
Naya mengajak pekerjanya untuk duduk santai dan mengobrol, tentang masalah yang tengah dihadapi, sesantai mungkin Naya mengajak mereka berbincang.
Setelah meneliti dengan seksama, Naya menemukan sebuah keganjalan dalam masalah ini, namun Naya berusaha tidak mengutarakan dan tidak ingin memperbesar, takut apa yang ia curigai tidak sesuai dengan kenyataan, ya sudah, semoga tidak akan terulang kembali, itu harapan Naya ke depannya.
"Oke cukup dulu lah perbincangan kita kali ini, aku harap kedepannya kalian dapat bekerja dengan baik dan lebih berhati-hati lagi," Naya menatap ke tiga pekerjanya, yang mengangguk tanda mengerti akan maksud Naya.
"Mulai hari ini, aku akan sering turun dan menangani semuanya," tegas Naya lagi.
Dimas masuk membawa paket makanan yang Naya pesan buat pegawainya, "Ini paketnya sudah datang yang.?"
Naya menoleh dan mengangguk, "Iya kasihkan sama mereka Lisa aja, buat makan."
"Terimakasih Bu," timpal Lisa menatap paket yang Dimas jinjing dan memberikan pada dirinya.
Naya menghela napas berat, "Ya sudah, kami pulang dulu, oya jangan lupa kita harus mengutamakan kualitas, jadi kalau kerja jangan terburu-buru santai aja tapi hasil memuaskan, buat apa terburu-buru hasil banyak tapi kualitas atau hasil jahitan jelek," ujar Naya lagi, kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut yang sebelumnya berpamitan.
Dimas mengekor dari belakang, dia kurang faham akan masalah usaha istrinya, mungkin disebabkan lain bidang.
"Huuh..," Naya membuang napasnya, "Aku harus kuat, tidak boleh menyerah dengan keadaan," batin Naya melirik suaminya yang berjalan jadi lebih dulu.
"Yang,?" panggil Naya ada sang suami dari tadi membisu.
"Hem..," gumam Dimas melirik dan menghentikan langkahnya.
"Ijin ya?"
"Soal apa,?" menatap heran sang istri.
"Aku-aku akan sering sibuk lagi, butik memerlukan pengawasan yang lebih, sebab--!" Naya menjeda perkataannya.
"Sebab apa,?" penasaran, akan kelanjutan perkataan istrinya.
Naya menoleh kanan dan kiri, "Sebab, aku melihat ada kejanggalan yang, entah ini cuma perasaan 'ku atau gimana, yang jelas aku harus lebih memperhatikannya."
"Ya terserah Bunda aja, karena Bunda yang lebih mengerti, yang penting jangan lupa kewajiban saja," sembari meraih tangan Naya diajaknya masuk ke dalam Rumah.
Sore-sore Dimas tengah berkumpul dengan Aldo dan juga Endro, perban yang masih membalut kepala Dimas kini mau Aldo buka.
Ting tong.., suara bel berbunyi, Bi Meri membukakan pintu rupanya seorang wanita cantik tengah berdiri di depan menghadap jalan.
"Non Citra,? tumben tidak bareng datangnya sama Tuan Endro," sapa Bi Meri dari balik pintu.
"Iya tadi saya masih ada tugas, jadi sendiri deh ke sini nya," dengan senyuman manisnya.
"Oh gitu, masuk Non, mereka Tuan Endro sedang berada di atas," timpal Bi Meri mempersilahkan masuk pada tamunya.
"Makasih," sambil mengikuti langkah Bibi, kemudian Citra menaiki anak tangga yang katanya Endro di lantai dua.
"Wah.., sekarang terlihat lagi gantengnya," goda Endro ada Dimas yang baru saka buka perban.
"Baru tahu ya,?" timpal Dimas sembari mengedipkan matanya.
"Em..," Endro memegangi dagunya sendiri seolah sedang berpikir, "Tapi.., gantengan saya lah, secara saya belum Bapak-bapak," tambah Endro menaik turunkan alisnya.
