Bukan Mauku

Bukan Mauku
LDR sampai menikah


__ADS_3

Mulanya Citra berharap yang Dimas sebut pangeran mu sudah datang adalah dirinya sendiri, namun dengan lirikan mata Dimas tertuju pada Endro, hati Citra merasa terhiris pedih, lebih pedih dari luka yang tengah dia rasakan saat ini, orang-orang mengira Citra menangis karena kejadian yang dia alami, padahal karena luka cinta yang tak terbalaskan.


"Sabar Citra.., kau pasti cepat sembuh, apa lagi sudah di tengok pangeran mu itu," ucap salah seorang yang ada di sana, melempar lirikannya pada Dimas karena dia tau kalau Citra sangat mengaguminya.


Perasaan Citra semakin campur aduk tak menentu, dan menangis semakin histeris, sementara Endro merasa sakit di ulu hati, mendengar sebutan pangeran yang di tujukan pada Dimas.


"Bro, tunjukkan kalau kau sayang sama gadis seksi mu itu,? jangan menyerah, pepet terus.., jangan sampai lengah," bisik Dimas sambil menyeringai pada Endro yang menunduk.


Endro mengangkat wajahnya dengan seutas senyum di bibirnya, "Makasih bro.?


Setelah cukup lama, mereka berpamitan pulang, Citra bergelayut di tangan Dimas, ketika mereka beranjak keluar, "Kau jangan pulang dulu ya,? temani aku sebentar saja, kau tau ini semua karena kau yang meninggalkan di perkebunan sawit itu, aku jadi celaka, kau harus bertanggung jawab dokter Dimas," Citra lirih seakan berbisik hingga tak ada yang mendengar.


Dimas seketika menatap tajam pada Citra, "Jangan macam-macam kau, semua salah kau, saya tak pernah menyuruh kau terus menguntit saya,?" menepis tangan Citra, "Harus berapa kali saya jelaskan, kalau saya ini sudah beristri,?" dengan tatapan sangat tajam dan nada penuh kekesalan.


"Saya mau di jadikan Istri kedua darimu Dimas," lirih serta tatapan mata yang nanar.


"Kau..,?" Dimas menunjuk Citra dengan telunjuknya, lalu melirik Endro yang baru keluar dari toilet, "Jangan harap kau,?" rahang Dimas mengeras, dan berlalu meninggalkan tempat tersebut.


"Jaga bidadari kau itu,? jangan biarkan dia mengganggu saya," ucap Dimas sambil melengos dan melintasi Endro.


Endro melongo mencerna ucapan Dimas, lalu melirik Citra yang berbaring dan Endro segera membantu.


Di jalanan, tengah melesat sebuah mobil yang di kemudikan oleh Dimas membawa empat kawannya balik ke Rumah sakit, di pikirannya masih terngiang, kata-kata Citra yang bersedia menjadi istri kedua dirinya, "Gila.., tuh cewe,?" gumam Dimas sambil membanting setir yang di kemudikan nya.


"Kenapa,?" tanya salah seorang dokter yang duduk di sampingnya.


Dimas melirik sekilas orang yang baru saja menyapanya, "Oh, tidak apa-apa dok," Dimas fokus kembali pada setir mobil, yang lain saling pandang merasa heran, dengan Dimas.


"Apa kau cemburu sama si Endro kawan,? kenapa kau sok qull di depan si Citra sok jaim, kalau suka ungkapin saja dok,?" ucap salah seorang yang duduk di belakang Dimas.


Dimas menggeleng, "Hah saya cemburu,? gak salah tuh,? justru saya memberi kesempatan pada Endro untuk mendekati Citra agar dia berhenti menguntit saya," ujar Dimas, lalu dengan tangan kirinya ia merogoh kantong celananya mengambil dompet dan mengeluarkan kartu tanda pengenal (KTP) terus di perlihatkan pada semua yang ada di dalam mobil kalau status dia sekarang adalah sudah menikah.


