Bukan Mauku

Bukan Mauku
Percaya diri


__ADS_3

"Aku sayang sama kamu makanya tidak mau orang mendapatkan kamu, hanya orang bodoh yang mau melepaskan kamu yang.? balas Dimas berdecak kagum bisa mendapat cinta dari seorang wanita yang bernama Kanaya.


"Mau melepaskan atau tidak ya terserah, kalau bukan jodoh.? terpisah juga" ucap Naya mencebik kan bibirnya.


"Pokoknya tunggu aku.? titik.., tidak bisa di tawar lagi." balas Dimas. "Terus di terima gak lamaran orang itu."


"Belum.!" singkat.


"Pasti, aku tau kamu sayang aku, jadi gak mungkin terima orang." senyum penuh kemenangan.


"Ih, geer..,! aku belum terima karena memberi ruang untuk berpikir, agar tak ada penyesalan akhirnya, kalau suatu hari dia balik lagi, berarti jodohku," sahut Naya membela diri.


"Tapi..,! aku yakin jodoh kamu adalah aku, bukan dia bukan siapa-siapa juga, hanya aku, paham.?" jelas Dimas sangat percaya diri.


"Nggak.! karena sampai detik ini apa sih sebagai tanda keseriusan kamu yang.? belum ada tuh, tapi soksoan begitu, aneh aku." olok Naya.


"Hah, gak cukup kah.? setiap waktu aku selalu ada buat kamu, masih saja bertanya, he...ran aku.?" ucap Dimas,


"Ya gak cukuplah, aku juga butuh yang pasti tau..,? dan jangan salahkan aku ya, kalau aku mencari yang pasti.?" tegas Naya.


"Pasti yang..,! sabar aja," pinta Dimas.


"Sampai kapan.. yang sabarnya.?" sahutnya lirih.


"Sampai Tuhan mempertemukan kita, oya yang ajarin aku doa-doa dong, ya..ya..ya.?" penuh permohonan.


"Doa apa yang.?" tanya Naya.


"Doa apa aja, boleh.!" sahut Dimas.


"Ok, sekarang mulai doa mau makan, ikutin aku ya.?" Naya mengajari Dimas doa mau makan terus berulang-ulang, sampai sedikit-sedikit Dimas hapal.


"Pinter.?"


"Siapa dulu..? Dimas..,bah, hi..hi..hi.." katanya dengan bangga.


"Jangan bangga dulu lah, masih banyak lagi juga, udah dulu lah ngantuk nih." Naya menguap.


"Ya sudah lain kali belajar lagi ya..ya.?" da.....h, sayang semoga mimpi indah," ucap Dimas.


"Ya moga mimpi indah juga, jangan lupa yang barusan di hapalin" balas Naya.


"Bye sayang, I love you.?"


"I love you too." balas Naya.


Malam berlalu begitu indah, memanjakan orang-orang yang mengistirahatkan tubuhnya dari rasa penat akibat beraktivitas seharian, angin yang mendesir lembut menyelinap ke dalam pori-pori, dan menusuk ke dalam tulang.


******

__ADS_1


Sore itu Dimas tengah termangu di sisi pagar balkon, karena anteng dengan lamunannya. ia tak tau kalau ada yang mengawasi dari depan pintu, Karmila berdiri tepat di belakang Dimas.


"Sedang memikirkan apa dok.?" ucap Kamila menyilang kan tangan di depan dada, Dimas sedikit kaget, mengerjap kan matanya dan menengok ke sumber suara. "Ah kau dari kapan disitu.?"


"Dari tadi." Karmila melangkah mendekati Dimas. "Memikirkan apa sih.? anteng banget dok."


Dimas menyunggingkan senyum di bibirnya, "Nggak memikirkan apa-apa."


"Masa sih.?" Karmila mengerenyitkan keningnya. "Tapi kok anteng banget.? sampai di panggil pun tak kedengaran aneh kan.?" dokter Karmila mendudukkan tubuhnya, dan di ikuti Dimas duduk di kursi satu lagi.


"Yang bener kau memanggil namaku.? kok tidak terdengar apa-apa selain lolongan suara anjing.?" Dimas mencebik kan bibirnya.


Karmila memonyongkan bibirnya, "Sialan suaraku di samakan dengan suara anjing."


