
"Bu, Bibi lihat sekarang Ibu jalannya lebih kuat dan naik turun tangga pun jarang memakai lift,?" bi Taty tersenyum bahagia.
Naya tersenyum bahagia, "Iya Bi alhamdulillah, ada kemajuan," sambil terus berjalan.
Bi Taty memandangi Naya dari belakang sampai tak terlihat dari pandangan.
Naya sudah berada di dalam kamar, usai menunaikan sholat magrib, Naya tak lupa mengaji, dalam hatinya gelisah karena suaminya belum pulang, di telpon gak di angkat.
"Kebiasaan yang, mana hujan,? belum pulang," Naya menghela napas dalam, sambil melihat keluar jendela di luar hujan.
Setelah isya Naya turun untuk ke dapur, perutnya sudah bersuara cacing-cacing sudah minta jatah makan, Naya menapaki lantai dasar, tampak bi Taty lagi makan, "Bi, makan ya.?"
"Iya Bu, Mau makan sekarang Bu? tanya bi Taty.
"Aku mau masak mie aja Bi kayanya enak pake sayuran dan potongan cabe," ucap Naya sambil duduk di kursi.
"Nanti bikinkan Bu,? tunggu sebentar," sembari menghabiskan makannya.
"Jangan Bi, aku akan buat sendiri, Bibi makan aja," cegah Naya.
"Bibi udah selesai Bu," bi Taty membawa piring kotor ke wastafel, terus menyiapkan mie buat Naya majikannya, wajah Naya nampak gelisah.
"Ibu tampak gelisah kenapa,? bi Taty melirik Naya sambil memotong sayuran.
"Nggak sih, cuma.., suami aku belum pulang aja, sudah malam, hujan lagi, ponselnya juga gak aktif," pandangan Naya jauh menerawang.
"Mungkin masih di jalan Bu," tak lama mie pun siap dan bi Taty hidangkan depan Naya, "Ini Bu sudah siap mie nya,"
Naya melirik Mie yang di suguhkan bi Taty, "Makasih Bi,?" Naya melahap mie buatan bi Taty hangat-hangat.
Bi Taty duduk menunggui majikannya sambil mengajak ngobrol, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam Dimas belum juga pulang hati Naya makin gelisah.
"Sudah malam, baiknya Ibu istirahat aja, nanti juga Tuan pasti pulang," ujar bi Taty memandangi wajah lusuh Naya.
__ADS_1
"Iya Bi, aku ke kamar saja," Naya beranjak dari duduknya dan berjalan lunglai menaiki anak tangga, sesampainya di kamar Naya mencoba menghubungi kontak suaminya namun tetap gak aktif, Naya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Di perkebunan sawit
Dimas mau pulang tapi terhalang hujan, membuat dia berdiam diri, berkumpul dengan teman dan anak buahnya, kebetulan ketemu kawan lama di sana, saking asik mengobrol hingga lupa bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 wib di luar hujan masih gerimis.
Namun Dimas ingat pulang Dimas pamit kepada semuanya, kemudian memakai helmnya dan melajukan motor dengan kecepatan sedang, Dimas menerobos gemercik hujan di kegelapan malam, hampir satu jam Dimas akhirnya sampai di rumah, langsung memasukan motornya ke dalam garasi, rumah sudah nampak sepi pasti orang-orang sudah pada tidur, maklum sudah hampir setengah dua belas malam ia sampai rumah.
Dimas menjinjing jaket basahnya, karena sudah terbiasa membawa kunci sendiri jadi tidak perlu merepotkan orang untuk membukakan pintu, Dimas melangkah dengan lunglai dengan pakaian basah, langsung menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
Setelah di dalam kamar tak lupa mengunci pintu, lampu kamar sudah temaram, di tempat tidur kosong, Dimas menoleh kanan kiri mencari keberadaan istrinya, ternyata Naya tertidur di sofa, "Sayang,?" gumam Dimas, setelah menyimpan kunci motor, ponsel langsung di cas, lalu Dimas menghampiri Naya di sofa.
Dimas membelai kepala Naya, dan mengecupnya dengan mesra, "Maaf sayang aku terlambat pulang," lagi-lagi Dimas mendaratkan ciumannya di kening sang istri, namun Naya masih tak bergeming, Dimas memutuskan untuk memindahkannya ke tempat tidur.
Dimas membopong sang istri ke tempat tidur, ia pasangkan selimut sampai menutupi dada, lalu Dimas ke kamar mandi untuk bersih-bersih, tak lama di kamar mandi Dimas sudah kembali, mengenakan handuk di pinggangnya, usai mengenakan pakaiannya Dimas menoleh Naya yang masih terlelap, ia menunaikan sholat isya, usai salam perutnya sudah keroncongan kemudian keluar kamar, untuk mencari makan.
