
Sepanjang jalan, tidak lagi debat diantara mereka, hanya obrolan orang lain yang terdengar begitu riuh, Yuda asik dengan rokok di jarinya, pria 8tu tak perduli dengan ocehan Ibu-ibu yang terganggu dengan asap rokoknya Yuda, hanya dengan lirikan tajam dan sama sekali tidak perduli pada yang ngoceh.
Berapa jam kemudian Yuda sudah sampai di alamat tujuan, "Rasanya sudah banyak berubah ya.? banyak bangunan yang dulu tidak ada." seru Pamannya Yuda.
"Hemm."
"Yakin masih di sini.?" paman Yuda agak ragu, dengan perubahan yang ada, dulu dari jalan langsung terlihat rumah panggung menghadap jalan sekarang tak terlihat, yang ada serang terlihat dari jalan adalah sebuah rumah kecil bertingkat.
"Yakin, pasti masih di sini." jawab Yuda matanya tak lepas mengamati tempat tersebut, Yuda turun melintasi jembatan, sepertinya sedang ada acara di rumah yang menghadap jalan cuma sekarang terhalang oleh rumah bertingkat tersebut.
"Permisi, mau tanya, ini masih rumah Kanaya.?" tanya Yuda pada seorang bapak-bapak yang melintas depan Yuda berdiri.
Bapak tersebut bengong. "Gak tau kang, setau saya mah yang ini rumah mang Nanang.!" menunjuk salah satu rumah.
Yuda dan pamannya saling pandang, dan meneruskan langkahnya, mendekati teras rumah tersebut,
"Assalamu'alaikum,?" Yuda berdiri mengamati orang-orang yang ada di situ, ya ia masih mengenal bapak mertuanya, Yuda mendekatinya.
"Wa'alaikum salam..," jawab yang ada di teras, ada yang menatap heran karena tak kenal, pak Nanang tersenyum berjabat tangan dengan kedua orang tamu itu.
"Apa kabar pak.?" ucap Yuda sembari mengangguk hormat, begitupun pamannya Yuda.
"Baik, alhamdulillah, silahkan masuk, masuk,?" pak Nanang menyuruhnya masuk, Yuda dan pamannya mengikuti langkah pak Nanang, dan duduk di ruang tengah.
Mata Yuda masih mencari keberadaan Naya, ia sudah tidak sabar, dan penasaran apa Naya masih seperti yang dulu.? apa akan memaafkan dan mau di ajak kembali,? kalau saja tak malu ingin dia langsung mendatangi langsung ke kamarnya Naya.
"Ada acara apa nih Pak.?" Yuda menatap penuh selidik, di dapur, ada Ibu-ibu tengah sibuk memasak, dan membuat bingkisan.
"Oh, sedang ada acara syukuran buat nanti sore," jawab Pak Nanang yang menatap tajam.
"Hemm.., Naya mana pak.? saya ingin bicara dengannya." tanya Yuda dengan mata mencari-cari.
"Ada, oya, ada apa maksud kedatangan kamu kesini.?" ucap pak Nanang, menyelidik.
"Saya..,kesini, bermaksud meminta maaf, atas segala yang telah aku lakukan, yang telah menyia-nyiakan Kanaya, saya sangat menyesal, sangat menyesali semuanya, saya tidak menjadi suami yang baik untuknya," Yuda menunduk dalam, pak Nanang hanya diam.
__ADS_1
"Atas nama Yuda, dari hati yang paling dalam, saya memohon maaf sebesar-besarnya, atas apa yang telah di lakukan Yuda kepada Naya," sambung paman Yuda, pak Nanang mengangguk.
"Dulu saya percaya kalau kamu akan menjadi suami yang baik, untuk Naya tapi ternyata tidak, kamu malah mengabaikan nya, tapi mungkin saya kurang paham dengan apa yang anak saya rasakan, sebaiknya kamu bicara langsung dengan anak saya," ujar pak Nanang.
"Dimana Kanaya pak.?" tanya Yuda menatap sendu mertuanya.
Dimas dan Naya tengah berada di rumah Lely, tadi Dimas membopong Naya ke sana, sehingga mereka duduk mengobrol, dengan tenang, karena kan di rumah ramai, kini kepala Dimas tiduran di pangkuan sang istri, tak perduli dengan anak-anak seperti Anisa dan yang lainnya toh cuma tiduran gak lebih,
"Yang, kalau kita tinggal di sini aku bingung mau kerja apa.? kerjaan aku kan di daerahku, jadi ikut aku ya.?" ucap Dimas, Naya terdiam. "Aku gak akan biarkan kamu jauh dariku, kalau kau tidak mau juga, akan aku paksa ikut.!" Dimas tersenyum menang. "Yang..?"
"Hem." sahu Naya sambil melihat TV, Dimas beranjak duduk, di samping Naya dan mencubit pipi gembul Naya.
"Eh, tadi siapa ya.? lewat depan berasa kenal deh.?" ucap Naya. "Tamu wa..," jawab Anisa.
"Tamu Siapa.?" selidik Naya, "Oya yang Om fadil dah sampai mana.? udah di tanyain belum.?" Naya melirik suaminya.
"Belum, biar aja bah." sahut Dimas, dan melirik Lely.
