
Naya lebih dulu menunaikan salat magrib, setelahnya baru membantu mengurus baby twins. Mendandaninya, "Hem ... wanginya anak Bunda." Naya mengendus mencium wangi anak-anak nya.
"Bi, sudah, Bibi siapkan makan aja. Mama dan Bapak pasti lapar, biar anak-anak, aku yang urus, pasti mereka capek dan sebentar lagi bobo," ucap Naya.
"Oh iya Bu, Bibi ke dapur dulu bantuin Bi Taty, kalau ada perlu panggil saja ya Bu?" bi Meri berdiri dan melangkah mendekati pintu. Membuka daun pintu sedikit, kemudian dia tutup kembali.
Mobil Dimas memasuki halaman rumah, dia mendapati sang Ayah sedang duduk sendiri di teras. Matanya menatap kearah si sulung.
Dimas memasuki teras. Mendekati Bapaknya tengah duduk di teras. "Bapak ngapain di sini?" sapa Dimas.
"Di dalam panas, cari angin. Kau baru pulang?" tanya nya.
"Iya, Pak, Abang masuk duluan ya." Dimas berjalan mendekati pintu, kemudian masuk, berjalan dengan gontai.
Dimas berdiri di dapur ia mendapati Bibi tengah mempersiapkan buat makan malam. "Bi, masak banyak gak? kawan aku mau kesini," gumam Dimas membuat Bibi menoleh.
"Iya Tuan, cukup kok," sahut bibi kemudian melanjutkan tugasnya.
Dimas bergegas menaiki anak tangga, ingin segera bertemu anak dan istri nya. Pintu ia buka lebar-lebar, "Assalamu'alaikum ... sayang ku?" Dimas menghampiri istri dan anaknya.
"Wa'alaikum salam," Naya mencium tangan Dimas, Dimas pun mengecup kening sang istri lama ... kemudian mencium pipi kedua buah hatinya.
"Anak Ayah tadi habis jalan-jalan ya sama oma dan opa hem?" tangan Dimas merangkul keduanya.
"Salat magrib dulu yang," titah Naya.
"Sudah, tadi kenapa ribut-ribut?"
"Apa yang ribut? coba bayangkan, anak-anak tidak ada di tempat. Di bawa orang tanpa ijin dulu gimana perasaan Ayah?" sahut Naya dengan nada kesal pada suaminya. "Biar pun bilang sama Ayah, kan gak bilang sama aku. Pesan aku gak di balas, telepon gak di angkat. Gimana aku gak kalut, gak khawatir. Pikir dong."
Dimas bengong mendengar sang istri yang ngoceh tanpa jeda. Kemudian Dimas hendak bicara, "Saya--"
"Aneh jadi orang gak peka ya, gimana kalau yang bawa itu bukan opa dan oma nya? misalkan orang jahat. Gimana? buktinya waktu itu! nyawa ku bisa melayang begitu saja. Ngerti gak," suara Naya bergetar. Matanya melihat langit-langit menahan air mata supaya tidak jatuh, ucapan sang suami membuat hatinya menjadi kesal.
Mulut Dimas hanya menganga tak kebagian bicara "Oke-oke, sayang ... aku minta maaf. Sudah ya? anak-anak, kan sudah kembali dengan selamat. Sudah jangan marah-marah lagi." Dimas menangkupkan kedua tangannya ke wajah Naya.
__ADS_1
Mata Naya sudah berkaca-kaca, namun sebisanya ia tahan. "Makanya jangan menganggap ringan sesuatu."
"Iya-iya, aku minta maaf." Dimas hendak memeluk sang istri namun Naya menolak, ia mendorong perlahan dada Dimas. Malas rasanya di dada masih terasa sesak.
Dimas mencelos melihat kekesalan Naya, ia pun sadar akan kesalahannya. Tapi dia pun menerima pesan dari sang Bunda ketika sudah menerima pesan dari Naya duluan, Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengacak rambutnya kasar.
"Bro ... ada kabar baik bro," suara Endro sambil menggedor pintu kamar, dengan malas Dimas menghampiri dan membukanya.
"Ada apa?" tanya Dimas setelah pintu terbuka.
Endro bengong melihat Dimas yang nampak lesu, sepertinya situasi kurang kondusif nih. "Sepertinya kau belum mandi, mandi dulu lah. Biar kami tunggu di bawah saja, kebetulan perut kami lapar he ... he ... he ..." Endro pergi dan turun kembali.
