Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mantan kekasih


__ADS_3

Dimas mengajak istrinya dan juga Dery untuk naik ke lantai atas, ketiganya menaiki anak tangga, "Baiknya kita istirahat dulu di atas," kemudian Dimas menunjuk kan kamar buat Dery istirahat, sementara dirinya menggandeng tangan sang istri masuk ke kamar utama yang ada di lantai dua itu.


"Jadi ini kamar Ayah,?" matanya Naya menyapu setiap sudut kamar yang luas, dia berjalan dan berdiri di balkon.


Brug.., Dimas menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit dengan mata terpejam, terbersit kenangan masa silam terbayang jelas dalam kepalanya.


Dimas menarik napas panjang dan membuang dengan sangat kasar, dia menggelng-gelengkan kepalanya ingin membuang semua yang ada dalam pikirannya.


"Sialan," Dimas mengumpat diri sendiri, kemudian bangun dan berjalan mendekati Naya di balkon.


Setelah dekat dengan Naya, Dimas memeluk tubuh sang istri dari belakang, menempelkan dagu di pucuk kepala Naya.


Naya menoleh, "Di sini panas banget ya."


"Hem..," gumam Dimas sembari mempererat pelukannya.


"Lepas ih, panas," Naya mencoba melepas tangan Dimas yang melingkar di perutnya.


Bukannya melepas rangkulan nya, Dimas malah memutar tubuh Naya agar berbalik menghadap ke dirinya, "Sebenar aku ingin dari dulu mengajak Bunda ke sini," menatap wajah Naya yang melihat entah kemana.


Malas ah, bila harus lama di sini, bisa-bisa aku makan hati, beru sebentar juga sudah bikin sakit, gimana kalau lama,? bisa mati berdiri kali, batin Naya.


"Terus kenapa baru ngajak sekarang,?" menatap tajam wajah suaminya.


"Bunda juga gak pernah minta, Ayah takut Bunda gak mau atau apa lah," timpal Dimas mengecup kening sang istri.


"Memang malas sih, malu juga kalau dulu-dulu, masih mending sekarang," batin Naya kembali.


Dimas menuntun lengan Naya untuk masuk ke dalam kamar, Naya melihat-lihat isi kamar tersebut, "Huuh.., berarti di sini kan kamu menyentuh Silvi ya,?" dengan tatapan semakin tajam.


Deg...


"Maksud Bunda apa,?" Dimas bingung, mendekati Naya, istrinya.


"Em.., maksud aku, Ayah melakukan itu sama Silvi di sini kan, di kamar ini,?" ketus Naya sambil duduk di sofa ujung kamar.


Dimas tercengang kok istrinya tiba-tiba bicara seperti itu, dia masih mengingat apa yang pernah ia ceritakan padanya.


"Kenapa Bunda bicara seperti itu? itu masa lalu Bun..," lirih Dimas sambil membuka kemejanya.


Naya melihat tajam kearah tempat tidur yang dengan ukuran besar itu, "Aku terbayang aja, Ayah melakukannya di situ," dengan nada datar dan kesal.


"Bunda cemburu ya,?" tanya Dimas kembali.


"Nggak, buat apa cemburu,? bukan kah itu cuman masa lalu," timpal Naya lagi.

__ADS_1


"Bilang aja kalau cemburu," Dimas menyeringai senang melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak kesal.


Entah kenapa hatinya merasa sesak ketika mulai memasuki kamar tersebut, kesal, marah, langsung terbayang apa yang pernah Dimas ceritakan pada dirinya, bahwa pernah melakukan sesuatu yang terlarang bersama mantan kekasihnya Silvi.


Dan langsung Naya membayangkan kejadian itu di kamar ini sebab memang seperti itu yang Dimas ceritakan, kesal dan marah itu lah yang Naya rasakan saat ini.


"Aku gak mau tidur disini," ucap Naya sambil mencebikan bibirnya, isi kepala Naya di penuhi dengan nama Silvi dan Silvi.


Dimas terdiam menatap lekat istrinya, tak habis pikir kenapa mendadak seperti ini sih, "Yang masa mau tukeran kamar sama Dery hem,?" dengan lembut.


"Terserah"


Dimas menggelembungkan kedua pipinya seolah menampung angin di sana, "Bunda mau nya apa sih,? kita kesini untuk silaturahmi loh, bersenang-senang, bahagia, bukan tegang seperti ini."


Naya termenung dan memandang tembus keluar jendela, masih sakit dengan omongan mertuanya menimbulkan suasana hati yang gak mod, di tambah lagi mendadak ingat mantan kekasih suami, membuat hatinya terbakar begitu saja.


Dimas mendekat dan menggenggam jemari tangan Naya dengan kedua tangannya, "Sayang kenapa seperti ini,? Silvi masa lalu kami sudah punya jalan masing-masing seperti yang Bunda tau, aku milik mu yang, dia pun begitu, jauh dari Ayah menikahi Bunda dia menikah dengan laki-laki yang menghamilinya, Bunda kan tau itu."


Sekilas Naya menoleh, "Gimana kalau Silvi hamil anak kamu.?"


Dimas tersenyum, "Nggak mungkin Bun.., jaraknya terlalu lama," dengan penuh keyakinan.


"Memangnya bisa menjamin,? kalau anak itu anak laki-laki tersebut," timpal Naya kembali, sambil mengelap ingusnya akibat matanya yang tak bisa membendung buliran air mata.


Naya mendongak dengan dengan mata berkaca-kaca, "Dengar ya, aku mau di sentuh atau menunaikan kewajiban 'ku sebagai seorang istri itu wajar karena kami sudah terikat pernikahan, sudah kewajiban, sedang kamu sama dia apa,?" sedikit meninggikan suaranya.


