
Dimas semakin pelan dan menyudahi kegiatannya, Dimas terkulai lelah di samping sang istri, menarik selimut agar semakin menutupi keduanya sampai dada, Dimas mendaratkan ciuman di kening, pipi, bibir sang istri, "Makasih sayang,? sudah puaskan hem,? tidak di anggurin lagi kan sama suamimu ini,?" bisik Dimas senyum puas, membuat Naya malu dan membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Kicauan burung terdengar merdu di pagi hari ini, Dimas dan Naya tengah sarapan, "Yang,?" panggil Naya setelah meneguk air putih.
"Hem..,apa sayang,?" Dimas melirik.
"Boleh ya,? kalau aku jalan di sekitar sini, sama Bibi juga Rita," Naya menatap penuh harap.
Dimas memandangi dengan lekat wajah Naya, "Jangan jauh-jauh, dan..,hati-hati," akhirnya Dimas ijinkan meski kurang setuju.
"Makasih sayang,?" Naya mencium pipi Dimas, kemudian melanjutkan sarapan mereka.
Usai makan Dimas menghabiskan susu coklat nya sampai tandas, "Ya sudah aku pergi dulu, ingat jangan kerja apa pun, apa lagi capek, jaga diri baik-baik, jaga baby kita, jangan macam-macam.?"
"Ya Allah gitu amat, masa aku harus terkurung di kamar terus,?" Naya cemberut.
"Bunda kan sudah bias terkurung di kamar," Dimas terkekeh meraih kepala Naya di ciumnya.
"Emang Ayah gak mau ya, membuat istrinya bahagia,? aku bukan boneka yang," Naya mencium punggung lengan Dimas, " Hati-hati, cepat pulang."
"Iya sayang, Assalamu'alaikum..,?" Dimas melangkah dengan tas di tangan, Naya hanya menatap punggung suaminya dari jauh.
"Pak Mad, titip istri saya,?" Dimas menoleh sebentar Pak Mad yang tengah menyiram bunga.
"Baik Pak dokter," Pak Mad mengangguk dalam.
Dimas melajukan motornya setelah memakai helm, membawa motor ke jalan raya dengan kecepatan sedang.
Naya, membereskan bekas makannya, namun di ambil alih oleh Pak Mad, "Ibu istirahat saja, biar pekerjaan saya yang selesaikan," ujar Pak Mad.
Naya terdiam, "Ya sudah, aku ke kamar saja," Naya beranjak dari duduk ingin ke kamarnya, berapa langkah ia membalikan badan, "Pak, tolong nanti setelah tidak sibuk, belanja keperluan dapur, ini catatan dan uangnya," Naya memberikan beberapa lembar pecahan ratusan ribu pada Pak Mad.
Pak Mad menerimanya, "Baik Bu, nanti saya belanja," setelah itu Naya melanjutkan langkahnya ke kamar, Pak Mad beres-beres, datanglah istri dan putrinya.
"Ibu di mana Pak,?" bi Mari mencari keberadaan Naya.
"Di kamarnya, biasanya jam segini dia lagi menunaikan sholat pagi, sebentar lagi saya mau belanja, di rumah temani Ibu, karena Pak dokter sudah menitipkannya pada kita," ucap Pak Mm ad pada istrinya, istrinya pun mengangguk, setelah mereka sarapan, Pak Mad pergi belanja.
Di rumah tinggallah istrinya mengasuh Rita, dan Naya belum juga keluar kamar, Rita lari-lari ketika melintasi pintu terbuka sedikit, dia melihat Naya tengah bersimpuh dan berdoa, anak itu kembali menghampiri Ibunya, "Tante lagi berdoa Bu."
"Oya, jangan di ganggu ya,?" sahut bi Meri.
"Bu kenapa kok cara berdoa nya tante beda sama kita,?" anak itu menatap begitu lekat.
Bi Meri terdiam sesaat, "Oh, karena tante seorang muslim, dan kita non muslim, jadi sedikit berbeda dengan kita."
"Oh, gitu ya Bu,?" anak itu bermain kembali.
__ADS_1
Naya keluar dari kamar, mendekati Bi Meri dan Rita, "Kalian sudah lama,?" Naya melempar senyumnya.
