
"Baik,Tuan,?" sambil membawa beberapa kue di piring kecil, di simpannya depan Dimas.
Dimas mencicipi kue keringnya, "Enak, itu apa,? kue kek apa,?" menunjuk keu kek yang sudah di potong dalam piring.
"Mau kah yang,? bi tolong ambilin kuenya,?" pinta Naya sambil mengambil piring nasi dan sayur sup.
"Baik Bu,?" bi Taty memotong kue yang Naya pinta, dan memberikan pada Naya.
"Makasih Bi," Naya memotong dengan garpu dan menyuapkan pada Dimas, "Ini coba dulu yang,?" Dimas pun membuka mulutnya.
"Enak juga yang, tapi aku pengen makan nasi dulu bah, lapar nih," pandangan Dimas beralih ke piring yang berisi nasi sup dan ayam goreng.
Mereka makan dengan lahap, tak ada yang bersuara selama mereka makan, namun jantung Naya berdebar kencang ia sudah menerawang kalau berangkat ke spesialis nanti gimana ya..?
Usai makan Dimas meraih gelas berisi air putih, sampai tandas, lalu ia beranjak dari duduknya, "Mau kemana yang,?" tanya Naya pada Dimas yang sudah beberapa langkah.
Dimas menoleh, "Tunggu, mau ambil kunci dan dompet, sayang bawa ponsel,? ujar Dimas.
"Nggak lah, buat apa juga,? oya yang tadi aku kirim kue ke Mama, gak tau sudah sampai atau belum," kata Naya sambil memberskan piring kotor.
"Oh, nanti aku tanyakan, tunggu sebentar ya,?" Dimas mempercepat langkahnya meninggalkan Naya di dapur.
"Ok," Naya singkat, "Bi tolong nanti, kalau sudah gak sibuk cuciin piring ya,?" ucap Naya pada bi Taty yang masih memanggang kue.
"Aduh Bu, itu mah sudah tugas Bibi, jangan sungkan begitu sama Bibi, Bibi jadi tidak enak hati Bu," sahut bi Taty langsung menghampiri dan mengambil bekas makan.
"Hihi, takut Bibi kecapean," sambung Naya, Tidak lama Dimas kembali.
"Ayuk yang,?" Dimas mendekati Naya yang masih duduk.
"Naik motor yang,?" tanya Naya dengan tatapan penasaran pada suaminya.
Dimas mengangguk, "Iya, pake motor, mobil kan masih di tempat Mamak."
"Oh," Naya membulatkan mulutnya.
"Emang kenapa,?" mengernyitkan keningnya.
"Nggak, cuma ingin tau aja," sahut Naya.
"Sekarang pake motor aja dulu yang, lusa mungkin Sandy mengantarkan mobil kita ke sini," Dimas merengkuh tubuh sang istri, "Oya kata mereka kuenya enak, makasih."
"Oh, syukurlah," Naya merasa senang jika kirimannya diterima dengan baik, oleh sang mertua.
"Yuk ah, berangkat," Dimas menggendong Naya keluar berjalan menuju halaman yang ada motornya, di ikuti sama bi Taty.
Naya, Dimas dudukan di depan, "Yang.., aku takut, aku pegangan ke mana,?" ucap Naya dengan muka cemas.
Dimas mesem, melihat ekspresi muka cemas sang istri, "Ke depan lah, sayang peluk aku aja yang, jadi duduknya udah gitu, dengan kaki ke satu arah, biar enak peluknya.?
Naya malah semakin cemas, menatap Dimas, "Tapi.., jangan ngebut ya,? aku takut, jantungku gak kuat."
"Sayang.., kan ada aku, ngapain takut,?" dengan lirih, tangannya sudah mulai memegangi kedua setang motor.
Dimas sudah mulai tancap gas, sebelumnya mengenakan helm, "Bismillah.., Bi titip rumah ya,? kalau ada tamu, bilang saya ada urusan di luar.?
Bi Taty mengangguk pelan, ia ikut merasa cemas, "Iya Tuan, hati-hati Tuan bawa Ibu.?
"Tentu Bi, doakan kami ya Bi,?" jawab Dimas, Naya masih dengan muka cemasnya memandangi bi Taty, "Bi, kami tinggal ya,? semoga cepat pulang."