Sampai di meja makan membuka tudung saji masib ada untuk makan malamnya namun bukannya makan malah bengong rasanya tak berselera makan tanpa suapan dari sang istri, Dimas menoleh ke arah tangga berharap istrinya turun dan menemaninya makan, Namun itu hanya harapan, Dimas tak sedikit pun menyentuh makanannya.
Akhirnya Naya menyadari dia tidur dalam pelukan seorang pria, Perlahan Naya membuka mata dalam sinar temaram Naya masih melihat jelas Dimas tersenyum padanya, "Yang kapan pulang,?" dengan suara khas bangun tidur dan tangannya sembari membelai pipi sang suami.
"Setengah jam yang lalu," sahut Dimas dan mencium tangan Naya yang membelai pipinya.
"Kenapa malam banget sih pulangnya,? gak kangen kah sama aku,?" dengan manjanya.
"Kangen sayang, makanya pulang," menciumi tangan Naya, "Maaf sayang, kan hujan, kalau gak hujan mungkin masih sore aku pulang."
"Hem.., kebiasaan gak bisa di hubungi juga ponselnya,?" gerutu Naya dan membenamkan wajah di dada sang suami serta memeluk erat seolah lama tidak jumpa.
"Mati sayang ponselnya, tadi pulang langsung di ces kan," Dimas membalas pelukan Naya, "Yang penting sekarang aku sudah berada dalam pelukanmu yang, mau di apakan sekarang hem..,?"
"Hem..," gumam Naya, pas mau pejamkan mata Naya mendengar suara dari perut Dimas sepertinya tengah demo meminta makan, Naya mendongak memandangi wajah Dimas yang mencoba pejamkan mata.
"Sayang, belum makan kah,?"
__ADS_1
Dimas membuka mata, "Belum."
"Kenapa belum makan,? sayang kelaparan juga,?" dengan tatapan semakin lekat.
"Tadi aku sudah duduk di dapur mau makan tapi.., rasanya tak berselera kalau makan sendiri tanpa--!" Dimas menggantung kalimatnya.
Naya bangun bersandar di bahu tempat tidur, "Tanpa apa.?"
"Tanpa suapan dari kamu," Dimas mengusap pipi Naya dengan lembut.
"Ya ampun.., ya sudah ambil gih, bawa ke sini,? aku suapi," ucap Naya.
"Tapi.., sayang ngantuk, biar pagi aja aku makannya," Dimas tiduran menutupi wajahnya dengan selimut.
Naya manarik selimut dari wajah Dimas, "Sayang.., buruan ambil, makan dulu, apa harus aku ambilkan,?" Naya penuh penekanan.
Dimas membukakan selimut, "Iya sayang iya, bentar ya aku ambilkan, tapi.., jangan bobo dulu ya,?" cup.., mengecup pipi sang istri dan akhirnya turun dari tempat tidur untuk mengambil makan ke dapur.
"Iya..," Naya mengusap pipinya yang lembab karena bibir Dimas, "Kebangetan deh, makan aja gak jalan bila gak di suapi, sejak kapan seperti itu,? aneh sekali baby besar ku itu,?" Naya menggeleng pelan.
Tak lama Dimas kembali membawa nampan berisi piring dan makanan untuknya, setelah menutup pintu Dimas berjalan dan meletakkan nampan tepat depan Naya yang duduk simpul, Naya bersiap untuk menyuapi Dimas yang tengah menuang air putih dari dispenser yang ada di kamar tersebut.
Seusai mengambil minum, Dimas duduk dekat Naya lalu membaca doa, kemudian Dimas makan dengan lahap dari tangan sang istri yang dengan sabar menyuapinya, seperti seorang ibu yang tengah menyuapi putranya makan.
Tak ada yang terucap ataupun suara selain suara sendok yang bertemu piring, Naya terus menyuapi Dimas makan sampai tandas, di akhiri meneguk segelas air putih Dimas pun sampai bersendawa.
"Hem.., kenyang, makasih sayang,?" Dimas membereskan piring bekasnya makan ke atas meja dekat sofa, lalu mengajak Naya berbaring dan tidur, "Sayang, malam ini libur dulu ya bulan madunya, aku capek,?" bisik Dimas di telinga Naya, dan Naya hanya tersenyum simpul.
,,,,
Maaf reader ku🙏 yang selalu menunggu aku up🙏 aku masih belum bisa up tiap hari, di karenakan masih dalam masa pemulihan🙏
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong🙏🙏
__ADS_1