
"Apa..,? bercanda kata Mama, Mama sungguh keterlaluan," ucap Maria sambil meninggalkan Bu Hesa, istri Sandi mengejar Maria, Bu Hesa hanya memanyunkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dengan ucapan Maria.
Maria masuk kamar Naya dan Dimas tengah berbaring di sofa sementara duduk termenung.
''Kak, sungguh baby kakak lucu dan menggemaskan, ganteng juga cantik," ucap Maria sangat kagum.
"Siapa dulu dong Ayah nya,?" sambar Dimas sambil bangun dan mendekati Naya.
"Aih.., ge'er nya Abang 'ku ini, awas terbang hidung," Maria mendelik kearah Dimas.
Dimas memegangi hidungnya, "Gak terbang kok, ini masih nempel."
Naya mengusap rahang Dimas sembari tersenyum, "Iya kah,? terimakasih atas sanjungannya."
"Nanti aku mau culik ah," gumam Maria menerawang.
"Eeh.., harus minta ijin, jangan buat kami khawatir," Dimas melotot.
"Ups.., sorry," Maria menutup mulutnya dengan tangan.
Hembusan Napas Naya lolos dari hidungnya, semua terdiam.
"Kapan kau akan pulang,?" suara Bu Hesa membuyarkan keheningan.
"Entah lah," sahut Dimas.
"Mama sudah tidak sabar rasanya ingin membawa mereka pulang," lirih Bu Hesa sambil duduk di sofa.
Dimas menoleh, "Iya nanti kalau kondisinya memungkinkan."
"Eh.., tapi kan di rumah belum persiapan apa-apa, belum ada perlengkapan baby," ucap Bu Hesa lagi.
Naya menatap kearah Dimas berharap Dimas menjawab Bu Hesa, "Itu sih gampang Mak, yang penting saat ini Naya dan baby nya sehat dulu," sambung Dimas.
"Kamu mau mau kerja gak,? Naya biar Mamak yang nungguin," Bu Hesa menawarkan diri.
"Tidak, hari ini aku sudah ijin," sahut Dimas.
"Yang, ponsel 'ku di bawa gak,?" Naya melirik suaminya.
"Nggak yang, kemarin aku suruh Pak Mad menyimpannya di rumah, kenapa,?" menatap penuh kelembutan.
"Em.., nggak sih."
"Suruh Pak Mad aja ya, biar diantarkan ke sini, oya kan ada ponsel punya Ayah pake aja," jelas Dimas sembari merogoh saku mengambil ponsel diberikan nya pada Naya.
"Abang, Pak Mad ada di parkiran kan ngantar kita kesini," timpal Maria ketika mendengar Dimas menyebut nama Pak Mad.
"Oh iya kah.?"
Bu Hesa berdiri membawa tasnya, "Kalau begitu Mama pulang dulu ya,?" berjalan mendekati Naya, Naya pun meraih tangan dan mencium punggung tangan Bu Hesa.
"Kau cepat sehat ya, biar secepatnya bisa pulang, si kembar juga," lirih Bu Hesa.
"Iya Mak," gumam Naya pelan.
"Oya maaf ya tadi Mama ngomong yang macam-macam, berpikiran jelek sama kau Naya, cuma bercanda,'' Bu Hesa nampak tulus dan memeluk Naya.
"Tidak apa Mak, 'ku sudah lupakan kok," sahut Naya membalas pelukan Ibu mertuanya, sebentar mereka berpelukan kemudian Bu Hesa berlalu.
''Bercanda bikin nangis orang,'' batin Dimas sambil berdiri melipat tangan di dada memperhatikan Ibu dan sang istri.
"Kita juga pulang dulu lah, nanti kalau kakak sudah pulang aku mau menginap agar bisa dekat dengan keponakan 'ku," Maria memeluk Naya dan Dimas bergantian, di ikuti oleh istri Sandi berpamitan.
Akhirnya Kamar sepi, setelah mereka semua pergi, Naya mulai menggunakan ponsel milik Dimas mengabari keluarga di Sukabumi bahwa dirinya sudah lahiran.
__ADS_1
Tak lupa dengan David, Naya pun mengecat David memberi kabar bahagianya itu, dan David langsung telepon Naya.
...David :"Halo..."...