"Iya Bu," bi Taty memandangi kepergian majikannya, sampai hilang dari pandangan, kemudian melihat langit yang sedikit mendung, "Ya Allah..,semoga aja cuaca cerah, jangan hujan sampai majikan saya kembali,? kasian Tuan dan Ibu, mana pake motor lagi.''
Bi Taty masuk ke dalam rumah tak lupa mengunci pintu, meneruskan tugasnya tadi.
Naya yang di bonceng Dimas terus aja jantungnya tidak tenang terus berdebar tak menentu, tubuhnya menempel dengan tubuh Dimas, yang ia takutkan gak kuat pegangan, kemudian jatuh di jalanan, "Ya Allah.., lindungi kami berdua,?" sesekali memejamkan matanya.
"Tenang yang.., jangan terlalu cemas sepreti itu," ucap Dimas melihat sekilas kecemasan sang istri, suara Dimas campur aduk dengan hembusan angin.
__ADS_1
Naya hanya mengangguk pelan, selang beberapa puluh menit Dimas menepikan motornya di sebuah halaman klinik, dengan hati-hati Dimas memberhentikan motornya, membuka helm, dan membawa Naya masuk ke dalam klinik tersebut.
"Permisi sus,? saya pinjam kursi roda sebentar,? dan saya mau bertemu dokter Aldo," ucap Dimas mengangguk hormat pada salah satu suster penjaga.
"Oh, boleh pak, sudah buat janji ya,?" sembari menyuruh kawannya mengambilkan kursi roda dan memberikannya pada Dimas.
Dimas mendudukkan Naya di kursi roda agar lebih mudah untuknya, dan tinggal mendorongnya, "Iya, sudah saya sudah membuat janji, di mana ruangannya.?"
"Oh, tunggu sebentar ya pak,?" suster tersebut masuk ke satu ruangan bertuliskan dokter Aldo, spesialias tulang.
Dimas mengangguk dan duduk di kursi yang ada di sana, sebentar Suster sudah kembali, duduk di tempat semula.
Silahkan pak masuk, sudah di tunggu di ruangannya dokter Aldo, suster menunjukkan tempat dokter Aldo, Dimas pun mengangguk dengan ramah begitupun dengan Naya, Dimas mendorong kursi roda Naya menuju ruangan spesialis tulang tersebut.
Tok..
Tok..
Tok.., Dimas mengetuk pintu ruangan tersebut, "Sore dok.?"
"Sore juga, silahkan masuk,?" dokter Aldo mempersilahkan masuk pada Dimas dan Naya.
"Apa kabar dok, lama tak jumpa,?" Dimas mengulurkan tangan dan mereka pun berjabat tangan serta berpelukan, sebagai mana teman lama yang baru berjumpa semenjak sekian lama.
Dengan senyum ramah, "Baik juga dok, kau bah yang sombong, tak mau jumpa kawan nah."
Dimas tertawa kecil, "Sibuk bah, oya kenalkan ini istri saya, namanya Kanaya."
Aldo tersenyum pada Naya dengan uluran tangan mengajak salaman namun Naya hanya menyatukan tangan di dada sambil mengangguk dan senyum tipis.
Aldo menarik kembali tangannya, lalu mempersilahkan Dimas untuk duduk, setelah mereka duduk, "Em apa yang bisa saya bantu,?" ucap Aldo memandangi Dimas dan Naya bergantian.
"Begini dok seperti yang aku ceritakan waktu itu, saya ingin memeriksakan istri saya yang berjalannya kurang normal dan tidak kuat jauh, baru beberapa langkah capek gitu, ia Begitu dari kecil setelah sakit panas ya sayang,?" ujar Dimas sebentar melirik istrinya yang di jawab anggukan.
Aldo menatap lekat kearah Naya, "Apa yang sering anda keluhkan,? selama ini lemas yang berlibihan atau sakit, atau gimana.?"
"Maaf dok, apa istri anda tidak bisa bicara,? sehingga anda yang selalu menjawab pertanyaan saya,?" Aldo menatap lekat pada Dimas.
