
"Oh iya Bu, mereka masuk ke dalam resto, mungkin sebentar lagi mereka akan kembali" ucap orang tersebut, "Itu mereka keluar," menunjuk pintu restoran, benar saja dari jauh terlihat Dimas di buntuti Dery keluar dari sebuah restoran.
Dimas membuka pintu mobil, mereka berdua masuk dan duduk, "Bunda sudah bangun.?"
"Iya, belum lama, kalian habis makan bukan,?" tanya Naya. menatap suaminya.
"Kita.., iya habis makan ini ayah bawakan ayam goreng sama kentang buat bunda, gak pake nasi karena bunda bau dengan asap nasi kan,?" ujar Dimas sambil membuka kantong yang dia bawa dari restoran, "Dimakan ya.?"
Naya mengangguk dan langsung memakan ayam goreng dan kentangnya, mobil juga melaju dengan tujuan rumah Dery lebih dulu.
Hari sudah gelap, "Magrib nih yang berhenti dulu, sholat dulu, mungkin di depan ada masjid," ucap Naya mengakhiri makannya.
Dimas melirik Dery, tanpa Dimas suruh pun Dery sudah mengerti toh dia juga mendengar langsung dari perkataan Naya, Dery mengangguk melalui kaca spion pada Dimas yang tengah menatap dirinya.
Kebetulan dak jauh dari situ ada masjid, Dery menepikan mobil, Dimas dan Naya turun sementara Dery menunggu di dalam mobil.
Keduanya masuk masjid untuk melakukan sholat magrib, Dery yang menunggu di belakang kemudi hanya bengong sambil mendengarkan musik.
Selang beberapa menit Dimas dan Naya sudah berada dalam mobil, "Yuk jalan, masih jauh gak rumah kamu Dery.?"
Deri melihat Dimas dan Naya dari kaca spion, "Sekitar 30 menit lagi sampai," dengan nada datar.
"Em.., kamu tinggal sama siapa,?" tanya Naya pada Dery.
"Saya tinggal sama orang tua saya," dengan tetap fokus ke jalanan.
"Oh," membulatkan mulutnya, Naya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, cup.., Dimas mengecup keningnya lembut.
"Sial, lihat sikon dong, ada orang nih," gerutu Dery dalam hati karena sekilas dia melihat Dimas mencium kening istrinya.
Lengan mereka saling berpaut bak pengantin baru pulang honeymoon, padahal bukan baru lagi, membuat dada Dery sedikit gondok, panas bagai berada di dekat api.
"Sabar-sabar," menarik napas panjang, mobil yang di kemudikan Dery tibalah di suatu tempat, sebuah rumah sederhana namun sangat asri dan nyaman, mobil berhenti di depannya dan Dery bergegas turun membawa tasnya.
Dery membungkuk melihat Naya, "Terimakasih,?" sementara Dimas keluar karena akan beralih kemudi.
Naya mengangguk sembari tersenyum, "Sama-sama."
"Apa kalian akan mampir dulu,?" Dery menatap Dimas dan Naya.
"Nggak, sudah malam, lain kali aja kita main kesini," Dimas masuk dan duduk siap putar kemudi.
"Oh, ok hati-hati,?" Dery masuk ke halaman rumahnya, lalu membalikkan badan tangannya melambai kearah mereka berdua.
Dimas membalas lambaian tangan Dery sambil mengangguk, kemudian putar balik banting setir, "Sayang, bismillah kita pulang," mobil Dimas melesat menerobos kegelapan.
Satu jam kemudian tibalah ke rumah Dimas, setelah terdengar suara mesin mobil Dimas masuk pekarangan orang rumah keluar menyambut kedatangan Dimas dan Naya.
"Sayang, bangun sudah sampai," Dimas menoleh kebelakang, rupanya Naya sibuk dengan ponselnya di jok belakang.
"Hah," Naya mendongak, melihat suasana sekitar, "Sudah sampai ya,?" Naya memasukan ponsel ke sakunya.
__ADS_1
Dimas segera keluar, dan membuka pintu untuk Naya, sebelum turun Naya merapikan kerudungnya, "Alhamdulillah.., akhirnya kita sampai juga," Naya menggandeng lengan Dimas.