Lely menghampiri. "Teh ada tamu."
"Kayanya mantan suami kamu." jawab Lely duduk di tengah mereka.
Deg.
"Siapa.? mantan kamu yang.?" Dimas kaget, dan penasaran ingin bertemu dengannya, Dimas beranjak dari duduknya. "Mau kemana yang.?" Naya mendongakkan kepalanya, jantungnya berdebar tak menentu, tak menyangka akan bertemu mantan suami yang sekian waktu, telah menelantarkan dirinya.
"Mau bertemu mantan suami mu yang super baik itu." Dimas senyum sinis.
"Temani aku di sini." pinta Naya cemas, Dimas duduk kembali dan menggenggam tangan Naya.
Dari pintu dapur pak Nanang datang mendekati Naya, yang di ikuti dua orang pria meski lama tak bertemu, namun Naya kenal dengan wajah Yuda walau samar. mereka duduk diantara Naya dan suami.
Yuda melihat inten seorang wanita sedikit gemuk mengenakan kerudung, ia yakin kalau dia adalah Kanaya mantan istrinya, yang sudah ia telantarkan.
Dimas menatap tajam yang ia yakini itu mantan suami istrinya. tersenyum sinis. "Dia rupanya, laki-laki bodoh."
__ADS_1
"Naya..,?" panggil si Yuda.
Naya menatap Yuda dengan tatapan yang nanar, bibirnya bergetar, "Sayang ada aku, tenang saja." bisik Dimas menggenggam jari-jari Naya dengan erat.
"Apa kabar.? mas mau minta maaf sama kamu, mas menyesal telah menelantarkan kamu, mas sudah membuat kamu kecewa, mas sudah menjadi suami yang tidak bertanggung jawab." ucap Yuda menatap Naya yang tertunduk,
Naya terdiam seakan tak ingin mengeluarkan suara sedikit pun. Dimas yang menatap tajam Yuda ingin rasanya menampar wajahnya, sebagai ungkapan kesal ia karena dulu telah menyianyiakan wanita yang kini jadi istrinya, namun seharusnya ia malah harus bersyukur karena kalau Yuda tak meninggalkan Naya, tidak mungkin sekarang ini Naya ia nikahi, akhirnya Dimas tersenyum penuh kemenangan.
Karena Naya hanya diam, Yuda ingin meraih tangan Naya. namun di tepis oleh tangan Dimas, membuat Yuda melotot kan matanya kearah Dimas pria tampan putih bersih, yan duduk berdempetan dengan Naya.
Dalam hati Yuda bertanya. "Siapa laki-laki itu.?"
"Buat apa kamu kesini mas.? sudah cukup dulu Kamu sia-siakan aku di saat aku sangat berharap sama kamu, kamu kemana disaat aku membutuhkan sosok suami.? yang kau beri cuma janji dan janji, membuat aku lelah bahkan surat cerai pun tak kamu buat mas.?" Naya membuang pandangan ke sembarang tempat.
"Saya sangat menyesal, saya mohon maaf saya hilaf waktu itu." sahut Yuda memelas.
"Hilaf.? hilaf dalam waktu yang cukup lama.? di mana nurani kamu sebagai suami.? meninggalkan aku setelah 3hari menikah, berbulan-bulan kamu gantung aku, tanpa nafkah sekalipun, bahkan orang tuamu pun tidak perduli sama aku, malau kau bilang akan menikahi wanita lain, di saat menjadi suamiku, kau cerai aku lewat telepon, setelah kamu gantung aku berbulan-bulan, kini kamu minta maaf segampang itu." Naya tak mampu membendung lagi air mata, kedatangan Yuda adalah goresan luka lama, yang sudah mengering menjadi basah kembali dan menganga.
Dimas tak sedetik pun melepas genggaman tangannya, ia tak tega melihat sang istri terluka, menangis pilu, ingin rasanya memeluk, dan menenangkannya, namun ia melihat di sekitarnya banyak orang,
"Yang kuat sayang, jangan menangis." bisik Dimas lembut.
"Aku menyesal, maafkan mas, ijinkan kan mas memperbaiki diri mas, bila perlu aku akan bersimpuh di kakimu agar kamu memaafkan mas." Yuda memelas penuh permohonan, sebuah kemaafan dari Naya,
Helaan napas yang panjang, kemudian Naya hempas kan dengan kasar. "Aku sudah memaafkan mas, namun tak perlu repot-repot kamu datang, aku tak ingin melihat kamu lagi,"
"Mas minta, berikan kesempatan sekali lagi aku janji akan menjadi suami yan--!"
"Cukup mas, aku gak butuh janji, lagian aku sudah menikah lagi." Naya memotong erkataan Yuda, dan melirik sang suami yang terus memegang tangannya lembut.
Perkataan Naya seolah menusuk hati, bagai pedang menghujam dada, terasa sakit, pedih, membuat luka tak berdarah, dia merasa sesak di dada, tak mampu lagi berkata-kata.
,,,,
Assalamu'alaikum,..reader ku.? semoga kabar kalian ada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, terimakasih Masih mengikuti kisah yang recehan ini. terus dukung aku ya, jangan lua selalu lake, komen, dll nya, love love love.
__ADS_1