"Ada apa tumben berkunjung kesini dok.?" tanya Dimas melirik wanita cantik di sebelahnya.


"Gak boleh kah.?" mengangkat sebelah alisnya.


"Boleh sih wajar dong kalau bertanya, takutnya ada penting." Dimas memandangi wajah Karmila, akhirnya mereka bersi tatap, karmila menjadi gugup salah tingkah, jantungnya berdegup kencang di atas rata-rata, karena mendapat pandangi pria pujaan hatinya.


"Kenapa sih pandangan nya gitu amat.?jangan-jangan suka ya sama aku.?" Karmila mengalihkan pandangan, menepis rasa gugup yang dia rasakan.


"Hah, biasa aja bah, iya sih aku suka.!" kata Dimas masih dengan tatapan hangat, seketika Karmila melihat kearah Dimas penasaran dengan kata-kata suka yang Dimas ucapkan, jantung Karmila semakin berdetak kencang, melebihi batas normal.


"Apa benar Dimas suka sama aku.? alangkah bahagia sekali aku." batin Karmila tersipu malu, karena belum juga ada jawaban dari Dimas.


Tatapan Karmila semakin lekat tertuju pada Dimas, berbeda dengan Dimas yang hanya bersikap santai dan tenang, Karmila semakin geregetan, melihat ekspresi Dimas,


"Tapi..,hanya sebagai teman gak lebih," Dimas melipat tangannya.


Karmila yang tadi berbunga-bunga, menjadi mencelos, tadinya berharap Dimas merasakan yang sama ternyata tidak, dia hanya suka sebagai teman gak lebih, merasa kecewa ternyarata perhatian dia selama ini sia-sia, Karmila terdiam seribu kata tertegun begitu saja.


"Padahal aku suka banget sama kamu dok, kenapa dari dulu hanya menganggap aku sebagai teman saja, tak adakah sedikit ruang untukku," batinnya.


Dimas merasa heran memperhatikan reaksi Karmila yang berubah entah karena apa, "Hei.., diam saja bah.? kesambet apa kau.?" mengibaskan tangan depan muka Karmila dia pun tersadar dan menengok Dimas, namun bukannya menjawab tapi dia beranjak dari duduknya meninggalkan Dimas.


Dimas semakin heran, namun tak sedikitpun ada keinginan tuk mengejarnya, ia hanya menaikan kedua bahunya, Dimas berdiri meninggalkan balkon, masuk kamar merebahkan diri di kasur.


Pukul 07. malam Dimas menuruni tangga, menuju meja makan di sana sudah ada keluarga besarnya, tengah makan.


"Malam semuanya.?" Dimas duduk mengambil piring yang di isi nasi dan ayam goreng, kemudian melahapnya, tanpa ada obrolan apapun mereka fokus melahap makanannya masing-masing.


Usai makan Dimas meneguk minum sampai tandas, lalu ia duduk di sofa, di ikuti Mamak dan Bapaknya.


Setelah beberapa saat hanya suara tv yang terdengar, lalu Dimas membuka suara. "Mak saya mau ke Cirebon berkunjung ke tempat Paman, sekalian mau ke Semi." ucap Dimas melirik Mamaknya.


"Acara kunjungan apa ke sana.?" tanya Bu Hesa dengan tatapan curiga.


"Sebenarnya ada pertemuan di Bandung." Dimas mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Itu ke Semi ngapain.?" bu Hesa semakin menyelidik.


"Mak, ada kawan aku yang di mutasi ke Semi juga, lagian memang aku mau menemui Kanaya, " nyengir kuda.


Mendengar itu bu Hesa tersulut amarah, "Dengar ya Dimas.! Mamak tak akan pernah mengijinkan kamu menikahi wanit yang kau maksud."


Dimas melongo, ia kaget Mamak masih mau mengungkit soal itu.


"Mak apa salahnya.? biar saja anak kita yang memilih jodohnya sendiri." ucap Bapaknya Dimas.


"Iya, bener tuh Mak kata Bapak? lagian Mamak belum ketemu dia, jadi mungkin aja nanti Mamak suka.?" tambah Dimas sembari mengangguk.