"Sudah dari tadi Bu," sahut Bibi.
"Sudah makan belum kalian,? makan dulu sana, sam bapak," Naya melirik Rita yang anteng dengan boneka pemberian darinya.
"Sudah Bu, tadi kami sarapan sebelum suami saya berangkat berbelanja.
"Oh, bagus lah, si cantik sudah makan belum nih,?" Naya mencolek pipi gembul Rita.
"Udah tante."
"Dimana sarapannya,?" tanya Naya lagi.
"Rita sarapan di rumah, tadi pagi," melirik sebentar.
"Hem.., kanapa gak di sini sarapannya,? kan Bapak masak banyak di sini,"
"Rita lapar, jadi makan di rumah saja," jawab anak itu dengan dangan pintarnya.
Naya dan Bibi tersenyum, "Bi, katanya mau mengajak aku jalan di sekitar sini.?"
"Oh, apa Apk dokter mengijinkan,?" Bibi memandangi Naya.
"Sudah di ijinkan Bi, asal jangan terlalu jauh aja katanya,"
Naya mendekati bunga-bunga yang tadi di siram Pak Mad, "Cantik"
Naya menoleh Bibi, mereka berjalan-jalan pelan dan santai, kadang Bibi mengenalkan Naya pada orang yang berpapasan di jalan, mereka lumayan orangnya ramah-ramah, terkadang pemuda khususnya memandangi Naya dengan rasa penasaran, Naya berpenampilan lumayan sopan berkerudung juga, sementara di sana mayoritas terbesarnya non muslim, jarang yang muslim, makanya di daerah itu tidak ada masjid.
Selama jalan Naya sering mampir dan duduk di tempat sekiranya bisa di jadikan tempat duduk, setiap ada yang jualan jajan dulu, misalnya bakso Naya membeli bakso dan memakannya dengan lahap, Bibi juga makan bakso sambil menyuapi Rita.
"Maaf saya baru melihat anda, apa anda orang baru di sini," Tanya pedagang bakso tersebut, pria yang masih lumayan muda melihat Naya dengan rasa penasaran.
Di sela menyuap Naya menoleh memastikan pria muda itu mengajaknya bicara, Naya tersenyum, "Saya,? em.., saya tinggal di.., tepatnya di sebrang sana," sahut Naya, saya disini baru sekitar dua belas hari, ya sekitar segitu lah," Naya melanjut kan memakan makanan kesukaannya ya itu bakso yang sangat jarang ia temui.
"Ibu ini, istri dari dokter bedah yang baru tugas di sini," sambung bi Meri.
Pria tersebut terdiam dan mengangguk hormat, "Kalau anda suka dengan bakso saya, saya akan sering lewat ke depan rumah anda," dengan lirikan yang penuh arti.
Naya melempar senyumnya, "Ia bang, boleh," sahut Naya lalu membayar semua bakso yang Naya dan Bibi makan.
"Makasih Bu, semoga jadi langganan kami,?" ucap pria tersebut.
Naya dan Bibi pergi kearah jalan pulang, hari sudah mulai menyengat, melihat Naya pergi pria tadi menghentikan langkah Naya, "Sebentar,? membuat Naya menoleh.
"Kalau tidak keberatan kalian saya antar, hari sangat panas, mending saya antar pake motor," ajak pria tersebut.
__ADS_1
Naya terdiam memandang Bibi, "Kamu kan lagi dagang Dam.?"
"Tidak apa Bi, ada kawan saya yang nungguin," jawab pria tersebut yang di panggil Dam oleh bi Meri.
"Iya Bu, naik motor aja, Ibu pasti capek, Adam ini Bibi kenal kok, baiknya Ibu naik, biar Adam antar Ibu," titah Bibi.
"Makasih, sebelumnya,? tapi kalau cuma aku yang naik, aku gak mau, gak enak di lihat orang Bi, kecuali kita sama-sama naiknya," Naya pelan pada bi Meri, namun terdengar oleh Adam.
Adam tersenyum, "Ayok naik semuanya, muat kok," Adam mengerti maksud Naya, akhirnya mereka naik motor bareng-bareng, demi Naya agar tidak kecapean lagi berjalan apa lagi panas-panas gini.