Sontak semuanya merasa kaget dan tidak percaya, mereka pikir kapan menikahnya tak ada undangan pun, juga tak ada berita tentang pernikahan Dimas, jelas mereka tak ada yang menyangka kalau Dimas sudah menikah, lalu Dimas mengeluarkan sebuah foto ukuran KTP foto dia dan Naya ketika ijab kabul.


"Kapan nih,? kok gak ada undangan, kenapa kalian menikah diam-diam,?" tanya seorang dokter perempuan.


"Nggak diam-diam dok, saya menikah di daerah Semi Jawa Barat, ketika saya dari bandung," sahut Dimas sambil tetap fokus menyetir.


"Kok bisa dok, dapat orang sunda,? katanya orang sunda lebih menggoda,? ha..,ha..,ha..," ucap dokter yang di samping Dimas.


"Iya bener, kok bisa,? kenalnya di mana dok,? gak mungkin kan ketemu terus menikah,?" sambung dokter wanita.


Dengan rona wajah bahagia dan menebar senyumnya, "Ceritanya panjang, kalau harus di ceritakan sih tidak cukup satu hari satu malam, ha..,ha..,ha..," Dimas terkekeh sendiri, "Hubungan kami bukan satu dua tahun, dan kami hubungan LDR, dan aku mengenalnya lewat sambungan telepon nyasar."


"Hebat.., LDR sampai menikah gitu, memang kalau sudah jodoh pasti bertemu juga," ucap salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Kenalkan dong pada kami..,? gimana kalau kami berkunjung ke rumah kau dok, boleh tidak,?" ujar dokter wanita, dan di respon oleh yang lain.


"Tentu boleh, akan dengan senang hati," sahut Dimas tersenyum manis.


"Nanti kami kasih kabar lah kalau sudah pasti waktunya," sambung mereka.


"Aku penasaran dok, apa si Citra tahu bahwa kau sudah menikah,?" tanya orang di samping Dimas, dengan tatapan penuh penasaran.


"Tau, sudah saya bilang berapa kali, namun mungkin dia tidak percaya kali, makanya dia seperti itu," jawab Dimas sekilas melirik.


"Wah kalau aku ambil aja semuanya, sayang kan si Citra di anggurin, mending embat saja, sayang mubazir, cantik, pintar, body gold, calon dokter pula, siapa sih yang gak suka,?" ucap dokter laki-laki di belakang Dimas, sontak yang lain kebetulan di sampingnya dua dokter wanita, memukul-mukul dokter tersebut dengan tas nya, "Huh.., dasarnya aja buaya kau, gak sayang istri kau, dasar laki-laki."


Dimas dan orang di sampingnya tertawa, menyaksikan kawannya jadi sasaran dua dokter wanita di belakang mereka.


Akhirnya mereka sampai di halaman Rumah sakit, satu-satu mereka turun dan mengucap terimakasih pada Dimas, di balas dengan anggukan oleh Dimas.


Setalah kawan-kawannya masuk rumah sakit, Dimas langsung pulang ke rumah, dengan hati masih kesal akan ucapan Citra yang ngeyel, dan terus menggodanya.


Di rumah


Setelah kepergian Bi Taty Naya ke dapur, untuk memasak, itupun kalau ada yang bisa di masak, Naya melihat-lihat lemari pendingin, mencari bahan untuk di masak, kebetulan masih ada ikan, dan sayuran bayam, Naya mengambil itu lantas memasaknya dengan senang hati, beberapa puluh menit kemudian Naya berkutat di dapur, akhirnya selesai, masakan siap di sajikan.


Naya mengamati apa saja yang tidak ada di dapur, bahan-bahan masakan semuanya Naya catat, lalu memesan semua belanjaan dari online, biar nanti bi Taty tak usah belanja ke pasar atau warung, karena kali ini Naya belanja sangat banyak buat stok.


Selepas menerima telepon dari Dimas, Naya duduk santai di sofa dapur untuk menunggu orang yang mengantar belanjaannya.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya yang Naya tunggu datang juga, Naya persilahkan masuk langsung ke dapur, "Abang, makasih ya,?"


"Iya Bu,?" Abang yang ngantar belanjaan pergi setelah menerima uang bayarannya.


