
"Dery awa...,s" jerit Naya yang kaget khawatir terjadi sesuatu, Dery pun sangat kaget mendengar jeritan Naya langsung menoleh ke depan.
Ceki..,t Dery langsung mengerem tiba-tiba, Dery bengong terkaget-kaget jantungnya berdebar sangat lah kencang, orang yang melintasi jalan pun mematung di tempat dia pasti merasa kaget yang tidak terkira, sampai orang-orang menghampiri dan menarik perlahan ke pinggir jalan.
Naya melongo mulut menganga sesaat, kemudian tersadar lalu turun menghampiri orang tersebut, "Maaf, Ibu tidak ke napa-napa kan,?" menatap sangat cemas.
"Bawa mobil itu hati-hati dong, emangnya jalan sendiri, bagai mana kalau si Ibu ini ke tabrak," kata orang di sana.
"Iya nih, sudah tau ini jalan umum, bukan jalan nenek moyang mu," tambah yang lainnya,
"Iya maaf, semuanya aku minta maaf banget, kami tidak sengaja, lagian Ibu tidak apa-apa kan,?" lagi-lagi bertanya pada Ibu itu yang sudah mulai tenang.
"Ibu tidak a-apa kok, saya yang salah yang nyebrang seenaknya," ucap Ibu tersebut.
"Syukurlah Bu, tapi yakin tidak apa-apa,?" masih menatap cemas.
"Yakin," jawab Ibu itu lagi.
"Masih mending Ibu ini selamat, kalau tidak, anda yang harus bertanggung jawab," ucap seorang Bapak-bapak.
"Saya yang bawa mobil saya yang mengemudi, jadi jangan salahkan perempuan ini, lagian sudah jelas Ibu ini baik-baik saja, kalau terjadi yang tidak di inginkan pun saya yang akan bertanggung jawab," tegas Dery menatap tajam Bapak tersebut.
Rupanya Dery turun dan mengikuti Naya dari belakang yang menghampiri kerumunan tersebut.
"Ma-maksud saya hati-hati Tuan," sedikit gugup dan menunduk.
"Beraninya sama perempuan," gumam Dery dengan nada dingin.
Naya memberikan sejumlah uang pada Ibu tersebut takut nanti ada yang di rasa tinggal berobat saja, kemudian Naya kembali ke mobil di buntuti oleh Dery.
Keduanya sudah berada dalam mobil, Dery sudah bersiap memutar setir, menoleh Kanaya sesaat, "Saya minta maaf,? tadi saya lengah."
"Sudahlah, tidak terjadi yang serius juga, alhamdulillah Allah masih melindungi kita," mengusap dada dan menghela napas dalam-dalam, melirik Dery, "Yuk jalan."
"Oke," Dery mengangguk pelan kemudian melajukan mobil dengan lebih hati-hati.
Selang kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai di halaman rumah Naya, Dery memarkirkan mobil ke garasi, Naya turun berjalan menuju pintu, sebelumnya menutup pintu mobil.
"Assalamu'alaikum..,?" melangkah masuk kedalam Rumah yang tampak ramai, mertuanya tengah asik mengasuh baby twins Arif sama kakeknya dan Kayla bersama Nenek di gendong.
"Hi.., buah hati Bunda, anteng gak sama kakek dan oma sayang hem..,?" Naya menghampiri keduanya.
Rasa capek terobati dengan melihat mereka tertawa sangat ceria.
"Mereka anteng gak Mak,?" menatap Ibu mertuanya lembut.
"Anteng ya, Kayla anteng ya, juga Abang sangat anteng, bermain terus bobo mimi susu dan main lagi, mereka sangat anteng, kau mandi dulu sana, biar mereka nanti kami antar ke atas," ujar Bu Hesa.
Naya memandangi buah hatinya," Baiklah, aku mandi dulu ya Mak," Naya berjalan gontai menuju tangga.
Sesampainya di kamar langsung masuk kamar mandi memutar keran untuk mengisi bath tub, ingin berendam sebentar, menghilangkan rasa gerah dan penat.
Dering ponsel berbunyi, tangan Naya mengambil dan menerima telepon yang ternyata dari Dimas.