Adam menjalankan motor dengan kecepatan sedang, tak lama di jalan sampai lah di halaman tempat tinggal Naya, di sana sudah ada Pak Mad menunggu, Naya di bantu bi Meri dan Pak Mad turun dan berjalan menuju kursi di teras, Naya duduk di situ, Adam mengawasi Naya dari motornya, kemudian hendak menancap gas untuk meninggalkan tempat tersebut namun, Bibi mencegah dengan memberikan uang dari Naya untuk sebagai ongkos.
"Maaf Bi saya bukan tukang ojek, saya tulus mengantar kalian, jadi uang itu berikan kembali pada Ibu teduh itu," Adam menatap uang tersebut tanpa mau menyentuhnya, kemudian melajukan motornya, sembari mengangguk pada Naya dan Naya balas dengan senyuman, Adam melarikan motor menjauh dari tempat tinggal Naya.
Bi Meri mendekati Naya, "Ini Bu, Adam tidak mau mengambilnya."
"Ya sudah buat jajan Rita saja Bi," lirih Naya meneguk air jus yang baru saja di sediakan oleh Pak Mad.
"Oh, terimakasih Bu," Bibi menyimpan ke sakunya Rita.
Di rumah sakit
Setiap hari di tengah kesibukannya, Dimas sering berbincang dengan dokter Sonia, mereka begitu akrap satu sama lain, yang mereka obrolkan kadang tentang kehamilan istrinya Naya, Sonia seorang dokter kandungan, yang beberapa tahun ini menyandang status janda anak dua, namun mungkin karena pandai merawat diri menjadikan Sonia terlihat lebih muda dan terkenal dengan sebutan dokter janda cantik, terkadang Dimas mengantar Sonia pulang di bonceng nya, seperti sekarang ini karena motor Sonia masih di bengkel Dimas memboncengnya pulang, sesampainya di depan rumah.
"Mampir dulu yuk dok, sebentar saja, tidak akan menyita waktu kayanya deh," Sonia menuntun tangan Dimas masuk ke dalam rumahnya, Dimas mau menolak merasa tidak enak hati karena sering ia tolak, dan kali ini mengalah, mampir sebentar, Dimas duduk di sofa dan Sonia masuk ke dalam lalu kembali membawa air dingin untuk Dimas.
"Minum dok,?" menyimpan di meja depan Dimas.
"Makasih Sonia,?" Dimas meneguknya kebetulan sangat haus, cuaca di luar sangat panas banget, Sonia ke dalam lagi sementara waktu, kemudian dia muncul dengan pakaian rumah yang sangat seksi drees pendek tanpa lengan dan sangat mencetak bentuk tubuhnya.
Dimas merasa canggung di hadapkan dengan pemandangan seperti itu, Dimas menunduk, "Anak-anak mu kemana kok sepi,?" Dimas celingukan.
"Mereka.., ada di dalam tengah bermain games," sahut Sonia duduk di samping Dimas, "Kenapa gak di habis kan minumnya, nanti aku ambilkan lagi, oya mau makan apa aku masak kan,?" Sonia menawari Dimas makan siang.
Dimas meneguk kembali minumnya, "Oh tidak usah merepotkan makasih,? aku mau pulang sudah siang, istriku sudah menunggu, lagian takut ada pasienndatang ke rumah," Dimas berdiri, namun tangan Sonia dengan refleks meraih lengan Dimas seolah mencegah untuk pergi, Dimas menatap kurang suka tangan Sonia yang memegangi lengannya, lalu melihat wajah Sonia membuat Sonia melepas lengan kekar Dimas.
"Maaf,?" Sonia memerah malu.
"Ok, saya pulang dulu, permisi,?" Dimas mengambil baju kebesaran yang tadi dia simpan di sofa lalu bergegas berjalan keluar rumah, mendekati motornya, setelah memakai helm Dimas mengangguk pada Sonia yang berdiri depan pintu, tidak butuh waktu lama motor Dimas melesat meninggalkan tempat tinggal Sonia.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb..
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya
__ADS_1