Naya membereskan belanjaan ke tempatnya, lalu Naya naik ke lift ingin ke kamarnya tuk istirahat siang, sambil menunggu Dimas pulang.


Kini Naya sudah berada di kamar dengan lunglai Naya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang besar itu, pikirannya menerawang jauh entah kemana, sampai rasa kantuk menyerang, mata Naya terpejam dan memeluk guling.


Sekitar pukul tiga sore Dimas sampai di rumah, setelah memasukan mobil ke garasi, Dimas berjalan gontai ke dalam rumah, kebetulan membawa kunci sendiri ia menutup pintu kembali dan menguncinya, matanya mengedar ke setiap ruangan, kosong, "Oh iya, Bibi kan pulang," gumam Dimas pelan.


"Assalamu'alaikum..,? biarlah malaikat yang menjawab salam dariku," Dimas bergegas menaiki anak tangga, sampai di depan pintu, Dimas mengucap salam lagi, namun tak ada juga yang menjawab, lantas membuka pintu kamar, click..,suara kenop pintu di putar, black.., daun pintu terbuka lebar, Dimas melangkahkan kakinya tak lupa menutup pintu mendekati Naya yang tengah tidur, tampak pulas sekali.


Ia menyimpan tas, kunci mobil dan ponsel di atas meja sebelah tempat tidur, sambil membuka kancing kemejanya Dimas naik mendekati istrinya tengah memeluk guling, rasa kesal dan capek tadi hilang sudah, setelah melihat wajah sang istri, cup.., Dimas mendaratkan kecupan di kening sang istri.


Naya menggeliat, karena merasakan lembab di keningnya Naya perlahan membuka mata dan memicingkan pada Dimas, "Sayang sudah pulang,?" dengan suara parau khas bangun tidur, yang terdengar sangat seksi di telinga yang mendengarnya, begitupun Dimas sangat gemas.


"Aku masih di jalan sayang,?" dengan seutas senyum di bibirnya, membuat Naya pun memperlihatkan barisan giginya.


"Kenapa sih istriku sangat cantik,? apa lagi bangun tidur seperti ini,?" menatap lekat-lekat wajah Kanaya.

__ADS_1


Sambil membuang muka, "Mulai gombal, Kesamben apa sih,?" masih dengan suara serak dan mengusap pelipis Dimas.


Membuat Dimas semakin geregetan dengan suara Naya dan memeluk tubuh sang istri yang masih tiduran, "Kenapa sih istriku sangat menggodaku hem,?" sambil mencium pipi sang istri.


"Ih, siapa yang menggoda sih,?aku tidak menggoda, lagian menggoda gimana coba,?" Naya dengan herannya.


"Dengan suaramu, dengan manja mu, dengan bibirmu, membuat diriku ingin selalu menerkam, dan menikmatinya selalu dan selalu," bisik Dimas dengan tatapan sangat lembut.


"Ya udah, aku gak bicara lagi, dan aku tutupi wajahku ini agar kau tak melihatnya lagi," Naya tersenyum malu lantas menarik selimut untuk menutupi wajahnya dari pandangan Dimas, namun segera Dimas tarik kembali selimut tersebut, "Hah, rugi bah.?"


"Rugi kenapa,? kan agar kamu tidak melihat wajahku,? dari pada menggoda kan,?" Naya menarik selimut yang Dimas pegang erat.


"Ya rugilah, aku gak bisa menikmatinya dong," Dimas memiringkan wajahnya, merasakan hangat napas keduanya di wajah masing-masing akibat dekatnya jarang kulit mereka, kemudian tak ada yang bersuara lagi kecuali suara napas mereka yang berhembus, wajah Dimas semakin mendekati bibir Naya yang merah jambu dan asli bukan merah polesan lipstik.


