Bukan Mauku

Bukan Mauku
Makan banyak


__ADS_3

"Yaps, benar,?" kata Dimas dan Naya berbarengan, "Kau benar Al, kau harus mencari wanita yang menyayangi anak-anak kau lebih dulu, soal kau belakangan bah, karena itu yang sulit," sambung Dimas, dan Naya mengangguk membenarkan perkataan suaminya.


"Jadi kalian berangkat besok,?" tanya Aldo penasaran.


Dimas menoleh kembali. "Jadi, makanya terapi di kencel dulu untuk sementara waktu, kalau kami kembali baru mulai terapi lagi," Dimas menjelaskan.


"Oh, ok.., jaga diri baik-baik ya Ibu Naya, jalan di atur jangan tergesa-gesa untuk menghindari terjatuh," pesan Aldo pada Naya.


"Jangan sok perhatian,? ini suaminya," dengan senyum tipis.


"Iya-iya, kau suaminya, siapa bilang saya suaminya,?" Aldo menggeleng kecil.


"Baik dok," ucap Naya, terapi pun selesai, Aldo langsung pamit karena masih ada urusan.


Saya pamit dulu, karena masih ada urusan, dan sampai jumpa lagi,? di lain kesempatan,?" Aldo membereskan tasnya, serta mengambil ponsel miliknya.


"Ok, terimakasih,?" Dimas menjabat tangan Aldo, dan mengantarnya ke bawah.


Dimas dan Aldo berjalan ke menuruni tangga, di bawah ada orang tua Dimas tengah berbincang.


"Eh, nak Aldo mau ke mana,?" tanya bu Hesa begitu sangat ramah.


"Mau pulang tante," sahut Aldo mengangguk.


"Loh tumben kok buru-buru,?" sambung bu Hesa.


"Kebetulan ada urusan lagi tante,? apa kabar om,?" Aldo mengalihkan pandangan pada Bapak Dimas.


"Oh, baik nak Al, lama kita tak jumpa,?"


"Syukur lah, iya Om, aku pamit dulu lah, sampai jumpa di lain waktu,?" Aldo melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Dimas, sesampainya di pintu Aldo membalikan badan.


"Aku pulang dulu, sampai jumpa lagi,"


"Ok, hati-hati,?" Dimas tersenyum, Aldo pun berjalan mendekati mobilnya, kemudian melajukan dengan cepat, meninggalkan tempat tersebut, Dimas menutup pintu, melangkah ke dalam nyamperin kedua orang tuanya.


Dimas duduk di sofa, sejenak ngobrol bersama kedua orang tuanya, karena sudah terdengar suara adzan magrib dari kejauhan, Dimas beranjak, "Pak , Mak aku tinggal dulu,? nanti kita makan malam bersama.?"


"Ok," sahut kedua orang tuanya Dimas.


Dimas bergegas menaiki anak tangga, menuju kamarnya, di sana Naya sudah siap dengan mukenanya dan sarung buat Dimas pun sudah siap di atas sejadah yang sudah tergelar.

__ADS_1


Dimas segera masuk kamar mandi, sekalian merasa ke belet buang air kecil, tak lama Dimas kembali dan melaksanakan sholat magrib, lanjut belajar ngaji bersama.


Usai semuanya Dimas dan Naya membereskan bekas sholatnya ke atas meja, "Kita makan yuk,? lapar nih," ajak Naya.


"Ayok, hati-hati jalannya,?" pesan Dimas, lalu berjalan menggandeng tangan Naya.


"Aku belum bisa jalan di gandeng, bisanya di gendong,? he..,he..,he..," terkekeh sendiri.


"Boleh," Dimas langsung mengendong tubuh mungil istrinya dengan ringan.


"Nggak-nggak, turunkan aku,? biar jalan sendiri aja yang," Naya sedikit meronta namun tak di hiraukan Dimas.


Sesampainya di dekat meja makan barulah Naya di turunkan, kemudian Dimas menggeser kursi untuk duduk Naya, "Bapak dan Mama mana yang,?" tanya Naya celingukan mencari keberadaan mertuanya, di ruang keluarga juga tidak ada.


Dimas menoleh bi Taty yang tengah bersih-bersih, "Kedua orang tuaku di mana Bi.?"


Bi Taty pun membalikan badan, "Eh, mungkin di kamarnya Tuan."


"Oh," Dimas mengangguk.


"Bi, ada lalapan gak,? sama sambelnya,?" Naya lirih, ingin rasanya makan lalapan sama sambal.


"Boleh Bi, bahan sambalnya di goreng dulu, kalau ada ikan asin juga di goreng, terus kalau ada kol sama sawi di rebus sebentar, tapi.., kalau bahan sambalnya sudah di goreng, biar aku saja yang bikin sambelnya, nanti Bibi terlalu repot," ujar Naya merasa gak enak kalau banyak nyuruh ART nya.


