Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mager


__ADS_3

Sore-sore Dimas sudah rapi karena ada pertemuan di sebuah tempat, yang mengharuskan ia pergi bersama Endro juga Dery, dokter Aldo gak bisa ikut karana ada suatu keperluan yang lebih penting lagi dan nanti bila urusannya selesai akan menyusul.


Dimas menoleh istrinya, "Bunda, hati-hati di rumah ya,? aku akan pergi dulu, sama Endro dan Dery."


"Aldo gak ikut kah,?" tanya Naya menatap Dimas.


"Tidak, nanti dia menyusul kalau ada waktu," sahut Dimas merangkul sang istri.


"Kamu juga hati-hati ya cepat pulang juga," sambung Naya.


"Iya Bun, pasti aku akan cepat pulang," sahut Dimas mengecup kening sang istri, "Ya udah, aku berangkat dulu ya, Assalamua'laikum."


"Wa'alaikum salam," Naya melambaikan tangan, pada Dimas yang menuruni tangga.


Naya berjalan menuju balkon dan ingin bersantai di sana, ia menduduki kursi di balkon dengan sangat perlahan dan hati-hati.


Dimas terus berjalan menuruni anak tangga, bergegas keluar menuju motornya yang sudah di panasi Pak Mad, "Pak jaga rumah ya, titip istri saya,?" ucap Dimas sambil mengenakan helmnya.


"Iya Pak," menunduk hormat.


Kemudian Dimas melajukan mobilnya sangat kencang, agar segera sampai ke tempat tujuan.


Di tempat yang sudah di janjikan Endro dan Dery sudah menunggu untuk pergi bersama, "Hi.., bro lamanya kau olahraga dulu ya,?" sapa Endro sekenanya.


"Kirain kalian belum berangkat, sorry bila saya terlambat," ucap Dimas menyunggingkan bibirnya.


"Ok, yuk berangkat,?" Endro menyalakan motornya.


Dery dan Dimas pun menjalankan motornya masing-masing, ketiga motor tersebut terus meluncur melintasi kuda-kuda besi yang lainnya.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat tujuan, mereka masuk dan menemui para rekan yang sudah siap meeting.


"Selamat sore menjelang malam semuanya,?" sapa Dimas pada semuanya.


"Selamat sore jelang malam juga," sahut yang ada di ruang tersebut.


"Maaf bila saya terlambat," Dimas menakupkan kedua tangan depan dagunya.


"Tidak apa lagian belum terlambat kok."


"Ya sudah, untuk menghemat waktu, rapat kita bisa dimulai sekarang saja," Dimas duduk diantara yang lain begitupun Endro dan Dery, Rapat pun di mulai.


Di rumah


"Naya..,?" panggi Bu Hesa dari balik pintu kamar Naya.


"Iya.., Mak sebentar," Naya segera mengenakan kerudungnya, dan berjalan dari balkon menuju pintu.


"Lama sekali kau, jalan seperti keong amat," pekik dari luar.


"Mak, kan memang seperti ini jalan aku gak bisa cepat, apa lagi hamil besar seperti ini," sahut Naya stelah membukakan pintu Buat Ibu mertua.


"Yang cepat dong jalan seperti kura-kura," ujar Bu Hesa sambil masuk ke dalam kamar celingukan.


"Mak..," lirih Naya kata-kata Ibu mertuanya sedikit menggores hati.


"Ada perlu apa Mak,? tadi Naya sedang duduk-duduk di balkon," tanya Naya lalu duduk di sofa di ikuti oleh Bu Hesa.


Bu Hesa menatap tajam, "Emangnya saya tidak boleh menemui kamu, tidak boleh masuk kamar ini.?"

__ADS_1


"Bu-bukan gitu Mak, boleh, tapi.., tadi aku Kira Mama ada penting gitu maksud aku," sahut Naya jadi serba salah.


"Nggak, saya ingin nemenin kamu saja," mengambil remote televisi lalu menekan dan menyalakannya.


"Tapi aku lebih baik sendiri dari pada di temenin tapi di bikin stres," batin Naya tersenyum samar.


