
Dimas kembali ke tempatnya semula, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, "Hah siapa lagi yang datang sih,? ganggu orang saja," sambil memandangi daun pintu, kira-kira siapa ya yang datang.??
"Masuk,?" pekik Dimas masih menatap kearah pintu.
Perlahan pintu terbuka nampak seorang wanita bertubuh mungil, berkerudung warna cream dengan pakaian warna senada, bibirnya terlihat jelas melengkungkan senyuman.
Dimas melongo keheranan dan juga senang istrinya iba-tiba ada didepan mata, ia tidak menyangka akan kedatangan sang istri, senyuman Dimas mengembang, "Bunda,? loh kok ada di sini, sama siapa dan tadi-!"
"Assalamu'alaikum.., yang,?" menghampiri lalu merangkul tubuh Dimas.
"Wa'alaikum salam, sayang sama siapa ke sini hem..,?" tanya Dimas lagi.
"Sama Dery, mau minta tolong Pak Mad kasian baru datang, lagian mau belanja kebutuhan juga," sahut Naya sembari melepas rangkulannya.
"Dery nya mana,?" mata Dimas celingukan.
"Dia..., ada urusan, cuma mengantar sampai depan pintu saja," Naya duduk di sisi tempat tidur Dimas.
"Terus kenapa tadi bilang lagi sibuk hem, kenapa gak bilang mau ke sini hem Bunda,?" lembut Dimas kembali merangkul tubuh istrinya, "Kangen."
"Kan kejutan lah, kalau bilang-bilang bukan kejutan namanya," lirih Naya dalam pelukan suaminya.
"Hem.., Ayah kangen banget sama Bunda, sama baby kita juga," semakin mempererat rangkulannya, sesekali mencium kening dan pipi sang istri betapa rindunya ia beberapa hari tidak bertemu.
"Sudah makan belum.?"
"Sudah."
"Minum obat,?" tanya Naya lagi sembari menautkan jari-jarinya ke jemari Dimas.
"Sudah juga sayang, ada yang belum."
"Apa,?" menatap netra mata suaminya.
"Bulan madu," seakan berbisik lembut di telinga sang istri, "Sudah lama nih tidak mendapat kasih sayang."
Naya tersipu malu mendengarnya dan langsung ada desiran menyelinap di kulit, "lagi sakit aja masih mikirin yang begituan, dasar mesum.''
Dimas nyengir, "Bukan mesum sayang, tapi kebutuhan, kangen gimana,? lagian sudah sehat kok, mungkin kalau di ijinkan hari ini juga bisa pulang, kalau nggak ya besok."
"Oya, kalau gitu kebetulan sekali jadi.., sekalian aku jemput," tutur Naya bahagia sambil membenamkan kepala di dadanya Dimas.
"Hem..," Dimas mengelus kepala sang istri dengan sangat lembut.
"Aku akan bicarakan dengan dokter agar aku di ijinkan pulang hari ini juga, sudah kangen Rumah, kangen istri dan anak juga," cup mencium pucuk kepala Naya.
Pandangan Naya tertuju pada bunga yang ada di atas meja, "Bunga dari siapa,?" menoleh menatap suaminya.
__ADS_1
Dimas melirik bunga yang Naya tanyakan, "Oh itu dari kawan lama Ayah, kami beru-baru ini ketemu lagi setelah Ayah di rawat di sini, katanya dia tinggal di sekitar sini juga."
Naya menautkan keningnya, "Perempuan.?"
"Iya sayang, tepat nya mantan waktu Ayah masih kuliah," ucap Dimas jujur.
Seketika hati Naya berasa di dekat kobaran api yang panas, rasa cemburu hadir memenuhi ruang hatinya, ada rasa sesak dan juga kesal, "Seneng dong ya ketemu mantan, di rawat di sini itu rupanya ada hikmahnya ya? itu dapat bertemu mantan."
Dimas menyeringai mendengar ucapan istrinya yang sinis dan berbau cemburu, "Sayang cemburu kah?" mengangkat dagu sang istri dengan telunjuknya, wajah Naya yang jelas berubah, ditekuk.