Di teras sudah berada orang rumah seperti Bapak dan Ibu mertua, Endro dan Citra, tak ketinggalan dokter Aldo pun berdiri di sana, semuanya memberikan senyuman terbaik mereka.
Keduanya berjalan memasuki teras, Naya bersalaman dan mencium tangan kedua mertuanya, "Apa kabar Bapak juga Mama,?" Naya memandangi keduanya dengan tutur kata yang lembut.
"Baik, seperti yang kau lihat," sahut by Hesa.
"Kami baik, sangat baik, kau juga baik kan,?" ucap Bapak mertua dengan ramahnya.
"Syukurlah, alhamdulillah," Naya tersenyum ramah.
Lalu Naya mengalihkan pandangan pada mereka Aldo dan Endro yang sudah berjabat tangan dengan suaminya, kemudian Naya menyatukan kedua tangan, sebagai salam pada keduanya, "Kalian apa kabar.?"
"Kami, kabar baik kakak, kami sangat merindukan kehadiran kakak di sini, wah.., tanpa kakak rumah ini gersang bagai bumi tanpa di sirami air hujan, serius," ucap Endro nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
Naya tertawa kecil, "Masa sih, bisa aja."
Dimas menepuk pundak Endro, "Kau pikir istri saya air hujan."
"Bukan, payung,ha..,ha..,ha..," Endro terkekeh, Aldo hanya memandangi sambil mengangguk sopan pada Naya.
"Kau apa kabar,? makin cantik aja nih," Naya menoleh Citra yang berdiri dekat Endro.
"Baik, iya dong harua itu," sahut Citra sangat percaya diri.
"Baguslah," Naya melangkah masuk melintasi pintu, masuk ke dalam rumah yang sekian lama ia tinggalkan taka ada yang berubah dari kepergiannya, di sana ada Maria dan Bibi, yang langsung menyambut dengan rasa haru.
"Iya bener non, Ibu tambah gemuk saja, apa kabar Ibu,?" sambung Bibi memeluk Naya, bergantian dengan Maria.
"Iya kah,?" Naya memperhatikan dirinya.
"Tentu dong, kakak ipar tambah gemuk, kan di sana kerjaannya cuma tidur, makan dan melayani 'ku di tempat tidur itu saja, apa lagi makanya tambah gemuk," ucap Dimas tanpa ragu, membuat tangan Naya mencubit kecil pinggang Dimas, sehingga Dimas memekik kesakitan.
"Aw.., heran kalau di sini sayang galak, gak seperti di sana manja," pekik Dimas menatap istrinya yang duduk di kursi meja makan.
"Apaan sih.? bicara nya di ayak dulu dong, urusan ranjang kok segala di bahas du sini tak malu apa," bisik Naya.
"Tapi.., kan itu benar sayang," Dimas menatap lekat sembari menyeringai.
"Ta-tapi-!" Naya tak melanjutkan ucapannya karena Dimas menempelkan telunjuk ke bibirnya.
"Makan sayang lapar nih," ucap Dimas.
Kini semuanya sudah berada di meja makan yang sama, untuk makan malam bersama kebetulan semuanya menunggu kedatangan Dimas, sehingga tidak makan duluan.
Naya mual mencium asap nasi yang mengepul, namun di berusaha menutupi, karena kan semuannya belum pada tahu akan kehamilannya, membuat Naya hnay makan sup hangat saja, dan menyuapai Dimas memakai sendok.
"Loh.., Naya gak makan Nasi,?" ucap Bapak mertua.
"Em.., tidak, lagi..,lagi diet nasi, iya diet nasi," Naya melirik suaminya, yang nampak juga kebingungan.
__ADS_1
Akhirnya makan pun selesai, Dimas mengajak Naya naik ke lantai atas, dengan alasan istrinya harus segera istirahat dan Naya menuruti saja Dimas tuntun menaiki anak tangga.
