Bukan Mauku

Bukan Mauku
Romantis


__ADS_3

Dimas mengulas senyum dan melanjutkan meraih tubuh istrinya, tuk di bawa ke ruang makan.


"Sayang..,?" panggil Dimas sambil berjalan.


"Hem..,?" sahut Naya semakin mengeratkan rangkulan tangannya di pundak Dimas.


"Sayang tahukan Citra itu selalu mengejar ku,?" sambung Dimas.


"Hem emang kenapa,? kan sudah pacaran sama Endro,?" tanya Naya.


"Emangnya sayang gak lihat apa pandangannya pada kita,?" ujar Dimas dan berhenti berjalan.


"Iya sih," sahut Naya menatap wajah Dimas yang juga memandanginya.


"Kan bunda yang bilang, untuk menghadapi pelakor, kita justru harus kuat, kita harus tambah mesra, tunjukan keharmonisan kita berdua--!" ucapan Dimas Naya potong.


"Ok, aku ngerti bahasnya lain kali aja, jangan sekarang, kasian sayang pegel, ayok jalan,? bahas hal tadinya nanti aja ya,?" Naya memotong perkataan Dimas, dan Dimas hanya mengangguk pelan serta melanjutkan menuruni anak tangga, sesampainya di bawa semua mata tertuju pada Naya dan Dimas, apa lagi Endro sampai bertepuk.


"So wet.., sungguh pasangan yang romantis, silahkan kakak,?" Endro menggeser kan kursi buat Naya duduk.


lain lagi dengan Citra dan Aldo yang memalingkan muka, Aldo sengaja mengalihkan pandangannya pada segelas air minum lalu meneguknya dan melanjutkan makan, Citra berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Terimakasih,?" ucap Naya dengan senyum tipis, lalu mengambil satu piring dan di isi beberapa menu untuk berdua, sebelum menyuapkan ke mulutnya membaca basmalah lalu menyuapi Dimas.


Endro semakin berdecak kagum, "Benar-benar pasangan yang sangat romantis dan mesra, bikin iri, kita jangan kalah dong sayang,?" Endro melirik dan merangkul pundak Citra, dan Citra hanya mengulum senyumnya.


"Kapan kalian nyusul,?" tanya Dimas pada Endro.


"Doakan aja bro, maunya sih, tapi.., Citra belum siap katanya, apa lagi belum lulus," sahut Endro.


"Em.., ada bagusnya nunggu lulus, tapi tidak ada salahnya juga menikah lebih cepat, kuliah masih bisa berlanjut kok," ucap Dimas sambil menyilang kan kedua tangannya di meja.


"Bi.., tolong bikinkan minuman jahe ya,?" Naya menoleh bi Taty, yang berdiri dengan tugasnya.


"Baik Bu, mau berapa gelas,?" tanya bi Taty.


Naya menoleh lagi, "Satu aja, buat aku doang."


"Siap, bibi bikinkan," jawab bi Taty.


Naya memandangi Dimas, "Mau nambah lagi gak yang.?"


"Sudah, cukup yang," ucap Dimas lalu meneguk minumnya.


"Aku sih, maunya gitu--!" Endro menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Emang kapan nak Citra lulusnya,?" tanya bu Hesa pada Citra.


"Em.., tahun depan Tante," jawab Citra.

__ADS_1


"Oh, sebentar lagi," ucap bu Hesa.


"Iya Tante," Citra mengangguk.


Aldo sudah selesai makannya, "Ok, terimakasih,? pada semuanya,? sekarang saya mau pulang," Aldo beranjak dari duduknya.


Dimas, mengangguk, "Ok, terimakasih juga dok,?" Dimas menjabat tangan Aldo.


"Iya, sama-sama, soal.., klinik nanti kita runding kan lagi," ucap Aldo sambil berjalan di ikuti oleh Dimas, yang sebelumnya Aldo pamit terlebih dahulu pada yang lain.


"Iya, saya juga akan merundingkan dengan Naya, karena saya ingin memakai namanya untuk klinik tersebut," Dimas melirik Aldo.


"Bagus tuh, berarti kau akan ikut sertakan istrimu di rencana pembangunan klinik kau tersebut,?" Aldo menghentikan langkahnya.


"Tentu," Dimas tersenyum dan menerawang.


"Saya salut, dan jujur saya iri pada kalian, dulu ketika saya masih baru menikah pun rasanya tidak seromantis kalian," Aldo menepuk pundak Dimas.


"Mungkin kalian ada kesalahpahaman mungkin,?" tanya Dimas, di jawab dengan gelengan kepala dari Aldo.