"Nggak," sahut Naya dengan cepat dan memalingkan wajahnya kesembarang arah.
"Nggak kok di tekuk gitu wajahnya,? biasa saja yang, lagian tidak disengaja juga," jelas Dimas.
"Cuma kesal saja, bisa-bisanya ketemuan dengan mantan," ketus Naya sembari lagi-lagi melihat kesembarang tempat.
"Siapa yang ketemuan sayang,? dia jenguk aku di sini, malah ada Aldo kok," aku Dimas meyakinkan.
"Siapa namanya,?" menoleh dan menatap manik mata Dimas seolah mencari kejujuran suaminya di sana.
Dimas tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih, "Dia Marina."
Naya menaikan kedua bahunya, "Baru dengar, tidak pernah cerita sebelumnya, yang aku tahu ceritanya hanya Silvi saja."
"Ya.., aku lupa sayang, lagian kan sudah lama banget," elak Dimas.
"Cantik lah, tapi.., lebih cantik Bunda kok, secara Bunda yang ada di hati 'ku," ujar Dimas sembari membingkai wajah Naya dengan kedua tangannya.
"Ish..,ish..,ish gombalnya," Naya menundukkan matanya, "Aku mau pulang sekarang."
"Loh, jangan dong sayang, kan baru datang," Dimas menatap lekat sang istri, tangannya masih membingkai wajah Naya, Dimas faham kegundahan istrinya, ia makin senang di cemburui seperti itu.
"Sayang, Ayah minta maaf, itu cuma kebetulan, keluarganya dirawat di Rumah sakit ini juga, kebetulan dia bertemu Sandi jadi dia jenguk Ayah di sini," ujar Dimas meyakinkan.
"Tapi senang kan,?" sekilas membalas tatapan Dimas kemudian menunduk lagi.
"Senang lah, tapi cuma Bunda yang Ayah cinta dan Ayah sayangi, tidak akan ada wanita lain lagi," menarik bahu Naya agar masuk kedalam pelukannya, "Jangan marah sayang, aku sudah jujur tak pernah ada yang aku tutupi dari Bunda percayalah."
Di koridor Rumah sakit ada seorang wanita tengah berjalan membawa paper bag menuju ruangan Dimas, setelah berada di ambang pintu dia melihat penampilannya sesaat, merapikan pakaiannya sembari menghela napas dalam-dalam.
Perlahan tangannya memegang gagang pintu, perlahan membukanya, namun betapa terkejutnya Marina, di dalam ada penampakkan yang membuat hatinya seketika itu pula menciut, kakinya bergetar lemas, tangannya menutup mulut yang menganga, tubuhnya kaku di tempat.
Di dalam Dimas, tampak asik memeluk seorang wanita sangat erat sesekali menciumnya dengan mesra.
Dimas melihat kedatangan Marina dengan ekor matanya, namun Dimas malah sengaja memeluk dan mencumbu istrinya, Dimas melonggarkan pelukannya, jarinya mendongakkan kepala Naya agar menatap dan dekat dengan wajahnya, tatapan mata Naya yang sendu membalas tatapan mata Dimas dan perlahan wajah Dimas mendekat sehingga hembusan napas Dimas menyapu kulit wajah Naya.
Ekor mata Dimas melirik dan menangkap bahwa Marina masih mematung di tempat, Dimas semakin mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri yang merah jambu, Naya memejamkan matanya, tingkah Naya masih seperti baru di sentuh seorang pria, ekspresinya sedikit malu-malu.
__ADS_1
Akhirnya kedua bibir mereka menyatu, Dimas mengecupnya dengan sangat lembut, sehingga timbullah desiran-desiran aneh di dalam diri masing-masing, darah seolah mengalir dengan deras dan memanas.
Jantung berdetak lebih kencang, melebihi detak normal, Dimas semakin memperdalam sentuhannya, ia sangat menikmati sekaligus memamerkan kemesraan pada wanita yang pernah mengisi hatinya terdahulu.
