Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mantu idaman


__ADS_3

"Lah, kan Mama cuma bilang ciri-ciri mantu idaman, kan bisa siapa aja yang jadi suaminya atau mertuanya," ujar bu Hesa.


"Terimakasih,? mungkin sudah dari sananya sih,? kecantikan aku sudah di anugrah kan Tuhan padaku," ujar Citra pada Naya.


"Alhamdulillah ya,? syukuri, di jaga agar cantik luar dan dalam," sambung Naya.


Citra menaikan alisnya, "Maksudnya.?


Naya tersenyum, "Maksud aku, kamu cantik di jaga, hatinya lebih di percantik lagi."


"Setuju," sahut Dimas dan Aldo berbarengan, akhirnya mereka saling tatap.


"Oh," Citra membulatkan bibirnya, Naya tersenyum simpul.


"Iya dong, pastilah Citra ini cantik bukan hanya luarnya saja tapi juga dengan hatinya," bela bu Hesa melirik Citra.


"Kalau hatinya cantik, kenapa mau jadi pelakor,?" kata Dimas sangat pelan tapi cukup terdengar oleh semua orang.


Dengan Refleks Naya melirik Dimas, "Sayang,?" dengan lirih dan menggeleng pelan, Dimas hanya senyum tipis.


Citra mendengar perkataan Dimas seperti itu, mukanya merah padam, tang menyangka orang yang dia puja-puja tega bicara seperti itu, namun bukan Citra namanya kalau mudah terbawa suasana, di mencoba menetralkan perasaannya dengan beranjak dari duduk, "Maaf toilet dimana ya,?"


"Ada di bawah, turun aja," ucap Naya dengan senyum terbaiknya.


"Mau aku antar baby,?" tanya Endro pada Citra, yang menggeleng, Citra menuruni anak tangga, tuk ke toilet yang berada di bawah.


Aldo membuka sarung tangannya, "Saya rasa tuk hari ini cukup dulu lah," sembari beranjak dari berjongkok nya.


"Ya makasih dok," ucap Naya.


"Coba aja lebih banyak gerak dan jalan," sambung dokter Aldo.


"Siap dok,?" ucap Naya sambil mengangguk.


Naya melirik Dimas yang tengah berpangku tangan, "Yang aku mau ke kamar lagian berapa menit lagi adzan magrib."


"Ok, yuk kita magriban dulu,?" Dimas beranjak dari duduk dan meraih tangan Naya di bantunya berdiri.


"Duh yang, kaki aku kayanya kesemutan deh," Naya meringis.


"Ya udah aku gendong aja," ucap Dimas yang langsung saja menggendong Naya ke kamar miliknya.


"Dok permisi dulu ya,?" Naya sebelumnya berpamitan dulu pada dokter Aldo.


"Silahkan,?" ucap Aldo mengangguk dalam.


"Kalian mengobrol aja dulu, nanti kami kembali," ucap Dimas sambil berjalan pergi membawa Naya masuk ke dalam kamar.


Citra yang dari balik pagar tangga, melihat Dimas membopong Naya ke dalam dalam kamar, mengepalkan tangan, dengan kesalnya, lalu bergabung kembali dengan Endro dan Aldo.

__ADS_1


Setelah di dalam kamar Dimas mendudukkan Naya di atas tempat tidur, "Sini ayah pijat yang kesemutan nya,?" Dimas berjongkok meraba kaki Naya yang langsung memekik, "Jangan."


Dimas menatap dengan tatapan tajam, "Sama Aldo mau aja di pijat,? kenapa sama ayah gak mau.?"


Naya melirik, "Sayang.., inikan lain lagi, ini kesemutan yang.., ini juga mulai hilang kok."


"Ah," Dimas melengos ke kamar mandi, di pandangi oleh Naya sembari menggeleng.


Naya turun dari tempat tidur, mendekati pintu kamar mandi menunggu Dimas keluar, tak lama Dimas pun keluar dan Naya masuk, tak selang lama Naya kembali.


Merekapun melaksanakan sholat magrib berdua, selesai membaca doa keduanya bersalaman Naya mencium punggung tangan Dimas dan Dimas mencium pucuk kepala Naya.


"Gak kesal lagi kan,?" Naya tersenyum manis.


"Nggak," Dimas menggeleng, "Tapi..,akan ada timbal baliknya."


Naya mengernyitkan keningnya, "Apa..?