"Sebenarnya saya sakit kepala," Bu Hesa memijat keningnya sendiri.


"Oya, sudah minum obat Mak,?" tanya Naya nampak khawatir.


"Sudah," bersandar di bahu sofa.


"Bapak kemana Mak,?" tanya Naya lagi.


"Keluar, haus ih, di sini tidak ada minum.?"


"Ada tuh air putih, sebentar aku ambilkan.


"Saya tidak mau air putih, saya mau jus buah aja," lirih Bu Hesa.


"Oh, biar 'ku minta sama Bibi agar membuatkan jus buat Mama," Naya merogoh saku mengambil ponselnya dengan niat menelpon Bibi tuk buat jus, ia malas tuk keluar kamar apa lagi harus teriak-teriak.


Tut..tut..tut..


"Kau telepon siapa,?" Bu Hesa duduk tegak memandangi mantunya ini.


"Telepon Bibi di bawah."


Bu Hesa kembali bersandar malah kali ini mengangkat kedua kakinya ke sofa, "Saya mau kau yang bikin kan sekali-sekali melayani Mama, apa salahnya kan,?" melirik dengan ekor matanya.


"Ta-tapi Mak, maaf aku lagi malas naik turun, berat Mak, minta tolong Bibi aja ya,?" ucap Naya pelan.


Ck.., Naya menggeleng pelan, kemudian dengan malasnya berdiri mengayunkan kaki membuka pintu hendak keluar, pas membuka pintu Bi Meri datang karwna mendapati panggilan tak terjawab dari Naya.


"Ada apa Bu,? maaf tadi Bibi sedang menidurkan Rita sebentar kebetulan dia agak panas."


"Iya kah Bi, apa sudah di kasih obat,?" tanya Naya menatap Bi Meri.


"Sudah Bu."


"Oh, semoga cepat sembuh Rita nya, itu tadi-!"


"Bibi, sini sebentar tolong pijit saya sebentar," ucapan Bu Hesa memotong perkataan Naya.


"Iya Nyonya sebentar, Ibu mau kemana,?" Bibi kembali melihat Naya.


"Cepat, pijit saya," pinta Bu Hesa kembali.


"Sudah, Bibi masuk aja," suruh Naya, Bibi pun masuk mendekati Bu Hesa di sofa, Naya menatap punggung Bi Meri kemudian melanjutkan langkahnya yang akan turun ke dapur untuk membuat jus untuk Ibu mertua.


"Aduh.., jangankan buat orang, untuk diri sendiri pun mager banget, malas naik turun nak, nenek mu ada-ada saja," Naya mengelus perutnya seolah mengajak ngobrol baby nya dan yang ada dalam perut pun seakan mengerti, mereka langsung aktif ketika Naya ajak bicara.


Naya mengupas buah yang akan dijadikan jus, Bi Taty menghampiri dirinya di sela kesibukkan memasak kebetulan Meri di atas, "Ibu duduk saja, biar Bibi yang buatkan."


"Tidak usah Bi, biar aku saja, lagian Bibi sibuk memasak," ucap Naya sambil melihat masakan Bibi Taty.


"Ya gak apa-apa Bibi tinggalin aja dulu, sini Bibi bantu, Ibu duduk saja, nanti pegal kakinya," kekeh ingin mengambil tugas Naya namun sama kekeh nya Naya tidak mengijinkan, dengan alasan Bi Taty pun banyak yang harus di kerjakan.


Akhirnya Bi Taty membiarkan dan meneruskan tugasnya, setelah jadi jusnya Naya menoleh Bibi.

__ADS_1


"Bibi..,?" Naya nyengir kuda.


"Iya Bu, ada yang bisa Bibi bantu.?"


"Hehehe, tolong bawakan ke kamar aku buat Mama, sebab kalau soal bawa membawa 'ku tidak bisa, tolong ya, biar masakan aku yang nungguin."


Bibi Taty menghampiri, "Baiklah, sini Bibi bawakan."


Sebentar Naya menggantikan Bi Taty sementara mengaduk-ngaduk masakan, selama para asistennya di atas.


