Bukan Mauku

Bukan Mauku
Ijab dan kabul


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib, di rumah pak Nanang ramai oleh saudara-saudara dekat dan tak ketinggalan para tetangga pun apalagi hadir, di dapur riuh oleh ibu-ibu yang memasak serentak buat makan malam, ketika nanti ijab kabul selesai.


Dimas sudah tak sabar dengan acara akad, namun jantungnya begitu dag dig dug tak menentu, ada ke khawatiran kalau dia tak bisa berucap ketika ijab kabul nanti.


Di awali bismillah dan dua kalimah syahadat acara akad pun di mulai, pa Nanang berjabat tangan Dimas.


"Ananda Yusuf Arya saya nikahkan da kawinka engkau dengan putri saya bernama Kanaya bin Nanang, dengan maskawin bacaan surah al-fatihah dan al-ikhlas, juga sejumlah uang, di bayar tunai."


Kemudian di ikuti oleh Dimas, dengan lantang mengucapkan. "Saya terima nikahnya Kanaya bin Nanang dengan maskawin tersebut, tunai."


"Alhamdulillah." ucap semua yang ada di sana, sembari mengusap wajah masing-masing.


Kini Dimas sudah mengucap ijab dan kabul dengan lancar, akhirnya Dimas dan Naya sudah menjadi pasangan suami istri, Naya yang masih di kamar, namun mendengar jelas dengan semua yang yang terjadi di ruang tengah, ia mengusap wajahnya setelah mengucap Aamiin, atas selesainya ucapan ijab kabul barusan.


Wajahnya begitu berbinar, rona kebahagian terpancar dari wajah Dimas dan Kanaya saat ini, setelah pihak KUA menjelaskan akan kewajiban seorang suami juga istri, Dimas beranjak dan meminta jalan pada orang-orang yang tengah duduk, Dimas berniat ke sebuah kamar yang Naya tempati, ia ingin mengajak Naya bersamanya berkumpul dengan yang lain,


Naya tengah duduk di temani Lely, sepupunya dan yang lain juga anak-anak yang tak mau diam di tempat, Dimas menghampiri dengan senyuman yang mengandung arti, rona wajah yang tampak sangat bahagia tersebut berlutut tepat depan Naya, menggenggam tangan Naya, Naya tersenyum bahagia pada Dimas.


Dimas mencium tangan Naya. "Sayang kita sudah menikah." Naya tak bisa berucap dengan kata-kata hanya tatapan dan air mata yang seolah berbicara, yang berada disitu merasa terharu. "Ayok kita ke ruang tengah yang.?" Dimas berdiri tangannya menggenggam tangan Naya, tanpa berucap, Naya hanya mendongakkan wajahnya pada Dimas, Dimas menatap sesaat, tanpa bicara Dimas mengangkat tubuh Naya dan Naya mengalungkan kedua tangan di leher Dimas takut terjatuh karena merasakan tubuhnya melayang, Dimas membawa istrinya ke ruang tengah agar duduk bersamanya di tempat semula.


Karena mereka tau kondisi Naya, memaklumi adegan tersebut, dan berharap sangat kalau Dimas akan menjadi langkah kaki yang sempurna buat Naya.


Sebagian yang melihat Naya di gendong Dimas, khususnya para wanita teramat terharu, dan saling berdecak kagum dan berkata, "Beruntungnya...ya.? semoga ia benar-benar jodoh Kanaya yang terbaik."


Kanaya duduk tertunduk, di samping suaminya, Yusuf Arya, yang sedang mendatangani kertas buat surat Nikah, bergantian dengannya.


"Sekarang kalian sudah menjadi suami istri jadi kalian bebas mau melakukan apa juga, ha..ha..ha.. sekarang kalian boleh bersentuhan, Yusuf kau silahkan mencium kening istri anda, jangan lupa membaca bismillah, dan Naya cium tangan suami dengan hormat." perkataan Bapak dari KUA tersebut, di turut kan oleh Dimas dan Naya, untuk pertama kalinya Dimas mencium kening istrinya, begitu juga dengan Naya mencium punggung tangan Dimas yang kini sudah menjadi suaminya.


Semua turut merasakan kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh kedua mempelai tersebut, tak henti-hentinya senyuman terlukis dari wajah Dimas dan juga Naya.

__ADS_1


Dalam sesaat makanan sudah tersaji di tengah-tengah mereka semua, dak tak menunggu lama semua mengambil piring masing-masih lalu di isikan nasi dan beberapa menu yang tersaji.


"Mau makan apa yang.?" Naya menatap suaminya yang tak henti tersenyum bahagia ke arahnya. "Mau makan kamu." bisik Dimas begitu pelan sehingga seakan tak terdengar, Naya menggeleng pelan sembari mengulum senyumnya.


"Ya sudah, kalau gak mau." yang tadinya ingin mengambil piring ia urungkan. "Lapar yang" bisik lagi Naya, namun Naya sedikit mencebikkan bibirnya. "Tadi gak mau."


