Bukan Mauku

Bukan Mauku
Maafkan aku sayang


__ADS_3

"Sebenarnya sih banyak cuman..butuh proses, begitupun aku jika tinggal di tempat kalian." Dimas menaikan alisnya dan semua diam hanya suara dari TV saja yang terdengar.


Setelah beres makan Naya mencuci semua bekas makan, selesai itu kemudian Naya masuk kamar, tak ikut ngobrol sama yang lain di ruang TV ia memilih di kamar saja.


Ia duduk di tepi tempat tidur ukuran king size, ponsel di atas meja miliknya berbunyi. "Siapa yang telepon.? perasaan tadi udah kasih kabar pada Lely di kampung." Naya meraih ponsel dan melihat nama si pemanggil di layar kontak. "David."


Naya: "Halo..? Assalamu'alaikum.?"


David: "Halo juga.? apa kabar teh.?"


Naya: "Baik zak, kau apa kabar juga zak.?"


David: "Baik juga teh, lagi apa nih.?"


Naya: "Santai aja nih zak, oya zak coba tebak sekarang aku lagi di mana.?"


David: "Di mana teh.?"


David: "Di tempat suami kah.?" terdengar sangat antusias.


Naya:"Iya zak, sini dong main sini,"


David: "Wah.., kapan sampai sana.? aku pasti datang ke sana teh kalau sudah ada rejeki teh, oya sama siapa.?"


Naya: "Sama Bapak dan adik lelaki ku, aku sampai di kapan ya.? oya sudah dua hari zak, iya dua hari."


David: "Hem..,selamat ya semoga bahagia buat Kakak aku. semoga langgeng juga, betah di sana di sayangi banyak orang juga."


Naya: "Makasih zak..,atas doanya.?"


David: "Oya suami mana,? si Dimas..?"


ceklek..


Suara pintu di buka, Naya menoleh kearah pintu, Dimas berjalan menghampirinya. "Nah itu dia baru masuk zak."


Dimas melihat istrinya tengah menempelkan sebuah benda pipih di pipinya, ia duduk di samping sang istri. "Bicara sama siapa yang.?" bisiknya.


Naya menunjukkan gigi putihnya, tersenyum pada Dimas, seraya berkata. "David yang."


Naya: "Zak nih ada suami aku, mau ngobrol kah.?"

__ADS_1


David: "Boleh teh, mana.?"


Naya: " Ya sudah nih orangnya, aku mau sholat dulu." Naya memberikan ponsel miliknya pada Dimas, sebelum bicara dengan David, Dimas mengecup kening sang istri.


Naya beranjak perlahan masuk kamar mandi, Dimas melihat Naya meninggalkannya. "Hati-hati sayang.?"


Dimas mengobrol dengan David cukup lama, sampai Naya kembali dari kamar mandi, lanjut sholat, selesai salam berzikir sebentar, baru Dimas menyimpan ponsel di atas meja, melirik sang istri yang sedang melipat mukena dan sejadah.


Naya memandangi sang suami. "Sudah di matikan kah.?"


"Sudah." jawab Dimas. "Beres belum yang.?" Dimas berdiri dekat Naya yang masih duduk di bawah habis sholat.


Naya mendongakkan kepalanya menatap tubuh Dimas yang dekat dengan keberadaannya. "Sudah yang."


Dimas membungkuk dan meraih tubuh sang istri, ia gendong membawanya ke tempat tidur, Naya pun mengalungkan lengan di leher Dimas takut terjatuh, lalu mendudukkan Naya di tempat tidur bersamanya.


"Yang..,kenapa masih baju ini.?" Dimas menatap wajah Naya dengan lembut, tangannya memegang baju yang di kenakan sang istri.


"Bajuku basah semua." sahut Naya membalas tatapan suaminya."Gak ada baju lagi."


"Hah.? ya ampuuun.., yang maaf.? aku lupa, maafkan aku sayang." mengatupkan kedua tangan di dada.


Naya cuma mencebikkan bibirnya, dengan penuh penyesalan di wajah Dimas, "Maaf sayang, maaf.?" dia beranjak mengambil sebuah kunci dan dompet di atas meja.


"Mau beli baju untukmu, Sebentar ya sayang." cup Dimas mencium pipi sang istri. berjalan sebelum melintasi pintu. "Tapi yang, kan sudah malam, besok aja." Naya cemas bila Dimas pergi malam begini.


"Baru pukul 08.30 yang, aku pergi dulu.?" Dimas mempercepat langkah kakinya, untuk mencari toko pakaian yang masih buka di jam segini.


Setelah kepergian Dimas, Naya termenung di atas kasur, kemudian membaringkan tubuhnya menatap langit-langit. "Hem.. meraka Bapak dan si Aa udah belum tidur belum ya.?" gumam Naya sembari memejamkan mata.


