
"Kejar, jangan sampai lolos. Sayang barang bagus nih," sergah seorang pemuda itu sambil mengejar Laras yang berlari.
Geph-!
Tangan Laras dapat di raih oleh si pemuda baju hitam itu, Laras berusaha keras untuk melepaskan diri. "Lepas! tolong ...."
"Kau boleh teriak sekencang apapun. Karena di sini tidak akan perduli dengan teriakan mu itu sayang, lagian mana? orang-orang sudah pada sepi dan tidak satu pun orang yang akan menolong mu."
"Iya benar bos," timpal si kaos putih yang baru sampai di tempat Laras di cekal tangannya.
__ADS_1
"Lepas iih, lepas." Laras terus berusaha melepas tangan pemuda itu yang mengunci tangannya.
"Kita bawa ke tempat biasa saja, kita nikmati di sana," ucap si baju hitam pada kawannya.
Laras gugup mendengarnya. "Mau kalian apa sih? uang atau--"
Tubuh Laras meremang, cukup menakutkan kata-kata pemuda itu, Laras memutar otak agas bisa lepas dari kedua mangsa itu. Ia tidak boleh jadi korban kebejatan mereka. "Aku sudah bersuami dan lagi hamil, kalian jangan macam-macam."
"Ha ha ha ... saya tidak perduli cantik, yang penting kami bisa menikmati yang saya inginkan." lanjut pemuda berbaju hitam itu semakin buas tatapannya pada Laras.
__ADS_1
Kedua pemuda itu mengapit dan menyeret Laras, yang mereka bilang akan dibawa ke sebuah tempat.
Di balik kecemasan dan gusarnya hatinya Laras, ia terus mencari cara untuk bisa lepas. teriak minta tolong juga belum tentu ada yang nolong, buktinya mereka hanya melihat sebelah mata di kira teriakan Laras main-main kali.
Lima langkah kemudian Laras menginjak sekuatnya kaki kedua pemuda itu bergantian. Sehingga tangan Laras terlepas, Laras memukulkan tas kecil nya membabi buta pada keduanya.
Kedua pemuda itu semakin geram pada Laras yang terus berusaha melawan mereka.
Itu penggalan kisah Dari Laras dan Ibra. Mampir di novel SKM ya ... Surat Kontrak Menikah
__ADS_1