
Sebelum membaca, yuk lake terlebih dahulu.?. dan aku ucapkan banyak-banyak terimakasih pada yang suka dengan cerita novel ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya bun.!
******
Dimas tengah berkumpul bersama keluarga, di ruangan tengah.
"Kapan kau masuk kerja.?" tanya Bapaknya Dimas dengan menatap datar.
Dimas menoleh Bapaknya, yang tengah santai duduk di sofa berdampingan dengan sang mertua.
"Mungkin lusa, baru masuk kerja Pak." sahut Dimas.
"Hem..i oya..,besan kapan mau berkunjung ke rumah.?" mengalihkan pandangan pada besannya.
"Gak tahu, besok mau pulang kampung." jawab pak Nanang sedikit berpikir.
"Loh, cepat benar,? kenapa gak lebih lama di sini besan.? kan di sini pasti jarang-jarang, lebih lama lah tinggal, apa sih yang di cemaskan.?" ucap Bapak Dimas.
Pak Nanang mengerutkan dahinya, "Emang benar, tapi mantu dan putra saya meninggalkan kerjaannya,"
"Biar mereka duluan, anda tinggal lebih lama, jika tak menginap di sini kan bisa di tempat saya.!" ujar Bapaknya Dimas.
Dimas yang mendengarkan percakapan Bapak dan mertuanya, memandangi wajah sang mertua. "Kalau Bapak ingin lebih lama di sini,? aku bisa undurkan, waktu keberangkatan."
"Egak ah, biar besok aja pulangnya, kasian mereka," jawab pak Nanang.
"Mereka juga pasti betah sih Pak, cuma ya aku mengerti, apa lagi Papanya Anisa," sambung Dimas.
"Gak apa-apa besok aja," sahut pak Nanang.
"Hem.. kalau begitu, gimana sekarang saja ke tempat sayanya.? Bapaknya Dimas dengan tatapan harapan.
"Boleh, Dim Bapak ikut ketempat besan.?" seolah minta persetujuan.
"Boleh Pak, apa mau mengajak si Aa dan Bapak Anisa.?" tanya Dimas,
"Ajak aja." sahut pak Nanang, sembari beranjak, Dimas yang mengerti tujuan sang mertua kemana,? ia langsung berdiri. "Biar saya yang cari mereka ke atas, Bapak duduk aja dulu, tunggu di sini."
"Biar, Bapak aja Dim." kata pak Nanang.
"Saya saja Pak," sembari mempercepat langkahnya, menaiki anak tangga mencari keberadaan adik iparnya.
Dimas membuka pintu kamar, ternyata mereka tengah baringan, berdua sibuk dengan ponsel masing-masing. "Kata Bapak mau ikut ke tempat orang tua saya gak.?"
Adik iparnya bangun dan duduk. "Sama Abang gak.?"
Dimas duduk di kursi, "Nggak, Bapak aja sama keluarga aku mau pulang,"
"Mau ikut gak A.?" tatapan bapaknya Anisa beralih ke si Aa, yang di tanya beranjak, "Ikut atuh, jalan-jalan kita." sambil merapikan pakaiannya.
__ADS_1
"Ok, ikut aja, besok jadi kita di pulangkan.?" menyeringai.
Dimas menoleh dan berkata, "Kalau masih betah, bisa aku batalkan kok, tiketnya."
"Betah sih, tapi kan saya meninggalkan anak istri di rumah, gak tahu si Aa.?"
"Saya mah betah, tapi lain kali aja kesini lagi lah, untuk sekarang pulang aja dulu kita." jawab adiknya.
"Ok, kalau begitu besok pagi-pagi aku antar ke bandara, padahal Aa di sini aja biar istri saya ada temannya." sambung Dimas.
"Lain kali saja aku main kesini Bang." sahut si Aa.
"Kapan ini teh, berangkat ke tempat orang tuamu.?" tanya suami Lely.
"Tahun depan.?" sahut si Aa.
"Sekarang." Dimas keluar kamar.
"Oh, sekarang.? aku kira tahun depan, he..he..he.!" kemudian mengikuti langkahnya Dimas.
Mereka berjalan menuruni tangga, sampat di bawah semuanya sudah bersiap memasuki mobil kijang milik keluarga Dimas.
Tok,tok,tok, suara pintu kamar Naya di ketuk.
"Siapa.?" Sahut Naya yang memainkan ponselnya sembari baringan.
"Oh iya, adik-adik ikut gak Pak.?" sembari mendudukkan tubuhnya.
"Ikut, sepertinya, kan besok kami mau pulang," ujar pak Nanang.
"Iya, hati-hati aja." lirih Naya. pak Nanang menutup pintu kembali, berjalan keluar di sana sudah berada mantu dan putranya.
"Emang muat Bang.?" tanya si Aa pada Dimas.
"Muat, yang lain pake motor." sahut Dimas. "Em..Bapak dari Naya kah.?" menatap sang mertua.