"Baik Bu," bi Taty menyiapkan semuanya, sementara Dimas main handphone.


Kedua mertua Naya menghampiri dan duduk di kursinya masing-masing, "Kami kira kalian masih di atas.?"


"Sudah dari tadi Pak," jawab Naya sembari mengambilkan nasi untuk Bapak dan Ibu mertuanya, Naya juga mengambil untuk sang suami, dengan basmalah Naya menyuapi Dimas, "Sayang gak makan,?" tanya Dimas di swla mengunyahnya, melihat istrinya tidak makan.


"Nanti, nunggu lalapan dan sambal," Naya pelan.


"Iya kenapa kau tidak makan Naya,?" Bapak mertua pun menanyakan kenapa tidak makan, "Diet kah.?"


"Jangan diet nanti tambah kering rahimnya karena tidak sehat," sambung Bu Hesa.


"Hem, emang ngaruh ya,? diet sama rahim kering,?" gumam Naya dalam hati, "Nggak Pak, aku gak diet kok Mak, aku cuman nunggu rebusan lalapan matang, rasa pengen makan sama lalapan, sambal, sudah lama tidak makan itu," Naya tersenyum samar.


"Oh gitu, mantu Bapak jangan sampai terlihat kurus, malu nanti di lihat besan, di kira suaminya tidak becus ngurus istri," kata Bapak mertua, membuat Naya tertawa dan Dimas pun menggeleng kan kepalanya.


"Bagus, banyak makan sayuran atau yang ijo-ijo, jangan banyak makan timun nanti becek," lirih bu Hesa pada Naya.

__ADS_1


"Iya Mak," sahut Naya sembari terus menyuapi Dimas, namun Dimas penasaran dengan perkataan Mamanya.


"Apanya yang becek Mak,? kan timun emang berair,?" penuh penasaran.


Bu Hesa menoleh Dimas, "Masa kamu gak ngerti,? nanti organ intim istri kamu becek kalau terlalu makan timun."


"Oh, ya.., bagus lah becek, dari pada kering, saya yang tersiksa nanti, sawah aja lebih enak becek ketimbang kering,?" Dimas dengan wajah sok polos gitu, membuat Naya melotot pada Dimas.


"Lah, kenapa melotot yang,? memang bener kan..,?" tanya Dimas heran.


"Apa maksudnya ngomong barusan,? gak usah di omongin juga kali ah,?" bisik Naya sembari melihat kedua mertuanya yang menunduk fokus dengan makannya.


Dimas malah nyengir, "Biar aja, emang kenapa sayang,?" balas Dimas berbisik di telinga Naya.


Naya mencebikan bibirnya, "Heran gak ngerti ini orang,?" pikir Naya sambil menggeleng, Dimas makin menyeringai.


Makan Dimas selesai, begitupun kedua orang tuanya, Dimas meneguk minuman mineralnya sampai tandas, Naya mengulek sambel, yang sudah bi Taty goreng, lalapan dah siap, ikan asinpun sudah tersedia di meja makan, tinggal Naya makan saja.


"Yang, ingat jangan terlalu banyak makan pedas, kurang baik kena lambung sayang,?" tutur Dimas dengan lembut sembari mengelus pipi Naya.


"Iya, makanya aku jarang makan sambal juga," sahut Naya, Dimas mau beranjak namun Naya langsung bertanya, "Sayang mau kemana.?"


Serentak Dimas menjawab, "Mau ke ruang tengah bersama Bapak dan Mama.?"


"Duduk saja di sini temani aku,?" Naya bergelayut di lengan Dimas, akhirnya Dimas duduk di tempat semula menemani sang istri makan.


Naya begitu sangat lahap dan nikmat, dan makannya pun banyak, Dimas tak henti-nentinya tersenyum, "Tumben sayang makannya banyak.?"


"Hah,?" Naya menoleh sembari senyum di paksakan, dia terus melanjutkan makannya.


Setelah selesai Naya minum dan mencuci tangan, langsung mengambil sepotong buah manis, lantas membereskan bekas makannya, di batu oleh Dimas yang memindahkan piring kotor ke wastafel, mau di Cuci di cegah bi Taty.


"Biar Bibi aja Tuan.?"


Dimas pun kembalu duduk dekat Naya, bibir Naya semakin merah kepedesan, namun sepertinya begitu puas dengan makannya, "Hem.., bibirnya kepedesan nih," Dimas menyentuhkan jarinya di bibir Naya yang nampak merah.


Naya meneguk minum sampai tandas, tak menyahut kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh Dimas, "Yang, aku mau ngobrol sama Bapak dan Mama dulu ya.?" namun Naya hanya mengangguk.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2