^^^Naya :"Assalamu'alaikum zak..?^^^
^^^David :"Wa'alaikum salam, sudah lahiran kah.?"^^^
^^^Naya :"Sudah zak, memang belum waktunya sih."^^^
^^^David :"Loh kenapa bisa begitu.?"^^^
Naya menceritakan semua yang terjadi dari mula ia di culik oleh mantan suaminya, sampai akhirnya harus menjalani sesar.
^^^Dimas :"Sudah gila dia, sudah tahu punya suami, lagian dulu dia ke mana,? tidak bertanggung jawab."^^^
^^^Dimas :"Dulu melanglang buana dulu Vid dan baru nyadar setelah kakak mu bahagia sama orang,"^^^
^^^David :"Hahahaa.., mungkin."^^^
^^^Dimas :"Vid kapan kesini bah, tengok kita di sini.?"^^^
^^^David :"Gampang lah nanti kalau sudah ada buat ongkos, kami main kesana ramai-ramai."^^^
^^^Naya :"Di tunggu ya."^^^
Beberapa saat kemudian sambungan telepon terputus, Naya mengembalikan ponsel pada Dimas.
"Yang,?" panggil Naya mendongak pada Dimas, karena kepala Naya berada di bahu Dimas.
"Hem..," gumam Dimas mendaratkan di kening sang istri.
"Lapar, cari makanan gih, pengen ngemil," ucap Naya.
"Ngemil apa sayang, Ayah carikan nanti."
"Baiklah, Ayah mau cari OB dulu biar carikan makanan buat kita, sebentar ya," sambil beranjak dan pergi, Naya menatap punggung Dimas sampai hilang di balik pintu.
Naya berbaring miring, terkadang meringis kesakitan maklum lukanya masih basah, terdengar suara pintu terbuka namun Naya enggan membuka mata, ia pikir Dimas sudah kembali.
"Assalamu'alaikum.., Naya."
Merasa suaranya beda dengan Dimas, Naya membuka mata perlahan dan ternyata yang datang adalah dokter Aldo membawa buket bunya yang indah dan keranjang buah di tangannya, menatap Naya serta senyuman yang ramah.
"Oh dokter, Wa'alaikum salam, silahkan duduk dokter," ucap Naya, hatinya merasa gak enak sebab di sana cuma berdua sedangkan Dimas tengah keluar.
"Makasih," menyimpan Keranjang buah di meja lalu memberikan bunga pada Naya, "Semoga kau suka."
Naya menerimanya dengan hati yang gundah, "Em.., dokter sama siapa kesini,? kok tau kami di sini," Naya mencoba duduk bersandar.
"Selamatnya, atas kelahiran si kembarnya, semoga menjadi anak-anak yang shaleh, tahu lah."
"Makasih, atas doanya," Naya menjadi kikuk melihat tatapan Aldo.
"Suami mu mana,?" celingukan.
"Em.., dia sedang keluar sebentar, makasih ya dok sudah menyempatkan datang menjenguk."
"Justru saya minta maaf baru bisa datang sekarang, sebenar ingin dari kemarin namun karena ada urusan yang penting jadi baru bisa sekarang, Endro sudah menceritakan semuanya, saya ikut prihatin mendengarnya," ujar Aldo lirih.
"Tidak apa dok, gimana kabar anak-anak dokter,?" tanya Naya sembari menyimpan bunga pemberian dari Aldo.
"Mereka baik-baik saja dan kebetulan sekarang ini mereka sedang berada di tempat Ibunya."
Ditengah mereka berbincang datang lah Dimas menghampiri, "Hi.., kapan kau datang,? Dimas mengulurkan tangan tuk berjabat yang langsung di sambut oleh Aldo.
__ADS_1
"Belum lama, saya audah dengar cerita yang menimpa istri kau, dan.., saya ikut prihatin dan maaf juga gak bisa bersama kalian di saat-saat kalain mungkin membutuhkan dukungan dari orang lain, tapi kau juga oasti mengerti kalau saya sedang menghadapi masalah," ujar Aldo panjang lebar.
"Ya, saya mengerti kok, tidak apa-apa, kebetulan ada mereka Endro dan Dery yang membantu saya," sahut Dimas.
"Jadi saya baru bisa ke sini sekarang," tambahnya.