"Iya, bilang mau berangkat." jawab Pak Nanang, mendekati mobil. "Bapak berangkat dulu ya Dim.?"
"Iya pak, hati-hati.?" Dimas mengantar ke halaman sampai mereka masuk mobil, sebagian menumpangi motor, seperti Sandy beserta istri, dan Mari dengan suami.
"Dimas, bilang sama istrimu, kami pulang dulu, nanti kami kesini lagi mengantar mereka." kata Bapaknya Dimas,
"Iya Pak, hati-hati." Dimas berdiri melihat kepergian mereka semua.
"Dimas Mamak pulang dulu, nanti ke sini lagi sekarang gak enak dengan besan kalau Mama gak pulang dulu." ucap bu Hesa menatap putranya, Dimas mengerutkan kening, ia kira Mamanya di mobil ternyata naik motor dengan sang adik.
"Iya Mak." Dimas mengangguk. "Semoga Mamak bisa menerima Naya menjadi menantunya." batin Dimas, berjalan masuk meninggalkan pekarangan, menutup pintu, dengan langkah yang sedikit berlari menuju kamar pribadinya.
"Yang, kok sepi.? emangnya semua pulang,?" tanya Naya yang berdiri depan pintu.
__ADS_1
Dimas mendekati Naya, "Iya pulang dulu, katanya nanti sore balik lagi sambil mengantar mereka.
"Em.., si Aa ikut juga.?" sambil berpegangan pada tangan Dimas.
"Ikut dia, mau kemana yang.?" tanya Dimas. Naya mendongakkan kepalanya, secara kan Dimas tinggi sedangkan dia di bawah rata-rata, "Aku mau ke dapur mau lihat ada apa.? kalau gak ada apa-apa kamu harus belanja."
"Ya udah aku antar," Dimas membungkuk dan membopong sang istri ke dapur, Naya pun mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Padahal, aku biar jalan sendiri yang.. cuma ke dapur ini kok." lirih Naya.
Dimas tersenyum, "Gak pa-pa yang selama aku ada di rumah, nanti kalau aku lagi kerja, gak ada di rumah, sayang harus bisa menjaga diri sendiri."
"Iya yang, soal jatuh mah aku dah biasa jangan khawatir." seru Naya menarik senyum.
Dimas mendudukkan Naya di kursi dapur. "Eh, gak boleh gitu yang, harus hati-hati, jangan sampai terjatuh, kalau geger otak gimana.? sembarangan."
Naya tersenyum. "Emang begitu, sudah gak aneh kan.? hi..hi..hi.."
"Hah, susah di bilanginnya," Dimas mencubit hidung sang istri.
Naya melihat-lihat isi lemari pendingin, "Yang.., gak ada apa-apa nih, yang cuman mie instan aja."
"Terus.?" Dimas alisnya terangkat.
"Aduh sayang.. ya belanja dong, kok nanya sih.?" Naya melirik Dimas yang berlaga bingung. kalau bukan kamu siapa lagi.? yang mau belanja, aku sih mending gak makan.!"
"Iya sayang iya, sekarang bikin mie aja dulu, habis makan aku belanja untuk sayu minggu ok.? sudah jangan cemberut." goda Dimas duduk di kursi dekat meja, Naya memasak mie buat suaminya.
Dua menit kemudian mie pun matang. "Ini yang sudah matang, bawakan ke sana."
Dimas membawa mie yang sudah di masak Naya, "Kita makan bersama yang.?" menoleh istrinya yang masih berdiri dan mencuci tangan, Dimas duduk meniup mie yang masih panas.
"Yang.., katanya ilmu kesehatan mengatakan makanan panasndan ataupun minuman panas jangan di tiup, sebab beribu-ribu kuman yang keluar dari mulut kita, justru akan menjadi penyakit." tutur Naya sambil duduk di sebelah Dimas.
Dimas tertawa kecil, "Iya sih yang..,sudah gak sabar he..he..he.."
"Hem.., tunggu sebentar, apa susahnya,?" sambil mendekatkan gelas berisi air putih.
Akhirnya hanya mengaduk-ngaduk, sembari perlahan di masukan ke mulut, bergantian dengan Naya saling menyuapi, "Aku sudah cukup yang,"
"Hah, baru tiga suap yang.?" Dimas mendekatkan sendok ke mulut Naya, namun Naya menggeleng.
"Sudah kenyang yang, abiskan saja,! aku mau ke kamar ya.?" Naya meneguk air putih yang ada di depannya.
"Nggak, tunggu bentar, akan aku antar." Dimas menghabiskan mienya dengan cepat, dan di sudahi dengan minum, "Sebentar, mencuci dulu bekas makan." Dimas membawa ke wastapel mencuci dan merapikannya, Naya mengamati tingkah suaminya.
,,,,
Met malam reader ku, semoga kabar kalian dalam lindungan Allah yang maha kuasa, terimakasih masih berkenan mampir di novel ini. jangan lupa tinggalkan jejak ya.?
__ADS_1