Bukan Mauku

Bukan Mauku
Dua kalimah syahadat


__ADS_3

"Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri sayang, siap-siap ya.? Dimas pelan, Naya hanya mengulum senyumnya.


Dimas duduk bersama keluarga Naya, berbincang dengan sangat serius, berbincang mengenai niat dan rencana Dimas, terhadap Naya, ia ingin pernikahan di laksanakan secepat mungkin, agar segera sah, minimal ijab kabul terlebih dahulu, kalau resepsi boleh besok-besok, dikarenakan saksi dari pihak laki-laki tidak punya banyak waktu, sebab dia sibuk.


Akhirnya semua sepakat, ijab kabul akan di laksanakan nanti malam, syukuran nya besok hari, menurut Pak Nanang, buat apa pesta-pesta.? mendingan uangnya di tabung aja buat masa depan, yang penting sudah sah dan saling bertanggung jawab, khususnya suami terhadap istri.


"Jangan seperti yang sudah-sudah, cukup sekali terjadi, Naya mengalami itu," pak Nanang penuh harap,


"Saya janji Pak, saya akan menjadi suami yang baik untuk putri Bapak, saya tidak akan meninggalkan nya, malah saya akan bawa dia ke Kalimantan pak," ucap Dimas penuh keyakinan.


Keluarga Naya terkejut mendengar Nya mau dibawa ke Kalimantan oleh Dimas, sedangkan bagi mereka itu tidak mungkin terjadi, dalam keadaan Naya seperti sekarang ini, dalam pikiran mereka, gimana kalau kalau Naya di apa-apain sedangkan dia jauh dari keluarga, bahkan dia sendiri tak akan mampu berbuat apa-apa.


Dimas mengerti keraguan keluarga Naya, "Saya memohon ijin, pada Bapak sekeluarga, agar nanti bila saya sudah menjadi suaminya, saya bisa membawa Kanaya bersama saya, di manapun saya berada," Dimas menatap pak Nanang kemudian menunduk, "Saya tidak mungkin sanggup meninggalkan dia sendiri, dia harus selalu berada di sisi saya."


Naya yang tertunduk mendongakkan kepalanya dengan pandangan tertuju pada Dimas, begitupun Dimas melempar pandangannya, menjadi saling tatap. "Saya gak mungkin menyianyiakan Naya, tentu saya akan berusaha menjaga istri saya dengan semampu saya." lirih.


"Tapi...,kami gak akan mengijinkan Kanaya ikut denganmu," sahut bu Nina. menatap tajam.


"Tapi saya juga tidak mungkin meninggalkan Naya walau bersama orang tuanya, gimana kalau saya tak kembali, apa rela menjadikan dia di sia-siakan seperti dulu.? meski saya tidak mungkin, melakukan hal tersebut, Kanaya berhak bahagia, dan ijinkan saya membahagiakan nya." ujar Dimas balik menatap datar bu Nina.


Dimas tahu dari lubuk hati yang paling dalam Naya ingin keluar dari kelurganya, bukan apa, ia ingin merasakan hidup nyaman bersama suami, Naya tak ingin selamanya bersama atau bergantung kepada orang tuanya apalagi seumur hidup menjadi beban keluarga. mengingat bu Nina orang super bawel, jadi Naya takut suaminya menjadi risih, jika hidup bersama.

__ADS_1


"Lagi pula, saya akan mengajak kelurga di sini untuk mengantar kami, jika terjadi saya membawa Kanaya ke Kalimantan, saya akan mengajak kalian semua mengantar kami ke sana." Dimas meyakinkan.


"Ya sudah soal itu kita bahas lain kali saja, karena ada yang lebih penting ya itu pernikahan," balas pak Nanang mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di sana.


"Baik pak," Dimas dan semua mengangguk pelan.


Pak Nanang dan Dimas mengurus untuk pernikahan Dimas dan Naya, di antar oleh suaminya Lely, ke pihak KUA setempat. Naya yang memasak sesekali merenung, seakan masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi, dan sekaligus akan terjadi.