"Pak, Dimas anak laki-laki kita, sehat tak ada yang kurang dari anak kita, rupa cekep, pendidikan tinggi, keuangan lumayan mapan, dan kau Dimas, kau sendiri yang bilang kan.? dia itu lumpuh, orang gak punya, gak pernah mengenyam pendidikan apa pun, apa sebanding dengan kamu.? Mamak rasa jauh banget." tutur bu Hesa dengan nada tinggi.


"Mak memang dia bilang tak pernah mengenyam pendidikan, tapi.., aku rasa dia bisa menyesuaikan diri, dia cukup pintar, bahkan dari tutur katanya saja dia seperti berpendidikan tinggi, tidak rendahan, dalam keuangan dia mampu mengolah usahanya, walau kecil kecillan, setidaknya mencerminkan wanita mandiri, dan bertanggung jawab" ujar Dimas panjang lebar, tetap dengan nada rendah.


"Kau belum ketemu dia saja sudah mati-matian membela dia ya.? hebat." bu Hesa sedikit bertepuk tangan.


"Makanya saya akan menemuinya, biar saya tau benar-benar tentang dia." ucap Dimas menatap Ibunya yang cemberut.


"Dulu juga kita hanya orang biasa Mak, jauh dari kata seperti sekarang ini, dulu kita susah juga." Bapak Dimas menambahkan ucapan Dimas barusan.


Bu Hesa melotot kearah Suaminya, pokoknya saya tidak setuju, titik." menyilang kan kedua tangannya.


"Tapi Mak, saya pasti berangkat juga, setidaknya mengikuti pertemuan di Bandung." kata Dimas menyentuh tangan bu Hesa.


"Ok, tapi tidak ke Semi, ke Cirebon boleh tengok pamanmu." ketusnya, Dimas menghela napas kasar, dan Bapaknya hanya menggeleng pelan melihat sikap istrinya.


"Apa sih kurangnya Karmila hah.? Dia cantik, pendidikan tinggi propesinya dokter, sempurna, kenapa kau tak mau menikahinya.?" tanya bu Hesa menatap jatam Dimas.


"Dia kawan aku Mak, aku tak punya rasa sama dia, memang dia baik saya akui itu, tapi hati ini tak dapat di bohongi, aku hanya menganggap dia kawan." sahut Dimas meletakkan kedua siku di kedua lutut kakinya.


"Kau saja tak mencoba membuka hati, yang didepan mata di biarkan, yang jauh dan belum tentu, malah di kejar, aneh..," tegas bu Hesa.


"Oya Mak, Pak, aku harus bilang pada kalian bahwa aku mau masuk Islam, berpindah keyakinan," ucap Dimas serius.


"Apa.? saya tidak salah dengar kan Pak.?" bu hesa membalikkan badan pada Suaminya lalu membalikkan lagi ke Dimas. Bapaknya Dimas hanya diam namun terlihat santai.


"Hebat banget wanitamu itu ya.? belum bertemu saja dia mampu mencuci isi otak kamu Dim, apa lagi nanti kalau sudah bersama, memang benar katamu Dim dia pintar." lagi-lagi bertepuk tangan kecil.


"Sebagai umat yang bertoleransi yang tinggi Kami menyerahkan keputusan ditanganmu, hanya kalau sudah masuk ke salasatu Agama jangan pernah masuk balik ke Agama yang lalu, karena jelas itu akan dicap mempermainkan Agama, berpegang teguhlah pada keyakinan yang akan kau ambil." jelas Bapaknya Dimas mendukung keputusan Dimas.


"Tapi kau itu mulanya reorang yang sangat Taat bahkan kau terkadang menggantikan Pastor, mengisi acara di tempat keagamaan, sekarang kau malah ingin berpaling, sedih rasanya Mamak Dim" lirih dan akhirnya menderaikan air mata.


Dimas tak bisa menjawab apa-apa lagi, hanya diam bersandar di sofa sembari menyilang kan kedua tangannya.


,,,,


Terimakasih reader ku, yang masih berkenan singgah disini, terus dukung aku ya dengan cara selalu lake, komen, dll nya. agar aku tambah semangat belajar menulisnya,

__ADS_1


Dan mampir juga dong di novel aku yang satunya, "Suamiku om om" semoga kalian suka juga.🙏🙏


__ADS_2