
Apa salahnya bila kita menghargai karya orang, dengan cara selalu lake, komentar, dll nya.
******
Dimas merebahkan bahunya ke sofa, mengalihkan pandangan dari tv ke bu Hesa, "Tak apa Mak, biar Sandi duluan yang menikah."
"Apa kamu tak ingin menikah Dimas.?" tatapannya semakin lekat.
Sejenak suasana hening, hanya ada suara dari tv.
"Aku, bukanya tak ingin menikah Mak, tapi belum waktunya aja, kalau Sandi mau menikah dulu, menikah lah aku gak apa-apa." Dimas beranjak sedikit berlari menaiki tangga, bu Hesa hannya bisa menatap kepergiannya.
Dimas menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, ia merasa frustasi mendengar Sandi mau menikah, sedangkan ia yang lebih tua belum juga punya calon juga, meski ia mencintai seseorang namun tak segampang itu untuk menikah.
******
Siang hari Naya sedang beraktifitas seperti biasa, suasana rumah masih tegang, adiknya yang baru di tinggal mati suaminya masih di tahan keluarga dari suaminya, belum di bolehkan pulang sebelum empat puluh hari.
"Lely gak boleh kesini dulu, sebelum empat puluh hari katanya." kata Naya pada Ibunya.
"Masa kerja boleh, pulang kesini gak boleh.?" ketus bu Nina. menggendong putra bungsunya.
"Gak Tau ah," Naya melanjutkan pekerjaannya, sesekali ia inbox kan di FB sama seseorang, berbagi cerita tentang adiknya, hingga siang menjelang.
Ting, ada suara pesan masuk di hpnya Naya, ia pun merogoh sakunya, "Dari Dimas," gumam Naya. "Sudah masuk belum pulsanya.?" isi pesan dari Dimas.
Naya memicingkan matanya, "Dia isikan pulsa.? tumben.?" pikirnya, setelah ngecek pulsa memang benar ada pulsa masuk, "Sudah terimakasih.?" balas Naya dan pesan terkirim, lama tak ada balasan lagi.
"Bukannya dia masih di pedalaman? kok bisa isikan pulsa aku.?" Naya menyimpan hpnya kembali.
Di malam yang sunyi semilir angin menyelinap kedalam kulit, Naya mendudukkan tubuhnya di kasur, sambil memainkan ponselnya, sekitar jam delapan malam, nada dering pun berbunyi.
"Ya.?" Ia menempelkan benda pipih itu ke pipinya.
"Halo, lagi apa sayang.? Sapa Dimas.
__ADS_1
Naya tersenyum, "Santai aja nih"
"Gak ganggu kan.?" tanya Dimas,
"Gak, sudah pulang kah.? bisa telepon.?" kata Naya menyelidik.
"Sudah kemarin malam, kenapa gak telepon, pulsa sudah di isikan.?" ujar Dimas.
"Oh ya makasih ya.? malas ah, telepon aja sendiri, kenapa harus aku yang telepon.?" sahut Naya cuek,
"Ya Tuhan..,! buat apa juga di isikan pulsa kalau gak di pake telepon aku.? yang di pake telepon cowok lain lagi." sesal Dimas, menggerutu.
"Siapa juga yang suruh, aku gak minta di isikan kok, buat apa ngasih kalau gak ikhlas.? ambil lagi sana.?celoteh Naya padahal hatinya ketawa sendiri.
"Apa maksudnya.? gak bersyukur ya jadi orang.!" gerutu Dimas.
Hening..., gak ada yang bicara, hanya suara napas saja yang berhembus, Dimas memulai pembicaraannya lagi, "Yang gimana.?"
"Gimana apanya Dim.?" Naya lirih.
"Aku sayang sama kamu, maukah menerimaku.?" kata Dimas, ingin menjalin suatu hubungan.
Dimas menggaruk tengkuk yang tak gatal, mukanya sedikit di tekuk.
"Mau kan jadi pacarku.? kan tau aku dah suka dari dulu.? kita jalani hubungan ini, aku yakin kalau kita akan berjodoh.! aku akan membuatmu bahagia, tidak seperti yang dulu mantanmu." rayu Dimas lembut.
Naya mendengarkan uraian Dimas dengan seksama.
"Jarak yang jauh pasti bisa di tempuh, asalkan ada niat dan Tuhan mengijinkan, kita pasti akan bertemu." Dimas meyakinkan.
