Bukan Mauku

Bukan Mauku
Terbongkar


__ADS_3

Setelah berada di dalam kamar mandi, Naya memutar keran mengisi air ke dalam bath tub memberikan cairan aroma terapi sedikit, lalu Naya masuk berendam di sana.


Lepas memakai pakaian Naya Lanjut sholat dzuhur, baby twins yang sudah bangun, di asuh Bibi tengah bermain.


"Eeh.., buah hati Bunda sudah bangun rupanya," Naya menghampiri kedua buah hati dan diraih salah satunya, Naya cium dengan penuh kasih sayang.


Baby twins sudah kekenyangan, sehingga matanya tinggal lima wat setelah diberi asi, perut sudah keroncongan cacing-cacing sudah berdemo meminta jatah makan siang ini.


Naya turun berjalan gontai memasuki dapur, duduk di sofa dan menelpon Dimas untuk sekedar menanyakan keberadaannya.


Dimas: "Halo.., sayang ada apa.?"


Naya: "Masih dimana.?"


Dimas: "Oh masih di klinik sama mereka Aldo, Endro dan juda Dery, kenapa.?"


Naya: "Oh, gak sih cuman nanya saja."


Dimas: "Oh, bentar lagi juga pulang kok."


Naya: "Baik lah, aku akan tunggu."


Kemudian Naya menutup teleponnya, ia berdiri mencari buah di lemari pendingin hendak membuat jus, pasti segar panas-panas gini meminum jus.


"Biar Bibi aja yang buatkan jus nya Bu," Bi Taty mendekat.


Naya menoleh dan tersenyum, "Tidak Bi makasih, biar sendiri saja."


Sesaat kemudian Dimas pulang bersama Pak Mad, dan langsung makan siang yang sudah disediakan oleh Naya, "Lama banget yang, dah lapar nih."


"Maaf sayang," ucap Dimas mengusap kepala Naya dengan lembut.


Mereka pun mulai makan siang dengan sangat lahap, Dimas melirik seraya berkata, "Besok Ayah masuk kerja."


"Oh terserah kalau benar-benar sudah sembuh," Naya lirih.


"Insya Allah sehat kok, doakan saja," Dimas meneguk minumnya, selesai makan Dimas beranjak mau bersih-bersih.


Naya juga setelah membereskan bekas makan langsung menjaga sang buah hati, kasian Bibi sudah ingin istirahat.


Naya menaiki anak tangga namun langkahnya terhenti mendengar suara bel berbunyi, Naya memutar badan untuk turun kembali, dan Bi Taty sudah duluan mau membuka pintu, akhirnya Naya berdiri menunggu ingin tahu siapakah yang datang.


Pintu di buka Bibi dan nampak seorang Ibu-ibu paruh baya berdiri di teras memunggungi arah pintu, "Permisi.., mau bertemu siapa ya dan ada perlu apa,?" tanya Bi Taty.


Wanita paruh baya tersebut menoleh dan tersenyum, "Benar ini rumahnya dokter Dimas.?"


"I-iya, memang ini rumahnya, anda siapa ya," tanya Bibi lagi.


"Saya Mahdalena, ingin bertemu dia, apa dia ada,?" wanita tersebut


"Ada, silahkan masuk,?" Bibi persilahkan tamunya masuk, wanita tersebut pun masuk lebih dulu matanya mengitari isi rumah.


"Silahkan duduk,?" suruh Bibi terus berlalu mau naik namun Naya masih berdiri di sana.


"Ada siapa Bi.?"

__ADS_1


"Itu tamu Tuan Bu, gak tau siapa sedang menunggu di ruang tamu," sahut Bi Taty berdiri diujung tangga.


Naya terdiam sesaat, "Ya udah biar aku yang panggilkan, Bibi bikin minum saja buat tamu nya," ucap Naya sambil memutar tubuhnya naik menuju kamar.


Kini Naya sudah berada di dalam kamar, menunggu suaminya sembari mengajak bermain sang buah hati, Dimas selesai menunaikan sholat, "Yang di bawah ada tamu, temui sana."


"Siapa pasien bukan,?" tanya Dimas sambil melipat bekas sholatnya.


