
Naya mengangguk saja sambil menyedot minumannya, wanita itu bengong, kemudian dia di panggil oleh seorang pria, lalu wanita itu pamit pada Naya dan Dery yang dia kira suami Naya, "Abang jaga istrinya ya,? mari saya duluan," yang dia balas Naya dan juga Dery dengan anggukan.
Naya masih celingukan mencari Maria yang ke toilet masih belum muncul juga, Mama mertua pun entah kemana, "Huuh.., Naya menghela napas kasar."
Kemudian ada notifikasi dari Maria, katanya dia sedang menjemput anak di tempat permainan, lalu Naya membayar pesanannya ke kasir, Dery hanya duduk terdiam di tempat.
Setelah dari kasir Naya berjalan hendak ke luar dari tempat tersebut, "Dery kita tunggu yang lain di mobil saja, aku dah capek nih," ucap Naya pada Dery yang bengong dan memainkan ponselnya.
"Ok."
"Aduh lutut terasa lemas, capek sekali rasanya," gumam Naya.
Naya terus berjalan melangkahkan kakinya ingin segera sampai ke mobil, sudah gak kuat jalan, baru aja melewati satu lift tiba-tiba lutut Naya terasa lemas dan kepala pusing, mata kunang-kunang, mau pegangan tidak ada pegangan, mau minta tolong gak ada yang di kenal, Bi Meri juga mungkin sama Maria.
Naya menoleh kebelakang di mana Dery berjalan beberapa langkah darinya, sebelum akhirnya tubuh Naya lemas dan tumbang, namun Dery langsung meraih tubuh Naya sebelum tersungkur ke lantai, dengan gesit Dery membopong tubuh Naya keluar tempat tersebut, melintasi orang-orang yang melihatnya heran.
Dery setengah berlari membawa Naya ke dalam mobil, lalu ia dudukkan di jok belakang, dengan sedikit panik Dery memberi aroma minyak angin di hidung dan mengoleskan di pelipisnya, "Maaf tak ada yang bisa 'ku mintai tolong di sini," gumam Dery pelan.
Beberapa saat Naya masih belum sadar, Dery keluar dari mobil dengan hati gelisah matanya celingukan berharap Bu Hesa dan yang lainnya datang.
"Sial, kemana sih mereka,? apa harus saya tinggalkan di sini," Dery masuk kembali melihat Naya yang masih belum sadar, "Aduh gimana nih, Naya bangun,?" menggoyang bahu Kanaya pelan.
"Kau sedang apa di situ,?" suara Maria dari belakang Dery menatap curiga.
"Di-dia..," Dery menoleh kearah Maria dan Bi Meri yang berdiri menuntun anak-anak, "Dia.., tadi tiba-tiba jatuh dan pingsan."
"Pingsan,?" masih dengan tatapan curiga, lalu naik mendekati Naya, "Kakak,? kak Naya bangun," kemudian menoleh lagi pada Dery.
"Kok bisa pingsan sih,? gimana ceritanya."
"Mana saya tahu, sepertinya dia kecapean, kalian dari mana sih seharusnya kalian menjaga Naya, bukan di tinggalkan," ucap Dery dengan nada tinggi membuat Maria bengong.
Di dalam mobil, Bi Meri mencoba menyadarkan Naya, dengan olesan minyak angin hingga akhirnya Naya siuman, "Ibu kenapa,? sampai tak sadarkan diri gini.?"
Naya perlahan membukakan mata dan mengusap muka lalu menghirup udara dari hidungnya, Bi Meri segera memberikan minum air mineral pada Naya, setelah minum Naya membenarkan posisi duduknya.
"Tadi kepala 'ku sangat pusing Bi, lutut lemas banget, pandangan pun berkunang-kunang, yang 'ku ingat sebelum tubuhku tersungkur, Dery meraih tubuhku, setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi," Naya menggeleng.
"Bibi minta maaf tidak menjaga Ibu," Bi Meri merasa bersalah.
"Iya Maria juga, maaf sudah meninggalkan Kakak," Maria pun merasa sangat bersalah.
Dery yang berdiri depan pintu menatap cemas, khawatir Kanaya ke napa-napa.