Aldo dan Dery sudah berkumpul di meja makan, walau tuan rumah masih di atas, tapi ada Bapak dan Ibunya Dimas yang sudah duduk lebih dulu menghadapi meja makan.
"Mana mereka?" tanya bapak Dimas.
"Em ... Dimas belum mandi om, dan baby nya lagi di tidurkan Bunda nya," sahut Endro sambil menggeser kursi yang akan ia duduki.
"Oh, ya sudah. Kita makan saja duluan. Ayo makan," ucap bapak nya Dimas.
Tanpa menunggu Dimas dan Naya mereka menikmati makan malamnya dengan lahap, di selang dengan obrolan-obrolan ringan.
"Nak Aldo kapan nih mau kenalkan calon istrinya sama Tante? oya katanya mau bawa anak-anak ke sini, udah pernah belum," bu Hesa menatap dokter Aldo.
"Aduh, terlalu sibuk untuk mencarinya, oya anak-anak kebetulan banyak bersama Ibunya, jarang ketemu juga. Akhir-akhir ini saya sangat sibuk," timpal Aldo di sela mengunyah makanannya.
"Tapi sesibuk apa pun, jangan lupa kunjungi mereka. Karena bagaimanapun anak-anak pasti butuh sosok seorang Ayah. Jangan sampai kehilangan moments itu," ujar bapak nya Dimas.
"Iya Om," Aldo mengangguk pelan.
"Dengar noh .... anak itu bukan cuma butuh uang saja tapi juga perhatian, iya, kan om?" ucap Endro pada Aldo, lalu melirik pak Herdy.
Pak Herdi membalas dengan anggukan dan senyuman.
Dery cukup mendengarkan saja, sambil anteng makan. Ia berdiri mengambil air minumnya yang habis.
__ADS_1
Di atas, Dimas baru selesai mandi, baby twins sudah tidur lelap. Naya tengah asik chatingan dengan seseorang sehingga menyebabkan Naya tertawa.
"Chetingan dengan siapa Bun?" Dimas penasaran dan duduk di samping Naya.
"Kawan," jawab Naya singkat, dan bibirnya terus mengembangkan senyuman.
"Siapa sih bikin penasaran?" Dimas mengambil ponsel Naya dan membacanya. Ternyata David adek sepupu Naya yang di Kalteng itu.
"Apaan sih main rebut saja," gerutu Naya mengambil lagi ponselnya.
"Aku kira siapa," gumam Dimas sambil berdiri mengambil bajunya yang sudah di siapkan oleh sang istri.
"Emang nya kau pikir siapa, selingkuhan?"
Ucapan Naya membuat Dimas tercengang, mengangkat kepalanya menatap Naya. "Maksud Bunda apa?"
Naya menggeleng. Meralat ucapannya. "Tidak, maksud aku emangnya aku chetingan sama siapa? paling sama saudara atau keluarga yang penting-penting lah." Naya membalas tatapan Dimas sehingga netra mata mereka bertemu.
"Wajar dong kalau Ayah cemburu, Bunda istri Ayah, dan banyak juga yang suka sama Bunda," ucap Dimas dengan tatapan yang tak lepas dari Naya istrinya.
"Kamu ngomong apa sih?" yang sepatutnya di curigai itu Ayah. Apalagi sampai Ibu dewan mengejar-ngejar ingin menjadikan Ayah menantunya, apa itu namanya?" Naya semakin kesal jadinya.
"Bunda curiga sama Ayah hem?" tanya Dimas.
Naya diam seribu bahasa dan membuang muka, melempar tatapannya ke lain arah.
"Terserah Bunda lah, mau percaya sama Ayah atau omongan orang," Dimas pergi meninggalkan Naya di kamar.
Naya seketika melihat langkah suaminya yang lalu hilang di balik daun pintu, ia menggigit bibirnya. Kesal, marah, dongkol. Sedih berkecamuk jadi satu, ingin rasanya berteriak sekencang-kencang nya, bibir bergetar menahan tangis yang ingin keluar dari bendungannya.
Naya mencoba menghela napas panjang lalu ia hembuskan perlahan. Menghela napas lagi dan lagi kemudian ia hembuskan perlahan kembali. "Huuh ... ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah," gumamnya berusaha tenang.
,,,,
Terimakasih pada reader semua yang masih mengikuti kisah ini, Terima kasih yang sudah lake dan komen meski gak memberi vote nya hehe canda, pokoknya apa yang kalian lakukan untuk novel ini terimakasih telah membuat aku tetap semangat.🙏🙏 sekarang ini detik-detik menuju cerita berakhir.
__ADS_1