"Sialan kau, tapi terserah lah," sahut Dimas sembari meraba-raba kepalanya.
Aldo ketawa kecil mendengar percakapan sahabatnya ini.
Endro melirik kearah tangga dimana Citra menapaki kakinya di sana, "Sayang, kau datang menyusul juga," wajah Endro nampak merona bahagia.
"Iya sayang," Citra duduk di sebelah Endro berhadapan dengan Dimas, Endro meraih tangan citra lalu di kecup nya.
"Em.., Naya dan baby twins nya di mana,?" Citra celingukan.
__ADS_1
"Ada di kamar, masuk saja," timpal Dimas menunjuk kamarnya.
"Ya udah aku masuk dulu ya,?" tanpa menunggu jawaban dari Endro, Citra berdiri melangkah kan kakinya mendekati pintu kamar Naya.
Naya tengah bermain dengan baby twins nya, baby Arif dan Kayla tengah rajin-rajinnya tengkurep dan sebentar lagi belajar duduk, Naya tersenyum melihat kedua buah hatinya, tiba-tiba terbesit ingat keluarganya di Sukabumi, "Ya Allah, aku kangen keluarga 'ku, sayang kalau kalian sudah berusia satu tahun kita ke tempat Kakek dan Nenek di Sukabumi ya," mencolek pipi gembul Kayla.
"Hi.., baby twins..,?" Citra berhambur baby twins yang berceloteh dan memutar tubuhnya yang tengkurep.
Naya melirik Citra, "Kapan datang,? tadi datang Endro sendiri," Naya heran.
"Oh baru saja," meraih dan memangku Baby Arif.
"Oh gitu," Naya membulatkan bibirnya.
Naya menggendong Kayla, dan mengajak berbicara., "Kayla gembul.., gemees Bunda gemees."
"Oh ya, Tante Hesa kemana ya, kok gak ada,?" sedikit melirik kearah Naya.
"Mama.., sudah pindah ke Rumah yang lama," timpal Naya.
"Loh kok pindah? bukannya tinggal di sini ya,?" Citra bingung.
"Iya bener, tapi kemauan mereka untuk pindah, aku gak bisa memaksakan agar mereka di sini," Naya menaikan kedua bahunya.
Citra mencebikan bibirnya, "Aku kira masih di sini."
"Tidak, oya kapan kalian akan menikah,?" tanya Naya mengingat hubungan Citra dan Endro.
"Entah, aku belum siap menikah," sambil menggoyangkan bahunya, Citra memang belum memikirkan tentang menikah meski Endro sering membahasnya.
"Iya kah,? Endro baik loh," ucap Naya akan pandangannya pada Endro.
"Oya baik, tapi.., aku belum siap gimana," timpal Citra lagi.
"Dia mah kebiasaan, ngejar cewe yang gak suka, cewe yang suka banyak bro..," tambah Endro pada Aldo yang tertegun diam.
Citra berbaur dengan kekasihnya, setelah baby Arif tertidur dan Naya bersiap untuk menunaikan sholat magrib.
"Adzan sudah berkumandang, saya akan sholat dulu," Dimas beranjak dan meninggalkan mereka, Aldo pun berdiri dan turun.
"Sayang di sini panas, aku mau ke kolam renang ah cari angin," tutur Citra meraih tasnya.
"Yuk kita ke sana," Endro menggenggam pergelangan tangan Citra diajaknya ke kolam renang dan mencari angin di sana.
"Hem.., sejuk di sini, didalam panas," Citra menghirup udara yang sejuk.
Citra dan Endro duduk di kursi sisi kolam, di depannya terhampar kolam untuk berenang dan di sampingnya kolam ikan mas yang siap masak.
"Berenang yuk baby,?" ajak Endro melirik wanitanya.
"Nggak ah dingin," tukasnya.
"Dingin,? kan ada aku yang siap menghangatkan tubuh mu kapan saja," Endro menyeringai.
