Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mendengar hinaan.


__ADS_3

"Nggak tau," dangan santainya, mengecup pipi sang istri rasa belum puas mencumbunya kali ini, mungkin karena suasana dan tempat yang berbeda.


Dimas segera membuka pintu, mencari tahu siapa yang mengetuk pintu tak beraturan itu, blakk pintu terbuka, nampak Bu Hesa berdiri di depan pintu matanya langsung menembus ke dalam kamar lalu memperhatikan dengan sangat intens penampilan putranya yang acak-acakan.


Tidak sampai situ aja, matanya mencari keberadaan Naya di dalam yang sedang merapikan mainan baby nya, "Kalian sedang apa di sini,? bayi mu di bawah sama orang lain, sementara kalian asik-asikan berdua di sini, apa sudah kebiasaan di rumah kalian seperti itu, setelah gak ad Mama.?"


"Tadi Aku barengan turun sama Tante, tapi Abang katanya ada yang mau di bicarakan makanya kembali ke kamar dan Tante yang ingin bawa mereka turun," bela Naya menghampiri Bu Hesa, dan berdiri dekat suaminya.


"Kenapa lama-lama,? orang pada kumpul di sana, kalian di sini enak-enakan," ketus Bu Hesa sambil melengos.


Naya dan Dimas saling lirik, kemudian Dimas pergi memasuki kamar mandi, Ayah mandi dulu."


Dimas balik memutar badan mendekati sang istri seraya berbisik, "Mandi dulu yang, lengket," tanpa menunggu jawaban Dimas bergegas masuk ke kamar mandi, Naya melirik dan tersenyum.


Naya melirik dan mengikuti Bu Hesa dari belakang, setelah di bawah Naya menghampiri dan mengambil bayi nya.


"Meraka anteng sangat kok Nay," ucap Tante Lia tersenyum ramah.


"Bagus lah Tante, maaf ya dah merepotkan," Naya mengangguk hormat.


"Nggak, nggak merepotkan malah Tante senang, ya sayang ya main sama nenek ya," sambil mengusap Arif di gendongannya.


Naya lagi-lagi menebar senyum nya, "Makasih ya Tante."


"Iya, oya Akak, kapan mulai persiapan buat acara besok nya,?" melirik Bu Hesa.


"Nanti sore juga sudah mulai," sahut Bu Hesa, "Yuk sama oma sayang," mengambil Arif dari Tante Lia ya itu adiknya.


Arif di bawa ke tempat orang berlomba, membuat dia meronta dan ingin turun, sehingga Bu Hesa hampir kewalahan memegangnya, di ambil sama Maria gak mau, sama opa nya gak mau juga, "Aduh maunya apa sih sayang,? kan masih kecil belum boleh turun," gerutu Bu Hesa, Arif terus merengek dan meronta.


Dery yang berada gak jauh dari tempat Bu Hesa berdiri menghampiri, dan tangannya bersiap menggendong Arif yang masih meronta dan merengek, "Yuk sama om yuk, kita bermain ya ganteng,?" mengambil Arif, mulanya Bu Hesa tak memberikan nya, namun setelah Dery menatap dengan tajam barulah memberikannya.


"Jangan sampai cucu saya ke napa-napa," ucap Bu Hesa ketus.


Dery menatap dengan tatapan sangat tajam, kalau saja bukan orang tua sudah ia bogem wajahnya, "Emang dia pikir saya penculik apa,?" gerutu Dery dalam hati, masih untung akal sehat Dery masih berjalan baik.


Kemudian Dery menjauh dari keramaian, membawa Arif melihat kupu-kupu yang dia suka, "Suka kan sama kupu-kupu hem pangeran kecil,? kupu-kupu itu selalu ceria di setiap keadaan, menari-nari meski hatinya sedih dan sakit," ujar Dery membuat Arif menatap lalu tertawa memperlihatkan gusinya.


Suara mobil berhenti di halaman rumah Bu Hesa, seorang lelaki tampan berkaca mata hitam, dengan rambut sedikit ikal, pakaian nya pun rapi, keluar dari mobilnya, melirik keramaian orang-orang yang tengah mengikuti acara demi acara, lalu mendekati teras.


Di sana lumayan ada banyak orang termasuk Tante Lia dan Naya, Tante Lia tersenyum menyambut kedatangan laki-laki tersebut.


"Mah," ucapnya menghampiri.


"Kau kesini juga,?" sambut Tante Liana nama kepanjangan nya.