"Gak tau juga, aku gak ketemu sih, Bibi yang tahu," timpal Naya.


"Ya udah Ayah mau temui dulu," Dimas bergegas keluar kamar untuk menemui tamunya.


Dimas turun menapaki lantai bawah menuju ruang tamu tampak seorang paru baya tengah duduk matanya celingukan seolah mencari yang punya rumah.


"Bu Mahdalena, tumben datang kemari ada apa ya," gumam Dimas merasa kaget kedatangan tamu yang satu ini.


Dimas segera menghampiri, "Wah.., sungguh sebuah kehormatan nih kedatangan Bu dewan ke rumah ini," ujar Dimas dengan ramahnya.


"Hi.., dok, apa kabar ni,? maaf gak ngasih kabar lebih dulu," tutur Bu Mahda seorang anggota dewan daerah di sana.


"Oh Baik Bu, gimana kabar sebaliknya,?" tanya Dimas balik tanya.


"Seperti yang kau lihat, saya dengar kau kecelakaan maaf baru bisa jenguk maklum lah sibuk," tukasnya.


"Oh, tidak apa sudah sehat kok besok juga mau masuk kerja, oya bersama siapa ke sini,?" Dimas melihat ke arah luar di sana ada sebuah mobil mersi terparkir.


"Saya bersama supir," lirih Bu Mahda, mereka terus berbincang sana sini, terutama perkembangan klinik yang masih dalam tahap penyelesaian.


Rupanya Bu Mahda ini salah satu orang yang berperan sangat penting dalam terbangunnya klinik tersebut, dia seorang anggota dewan yang namanya cukup terkenal.


Karena merasa penasaran Dimas tidak juga kembali, Naya turun dan menemui Dimas bersama tamunya, Bu Mahda menatap tajam melihat Naya dari atas sampai bawah seakan tak terlewat, Mahda menoleh Dimas seraya berkata, "Dia.?"


"Oh," Bu Mahda bengong sesaat.


"Sayang, kenalkan beliau ini Ibu dewan yang membantu terbangunnya klinik kita , dan Ibu dewan ini istri saya yang bernama Kanaya," Dimas memperkenalkan istri kepada tamunya tersebut, mereka pun berjabat tangan sambil saling lempar senyuman.


"Bukan kah kalian punya baby.?"


"Iya benar," sahut Dimas dan Naya serempak.


"Mana mereka.?"


"Ada di atas baru mau bobo," timpal Naya, "Oh silahkan di minum, dan di cicipi kuenya, maaf cuma seadanya."


Mahdalena melirik ke atas meja dan mengambil cangkir berisi air teh manis, "Saya minum ya.?"


"Silahkan," Dimas dan Naya mengangguk.


"Oh ini ya Kanaya istri mu,?" nampak berpikir sejenak


"Iya Bu," sahut Dimas mengangguk.


Lama mereka berbincang, Bu Mahdalena orang nya ramah, ada saja yang di bicarakan, Naya permisi ke atas untuk melihat baby nya, namun Mahdalena pun berpamitan untuk pulang dan berjanji akan datang lagi untuk menengok baby twin, kalau hari ini dia tidak membawa oleh-oleh katanya jadi lain kali aja datang lagi.


Akhirnya Dimas dan Naya mengantar Bu Mahdalena sampai ke teras, Bu Mahdalena memasuki mobil setelah berada di dalam melambaikan tangan lantas mobil pun melaju keluar dari halaman Rumah Dimas.

__ADS_1


Setelah tamunya hilang dari pandangan Naya bergegas naik ke lantai dua ya dimana kamarnya berada.


Di suatu hari di suatu tempat, Lisa mau pulang dari butik, sambil menunggu angkutan dia duduk di pinggir jalan memainkan ponselnya, suasana malam lumayan sepi.


Toot.., suara klakson motor, Lisa menoleh ke sumber suara rupanya ada sebuah motor besar terparkir dan yang menumpanginya membuka helm, "Siapa dia,?" Lisa heran.


Orang itu, menyimpan helmnya sesaat kemudian menghampiri Lisa, "Sedang apa kau duduk di sini sendiri,? gak takut di gangguin orang kah," ucap Laki-laki itu sembari mendudukkan tubuhnya disebelah Lisa.