Namun Naya tersadar ia was-was, takut adegannya berlebihan, mana pintu tidak di kunci siapa tahu tiba-tiba Dery atau perawat masuk, kan malu, Naya mencoba mendorong dada Dimas pelan-pelan, napas Dimas terengah-engah, matanya mulai berkabut hasrat yang sulit dikendalikan, dengan lembut Naya seraya berkata, "Sudah nanti kebablasan, ini bukan tempat yang tepat untuk berpadu kasih"
"Emang kenapa,? kalau melakukannya di sini, kita cuma berdua loh sayang," lupa bahwa di balik pintu yang setengahnya terbuka ada seseorang berdiri mematung.
"Yang.., gimana kalau ada yang masuk, Dery atau perawat atau siapa gitu," lirih Naya mengelus dada sang suami yang kelihatan jelas sudah berkabut hasrat, napasnya pun terdengar berat.
Dimas memijat keningnya yang terasa tambah pening, sedikit kecewa bila hasratnya harus di pending dulu, Naya terus mengelus lembut dada Dimas dan memberi kecupan hangat di pipi sang suami Naya mengerti betul yang di rasakan suaminya saat ini.
Marina yang mematung di ambang pintu sudah tak kuasa lagi menahan sampai paper bag yang dia jinjing terjatuh dari genggamannya, Brakk suaranya terdengar oleh Dimas dan Naya sehingga langsung mereka menoleh ke sumber suara.
Ekspresi wajah Dimas biasa saja ketika melihat Marina, lain lagi dengan Naya ia kaget melihat wanita cantik berdiri menutup mulutnya, dengan mata yang berkaca-kaca.
Marina mengambil paper bag yang jatuh dan Berucap, "Ma-maaf," lantas menarik gagang pintu sembari melangkah mundur dan menutup kembali pintu, Marina merasa terluka, dia menangis, sungguh terasa sakit melihat adegan mesra orang yang pernah dia sayang, tadinya setelah bertemu kembali, timbul sebuah harapan bisa dekat kembali, namun semua pupus seiring adegan yang membayang di ingatannya.
"Begitu mesra Dimas mencumbunya, nampak jelas sangat mencintai wanitanya, kalau saja dulu kau menjadi milik 'ku, tentu aku akan sangat beruntung, hah kini kau sudah dimiliki orang lain," Marina mengacak rambut indahnya sangat frustasi, dia berjongkok dipinggir koridor Rumah sakit sambil menangis kecewa.
Dery tadinya mau masuk ke kamar Dimas, namun dia urungkan ketika melihat seorang wanita berdiri diambang pintu, pas keluar seperti orang yang tengah frustasi, Dery mengawasi dari kejauhan.
Di dalam Naya bengong, sesekali menoleh suaminya yang berwajah tanpa dosa, lalu Naya termangu lagi sampai akhirnya ia bertanya, "Dia siapa,?" melihat Manik mata suaminya meminta kejujuran.
Dengan cepat Dimas menjawab, "Marina."
"Kenapa dia bersikap seperti itu,?" tanyanya Naya lagi.
Dimas menaikan bahunya, "Mana Ayah tahu yang."
"Aku jadi malu, kenapa juga kita melakukan itu barusan, pasti dia melihatnya, aduh..," Naya seraya menepuk keningnya.
"Kenapa mesti malu,? kita suami istri, bukan orang pacaran dan kita melakukannya di tempat tertutup juga, bukan ditempat yang terbuka," elak Dimas membela diri.
"Iya sih tapi tetap saja bikin malu," menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Sayang.., yang salah itu dia, masuk tanpa permisi kan bisa mengetuk dulu," ucap Dimas dengan santainya.
Naya mulai menatap curiga pada Dimas, "Jangan-jangan kamu ngasih harapan sama dia.?"
"Harapan apa yang..,? mana ada, Bunda percaya dong sama Ayah," bela Dimas karena memang tidak merasa memberi harapan pada wanita lain.
"Kalau tidak, kenapa dia nampak kecewa,? gak mungkin dong, di malah pergi lagi bukannya menghampiri kita," ujar Naya penuh tanda tanya.
"Mana Ayah tahu sayang," sembari meraih tangan Naya dan memberi kecupan lembut, kemudian Dimas turun dari tempatnya dan bergegas ke toilet.
****
__ADS_1
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️