"Iya Mah, suntuk di rumah gak ada siapa-siapa juga," dia duduk di sofa sebelah Ibunya dengan kaki dan tangan terbuka, bersandar ke belakang bahu sofa.


"Iya bagus kesini saja, lihat Abang mu sudah punya bayi, kembar lagi lucu ya,?" menunjuk baby Kayla yang di pangkuan Naya, "Oya kenalkan ini dia istrinya Abang Dimas namanya Kanaya, bener ya,?" melirik Naya, Tante Liana mengenalkan Naya dengan putranya, Naya mengangguk tanda mengiyakan namanya.


"Dan Naya, ini putra Tante satu-satunya yang Tante bilang dari Bandung itu loh, namanya Kamal."


Naya Melirik kearah Kamal, begitupun Kamal melihat Naya dan mengulurkan tangan seraya berkata, "Kamal," untuk bersalaman.


Namun Naya hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada dan mengangguk pelan, bibirnya bergumam, "Kanaya."

__ADS_1


Kamal bengong melihat Naya dan tersenyum pada baby nya, "Oya Abang Dimas nya mana,?" melirik sang Ibu.


"Mungkin masih di atas," sahut Tante Liana.


"Oh, abang tadi katanya mandi, nanti juga turun," ujar Naya sembari menunduk.


"Oya, Kanaya juga orang sunda loh," sambil menepuk paha Kamal pelan.


"Iya kah,?" menaikan keningnya.


"Iya, tepatnya Sukabumi," sambung Naya.


"Oya, saya kerja di Bandung, kau kerja di mana,?" tanya Kamal sambil menatap Naya.


Membuat Naya salah tingkah, namun berusaha meminimalisir perasaannya, "Tidak, aku tidak bekerja."


"Em.., maksud saya sebelum menikah sama Abang."


"Tidak pernah," menggeleng pelan.


"Pernah sekolah di mana," tanya Kamal kembali sambil menyentuh tangan mungil Kayla.


"Nggak pernah sekolah," sahut Naya dangan sangat percaya diri.


Kamal menegak kan tubuhnya, "Serius?"


"Serius."


Kamal mengernyitkan keningnya, "Tapi.., kelihatannya kau berpendidikan tinggi."


"Makanya sangat beruntung kan bisa menikah dengan orang yang bertitel dokter seperti putra saya," suara Bu Hesa dari arah belakang dan duduk di sudut sofa yang kosong.


Kamal menoleh, begitupun yang lainnya, "Tapi.., menurut Mal, Kakak ini lumayan, kelihatannya berpendidikan, Mal lihat dari cara bicaranya, sudut pandang nya, walau Mal baru ketemu saat ini juga loh," Kamal duduk mencondongkan tubuhnya bertumpu pada siku tangan ke kedua kakinya.


"Masa, menurut 'ku sama saja, Mal bilang begitu karena baru kenal dia," timpal Bu Hesa.


"Akak, tidak boleh bicara seperti itu, gak baik," pendidikan memang penting, tapi..,jangan terlalu melihat itu, kita sama saja jangan membedakan," Tante Lia melihat Bu Hesa dan kearah Naya bergantian.


Naya menunduk, sakit ini telinga mendengar hinaan dari Ibu mertuanya namun, Naya sadar toh yang dikatakan Bu Hesa adalah benar, tetap berusaha tegar, kuat, terserah mau di bilang apa.


"Oya Mak, Arif mana,?" Naya celingukan mencari keberadaan Arif yang tadinya dibawa omanya namun sekarang Bu Hesa membawa tangan kosong.


"Itu, tadi Arif merengek dan meronta entah maunya apa, lalu diambil sama om nya."


"Om nya,? oh Dery kah," gumam Naya.


"Iya siapa lagi,?" ketus Bu Hesa lagi.


Naya tersenyum samar, "Iya."


Tante Liana dan Kamal terdiam mendengar pembicaraan Bu Hesa dan Naya.


Dimas datang menghampiri, "Hi.., kapan datang,?" Dimas dan Kamal berpelukan.


Kamal menepuk pundak Dimas, "Baru beberapa menit kok datang, sombong sekarang, mentang-mentang sudah punya istri cantik dan baby yang lucu."

__ADS_1


"Hah.., siapa yang sombong kau ini," Dimas duduk bersamaan dengan Kamal.


Mereka asik berbincang menceritakan pengalaman nya masing-masing selama berjauhan.


