Bukan Mauku

Bukan Mauku
Season 2


__ADS_3

Malam pun berlalu, berganti pagi yang begitu sejuk, cahayanya yang menghangatkan tubuh. Berhias kicauan burung terbang bebas di kebun buah yang ada di belakang Vila.


Deri dan Arief berlari kecil di sekitar Vila. Keduanya berjoging. Menyambut pagi yang cerah.


"Di sini aku merasa tenang Om, nyaman." Kata Arief sambil menatap suasana sekitar.


Deri menatap. Seketika tersenyum. "Kamu kan bebas, mau tinggal di sini silahkan. Aku sudah menganggap kau anak ku sendiri, jadi apalagi?"


"He he he. Iya sih Om." Arief menunduk. Kemudian melepas pandangannya ke sekitaran. "Oya Om, setelah ini Arief mau pulang dulu, jemput Kayla agar ikut ke kuburan ayah dan bunda."


"Boleh, ajak dia." Deri menyetujui Arief mengajak sang adik.


Saat ini Arief sudah duduk di atas motor kesayangannya. Setelah mengenakan helm, ia segera menghidupkan mesin. Seketika motor itu melesat meninggalkan area Vila.


Deri melihat Arief dari balkon tersenyum dan menggeleng kecil. "Anak itu sekarang sudah besar, tumbuh dalam kerinduan pada sang bunda serta ayahnya." Deri menghela napas panjang, kemudian ia buang dengan kasar.


Setelah itu, Deri beberes Vila nya agar selalu bersih dan nyaman. Dari mulai menyapu, ngepel dan bersih-bersih lainnya.


****


Motor yang dikendarai Arief terus meluncur menuju rumah yang ia tinggali bersama sang oma dan adik kembarannya.


Tak selang lama akhirnya sampai juga. Di pekarangan rumahnya, membuka helm lalu langsung memasuki rumah yang tampak sepi, matanya mendapati omanya yang sedang bersantai.


"Dari mana? Ar kok baru pulang!" sapa sang oma. Menatap ke arah Arief.


"Aku dari Vila om Deri Oma," balas Arief sambil duduk di samping sang oma.


"Oh, nginap di sana kah?"

__ADS_1


"Iya, Oma. Arief kan kalau gak ada di rumah. Paling di tempat om Aldo atau di Vila om Deri, dimana lagi?" menaikan kedua bahunya.


"Oma percaya sayang, sama cucu Oma yang satu ini." Kata omanya lagi.


"Oma, aku mau ajak Kayla berziarah ke kuburan ayah dan bunda. Sudah bangun belum dia?" tanya Arief menatap sang oma.


"Adik mu itu jangankan hari libur. Hari baisa aja kebluk tidurnya," sahut bu Hesa.


"Huuh ... pemalas." Arief beranjak.


"Biar saja. Jangan di marahi kasian."


"Oma, justru kalau dibiarkan sepertu itu, kapan dia akan berubah? sikap Oma itu yang membuat dia manja dan malas. dikit-dikit biarkan, dikit-dikit kasian. Dia gak akan mandiri kalau Oma manjakan terus," ujar Arief sambil menaiki anak tangga menjinjing jaketnya.


"Tapi Ar ...."


Blak!


Tampak sang adik masih tidur nyenyak. Di bawah selimut tebalnya, ia mendekati dan menarik gorden biar matahari masuk melalui jendela. Tak ada yang berani membuka gorden ketika Kayla masih tidur kecuali Arief.


Sebab kalau saja yang membuka jendela oma nya atau asistennya. bisa-bisa kamar seperti kapal pecah dengan bantal guling di mana-mana, dilempar sang empu sebab tak terima kena sinar matahari ketika masih enak tidur.


"Woy bangun, jam berapa nih bangun?" suara Arief sambil duduk di tepi tempat tidur tersebut.


"Em ..." gumamnya sambil merekatkan selimutnya.


"Bangun, Nona ... sudah siang. Jangan mau kalah sama ayam, ayam saja sudah mencari rejekinya. Masa kamu masih bermimpi?"


"Jangan samakan aku dengan hewan, aku ya aku. Ayam ya ayam gak akan sama! jangan mengganggu ku, ini hari libur dan biarkan ku tidur." Gumamnya tanpa membuka mata dan suara khas bangun tidur.

__ADS_1


"Bangun," kekeh Arief sambil menarik selimut yang dipakai menutupi tubuh Kayla. "Sudah siang, jangan mentang-mentang hari libur, apa kau libur makan? Libur mandi? libur berpakaian? bangun dan cuci pakaian sendiri , bersihkan kamar ini."


Kayla membulatkan matanya dengan sempurna. "Dengar Tuan, buat apa ada asisten kalau harus ngerjain sendiri? percuma dong kita bayar asisten, aneh ganggu saja ah." Menarik kembali selimutnya. Kembali tidur membelakangi Arief.


Kepala Arief menggeleng. "Seandainya gak ada asisten. Siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah siapa? kita hidup belum tentu begini selamanya. Gimana kalau satu saat hidup kita miskin dan tak mampu membayar orang? gimana, bangun?" nada suara Arief semakin tinggi.


Kayla kesal, marah sebab merasa terganggu dengan kehadiran Arief. "Sial. Ada oma yang akan mengerjakan semua." Bangun dan menoleh.


"Kau gila, oma sudah tua. Yang ada kamu layani dia bukan dia melayani kamu," sergah Arief. "Sekarang kau bangun, terus mandi. Kemudian kita pergi ke kuburan ayah dan bunda."


"Apa? ke kuburan, nggak-gak. Aku gak mau." Menggeleng kasar.


"Ikut gak? kalau gak mau, aku paksa," bola mata Arief melotot sempurna.


"Ada apa sih ribut-ribut?" suara bu Hesa yang berdiri di depan pintu.


Kayla turun setengah melompat. "Oma, Arief maksa-maksa aku untuk bangun dan ikut dia. Nggak mau Oma." Berdiri dibelakang badan bu Hesa. Dengan manjanya.


"Sudah lah!" bu Hesa mencoba melerai.


"Nah, itu yang bikin cucu Oma manja dan malas, gini nih!" Arief kesal.


"Sekarang kamu mandi, ganti baju. Nanti masalah mau atau tidak mau ikut, terserah kamu sayang," mengusap kepalanya Kayla.


"Makasih Oma," Kayla merasa senang di belain sang oma. Menoleh ke arah Arief dan menjulurkan lidahnya.


Arief, bukan lumayan kesalnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk merubah sifat kerasnya sang adik. Ia mengacak kasar rambutnya, kemudian beranjak keluar dari kamar sang adik.


Kesal bukan main, entah harus bagai mana caranya agar bisa merubah sikap Kayla ....

__ADS_1


****


Bertemu lagi dengan Arief dan Kayla nih, terus dukung aku ya🙏 semoga suka.


__ADS_2