"Ya sudah, saya pulang dulu," Aldo mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.


"Ok, hati-hati," ucap Dimas mengangkat tangannya, Aldo pun mengitari mobilnya tuk masuk, dan melajukan dengan kecepatan sedang.


Dimas baru masuk setelah Aldo tidak terlihat lagi, Dimas menghampiri Naya yang masih di meja makan minum jahe.


Sementara yang lain, Di sofa dapur tengah bercengkrama, bu Hesa sangat akrab dengan Citra, melihat Dimas duduk di tempat semula, Endro pun berpindah lagi gabung dengan Dimas dan Naya di meja makan.


"Sudah yang," sahut Dimas sambil meneguk sisa minuman jahe punya Naya.


"Sayang mau,?" biar aku bikinkan," tawar Naya pada Dimas.


"Boleh yang," sahut Dimas.


"Aku juga boleh tuh di bikinkan kak, he..,he..,he..," sambar Endro agak malu-malu menggaruk tengkuknya.


Dimas melirik, "Kau pikir istrimu saya asisten apa,? main suruh aja," dengan nada jutek.


Naya tersenyum, "Gak apa-apa yang,? sekalian kan.?"


Dimas jutek, Endro malah cengengesan, "Hehehe, istri kau aja tak keberatan brow."


Tak menunggu lama, minuman jahe pun jadi, "Nih.., sudah jadi, silahkan di ambil Tuan-tuan,?" ucap Naya melirik Dimas dan Endro.


Dimas mengambil miliknya, di bawa ke meja tempatnya semula.


Endro melongo, "Lah tak di ambilin, saya kan tamu di sini.?


"Ambil sendiri,?" sahut Dimas sambil menyeringai.

__ADS_1


Endro pun mengambil sendiri, "Terimakasih Kakak.?"


"Iya sama-sama," jawab Naya.


"Dari kapan istri saya punya adik dirimu,?" ucap Dimas sembari meneguk minuman hangatnya.


"Em.., dari sekarang bah, kenapa sih kau sensi amat sama saya,? heran saya,?" Endro menggeleng sembari senyum tipis.


"Nggak apa-apa, sering-sering aja main sini Endro," titah Naya.


"Tuh kan,? Kakak baik banget sama saya, beda sama dengan suaminya jutek, ha..,ha..,ha..," sambung Endro sambil tertawa.


"Sialan kau," Dimas menepuk bahu Endro sembari melotot.


Endro menangkupkan kedua tangannya, "Maaf bro,? makasih Kakak,? aku pasti akan sering-sering main ke sini."


"Sudah, bawa pulang dulu cewe kau, gak baik lama-lama di sini,?" lirih Dimas melirik kearah Citra yang tengah mengobrol dengan Mamanya.


Endro dan Naya menoleh, "Mama kelihatan akrap sekali dengan Citra ya yang,?" Naya mengalihkan pandangannya pada suaminya.


"Hem..," sembari meneguk kembali jahe hangatnya.


"Saya masih betah di sini, tapi.., kalau permintaan Tuan rumah seperti itu, ya apa boleh buat,?" menaikan kedua bahunya.


"Hem.., abiskan dulu minumnya,?" pinta Naya.


"Kau boleh kesini lagi, tanpa dia,?" kata Dimas dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ok bos, kalau begitu," sahut Endro.


"Anak baik dan penurut," Dimas mengacak rambut Endro ketika melintasinya, sembari membawa gelas ke wastafel.


"Busset dah, emangnya saya anak kecil,?" ketus Endro sambil membereskan rambutnya.


Melihat itu Naya tersenyum samar, Endro berdiri menyambar gelasnya, di bawanya ke wastafel, menyimpan dan meninggalkannya, Dimas menggeleng.


Endro menghampiri Citra untuk di ajak pulang, "Sayang, sudah malam pulang yuk.?"


"Hah, pulang,?" sepertinya dia betah berada di sana.


"Hem.., mendingan nginap aja sama Tante di sini Cit, lagian besok libur juga kan,?" cegah bu Hesa.


Citra menyoren tasnya, "Terimakasih Tante,? lain kali aja Citra main lagi."


"Padahal Tante senang sekali bicara sama kamu Citra,?" sambung bu Hesa.


"Ayo sayang,? keburu malam," Endro meraih tangan Citra.


"Citra permisi dulu Tante,?" Citra memeluk bu Hesa, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, tanpa pamitan lebih dulu pada Naya dan Dimas.

__ADS_1


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2