"Iya kewajiban, tapi setelah tiga hari menikah setalah dapat kesucian Bunda dia menghilang, meninggalkan dirimu, begitu namanya suami hah.?" tatapan Dimas begitu tajam.


Naya yang tadinya melihat kesembarang tempat menoleh kembali, air matanya semakin deras membasahi pipi, "Kamu pikir itu mauku,? bukan, itu bukan mauku sama sekali, lagoan kan kamu sendiri yang dapat kan kesucian 'ku yang seutuhnya," Naya menggeleng.


Dimas termangu mengingat masa lalu, memang benar sih, dirinya yang mendapatkan kesucian Naya yang seutuhnya, melihat Naya menangis dan hatinya mencelos mendengar ucapan dari bibir Naya.


"Tiada satupun wanita di dunia ini, yang ingin di sia-siakan oleh suaminya sendiri, tidak ada, satu pun wanita berharap bersuamikan laki-laki yang tak bertanggung jawab," hati Naya bagai terhiris entah kenapa hatinya jadi melo begini.


Serasa merasa bersalah Dimas berjongkok depan Naya, meremas jari jemari sang istri, "Ayah minta maaf yang, Ayah tidak bermaksud melukai hatimu, seperti yang kita tahu semua orang pasti mempunyai masa lalu, baik dan buruk, hitam atau pun putih, begitupun suami mu ini, dulu.., aku sering melakukan kesalahan, bahkan aku pernah khilaf, tapi dulu bukan nya aku gak mau bertanggung jawab, tapi dia yang gak mau," ujar Dimas panjang lebar.


Tangis Naya semakin tersedu, air matanya semakin deras, Naya mencium punggung tangan Naya.


"Kita baru kali ini ke sini, aku mohon jangan ingatkan aku pada hal-hal yang tak penting, atau pun masa lalu, cukup, kita harus menatap masa depan yang bahagia, bersama anak-anak kita," suara Dimas bergetar sambil membenamkan wajahnya di pangkuan Naya sang istri.


"Abang,?" brakk pintu di buka dari luar, Maria berdiri depan pintu kamar, Naya dan Dimas terkesiap, Naya segera mengusap pipinya yang basah, dan hidung yang mengeluarkan ingus, Maria termangu melihat Naya yang kelihatan jelas habis menangis, begitupun dengan Abang nya, Dimas.


"Sorry,?" ucap Maria sembari kebingungan mematung di tempat.


"Huhh..," Dimas menghela napas, di bunganya secara kasar, "Ada apa.?"

__ADS_1


"I-itu makan siang sudah siap," sahutnya sambil memandangi Naya yang menunduk.


"Oh, iya nanti turun, dimana anak-anak.?"


"Itu, anak-anak sama yang lain bermain," ucap Maria lagi telunjuknya menunjuk entah kemana.


"Kakak ipar kenapa,? Abang apain dia," masih berdiri depan pintu maju tidak mundur pun nggak.


"Hah,?" Dimas menoleh istrinya yang menunduk, "Nggak, cuman kelilipan saja, iya kelilipan," Dimas meyakinkan sang adik.


"Masa sih?" Maria mengernyitkan keningnya tak percaya.


"Sudah-sudah, ini urusan orang tua, sana duluan, nanti kami nyusul," Dimas mengibaskan telapak tangannya di atas angin.


"Kak, di apain Abang,?" tanya Maria menatap wajah Naya yang jelas-jelas matanya sembab.


Naya mencoba menoleh dan tersenyum pada Maria, "Nggak kok, benar seperti tadi Abang bilang," berusaha tegarkan suaranya.


"Hem.., ya sudah lah," Maria memanyunkan mulutnya, "Jangan lama-lamanya, di tunggu," Maria pergi menjauhi pintu yang barusan dia berdiri.


"Iya-iya bawel," Dimas kesal lalu melihat kearah istrinya, dengan sangat lembut ia berkata, "Jangan nangis lagi yang, sudah, gak perlu bahas atau mengingat masa lalu yang menyakitkan itu," mengusap pipi Naya yang masih basah, membawa kapala Naya ke dalam dekapannya.


Naya pun membenamkan kepalanya, kejengkelan hatinya mulai reda dan merasa lega, beberapa saat Naya mencari ketenangan di dada sang suami yang memeluknya erat, sesaat kemudian Naya menyadari akan kedua baby nya, yang belum kembali, Naya melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"Baby Arif dan Kayla dimana,?" Naya lirih.


"Meraka pasti sama oma dan tantenya," sahut Dimas.


Lalu Naya bergegas memasuki kamar mandi, membasuh mukanya yang lusuh dan sembab.


"Aku mau sholat dulu," setelah balik dari kamar mandi, mengambil mukena dari koper Dimas.


"Oke, Ayah juga mau ambil wudu dulu," Dimas beranjak masuk kamar mandi, meninggalkan Naya yang mulai sholat.


Naya menuruni anak tangga, mata Naya melihat-lihat suasana sekitar, di meja sudah siap buat makan siang, di ruang tengah ramai dan terlihat baby Arif dan Kayla tengah dalam gendongan oma dan entah siapa Naya juga gak kenal.


"Duh Arif dan Kayla senang betul ya bermain sampai lupa sama Bunda," Naya menyentuh tangan baby nya.


"Iya lah di sini kan ramai, banyak orang, siapa aja mau menggendong nya, susu juga banyak formula," ketus Bu Hesa.


"Em.., baguslah, tapi Bunda kangen sama kalian," Naya merenggangkan tangan nya dan bak gayung bersambut salah satu bayi nya minta di gendong oleng sang Ibu.


****


Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2