Dimas menempelkan dan perlahan **********, menikmati setiap sentuhan yang sangat bergelora semakin lama semakin memanas, hanyut dalam lautan rasa yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata author, Dimas semakin menuntut ke setiap inci milik sang istri, adik kecilnya sudah meronta meminta haknya, mulai mencari sarangnya, membuat kepala Dimas berdenyut pusing, dikarenakan istrinya masih M menjadikan Dimas mencari cara untuk bisa membujuk adik kecilnya, Naya membiarkan setiap sentuhan sang suami, agar ke inginan nya tersalurkan meski ia masih berhalangan.


Naya merasa kasihan pada suaminya namun apa daya, sadang banyak-banyaknya, lama.., mereka bergulat di atas tempat tidur hingga akhirnya Dimas mengakhiri dengan kecupan lembut di kening sang istri, ia turun dari tempat tidur bergegas memasuki kamar mandi, untuk menenangkan adik kecilnya yang masih meronta, mengguyur dengan air dingin, berharap akan berkurang dan segera tidur.


Naya menggigit bibir bawahnya merasa ada yang kurang, melihat Dimas melengos ke kamar mandi, Naya bangun mendekati lemari untuk mengambil pakaian Dimas, setelan santai di rumah, Naya simpan di atas tempat tidur, lalu Naya mendekati pintu balkon, Naya menghirup udara sore di sana, berdiri di dekat pagar balkon menatap langit senja yang indah, dimana mata hari mulai tenggelam ke sebelah barat.


Langit senja memerah terkena sinar matahari sore, semakin indah di pandang mata, "Ya Allah.., sampai detik ini aku masih menikmati indahnya dunia, meskipun langkahku terbatas namun begitu banyak nikmat yang mungkin aku pungkiri," Naya menghela napas panjang, "Nikmat yang lupa aku syukuri, yang diantaranya kau telah memberikanku suami yang sangat baik dan sangat menyayangiku, apa yang akan mampu berikan untuknya ya Allah,?" Naya memejamkan mata, lalu membukanya kembali.


"Sayang, sedang apa di sana,?" Suara Dimas memecah keheningan.


Naya membalikan badan, bersandar dan kedua tangan memegangi pagar balkon, sambil menarik napas lalu menghembuskan panjang, "Menghirup udara segar, sudah mandinya.?"


"Sudah sayang,?" Dimas mendekati tubuh Naya dan memeluknya, "Yang, kau bahagiakan hidup bersamaku.?"


Naya mendorong dada suaminya, lantas Dimas memberi jarak agar bisa saling pandang, "Kenapa bertanya seperti itu,?" Naya duduk di kursi, sebab kakinya terasa pegal, Dimas pun mengikutinya.


"Aku akan berusaha membuat bunda bahagia, semampu aku, dan tidak ada yang bisa memisahkan kita," Dimas merangkul pinggang Naya.


"Aku bahagia sangat, dan bersyukur, telah memiliki suami yang sangat baik, ganteng, pintar, perhatian, sangat menyayangiku dan begitu perduli padaku,?" dengan senyuman di bibirnya.


"Duh sayang, ya.., ya.., ya.., hidung ayah terbang bunda,?" canda Dimas melihat ke langit, memegangi hidung mancungnya, sehingga Naya melebarkan senyumnya.


"Itu masih ada ah," Naya memegangi tangan Dimas yang menutupi hidungnya.


"Mana bunda,? sayang sih puji-puji aku, jadinya hidung aku terbang ke langit," Dimas menggoda Naya, Naya memukul bahu Dimas, lantas Dimas meraih bahu Naya ke pelukan membenamkan kepala Naya di dadanya..


"Sayang.., itu sudah kewajiban diriku untuk menjaga dan menyayangi dirimu, apa lagi sekarang bunda jauh dari orang tua, kalau bukan aku yang memperhatikan bunda, menjaga bunda dan menyayangi bunda, siapa lagi,? kalau bukan suamimu ini sayang hem,? selain aku siapa lagi bunda,? lagian.., aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki bunda, kecuali aku, dan hanya aku."


,,,,


Hi✋reader ku, apa kabar semuanya,? semoga kabar baik ya, semoga dalam lindungan Allah yang maha kuasa, terimakasih masih setian dengan karya aku ini, ok jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya ya agar aku tambah semangat💪

__ADS_1


__ADS_2