"Mau yang sama sayur dan telor aja, tapi suapi ya.? ya.? ya.?" Dimas mengedipkan matanya.


"Manja." gerutu Naya sambil menyendok kan nasi, sayur sup dan telur, permintaan Dimas. "Tapi suka kan.?" Dimas menyeringai, Naya tak menjawab kemudian menyuapi Dimas, Dimas pun tak membiarkan Naya tak makan ia mengambil alih sendok yang di tangan Naya yang di pake untuk menyuapinya, Dimas menyuapi Naya, mulanya dia menolak dengan menggelengkan kepalanya, namun Dimas memaksa hingga dia pun mau.


"Makan sayang..,nanti tak ada tenaga buat tidur dengan diriku.?" goda Dimas, dengan masih berbisik, seketika Naya mencubit pinggang pria yang kini sudah menjadi suaminya. "AW..,sakit, pekik Dimas, sebagian orang yang tengah menyantap makanan mendengar dan menoleh pada Dimas, begitupun om Fadil yang duduknya dekat dengan Dimas tersenyum melihat keponakannya begitu sangat bahagia.


Muka Naya nampak malu. pipinya memerah, selesai makan pihak KUA dan Pak haji pun pulang, begitupun yang lainnya, satu per satu pulang, lagian waktu semakin malam, dan besok akan ada acara syukuran jadi akan berkumpul kembali.


"Mau ke kamar sekarang gak yang.?" tanya Dimas, menyentuh tangan istrinya, yang di balas dengan anggukan.


"Hem..,?" dengan tatapan sayu, menyentuh pipi suaminya.


Dimas mencium tangan Naya. "Aku janji akan berusaha membahagiakan dirimu.?" dengan terus mencium tangan Naya.


"Aku gak butuh janji yang.?" sahut Naya, manarik tangannya perlahan, "Yang aku butuhkan adalah bukti, bukan janji."


"Tak cukup kah yang.? sekarang aku membuktikannya dan sudah menjadi suami dirimu kan.?" ucap Dimas beranjak dan duduk di samping Naya, ia memeluk pinggang Naya dan mendekatkan hidungnya di pipi Naya.


"Yang..,aku belum sholat isya.!" Naya menjauhkan pipinya dari wajah Dimas, Dimas sedikit kecewa, namun apa daya.., istrinya mau sholat dulu.


"Yang sudah bisa sholat,?" tanya Naya menatap suaminya lembut.


Dimas menggeleng pelan. "Belum yang besok ajarin ya.? sekarang aku capek." kata Dimas membaringkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau ambil Wudhu dulu, eh mau ganti baju dulu, kau keluar sana.? sebentar." pinta Naya melirik suaminya, Dimas bangun dari tidurannya. "Kenapa.?" dengan ekspresi wajah penasaran.


"Em.., nggak kenapa-napa, malu aja." Naya pelan,


"Kenapa mesti malu,? nanti juga aku lihat semuanya." Dimas tersenyum licik.


"Itukan nanti bukan sekarang." elak Naya lagi.


"Apa bedanya sayang hem.?" menghembuskan napas ke telinga Naya, membuat Naya menoleh, "Ih, nggak ngerti.?" ketus Naya, sembari mengambil setelan di lemari dekatnya berada.


"Mau aku gantikan.?" Dimas memainkan matanya semakin nakal godanya.


Dengan mengangkat bahunya. "Gak usah bisa sendiri kok, ya sudah balik badan sana.?" Naya memohon.


"Nggak mau, suka-suka aku lah mau melihat istri aku yang.!" dengan senyuman nakalnya.


"Yang...,!" Naya dengan penuh permohonan, membuat Dimas mengalah. "Iya sayang iya..," dan membalikkan tubuhnya, memunggungi Naya yang mau ganti baju.


Tak selang lama Naya sudah mengganti bajunya. "Sudah." dan Dimas membalikkan badannya.


"Sudah.? mau aku antar ke kamar mandinya yang.?" tanya Dimas dan berdiri.


"Tidak ah, aku sendiri aja." Naya beranjak pelan. "Tapi.., yang, aku antar ya.? aku takut kau terjatuh." Dimas cemas.


"Tidak yang..,aku akan pelan-pelan kok, jadi maklum kalau lama ya.?" Naya mengusap bahu Dimas yang duduk kembali, Naya keluar tujuan kamar mandi, sementara Dimas kembai membaringkan tubuhnya, seakan tak percaya kini dia sudah menjadi seorang suami dari wanita yang bertahun-tahun ia rindukan.


,,,,


Salam jenal buat semua reader yang sudah mampir di cerita Dimas dan Kanaya ini, terimakasih bagi yang sudah menunggu up namun author, namun sangat lelet hihi., ok, dukung selalu ya agar aku tambah semangat belajar menulisnya, jangan lupa Lake, komen, dll nya. ok.?

__ADS_1


__ADS_2