Bukan Mauku

Bukan Mauku
Halo Bandung


__ADS_3

Terimakasih buat reader ku yang baik hati..,makasih sudah mampir dan memberi lake, komen, ayok dong kasih dukungan, agar aku tambah semangat belajar menulisnya.


******


"Alhamdulillah...,!" sahut Dimas sangat bersyukur, Naya menaikan alisnya sebelah, dengan seutas senyum.


"Kenapa.?" tanya Naya,


"Ya, berarti aku tak ada saingan lagi," senyum bangga.


"Senang sekali ya.? padahal dia sendiri cuman bisa menggantung." balas Naya berdecak kesal.


"Iya sabar yang.., nih juga lagi siap-siap berangkat ke sana" sahut Dimas percaya diri.


"Benarkah.?" seakan tak percaya.


"Iya sayang, besok aku berangkat, pertemuan dulu di Bandung, usai urusan di sana baru berangkat ke sana."


"Paling juga balik lagi,? gak sampai kesini.?" Naya tak percaya.


"Lihat aja nanti sayang..," Dimas meyakinkan.


"Aku gak percaya.!" ketus Naya cemberut, bukan tak percaya namun yang selalu jadi harapan dia selalu kandas sia-sia.


"Sudah ah, jangan marah begitu, nanti cantiknya hilang.! kita pasti menikah kok." ucap Dimas merayu.


"Emang gak cantik kok," ketus Naya.


"Sudah, jangan jutek, aku sangat mencintai dirimu, bawel." bujuk Dimas, Naya terdiam, Begitupun Dimas, suara napasnya aja yang terdengar jelas.


"Yang..," panggil Naya, kerena lama Dimas tak bersuara, "Yang..," panggil Naya lagi, dan masih Dimas tak menyahut.


"Hemm, tidur rupanya dia, orang manggil dianya tidur, aneh." gerutu Naya sembari memejamkan matanya, akhirnya kini Naya tertidur pulas, berpetualang dalam dunia mimpi.


Pagi-pagi Naya sudah bangun, di awali sholat subuh, lanjut dengan rutinitas kesehariannya, Naya sambut pagi ini dengan senyuman, berharap dihari ini lebih baik dari sebelumnya,


Naya menulis pesan untuk Dimas, "Pagi.., sayang bangun belum.? dah siang nih." kirim, Naya senyum gembira kali ini hati berbunga-bunga.


Pagi menjelang siang, Naya sedang melayani pembeli pulsa, ponsel berdering, tak lekas menerimanya sebab ponsel sedang di pake registrasi pulsa, selesai registrasi, nada dering terdengar lagi Naya menggulir ikon hijau.


"Halo..,zak.? apa kabar nih.? kemana aja.? lupa ya sama aku zak.?" tanya Naya sangat antusias.


"Ada aja teh, apa kabar.? gak lupa, sibuk aja.!" balas David. "Situ juga gak ngasih kabar, oya kenapa baru angkat telepon dariku.?" tanya David, penasaran kenapa teleponnya baru di angkat setelah beberapa kali pangilan.


"Hihi sibuk," sahut Naya tertawa kecil.


"Sibuk apa.?" penasaran.


"Sibuk...,pacaran hi.hi...," jawab Naya.


"Ha..ha..ha..! di halalkan nya kapan pacaran mulu.? mending kaya diriku teh mau langsung halal." ucap David penuh kebanggaan.

__ADS_1


"Ya.., maunya sih, tapi kan kalau belum waktunya gimana zak, itu zak ada yang membeli pulsa, jadi aku layani dulu lah, kau sih enak," kata Naya.


"Enaknya.? oh..,iya lah rejeki jangan di tolak, !" balas David


"Kamu laki-laki punya duit, dan punya kuasa untuk menentukan, lain lagi dengan wanita.!" balas Naya.


"Iya sih, doakan aku ya.? semoga lancar, tak ada halangan apa pun." pinta David.


"Iya dong, pasti aku doakan yang terbaik buat dirimu zak, semoga dia yang terbaik" Naya dengan tulus.


"Terimakasih teh.? atas doanya."


"Akhirnya kau dapat jodoh orang sana juga zak, padahal kemarin kau berencana menikahi Melia ya zak.?" Naya mengingatkan akan sosok Melia gadis Semi yang David dekati, sewaktu di Semi, namun gagal menikah, kerena alasan Melia takut gak bisa balik ke Semi bila di ajak ke Kalteng oleh David.


"Bukan jodoh teh, lagian bukan aku yang tak serius, tapi dia dengan banyak alasan." kenang David.


"Ya, intinya dia bukan yang terbaik zak." kata Naya menghibur David.


"Bener teh."


"Setelah menikah, jangan jadi playboy lagi ya.? jadi suami yang baik, yang setia, yang sayang istri, hargai istri juga." ucap Naya.


"Siap teh, tenang saja adikmu tidak akan macam-macam, janji.! paling satu macam saja, hi..hi..hi.." David tertawa.


"Doakan aku juga ya zak." lirih.


"Tentu dong teh doa terbaik buat kakak aku." sahut David.


"Makasih zak.?" senyum senang.


"Alhamdulillah, baik zak." jawab Naya.


"Si Dimas gimana kabarnya, baik.?" David menanyakan Dimas.