Dengan helaan napas yang panjang, Naya mencoba membuka suara. "Dimas aku gak akan bosan katakan, aku wanita lumpuh, aku bukanlah wanita sempurna dan tak sebaik yang kau bayangkan, di luar sana banyak wanita yang lebih layak untukmu, yang pantas mendampingi kamu, aku hanya ingin ketulusan, bukan keterpaksaan,"
"Aku gak akan melihat kondisimu, aku pasti menerimamu dengan tulus, aku hanya akan melihat dari hatimu, bagiku kau wanita terbaik" tambah Dimas.
"Dari mana tahu hati aku.? kita belum pernah ketemu, dan gak mungkin ada yang bisa terima kondisi aku yang seperti ini.? aku gak seperti yang kau bayangkan." Naya kekeh.
__ADS_1
"Biarpun aku belum ketemu kamu, tapi..,aku tahu dari tutur katamu, selama ini, kamu harus yakin pasti ada laki-laki yang akan menerima apa adanya." ucap Dimas.
"Gak ada yang bisa di harapkan dari aku Dimas, ngerti gak.?" kata Naya, sembari menunduk. dan tak terasa ada buliran air yang menggenang, di sudut matanya.
"Yang..,gak ada salahnya kan bila aku mencintai seseorang,?" Dimas meyakinkan. "Sekarang aku cuma minta jawaban dari kamu, jawab aku, mau gak menjalin hubungan dengan aku.?" tanya Dimas.
Naya terdiam sejenak, tuk berpikir sesaat. "Aku cuma wanita--!
"Aku mau dengar alasan apa pun, yang aku mau hanya jawaban, ya atau tidak.?" Dimas memotong kalimat dari Naya.
"A-aku..,mau, jika memang kamu serius, boleh lah kita jalani hubungan ini" jawab Naya.
"Bener sayang.? aku di terima.?" Dimas begitu bahagia mendengarnya, seakan tak percaya.
Naya mengangguk pelan, "Iya..,aku menerimamu."
"Beneran.?" tanya Dimas.
"Iya," dengan nada kesal, namun penuh senyuman di bibirnya.
Dimas senang bukan kepalang akhirnya cintanya terbalas juga. "Terimakasih sayang terimakasih banyak."
"Iya," bunga yang kering di tanah yang gersang kini mulai tersirami, yang akan membuatnya subur, ini akan cukup berkesan meskipun hanya hubungan jarak jauh alias LDR.
Setelah sambungan terputus, Naya merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan mata namun terasa sulit di pikirannya hanya ada Dimas, hatinya di penuhi bunga-bunga yang indah, secara tidak sadar ia mengakui kalau sesungguhnya ia pun menyimpan rasa terhadap Dimas.
Sementara itu Dimas, seusai mengakhiri perbincangannya dengan Naya, wajahnya begitu terpancar rona kebahagiaan. ia mendongak kan kepalanya ke atas dengan ekspresi yang sangat bahagia sembari menyatukan tangannya, rasanya ingin sekali berjingkrak-jingkrak mengekspresikan kebahagiannya itu.
Semakin hari mereka semakin intens berkomunikasi, semakin lama mereka lebih memperlihatkan perhatiannya masing-masing, Naya semakin perhatian, bawel pada Dimas hingga setiap detailnya Naya perhatikan.
Dimas pun semakin terlihat sosok yang sangat mencintai wanitanya, meskipun dalam hubungan jarak jauh, Naya memang lebih dewasa dalam segi usia, namun bagaimana pun dia seorang wanita yang kurang kasih sayang, kadang ia marah, merajuk tanpa sebab, namun ia sebisa mungkin bersikap sabar dan lembut pada Naya.
Tak ada suatu apapun yang mereka tidak tahu antara satu sama lainnya, tak ada rahasia apa pun.
Hari minggu saatnya Lely kembali dari tempat suaminya yang sudah tiada, di antar sama mertua dan saudara suaminya, Naya langsung menyambut Anisa keponakannya, mungkin karena lama tak bertemu bocah itu pun menghindar dari Naya.
__ADS_1
,,,,
Guys, aku sadar novelku begitu receh tak bermutu, sehingga tak ada yang suka buktinya, di statistik jumlah pembacaku Selalu menurun,ðŸ˜ðŸ˜ membuat aku tak semangat, ayok dukung aku dong pliss, dukung aku tuk berkarya semampuku,!