Dimas menghentikan menoleh kearah Endro, "Tolong bawakan barang-barang saya dari mobil, Maria bantu Endro untuk mengeluarkan barang-barang Abang dari mobil," titah Dimas pada Maria juga.
Endro seakan membantah, "Bro, saya ini dokter bukan asisten kau, rendah amat saya di suruh-suruh kau terus, nasip-nasip," sembari berlalu ke luar, Dimas tertawa kecil melihat Endro, lalu melanjutkan langkahnya ke atas.
Setelah di atas Dimas mengajak Naya ke dekat jendela dan menunjukan sesuatu yang tertutupi kain kepada Naya, "Ayah akan menunjukan sesuatu sama bunda.
"Apa nih yang,?" Naya menatap Dimas dengan rasa penasaran.
"Menurut Bunda apa coba,?" Dimas balik nanya semabari menyilangkan tangannya.
Naya berdiri memperhatikan sebuah barang yang besar tersebut dan di sampingnya ada juga berbentuk seperti lemari berdiri di sana.
Perlahan Dimas membuka kain tersebut, "Kejutan...," tampaklah sebuah mesin jahit besar dan lemari yang berisi peralatannya, gunting, benang, meteran, kain juga peralatan tektek bengeknya.
Naya merasa tidak percaya dengan apa yang ad adi depan matanya, karena ia sendiri baru berencana, dan modalnya aja Naya merasa belum siap karena yang akan ia dahulukan ya itu konter pulsa.
Naya menatap Dimas bergantian dengan mesin yang sebenarnya mesin jahit idamannya, "Ini punya siapa yang,?" penuh rasa penasaran.
Dimas mesem, "Ini punya kita, punya bunda."
Rasanya masih tidak percaya, Naya menyentuh dan mengelusnya, mulutnya menganga, terpancar jelas kebahagian merona dari wajahnya.
"Aku sudah menyiapkan dari beberapa tahun lalu hadiah mesin jahit ini buat kakak, hanya untuk kakak seorang,," suara Endro tiba-tiba menghampiri sambil mejinjing koper Dimas.
Naya dan Dimas menoleh Endro yang ikut mengelus mesin jahit, Naya memperlihatkan senyumnya, "Iya kah.?"
"Benar kakak, demi kakak saya rela menjadi orang suruhan suami anda, padahal seperti yang kakak tahu, saya ini seorang dokter, tapi demi kakak saya rela jadi asisten Tuan Dimas ihik ihik ihik," cerocos Endro sembari berlaga menyeka air mata, "Sampai-sampai aku mencarinya ke toko sembako."
"Kau mau beli mesin apa bahan makanan,? ngaco kau ah." timpal Dimas.
"Ya terserah saya mau cari di mana, yang pentingkan dapat," Endro mendelikan matanya pada Dimas.
Naya melirik suaminya, sembari tersenyum sangat bahagia, "Benar kah ini semua buat aku,?" Naya berdiri depan Dimas dan tangannya memgangi kedua tangan Dimas sangat erat.
"Tentu buat bunda, untuk siapa lagi,? bukannya bunda ingin mendesain pakaian anak-anak juga untuk dewasa kan? makanya ayah siapkan ini semua dengan bantuan Endro, untuk kamu," jelas Dimas dan mereka saling menatap lekat.
"Terimakasih yang, sungguh aku tidak menyangka semua ini," ucap Naya matanya berkaca-kaca oleh cairan bening.
"Kok nangis."
"Aku bahagia, sangat bahagia mempunyai suami yang sayang dan perhatian sama aku, dan aku bersyukur di bulan-bulan ini Allah memberikan kejutan demi kejutan melaui suami 'ku ini," Naya tersenyum getir, Dimas menyeka buliran air bening di sudut mata Naya, lalu mendekapnya penuh kenyamanan.
Endro merasa haru dia pun mengusap pipinya yang tak terasa basah, Citra berdiri di belakang Endro hanya bengong memandang sinis, obsesi dia tuk dekati Dimas masih ada dalam hatinya walau harapan itu sangat-sangat tipis, namun dia punya harapan pada bu Hesa yang akan mendekatkannya dengan Dimas.
,,,,
Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!
__ADS_1