Dimas nyengir, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Bisa dok, hi..,hi..,hi..,"
Naya tersenyum, "Bener dok, yang suami saya bilang tadi, badan saya lemas tak bertenaga, kadang lutut bergetar, tak ada tenaga samasekali dok, apa tubuh aku terlalu gemuk ya dok.?"
Setelah mendengar ucapan Naya, dokter memperhatikan Naya dengan seksama, sambil menghela napas, "Kalau masalah tubuh sih normal aja kayanya, cuma.., memang alangkah lebih baiknya lebih di jaga akan kesehatan, makan yang lebih sehat melakukan sedikit diet Kak."
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, akhirnya terbuat sebuah kesepakatan bahwa Naya akan menjalani terapi seminggu sakali di rumah, biar lebih leluasa katanya, barulah Dimas memutuskan untuk pulang, "Terimakasih dok,? Dimas menjabat tangan dokter Aldo.
"Sama-sama dok, sampai jumpa lagi di lain waktu," ucap Aldo dengan raut wajah yang ramah.
Dimas mendorong sang istri, menuju parkiran, setelah Naya duduk di motor, Dimas menyimpan kursi roda di pinggir dan diambil sama suster, "Terimakasih suster," Dimas mengangguk di balas anggukan kembali oleh suster tersebut.
Dimas dan Naya sudah berada di jalan raya di antara roda-roda besi yang berlalu lalang, kebetulan cuaca mendung dan mulai gerimis, "Yang mau berhenti dulu apa mau langsung pulang,?" tanya Dimas, suaranya terbawa angin.
"Pulang aja yang, mungpung masih gerimis, kalau sudah di rumah kan tenang," sahut Naya suaranya tak kalah sayup-sayup terbawa angin menerpa.
"Ok," pekik Dimas, yang terus melajukan motornya, dengan kecepatan lebih dari semula.
Pas sampai rumah, motor langsung masuk garasi, hujan semakin besar mengguyur, dan sayup-sayup suara adzan magrib menggema dari kejauhan.
"Kalian baru pulang,? aduh mana ujan,?Bibi jadi khawatir," bi Taty membukakan pintu, "Untung sudah sampai, hujannya tambah deras Bu."
"Iya Bi, Alhamdulillah.., sampai sebelum hujan lebih deras yang." ucap Naya dalam gendongan sang suami, "Yang aku ingin duduk di dapur dulu, sayang masuk kamar aja dulu nanti aku nyusul."
"Nggak, langsung ke kamar aja, kalau butuh sesuatu tinggal ngomong aja sama Bibi nanti Bibi bawakan.
"Ia Bu, butuh apa,? nanti Bibi bawakan ke kamar,?" sambung bi Taty menawarkan diri.
"Bi bawakan air anget jahe dua ya Bi,?" pinta Dimas sambil membawa Naya ke dalam kamar.
__ADS_1
"Baik Tuan, sebentar Bibi antar ke kamar Tuan," sahut bi Taty mengangguk dan segera menyediakan minuman jahe yang Dimas pinta.
Dimas sudah berada dalam kamar, Naya masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu, untuk bersih-bersih, yang akan di lanjutkan sholat magrib.
Usai Naya keluar dari kamar mandi, Dimas hendak melangkah dan masuk ke kamar mandi, pintu di ketuk terdengar suara bi Taty, "Maaf Tuan dan Ibu, ini Bibi bawakan minuman jahe angetnya."
Dimas menoleh, sebelum masuk melintasi kamar mandi, Dimas mengambil minuman jahe lebih dulu, "Makasih Bi," Dimas mengambil minuman dari Bibi lalu menutup pintu kembali.
"Sebentar Tuan,?" kata bi Taty, membuat Dimas membuka pintu sedikit, dan menatap lekat kearahnya.
"Ada apa lagi Bi,.?"
"Em.., makan malam sudah Bibi siapkan," sambung bi Taty.
"Terimakasih Bi,?" ucap Dimas, "Bi tolong bawakan kue ya,?" pekik Naya dari dalam.
"Tuh kata istri saya Bi," Dimas memberi kode dengan dagunya akan permintaan sang istri, dan bi Taty mengerti lantas menjauhi pintu kamar majikannya.