"Emangnya yakin.? akan menikah dengan Dimas.? secara dia kan orang jauh,.?" ucap Lely pada Naya, "Yakin, cukup lama aku menunggunya, dan aku juga sudah berusaha mencari jodoh selain dia, atau orang yang dekat, tapi gak bisa, mereka selalu menjauh akhirnya menghilang, mungkin dia adalah jodoh aku yang memang terbaik." ucap Naya dengan helaan napas yang dalam.


Dimas sudah kembali. "Sayang mau kemana.?" melihat Naya berdiri berjalan tertatih, membuat Dimas tak tega.


"Mau ke WC, mau mandi." jawab Naya malu-malu, tak ingin di lihatin Dimas.


"Aku antar ya.?" Dimas menyeringai, namun tak tega, niatnya menggendong membawanya ke WC, namun harus di tahan dulu toh, belum sah.


"Nggak ah, sana jangan liatin." Naya semakin malu, akhirnya Dimas berlalu ke ruang tengah, dan Naya lanjut mandi.


Sore hari saudara Naya sudah mulai berdatangan, Naya berdandan seadanya saja, di sanggul, kerudung, dan kebaya putih, Lely dan sepupunya sedikit memulas wajah Naya, agar tidak terlalu natural, "Akhirnya teteh menikah lagi, semoga kali ini benar-benar sakinah ya teh.?" ucap sepupunya sembari tersenyum memandangi wajah Naya merona bahagia. "Aamiin, ya rabb." sahut Naya, begitu bahagia.


Sementara Dimas sudah siap memakai kemeja putih dan peci hitam, ia sudah berhadapan dengan Pak haji, seperti keinginan Dimas dan Naya, sebelum ijab kabul di laksanakan, Dimas akan mengucap dua kalimah syahadat, kembali, yang sebelumnya pernah dia lakukan ketika masih di Kalimantan.

__ADS_1


Pak haji menuntun Dimas mengucapkan dua kalimah syahadat. sebagai permulaan bahwa dia telah merubah keyakinannya tersebut menjadi beragama Islam, sebelumnya Pak haji menanyakan. "Apa kau yakin ingin masuk Islam,? dan tidak atas dasar keterpaksaan.?"


"Yakin, dan atas keinginan sendiri." jawab Dimas dengan sangat lantang.


Di awali bismillah, terucapkan dari bibir Dimas dua kalimah syahadat bersama artinya, dengan tuntunan Pak haji. di lanjut membaca surah alfatihah, dan al-ikhlas, walau masih agak terbata-bata namun cukup lancar lah bagi orang yang baru masuk Islam.


Semua berucap "Subhanallah." ketika Dimas selesai mengucap dua kalimah syahadat tersebut, dan surah lainnya.


Begitupun Naya tak luput mengucap syukur yang tiada henti, Dimas membaca surah al-fatihah dan al-ikhlas, memang Naya yang pinta khusus, sebagai maskawin untuknya.


"Alhamdulillah, sekarang Dimas ini bukan lagi non muslim, melainkan seorang muslim, kita sebagai umat muslim dari lahir punya kewajiban penuh, untuk membimbing ananda Dimas menjadi seorang mualaf yang lebih baik lagi." tutur Pak haji, sembari mengedarkan pandangannya.


Semua yang berada di tempat tersebut mengangguk tanda mengerti.


"Semoga Allah menetapkan hati, ananda Dimas dengan keyakinan yang sekarang sampai akhir hayatnya kelak, Aamiin ya rabbal-Al-Amin." sambung Pak haji dengan menarik bibirnya senyum, pada semua orang, dan semua menjawab "Aamiin..,!"


"Oia atas permintaan calon mempelai wanita, nama si calon mempelai pria, namanya menjadi.., Yusuf Arya, kalau panggilan mah bebas ya.? bisa Dimas, bisa..,Yusuf, dan..,bisa juga Arya, bebas lah." sambung Pak haji,


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.wib, di rumah Pak Nanang ramai oleh saudara-saudara dekat dan tak ketinggalan para tetangga pun apalagi hadir, di dapur riuh oleh ibu-ibu yang memasak serentak buat makan malam, ketika nanti ijab kabul selesai.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih banyak reader ku yang masih mengikuti kisah ini, terus dukung aku ya.? agar author Bukan Mauku tambah semangat nih, jangan lupa lake, komentar, dll nya juga ya.?


__ADS_2