Tok..


Tok..


Tok.., "Permisi..," Bi Taty mengetuk daun pintu yang terbuka, nampak di dalam Bu Hesa sedang di pijat Bi Meri.


"Masuk, kaya siapa aja ketuk pintu," ucap Bu Hesa sambil memejamkan matanya menikmati pijatan Bi Meri.


Bi Taty melangkah masuk dan menyimpan gelas bersama tatakannya di meja, Bu Hesa membuka mata kemudian mengambil gelas dan meneguknya, tiba-tiba jus yang sudah di mulut Bu Hesa di semburkan, hingga meja dan juga lantai di depannya kotor.


"Astagfirullah," Bi Taty kaget yang berdiri agak jauhhan.


Begitupun Bi Meri, "Ya Tuhan.., Nyonya apa-apaan.? bikin kotor kamar Ibu saja," Bi Meri dengan beraninya bicara seperti itu pada Bu Hesa.


Mata Bu Hesa melotot, "Yang bikin ini siapa,?" melotot kearah Bi Taty.


"Ibu yang buat."


"Kok gak enak, lagian saya mintanya jus jeruk bukan buah, bawa kembali dan buang sana, tidak dengar kah saya minta jus jeruk, bikin orang naik darah aja," memijat-mijat keningnya, Bi Meri mencari tisu lalu membersihkan yang kotor barusan muntahan Bu Hesa.


"Saya tidak tahu apa-apa nyonya," Bi Taty menarik gelas dan membawanya kembali ke dapur untuk di gantikan dengan rasa jeruk segar.


Usai membersihkan bekas muntahan Bu Hesa, Bi meri segera mengikuti Bi Taty turun menuju dapur, "Nyonya ada-ada saja, dan tumben-tumbenan menyuruh Ibu bikin jus biasanya Ibu juga minta kita yang bikinkan, kasian Ibu, sudah berat begitu," gerutu Bi Meri.


"Iya bener, gak lihat apa kondisi mantunya seperti apa, heran bikin rese tuh orang, selalu bikin Ibu stres maunya," tambah Bi Taty.


"Maaf Bu jusnya salah, bukan buah, tapi jeruk segar," ucap Bi Meri dan Bi Taty meletakan kembali gelas berisi jus di meja makan depan Naya.


Dengan herannya Naya menatap kedua asistennya seraya berkata, "Loh kok salah, kan mintanya jus buah, aku yakin kok, tadi Mama gak minta jeruk tapi.., buah."


"Bibi kurang tahu Bu, malah yang sudah di mulut pun di semburkan, kalau saja muka kita yang ada di depannya pasti sudah kena semprot nih muka, untung aja kami berjauhan," ujar Bi Taty sambil meneruskan tugasnya.


"Benar Bu," tambah Bi Meri sambil membuatkan jus jeruk buat Bu Hesa.


Naya hanya ngeliatin para asistennya sibuk, begitu mager nya Naya kali ini, Bu Hesa turun dari lantai dua menghampiri Naya di meja makan.


"Iish.., malas nya bumil satu ini, kerjaannya cuma bengong aja," Bu Hesa menarik kursi lalu duduk.


"Maklum lah Nya, kehamilan Ibu sudah semakin besar mana baby nya dua lagi, masih mending masih bisa gerak dan melayani suami juga, secara kondisi Ibu lemah, tidak seperti kita,'' bela Bi Taty, Bi Meri mengangguk juga Naya membenarkan.


"Ya sudah, istirahat sana, magrib juga, saya ada urusan diluar sebentar nanti," ucap Bu Hesa.


Naya menoleh kearah Ibu mertuanya, "Mau kemana Mak.?"


"Ketemu kawan lama," sahut Bu Hesa sambil berlalu dan menyambar gelas jus yang baru.


Mata Naya menatap langkah Ibu mertuanya, dan meneguk jus buah sayang bila harus di buang, setelah itu Naya pamit sama asistennya untuk ke atas, kebetulan dari jauh sudah terdengar suara adzan magrib bersahutan.


,,,,

__ADS_1


Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏


__ADS_2