Dimas kini sedang di sebuah toko mencari pakaian perempuan, ia bingung ia gak tau ukuran tubuh sang istri, merogoh saku, lupa gak membawa handphone. "Sial lupa membawa handphone." batin Dimas, di saat itu ada seorang pelayan mendekati.


"Malam.., ada yang bisa saya bantu pak.?" dengan ramah.


"Oh, saya sedang mencari pakaian buat istri saya namun lupa ukurannya, mau di tanyain lupa membawa ponsel mbak." ujar Dimas pada wanita tersebut, sembari menarik bibirnya tersenyum.


"Em.., kenapa gak di ajak saja istrinya pak.?" tanya pelayan itu, Dimas menggaruk tengkuk, walau tak gatal.


"Kalau boleh tahu, anda mencari gaun, dress atau kemeja dan kaus, atau.?" tanya pelayan lagi, Dimas sesaat mengingat-ngingat apa saja yang sering istrinya pake.


"Em..,kemeja panjang, celana bahan, dan kerudung, tolong bisa pilihkan.?" Dimas penuh harap.

__ADS_1


"Bisa pak, mari..,ikut saya.?" sahutnya mengangguk.


"Kalau ukuran tubuh sih kayanya XL standar deh mbak, cuma...,kalau ukuran tingginya, tinggian mbak." kata Dimas mengikuti langkah pelayan tersebut.


"Baik pak saya bantu carikan ya.?" pelayan mencarikan beberapa setel baju, tak terlewat berapa helai kerudungnya, sementara Dimas memilihkan setelan baju tidur, "Sebenarnya sih buat apa juga ya baju tidur,? orang aku buka semua, ha..ha..ha.." Dimas terkekeh sendiri, sembari menggeleng pelan.


"Apa lagi ya.?" Dimas mengerutkan keningnya. "Oh iya, dalaman, yaps pakaian dalam, tapi ukuran berapa ya.?" Dimas kembali bengong.


"Apa lagi pak.?" tanya Pelayan tadi yang sudah menenteng tumpukan baju.


Dimas berpura-pura memijit keningnya. "Saya bingung, saya butuh dalaman wanita, tapi tidak tahu juga ukurannya ukurannya berapa.?" ragu-ragu.


Pelayan tersebut tersenyum, melihat ekspresi wajah Dimas yang agak malu-malu mungkin karena ini kali pertama, belanja keperluan seorang wanita.


"Bisa bantu saya lagi mbak.?" Dimas menatap penuh permohonan.


"Silahkan pak." masih dengan muka yang amat ramah.


"Bisa.., minta dalaman mbak.?" Dimas malu-malu.


"Hah.?" mendengar ucapan Dimas pelayan seakan terkejut serta melototkan mata pada pria yang tengah berdiri di depannya.


Seketika Dimas menutup mulut, ia menyadari mungkin perkataannya tadi salah, hingga membuat mata pelayan tersebut melotot pada dirinya. "Ma-maaf mba maksud saya, to-tolong carikan seukuran punya mba, eh..ma-maksud saya seukuran pakaian mba." Dimas sedikit gugup. "Sial salah bicara terus." mengumpat dirinya sendiri.


Akhirnya, Pelayan mengerti dan bersikap ramah kembali seperti semula, dan mencarikan yang Dimas butuhkan.


"Ini pak sudah saya pilihkan," pelayan memberikan semua yang dia pilihkan daru mulai baju celana panjang, kerudung dan dalaman seperti yang di minta.


Dimas mengambil semuanya. "Terimakasih mbak sudah membantu saya.?" menjabat tangan pelayan tersebut dengan ramah, Dimas membawa barang tersebut ke tempat pembayaran, sudah selesai membayar Dimas melenggang meninggalkan toko tersebut dengan menenteng beberapa paper bag di tangan.


Sampai di jalan menaiki motor kesayangannya. tak lupa memakai helm, ia melajukan motornya dengan kencang. pengen cepat pulang, sudah tak sabar ingin memeluk sang istri di malam yang dingin seperti sekarang ini.


Selang berapa puluh menit kemudian, Dimas sudah memasukan motor di tempat semula, ia sedikit berlari sudah tak sabar ingin bertemu sang istri, membuka pintu rumah sudah begitu sepi padahal tadi meraka Bapak mertua dan ipar masih menonton TV, mungkin sekarang sudah pada tidur.


Dimas masuk sedikit mengendap takut mengganggu yang sudah tidur. tak lupa mengunci pintu, kemudian Dimas masuk kamar miliknya, setelah mengunci pintu ia menyimpan barang belanjaannya, ia mendekati sang istri yang nampak pulas sekali.


Cup..


Cup..


Dua kecupan mendarat di kening Naya dengan mesranya, Naya tak bergeming. "Sayang bangun." bisik Dimas dekat telinga Naya.

__ADS_1


,,,,


Adakah yang menantikan kelanjutan kisah ini.? kalau ado mana jempol nya.? yang sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak ya.? terimakasih...,


__ADS_2