"Tidak apa, aku ucapkan terimakasih, sudah menyempatkan datang juga," jelas Dimas sambil menyodorkan air mineral pada Aldo, lalu mengupas jeruk buat Naya.
"Makanan nya mana yang,?" Naya menatap lekat Dimas.
"Sebentar lagi datang sayang sabar ya," Dimas lembut.
"Oh."
Aldo beranjak, "Baiklah, semoga cepat pulih dan bisa segera pulang, saya pulang dulu lain kali dagang lagi, kebetulan kan masih tugas."
"Oh, ya sudah makasih juga lah dengan buah tangannya," Dimas mengantar Aldo sampai ke pintu sebelumnya Aldo berpamitan terlebih dahulu pada Naya.
Dimas menutup pintu, kemudian mendekati Naya namun baru dua langkah pintu ada yang mengetuk rupanya orang yang mengantarkan makanan pesanan Dimas.
Setelah mengambilnya Dimas memberikan uang pada orang tersebut, Dimas kembali melanjutkan langkahnya mendekati Naya membawa makanan, "Bunga indah ya, suka,?" Dimas memindahkan bunga tersebut.
"Kenapa gak suka ya," Naya menatap curiga.
"Nggak juga, biasa aja."
Naya memakan makanan seraya berkata, "Dia sahabat Ayah juga, jadi jangan berperasangka buruk dulu, jadinya membuat aku tidak nyaman."
"Iy sayang."
Menjelang empat hari Naya di rawat, akhirnya Hari ini Naya akan pulang tapi tidak dengan Baby nya sebab butuh beberapa hari lagi di rawat di Rumah sakit.
Di rumah tengah menyiapkan semua kebutuhan Baby twins, dua boks bayi sudah terpasang rapi di kamar Naya, Dery tengah sibuk menata kamar Dimas dan Naya di bantu oleh Bibi dan Lisa juga asistenya.
Bi Taty menyiapkan kopi buat Dery, dan Bi taty meminta Lisa memberikannya pada Dery sebab Bibi harus meneruskan masaknya di dapur.
"Ini tuan kopinya," Lisa menyodorkan pada Dery, namun sebelum Dery mengambilnya, siku Dery menyenggol tangan Lisa yang sedang memegangi kopi panas, guprak kopi tumpah cangkirnya pun belah menjadi tiga
"Aw..., panas, panas," jerit Lisa mengangkat kakinya yang kena tumpahan kopi panas.
Dery dan Yang lain panik, menoleh Lisa dan Dery langsung mengajak Lisa duduk dan minta salep pada Bi Meri.
"Kau tidak apa-apa,?" tanya Dery menatap wajah Lisa yang meringis.
"Tidak apa-apa matamu, tidak lihat apa kaki 'ku ngepul begitu, panas tahu," gerutu Lisa.
"Iya Sorry," ucap Dery sembari mengambil salep dari Bibi dan mengoleskannya pada kaki Lisa yang kena kopi.
"Pelan-pelan dong ngolesnya, punya dendam apa sih kau sama aku hah,?" cerocos Lisa pada Dery.
"Dendam apa,? maksud mu hah, kan jelas-jelas tidak disengaja, main marah aja lagian sudah minta maaf juga, dasar cewe aneh," Dery melengos meninggalkan Lisa ke tempat lain.
"Aish.., panggil aku cewe aneh, dia sendiri apa, pria air," gerutu Lisa lagi.
"Ahh.., aku gimana nih, panas.., gimana kalau aku gak bisa jalan,? pokonya kau harus bertanggung jawab hi.., pria air," Lisa menoleh Dery namun Dery tidak pedulikan dirinya, "Ish.., nih orang."
"Cuma merah kok Lisa," kata asistennya.
"Tapi panas banget nih."
"Sebentar juga akan berkurang panasnya non, salep nya bentar lagi bereaksi coba," timpal Bi Mery.
"Awas aja kalau masih terasa panas dan melepuh, tidka mau tau pokoknya dia harus bertanggung jawab."
Semua sudah selesai dan Rapi, Dery pergi sebelumnya pamit pada Bi Taty dia akan kembali bekerja, yang bersiap menjemput ke Rumah sakit adalah Pak Mad dan sudah menyiapkan mobilnya.
__ADS_1
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