"Apa mau ke rumah sakit Kak,?" tanya Maria pada Naya, "Atau telepon Abang ya.?"
"Ti-tidak, jangan, aku tidak apa-apa kok cuman kecapean aja," sambil menyandarkan kepalanya kebelakang jok mobil.
"Ta-tapi.., yakin cuma kecapean Kak,?" menatap lekat.
__ADS_1
Naya mengangguk dengan sirat matanya, "Yakin, cuman kecapean kok."
"Ke rumah sakit ya,? saya takut kau ke napa-napa," ucap Dery sambil nongol dari pintu, wajahnya nampak cemas.
"Eh, kenapa kau begitu cemas,?" tanya Maria ketus.
"Eh.., Nona saya yang membawa dia kemari dan saya yang di titipkan oleh suaminya untuk menjaga dia, jadi wajar dong bila saya khawatir akan kondisi dia, lagian seharusnya Naya ada yang mendampingi tapi malah sibuk masing-masing," jelas Dery dengan tatapan tajam.
Wajah Dery memang tampan tapi tatapan nya seperti elang, tajam seakan siap menerkam kapan saja membuat nyali Maria menciut, menunduk dan lagi-lagi meminta maaf karena dia sudah meninggalkan nya di resto.
Bu Hesa menghampiri menenteng paper bag, rona bahagia jelas tergambar di wajahnya, namun melihat wajah Naya pucat Bu Hesa kaget dan menatap yang lain curiga.
"Mantu saya kenapa.?"
"Tadi pingsan ketika berjalan di dalam mall," sahut Dery datar dengan tangan di silang depan dada.
"Apa,? kau pingsan, kenapa bisa pingsan hah.., tidak ada yang luka kan, Bu Hesa ribut naik duduk di sebelah Naya dan menyentuh pipi, pelipis dan perut Naya.
"Perut kau tidak terbentur apa-apa kan, cucu saya baik-baik aja kan Naya jawab,?" sambung Bu Hesa tampak cemas.
Naya membuka mata dan berkata, "Tidak Mak, aku cuman kecapean, maklum belum terbiasa jalan-jalan kan."
Bu Hesa mendongak melihat ke langit, lalu mengusap wajahnya seolah mengucap syukur, "Bagus lah kalau tidak apa-apa, makasih Tuhan."
Dery masuk bersiap pegang setir mengantar mereka pulang, sementara Maria sudah di jemput oleh taksi online nya.
"Mak, Kakak, aku pulang dulu ya,? Kakak cepat sehat ya, aku duluan," lantas melambaikan tangan kepada mereka.
"Jadi Naya pingsan tadi siapa yang bawa dia ke mobil,? tanya Bu Hesa menatap Dery yang sedang menyetir.
"Saya," gumam Dery, "Seharusnya kalian itu menjaga Naya, kan kalian tau kondisi dia, kenapa malah di tinggalkan,? gimana kalau saya terus menunggu di mobil, siapa yang akan menjaganya," tegas Dery dengan pandangan tetap fokus ke depan.
"Ya-saya pikir kan Naya sama Maria, jadi saya tenang dong," jawab Bu Hesa ngelak.
"Tapi pada kenyataan nya dia sendiri tanpa ada yang dia kenal, dia bingung mau bicara sama siapa, minta tolong sama siapa, dia sendiri," suara Dery naik dua volume.
"Kau Meri, kau asistennya kenapa tidak menjaganya, saya tidak akan memaafkan kau ya kalau sampai terjadi yang tidak di inginkan," jelas Bu Hesa seakan melempar kesalahan pada Bi Meri.
"Ta-tapi Nyonya, kan Nyonya tau sendiri saya mengasuh putra Nona Maria juga," Bi Meri gugup.
Bu Hesa cemberut, lalu melihat Dery dengan tatapan curiga, "Kau siapa emangnya, perduli amat sama mantu saya, sampai-sampai berani membentak saya."
Dengan pandangan tetap ke jalanan Dery seraya berkata, "Saya memang bukan siapa-siapa, tapi saya turut bertanggung jawab akan keselamatan dia, karena putra anda yang menitipkan dia pada saya, jelas Nyonya yang terhormat.?"