Bu Hesa pergi menghampiri orang berlomba, Tante Liana pergi ke dapur, karena Kayla mulai merengek mungkin bosan, sedari tadi duduk-duduk.


Naya berdiri membawa Kayla jalan-jalan keluar, "Kita cari Abang ya sayang, di mana ya Abang berada,? Abang.., di mana, adek cari Abang nih."


Naya mencari Arif yang kata Bu Hesa dibawa sama Dery, dari kejauhan terlihat Dery sedang menggendong Arif, di bawah sebuah pohon ada taman bunganya, dan terlihat kupu-kupu beterbangan, nampak jelas dari tempat Naya berdiri lalu menghampiri Dery, yang letaknya agak jauh dari keramaian.


"Om.., Abang aku mana om,?" suara Naya membuat Dery menoleh kearah Naya dan Kayla yang tangannya melambai-lambai dan tertawa bertemu Abang nya.


"Kenapa kesini,? nanti hujan," Dery melihat langit yang sedikit sendu.


"Merengek Kayla nya, mungkin bosan diajak duduk terus," sahut Naya.


"Tadi juga Arif merengek, meronta pengen turun ke tanah kayanya, tapi setelah saya ambil dia ketawa-ketawa," timpal Dery.


"Iya kah,? sayang bosan kah sama oma hem..,?" Naya mengajak Arif bicara.


"Kau betah di sini,?" tanya Dery melirik Naya.


Naya terkejut mendengar pertanyaan Dery, "Maksud kamu,?" kurang mengerti.


"Iya maksud saya, kamu betah tinggal di sini,? masa gak ngerti."


"Oh, ya gimana ya," sejenak Naya berpikir, "Aku biasa saja kok," sahut Kanaya yakin.


"Dengan sikap mertua mu yang kaya gitu,? yang nampak tidak suka dengan kehadiran mu di sini," sambung Dery.


"Hem.., terserah bagi aku sudah biasa kok, memang begitu orang nya gimana, biarin saja, mungkin sudah dari sana nya begitu, yang penting beliau sayang setidaknya sama anak-anak 'ku," Naya menaikan kedua bahunya.


Dery menggeleng, tak habis pikir bisa-bisanya Naya berpikir seperti itu tentang mertuanya yang jelas-jelas tidak welcome pada Naya.


Arif mulai ngantuk dan tidur di pangkuan Dery, sementara Kayla tampak happy dan senang melihat kupu-kupu yang terbang mengelilingi bunga roos.


"Pulang yuk, Arif sudah tidur nih," Dery berbalik badan, mau menidurkan baby Arif, sementara Naya masih berdiri dengan Kayla yang tangannya seakan ingin menangkap sesuatu.


Dery segera masuk teras dan ingin menidurkan Arif, "Dari mana kau Dery,?" tanya Dimas yang sedang mengobrol sama Kamal.


"Ini mengajak Arif bermain, dan sekarang dia tidur," menunjuk Arif dengan dagunya.


"Oh sini saya tidurkan di atas," Dimas mengambil alih Arif hendak ditidurkan di atas, "Oya kenalkan dia sepupu saya namanya Kamal, dan Kamal kenalkan dia kawan Abang bernama Dery."


Kamal dan Dery saling berjabat tangan, sementara Dimas membawa baby nya ke atas untuk di tidurkan di dalam kamar.


Sesaat kemudian Dimas kembali membawa minuman kaleng untuk mereka bertiga, "Minum," Dimas menyodorkan minuman yang dibawanya.


Tiba-tiba suara orang semakin ramai, bahkan teriakan yang membuat Dimas penasaran, "Itu siapa yang tertimpa dahan pohon yang patah," teriak orang tersebut.


Deg Dery ingat pada Naya yang tadi bersama dirinya di bawah pohon, Dery langsung loncat berlari ke tempat sumber suara orang yang tadi, tepatnya dibelakang rumah, di susul oleh Dimas dan Kamal berlarian ke kebelakang rumah.


,,,,


Apa kabar semuanya...,? terimakasih masih mengikuti novel recehan ini, semoga Tuhan membalas akan kebaikan kalian, terimakasih yang telah memberikan lake, komen, tapi vote nya mana nih,? hehehe bercanda ! aku gak akan memaksa kalian kok cukup seikhlasnya saja.

__ADS_1


NB.... mampir juga di karya aku yang satu lagi ya di SKM ''Surat Kontrak Menikah''semoga berkenan🙏


__ADS_2