^^^Naya: "Halo.., ada apa yang?"^^^
^^^Dimas: "Bunda sudah sampai rumah belum.?"^^^
__ADS_1
^^^Naya: "Sudah alhamdulillah, ini lagi berendam sebentar, gerah, penat."^^^
^^^Dimas: "Oh syukurlah, Ayah cuman mau menanyakan sudah sampai apa belum aja, oya gimana baby kita anteng gak selama di tinggalkan bunda.?"^^^
^^^Naya: "Oh, anteng, sekarang juga setelah bermain sama opa dan oma nya tuh."^^^
^^^Dimas: "Iya kah,? baguslah yang, ikutan dong berendam.?"^^^
^^^Naya: "Apaan sih, sudah makan siang belum, minum obat juga.?"^^^
^^^Dimas: "Sudah baru selesai nih, mau istirahat."^^^
^^^Naya: "Em.., ya sudah istirahat lah, semoga cepat sembuh, cepat pulang juga, aku sayang Ayah."^^^
^^^Dimas: "Ayah juga sangat-sangat sayang Bunda, eummuah," Dimas memberikan sun jauh.^^^
Naya tersenyum bahagia berasa masih pacaran, akhirnya Dimas menutup telepon, dan Naya melanjutkan bersih-bersihnya.
Ketika keluar dari kamar mandi baby twins sudah berada di tempatnya masing-masing tertidur lelap, tapi Ibu mertuanya tidak nampak mungkin sudah kembali turun.
Setelah berpakaian dan memakai bedak tipis di kulit mukanya, Naya menunaikan sholat, tidak lupa memanjatkan doa agar suaminya segera sembuh dan tentunya cepat pulang juga dan berkumpul lagi.
Di Rumah sakit Dimas di temani Aldo, seperti saat ini mereka tengah mengobrol.
"Wah.., ada bunga segala, dari siapa nih,?" Aldo memperhatikan buket bunga di meja.
Dimas menoleh, "Oh itu dari Marina."
"Marina,?" Aldo mengerutkan keningnya, "Berasa kenal."
"Iya masa gak kenal, pasti kau ingatlah," timpal Dimas dengan seutas senyum di bibirnya.
"Ah, benar sekali, tapi itukan masa lalu, sekarang lain, kami sudah berbeda," ucap Dimas membuang napasnya.
"Iya kah,?" menaikan kedua bahunya.
"Sekarang dia sudah bercerai dan jadi single perent," ucap Dimas memandang kosong.
"Terus kenapa,? apa akan kau nikahi juga,?" Aldo menatap dengan tatapan sangat tajam.
Dimas melotot dengan sangat sempurna, "Maksud mu apa,? tega benar saya bila melakukan itu," hardik Dimas pada Aldo.
"Ya.., kali aja, secara CLBK cinta lama bersemi kembali."
"No, istri dan anak saya mau di kemana kan,? sembarangan saja kau bicara."
"Kan saya bilang kali aja," elak Aldo memalingkan pandangan pada lain arah.
"Hah.., tidak, justru saya akan jodohkan dia sama kau," ujar Dimas menaik turunkan alisnya memandangi Aldo dengan ekspresi mengejek.
"Gak usah, bisa cari sendiri saya," sahut Aldo menggeleng.
"Awas saja kau nyakitin istri kau itu, kalau sampai selingkuhi dia, liat saja, saya bisa bertindak sampai habis kau," ancam Aldo sambil menatap curiga tiba-tiba merasa geram.
"Hah.., mana mungkin saya nyakitin Istri saya, apa lagi sudah ada baby kami, sembarangan kalau ngomong, lama-lama mulut mu seperti Endro," Dimas tak terima di dicurigai sahabatnya.
"Karena saya merasa curiga, entah kenapa saya jadi meragukan kesetiaan kau," semakin curiga.
__ADS_1
"Hah.., gila kau," memalingkan muka kesembarang arah, Ia mengingat tadi ketika bertemu dengan Marina, Dimas memandang kosong ia menjadi merasa bersalah pada istrinya.
"Tapi seandainya kau lepaskan istri mu itu, saya siap menampung kok, serius," ketus Aldo dengan tatapan geram.