"Dia..,baik zak, oya kau kapan menikahnya.?"


"Pertengahan bulan depan teh, doakan ya.? bilang juga pada Uwa, mohon doanya.!" ucap David.


"Ok, zak akan aku sampaikan." sahut Naya mengangguk.


"Ya udah dulu lah teh, lain kali di sambung lagi." David berpamitan tuk meneruskan kerjanya.


Dari jauh sudah terdengar suara adzan duhur saling bersahutan, mengajak umat muslim untuk meninggalkan rutinitasnya sesaat, mengerjakan kewajiban sebagai umatnya Sang khalik.


******


Di kediaman Dimas.


Dimas bersama beberapa rekannya, kini sudah berada di bandara Supadio Pontianak, mereka sedang menunggu penerbangan, setelah makan siang selesai, mereka berbincang begitu asiknya, sampai akhirnya pesawat siap tek-of.


Dimas duduk didekat jendela, merasa sangat lelah, dari kediamannya ke Pontianak lumayan jauh, belum ini itunya di Pontianak sangat lah melelahkan, ia bersandar ke belakang, sesaat kemudian matanya sudah terpejam.

__ADS_1


Begitu dengan kawan-kawannya, sepanjang perjalanan tertidur, sampai-sampai sala satu pramugari membangunkan mereka berlima.


"Maaf, Abang-abang boleh silahkan bangun, pesawat sudah mendarat di tempat tujuan." kata pramugari tersebut dengan begitu ramah.


"Mendarat di mana mbak.?" tanya seorang kawan Dimas.


"Mendarat di hatimu Bang.!" jawab pramugari tersebut dengan senyuman termanisnya.


"Si mbak bisa aja." kawan Dimas tersipu.


"Abang-abang ganteng, pesawat sudah mendarat di tempat tujuan anda, ya itu bandara Husein sastranegara Bandung." ucap pramugara cantik itu.


"Terimakasih mbak.?" ucap Dimas dan kawan-kawannya bergantian, pramugari tersebut mengangguk sembari senyum ramah.


Dimas, dan kawan-kawannya beranjak, berdiri menuju pintu keluar, pas turun tangga. sala-satu kawan Dimas seakan berteriak, "Haloo..,Bandung..,?" Dimas hanya menyeringai, tertawa lucu.


Setelah mengurus surat-surat dan mengambil barang, mereka berjalan tujuan mencari transportasi tuk menuju penginapan,


Kini mereka semua sudah berada di dalam sebuah mobil, menuju sala-satu penginapan yang sudah di rekomendasikan dari perusahaan.


Beberapa puluh menit kemudian, tibalah di tempat yang di tuju. ya itu penginapan, langsung saja mengambil kamar, yang masing-masing untuk dua orang saja, Dimas satu kamar dengan yang bernama Endro.


Dimas langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. "Akhirnya sampai juga di Bandung." gumam Dimas seraya memejamkan matanya.


Ia beranjak berdiri berjalan ke kamar mandi, dokter Endro di tempat tidur satunya juga tengah berbaring, mengangkat kepalanya. "Mau ke mana.?"


"Kamar mandi." jawab Dimas sembari mengambil handuk dari kopernya, sesaat kemudian Dimas sudah berada didalam kamar mandi, terdengar suara air dari keran mengucur.


Tak lama kemudian ia telah kembali bertelanjang dada, hanya handuk yang melilit di pinggangnya, tetesan air yang yang jatuh dari rambut ke tubuhnya menambah sexi bagi yang melihat, segera mengambil kaos dll nya dari koper. ia balik lagi ke kamar mandi, memang sih cuma ada Endro yang sama-sama laki-laki namun Dimas merasa gak enak makanya masuk lagi ke kamar mandi, untuk berpakaian di sana.


"Mandi woyy..,mandi." kata Dimas pada Endro yang tengah tiduran.


"Ngantuk bro..,!" sembari bangkit sari tidurnya, berjalan masuk kamar mandi.


"Dimas mengambil ponsel miliknya, ia menekan kontak my love. sesaat kemudian terdengar suara wanitanya dari sebrang sana.


"Halo..! ada apa.? apa ada yang saya bantu.?" canda Naya dari sebrang.


"Halo juga sayang..,! apa kabar nih.? sayangku.? calon istriku.?" ucap Dimas menggoda.


"Baik, gombal, sudah makan.?" sahut Naya.


"Kok gombal sih,? belum sih, oya sayang coba tebak sekarang aku ada di mana.?" tanya Dimas memberi tebakan.


"Em..,gak tahu, di rumah kali." Naya sakan berpikir.


"Bukan sayang, aku berada di penginapan, yang berada di Bandung." Dimas senyum bahagia.


"Oya sejak kapan.?" penasaran.


"Baru sampai yang..,ini baru beres mandi, belum makan juga." sahut Dimas, Naya membisu sesaat, dia pikir kalau sudah berada di Bandung berarti sudah mendekati Semi, apa mungkin mereka bertemu dan menikah.?.

__ADS_1


"Sedangkan kata Dimas di Bandung hanya beberapa hari saja, karena ada pertemuan, berarti rombongan bukan perorangan, kemungkinan besar dia akan kembali bersama kawan-kawannya." batinnya.


,,,,


__ADS_2