapi.., buahnya harus di habiskan,?" Dimas memberikan piring buah pada Naya, dia sendiri mengambil mangkuk Mie dan memakannya, namun rasanya sangat berbeda, walau hati bahagia dengan kabar kehamilan sang istri, tapi. makan jadi tak berselera bila makan sendiri, Naya memperhatikan makan Dimas yang hanya satu dua sendok saja.


"Kenapa,? gak enak kah,?"


"Enak kok sayang," Dimas melirik.


"Terus kenapa tidak di makan.?" Naya mengambil sendok dan Naya berusaha menyuapi Dimas, namun Dimas malah bengong, "Ayok makan,?" Naya menyuapi Dimas mie goreng, meski tubuhnya sangat lemah, dia tidak tega jika suaminya tidak sarapan hanya karena bukan dari tangannya.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2