"Oh, rupanya kau, aku kira siapa ! sedang menunggu angkutan mau pulang" ketus Lisa.


"Kawan kau kemana bukannya satu kosan,?" tanya laki-laki itu lagi.


"Pulang duluan katanya ada urusan," timpal Lisa sambil memutar ponselnya.


Mata laki-laki tersebut melirik ponsel Yang di pegang Lisa, "Wah.., ponsel mu bagus sepertinya harga ponsel itu sangat mahal ya,?" ujar nya lagi.


Lisa segera menyimpan ponsel ke tas nya, "Gak juga ! kau mau ke mana lewat jalan sini.?"


Laki-laki itu tersenyum samar, "Jalan?jalan saja, oya kenapa kau tidak beli motor saja, agar lebih gampang ke mana-mana,?"


"Gak ada duit," ketus Lisa kesal ini orang banyak tanya, Lisa berdiri mondar mandir.


"Gak punya duit, bukankah harga ponsel mu seharga motor ya," ujar Dery, ya laki-laki ini adalah Dery kebetulan lewat tak sengaja melihat Lisa tengah duduk di pinggir jalan.


"Apa sih kau banyak nanya, mau mencampuri urusan 'ku,? sok kenal sok dekat siapa kau," dengan nada kesal.


"Hei.., kenapa marah Nona,? saya cuma bertanya, mau jawab, gak mau ya... gak usah dijawab simpel kan, kenapa sewot," tegas Dery sedikit mengejek.


Lisa tambah kesal, tangannya sudah mengepal di bawah, ingin sekali menonjok hidung nya Dery, giginya mengerat.


Dery mendongak melihat lagit yang tampak bintang bintang yang berkedip, "Apa kau mau membeli motor juga setelah ponsel itu kau miliki,? tapi ingat Nona belilah kebutuhan mu dengan uang yang halal."


"Maksud kau apa hah?" Lisa melotot dengan sempurna kerah wajah Dery yang lebih tinggi darinya, "Kau pikir saya menjual diri iya,? hati-hati kalau ngomong."


Dery menyeringai, "Apa kau merasa bila kau menjual diri,?" nyengir kuda membalas tatapan Lisa.


"Tidak," sahut Lisa cepat denagn mata masih melotot menatap tajam mata Dery.


"Terus kenapa tersinggung.?"


"Kau sendiri tadi bilang seolah saya membeli kebutuhan saya dengan uang yang tidak halal, apa maksudnya hah.?"


Dary menyunggingkan sebelah bibirnya tersenyum sinis, "Saya tahu," mengangguk-ngangguk pelan.


"Kau tahu apa hah,?" jantung Lisa berdebar mulai ada rasa khawatir takut sesuatu rahasia terbongkar.


Saraya berkata Dery berdiri dari duduknya, "Saya tahu, siapa dalang di balik kehilangan barang dari butik yang sebenarnya nilai barang yang hilang itu lebih dari enam puluh juta, tapi kau bkin laporan hanya senilai lima puluh juta saja, dan satu lagi uang muka yang kau bilang tiga lima juta itu, sebenarnya nol tidak ada," Dery menggerakan telunjuknya, tepat depan muka Lisa.


Mendengar perkataan Dery seperti itu Lisa tertegun diam, keringat dingin tiba-tiba bercucuran, tidak habis pikir kenapa Dery bisa abicara seperti itu.


"Kau-!" menunjuk hidung Dery, "Atas dasar apa kau menuduh 'ku keparat,?" Lisa bertambah marah, menyembunyikan rasa gugup yang mulai menyelimuti hatinya.


Ha..,ha..,ha.., Dery tertawa lepas, "Kau tak bisa mengelak dari 'ku, Lisa-Lisa, kelicikan mu mudah saja terlacak oleh siapa pun, bahkan oleh bos mu sendiri."


Lantas Dery menaiki motornya mengenakan helm dan melajukan motornya dengan cepat membelah jalan menerobos kegelapan, meninggalkan Lisa yang masih berdiri mematung di sana dengan hati gundah, cemas, khawatir, dihiasi keringat dingin yang masih bercucuran membasahi tubuhnya bak di guyur hujan,

__ADS_1


****


Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️


__ADS_2