Dimas melotot dengan sangat sempurna, "Kau tambah gila saja, siapa yang akan melepaskan istri 'ku,? sembarangan, tak kan pernah, heran aku, atas dasar apa kau curigai saya? hanya gara-gara ketemu Marina, otak saya masih waras, saya seorang suami--!"
"Iya suami makanya mungkin saja kau merasa iba ketika mendengar mantan ditinggal suaminya," Aldo sangat lantang.
"Astagfirullah.., kenapa kau jadi begini hah,?" Dimas menggeleng kepalanya sungguh tidak mengerti akan sahabatnya ini.
"Saya tahu, dulu dia cinta berat sama kau, dan mungkin saja rasa itu akan tumbuh kembali bila kau membuka hati," Aldo menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Itu cuman pikiran mu saja bro, itu cuma mungkin, sudah lah kau bukannya membuat 'ku tenang malah menambah pusing," Dimas menarik selimut lantas berbaring, malas bila harus terus berdebat dengan Aldo.
Sementara Aldo dengan wajah di tekuk memeluk bantal sofa dan membaringkan tubuhnya sembari menonton televisi.
Aldo tercengang ketika pintu terdengar ada yang mengetuk, perasaan waktu periksa pasien sudah berlalu, lantas siapa yang datang? Dimas pun menoleh kearah pintu dan juga kearah Aldo mereka saling tatap.
Aldo bangkit merapikan pakaiannya berjalan mendekati pintu, ia buka perlahan, dan ternyata seorang wanita cantik ditangannya membawa paper bag, "Kau, Aldo ya?" wanita itu langsung mengenali pria yang tengah berdiri depan pintu sangat antusias.
Aldo membuang napas, "Iya, apa kabar,?" tanya Aldo menatap datar seorang wanita tersebut.
"Aku baik Al," dengan refleks Marina memeluk Aldo dan mencium pipi kiri dan kanan dan Aldo sangat merasa canggung di buatnya.
Dimas terkejut Marina berani datang malam-malam begini, kemudian Dimas tidak bisa menahan ketawa melihat tingkah Marina yang memeluk Aldo dan menciumnya, ternyata bukan cuma sama dirinya saja bersikap seperti itu.
Aldo melangkah mundur dari Marina dan melepaskan tangan Marina, "Ternyata kau sudah banyak berubah ya,?" ucap Aldo terheran-heran, ia mengusap pipinya yang lembab.
"Ah gak juga, aku masih seperti yang dulu, kau yang banyak berubah," hendak mengusap kedua rahang Aldo yang langsung Aldo tepis.
Kemudian Marina melenggang mendekati Dimas, "Malam.., gimana kabarnya sekarang sudah lebih baik kah?" menatap Dimas dengan tatapan penuh arti.
"Sudah lebih baik," sahut Dimas mesem.
"Syukur lah, ini saya bawakan makanan juga," membuka paper bag dan menyimpan di atas nakas.
Aldo menghampiri, "Oya ada apa ke sini malam begini.?"
"Jenguk lah," sahut Marina dengan cepat.
"Ya jenguk, kan bisa pagi atau siang gitu," ucap Aldo seperti polisi sedang mengintrogasi seseorang, dengan tangan di dada tampak sangat serius.
"Ya Maaf jika kehadiran saya mengganggu istirahat kalian," menunduk sedih.
Dimas dan Aldo saling pandang satu sama lain, namun tak ada lagi yang bersuara.
"Tapi.., apa saya salah bila saya ingin memper'erat jalinan silaturahmi diantara kita," dengan masih nada sedih.
"Tidak salah," ucap Dimas.
"Salah sih tidak, cuma.., kurang tepat aja waktunya, mungkin kamu single, tapi dia beristri apa kata istrinya nanti?" jelas Aldo sangat serius.
Marina mendongak, "Terus kemana istrinya, bukan kah seharusnya dia yang menemani suaminya di Rumah sakit.?"
"Kami punya Baby twins di Rumah," elak Dimas sembari sesekali meringis.
"Dia harus menjaga bayinya, jadi tidak bisa menemani di sini," ucap Aldo memperkuat perkataan Dimas.
__ADS_1
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan pada kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️