Dimas hanya tersenyum dan membereskan sejadah nya, lalu di simpan di atas meja dengan bekas Naya.


"Sayang, kalau mau keluar duluan aja, nanti aku nyusul," ucap Naya sambil membuka Al-qur'an.


"Ok, nanti ayah jemput bunda untuk makan ya,? ok,?" sembari mengusap pucuk kepala Naya.


"Ok," Naya melirik Dimas yang melengos keluar kamar.


"Mereka di mana Bi,?" tanya Dimas sambil celingukan.


Bi Taty menoleh, "Oh, mereka di ruang tengah Tuan berkumpulnya."


Dimas mengangguk, "Apa mereka sudah makan.?"


"Belum Tuan, katanya mau menunggu Tuan dan Ibu," ucap bi Taty.


"Oh," Dimas meninggalkan tempat tersebut menuruni tangga di ikuti bi Taty dari belakang.


Dimas bergabung dengan mereka, Aldo pun kebetulan masih belum pulang, dan mengobrol dengan Endro, Citra, dan bu Hesa.


"Aku dengar kau akan membuka klinik bro,?" tanya Endro pada Dimas yang duduk di sofa seorang Diri.


"Baru rencana bro, tempatnya juga belum ada," sahut Dimas.


"Sepertinya deket-deket sini cocok loh Dimas," sambung Aldo pada Dimas.


"Iya Maunya sih seperti itu Al, tapu.., di pikirin lagi lah," Jawab Dimas serius.


"Apa ada lahan yang kosong atau sudah ada bangunannya gitu,?" Endri melirik Dimas.


"Lahan kosong ada di sebelah," sahut Dimas.

__ADS_1


"Em.., bagaimana kalau Kita kerjasama,?" ucap Aldo dengan nada yang sangat serius dan tatapan tajam.


Dimas mengernyitkan dahinya, dan menyilang kan tangan badan bersandar ke sofa.


"Bener, saya juga akan ikut serta," sambil mengedipkan matanya.


"Saya akan pikir-pikir dulu lah, dan saya akan runding kan dengan istri saya terlebih dahulu," ujar Dimas.


"Emangnya istri kamu bisa apa,?" tanya bu Hesa.


"Dia kan istri saya Mak, dan dia berhak tau, Mama juga gitu kan sama bapak,?" ucap Dimas pada Bu Hesa.


Bu Hesa hanya menyunggingkan bibinya, Citra hanya diam mendengarkan, tangannya sibuk dengan ponsel miliknya.


Dimas melirik jam yang di tangannya, "Sudah waktunya makan malam," semuanya beranjak dari duduknya, begitupun Dimas, sebelum ke dapur ia menaiki anak tangga untuk menjemput sang istri yang tadi masih mengaji.


Sesampainya di dalam kamar tampak Naya melipat alat sholatnya dan melirik Dimas yang tengah berjalan menghampiri.


"Sudah yang,?" tanya Dimas berjongkok.


"Sudah, kenapa,?" Naya memandangi wajah suaminya dengan penuh kasih sayang, melihat kedua netra matanya.


"Nggak, makan yuk,? lapar nih,? ucap Dimas sambil mencuri bibir istrinya dengan kecupan.


Naya mengusap bibirnya, "Apaan sih,? katanya lapar,?" sambil menggeleng.


"Iya lapar, lapar semuanya, he.., he..," Dimas terkekeh dan menyimpan alat sholat Naya di atas meja.


"Heran aku, tadi siang udah juga, masih aja..," gerutu Naya.


"Itukan siang sayang, bukan sekarang," lirih Dimas sambil meraih tubuh Naya, Naya pun mengalungkan tangannya di pundak Dimas.


"Eh, tunggu,?" ucap Naya.


"Kenapa sayang,?" tanya Dimas heran.


"Sayang, kerudung aku, ya sudah gak usah pake ya,?" goda Naya menatap lembut.


"Enak saja, hanya depan aku saja kelihatannya, kalau depan orang, bukan muhrim," Dimas mengenakan kerudung Naya, Naya pun tersenyum dan mencium pipi Dimas.


"Terimakasih sayang,?" ucap Naya sembari mengusap pipi sang suami, yang basah karena bibinya.


Dimas mengulas senyum dan melanjutkan meraih tubuh istrinya, tuk di bawa ke ruang makan.


,,,,


Mohon doanya dari reader semua untuk kesembuhan aku๐Ÿ™


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2