Dimas membawa dua gelas minuman jahe, "Ini yang biar anget," memberikan pada Naya satu gelas dan yang satu ia teguk sampai tinggal sisa tiga perempat, ia simpan di atas meja sementara dirinya masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Naya meneguk air jahe anget, "Em.., anget dan nikmatnya..," lalu menyimpan di atas meja dekat ia berada.
"Bu maaf ini kuenya,?" bi Taty dari luar.
"Bawa masuk Bi," pekik Naya menyuruh masuk pada bi Taty.
Pintu di buka perlahan dan bi Taty masuk, ini pertama kalinya dia masuk kamar majikannya, ternyata dalamnya lebih mewah di banding terlihat dari Luar, depan tempat tidur ada sebuah poto besar bergambar wajah kedua majikannya, ya itu Dimas dan Naya, sedangkan Naya duduk di atas sejadah mengenakan mukena, setelah merasa puas mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan, "Maaf Bu, Bibi lancang masuk kamar," bi Taty menunduk.
"Tidak apa-apa Bi, kan aku suruh, oya simpan dekat meja, aku mau sholat dulu, tolong pintunya di tutup lagi ya Bi,?" pinta Naya,
"Baik Bu," bi Taty baru tahu kalau majikannya sholat sambil duduk, bi Taty sudah berada dekat dengan pintu.
"Oya satu lagi, Bibi makan aja duluan," sambung Naya.
"Iya Bu, Bibi pasti makan, Bibi keluar dulu, kalau butuh sesuatu lagi panggil aja Bibi ya Bu,?" bi Taty menutup pintu, berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Naya sholat magrib duluan, kemudian Dimas menyusul setelah mengenakan pakaian dangan rapi, usai berzikir membaca doa, kemudian mencium punggung tangan Dimas, begitupun Dimas mencium pucuk kepala Naya.
Lanjut belajar mengaji sebentar, dengan alasan capek, Dimas berdiri dan melipat sejadah, "Yang makan yuk lapar nih.?"
"Boleh, makan aja, aku gak lapar, mau makan kue aja," sahut Naya sambil melirik kue yang berada di atas meja dekat minuman jahe.
"Aku gak mau makan kalau sendiri males ah," sambil melengos keatas sofa dan duduk di sana.
Naya melihat gerak-gerik sang suami, "Katanya lapar, kok malas sih.?"
"Ya malas yang kalau sendiri gak di temani istri, setidaknya temani duduk," sahut Dimas sembari menghabiakan minuman jahenya.
"Aku mau sholat isya dulu ya,? nanti aku temani sayang makan," dengan lirih, Dimas tak menjawab.
Naya sudah selesai sholat isya namun Dimas tampak ketiduran di sofa, Naya merangkak mendekati Dimas, "Yang.., katanya mau makan,? kok tidur sih,? kasian sekali suami aku capek sekali rupanya."
Dimas tetap tidur sambil duduk punggungnya dan kepala bersandar di bahu sofa, "Gimana ya,? gak di bangunkan katanya tadi lapar, tapi.. di bangunkan gak bangun-bangun, kasian juga dia capek sekali," gumam Naya pelan.
Cup..,Cup.., Naya mengecup pipi kanan dan kiri Dimas dengan lembut, perlahan Dimas membuka mata dan tangan yang tadi di lipat di dada.
"Yang.., sayang belum sholat isya sudah bobo aja,? katanya mau makan kok bobo,? mau sholat dulu apa makan dulu hem..,?" Naya lirih sambil membelai rambut di belakang telinga Dimas.
Dimas mamandangi wajah Naya dengan tatapan lembut, "Aku ngantuk yang, capek, aku mau sholat dan kita bobo yang ya.?"
"Nggak mau, habis sholat sayang makan dulu aku temani ok,?" Naya menyentuh tangan sang suami.
Dimas berdiri lalu masuk kamar mandi, tak lama Dimas kembali dan menggelar sejadah, Naya tersenyum bahagia melihat sang suami mau melaksanakan sholat lima waktu meski masih dalam tahap belajar.
,,,,
Terimakasih ya reader ku, kalian masih berkenan mampir di karya aku, walau kadang aku kurang semangat tapi.., insya'Allh aku akan berusaha semangat💪 demi kalian yang suka, ayok mana yang merasa suka berikan lake, dan komen, rating dan vote nya, makasih..?
__ADS_1