Bi Hesa terdiam mendengar ucapan Dery barusan, selang beberapa waktu, sampailah di halaman rumah Dimas, Bi Meri keluar lebih dulu membawa putrinya, dan beberapa paper bag, di ikuti oleh Bu Hesa.
"Naya bangun, sudah sampai rumah nih," Bu Hesa membangunkan Naya.
Perlahan Naya membuka mata setelah mendengar suara Ibu mertuanya, "Hem..," matanya melirik kanan dan kiri.
__ADS_1
Bi Meri yang sudah kembali mendekati, "Ibu kuat jalan gak,? Bibi papah jalan nya ya," Bi Meri mengambil tas Naya terlebih dahulu.
Naya mencoba turun, "Bismillah," namun yang ia rasakan kedua kakinya masih terasa lemas, walau pusingnya sudah mulai hilang, baru menapak langsung kakinya ia angkat kembali.
"Kenapa,?" tanya Dery yang sudah berdiri samping Bi Meri, Bu Hesa juga masih berdiri di sana.
"Kenapa Bu,?" Bi Meri menggapai tangan Naya.
"Kaki 'ku masih lemas kalau di pake jalan itu rasanya bergetar," ucap Naya sedih.
"Aduh.., terus mau gimana masa kau mau di mobil terus,?" ucap Bu Hesa menggeleng dan terus bibirnya komat kamit.
Tanpa bertanya dan tanpa permisi Dery membungkuk, dan dengan sekilat membopong kembali tubuh Naya, "Ayok Bi antar kan saya ke kamar Ibu,?" ucap Dery pada Bi Meri, membuat Naya kaget namun tidak bisa menolak, yang ada dalam pikirannya saat ini ingin segera berada dan istirahat di kamar, itu saja.
Bi Meri menuruti permintaan Dery yang ingin mengantar Naya ke kamarnya, Bi Meri mengantar Dery ke kamar majikannya, dan membukakan pintu kamar tersebut.
Bu Hesa hanya bengong melihat Dery membawa Naya ke dalam.
Usai berada dalam kamar Naya langsung Dery baringkan di atas tempat tidur dan pasangkan selimut sampai dada, "Istirahat, semoga cepat pulih, saya mau pulang dulu," akhirnya Dery pamit setelah Memastikan Naya sudah di tempat yang nyaman.
Naya mengangguk, "Makasih," gumamnya lembut.
"Sama-sama," lantas Dery pergi dari kamar Naya, Bi Meri yang berdiri di tepi tempat tidur memandangi Punggung Dery sampai hilang di balik pintu.
"Sepertinya Pak Dery orangnya baik ya Bu,? oya butuh apa biar Bibi siapkan," Bi Meri kembali menatap majikannya.
"Em.., tidak Bi makasih, aku ingin istirahat aja," lirih Naya.
"Oya, tapi Ibu belum makan, Bibi bawakan ya.?"
"Tapi.., boleh sih bawakan saja," Naya mengangguk.
Bi Meri pun keluar dari kamar Naya, dan akan segera kembali membawakan makanan buat Naya.
Kini Naya sendiri, di dalam kamar menoleh jam pukul 13.00 "Haduh..belum sholat lagi," gumam Naya, perlahan ia bangun memaksakan diri turun menapaki lantai jalan pelan menuju kamar mandi.
Tak selang lama Naya kembali, langsung menunaikan ibadah sebagai umat muslim, ketika Naya tengah sholat, Bi Meri masuk membawa makanan.
Usai sholat Naya memaksakan diri untuk makan, sehabis itu Naya berbaring lagi, istirahat sebentar berharap kondisinya pulih lagi, sekalian menunggu suaminya pulang.
****
Sore-sore di sebuah jalan menuju rumah, Dimas berada dalam mobil yang dikemudikan Pak Mad, sesampainya di dihalaman rumah, Dimas bergegas melangkahkan kakinya ke dalam rumah, di pintu bertemu dengan orang tuanya yang mau ke rumah lama.
"Baru pulang kau,?" sapa Ibu dan Bapaknya.
"Iya Pak, Mak, dari luar kota, kalian baru mau berangkat,?" tanya balik Dimas pada orang tuanya.
,,,,
__ADS_1
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