"Iih.., lebay," sahut Citra mendelikkan matanya pada Endro dan bibirnya melengkungkan senyuman.
"Kok lebay sih, gak diakui kah,? kehangatan tubuhku Baby," tangan Endro merangkul bahu Citra.
Citra melirik tangan Endro yang menempel di bahunya lalu menatap kearah wajah Endro yang juga dengan memandanginya, sementara mereka bersi tatap sangat lekat.
Semakin lama tatapan mereka semakin dalam, wajah Endro pun mendekati wajah Citra, hembusan napas Endro menyapu kulit pipi mulus Citra, netra mata keduanya tertuju pada bibir yang semakin mendekat satu sama lainnya.
Tangan Endro menarik leher Citra dengan perlahan, tangan yang satunya menyingkirkan rambut Citra di selipkan kebelakang telinganya, tinggal satu senti lagi mendaratkan kecupannya, tiba-tiba terdengar suara deheman dari arah samping.
__ADS_1
"Ehem..., ehem.."
Keduanya terkejut dan terkesima mendengar suara itu, langsung menoleh ke sumber suara di mana Aldo berdiri menyilang kan tangan di dada dan menatap tajam, sontak keduanya menjauh.
"Hati-hati bung," ucap Aldo membuang pandangan ke sembarangan tempat.
"Kau bikin kaget saja," Endro kesal, sementara Citra menunduk tersipu malu, memainkan rambutnya untuk menetralisir perasaan nya yang tidak karuan, dia tidak berani melihat wajah Aldo.
"Bukan saya yang bikin kaget, tapi kalian yang terlalu asik dengan suasana seperti ini," timpal Aldo dengan nada datar.
"Emang gak bisa ya gak ganggu orang bercinta,?" Endro tampak kesal atas kedatangan Aldo yang membuyarkan aksinya.
"Sorry lah bila kedatangan saya mengganggu kesenangan kalian," Aldo memutar tubuhnya dan meninggalkan Endro dan Citra di pinggir kolam renang.
Endro menatap punggung Aldo yang berjalan masuk ke dalam Rumah Dimas, kemudian melihat Citra yang terdiam membisu seribu bahasa.
"Kenapa sayang,?" menatap lekat kearah Citra.
"Nggak," Citra menggeleng, "Pulang yuk,?" menggenggam lengan Endro.
"Sebentar lah dong sayang, sabar cantik," cup mencium kening Citra.
Citra memanyunkan bibirnya, dan bersandar ke bahu Endro memandangi langit yang tampak luas dan bersih dari jauh terlihat kerlap-kelip bintang di atas sana.
Dimas baru saja selesai sholat magrib bersama sang istri, tenang dan damai rasanya setelah menunaikan sholat berdua, seperti biasa selepas sholat Naya mencium punggung tangan Dimas suaminya.
Dimas pun mengecup pucuk kepala Naya, "Maafkan Ayah yang belum bisa membahagiakan dan belum bisa menjadi suami atau imam yang baik buat Bunda."
Naya menatap wajah Dimas, "Aku juga belum bisa jadi istri yang baik untuk Ayah, bahkan jauh dari kata sempurna," lirih Naya menatap netra mata Dimas.
"Bunda cukup menjadi istri yang baik untuk Ayah, Bunda cukup sempurna buat Ayah, justru Ayah yang malu, yang seharusnya Ayah menjadi imam ini malah kebalikannya, gimana kalau nanti anak menanyakan tentang agama pada Ayah, harus jawab apa coba Bun,?" lirih Dimas pilu.
"Yang.., kok sedih,? kan kita bisa sama-sama belajar, misalnya kita harus menjaga atau hati-hati dalam berucap, aku gak mau anak-anak berkata kasar, mereka harus belajar berkata lembut."
"Iya sayang, bantu Ayah juga agar menjadi suami yang baik, Ayah yang baik untuk anak-anak kita, bantu ya.?"
"Ya udah, aku mau turun dulu ngecek buat makan malam," Naya membuka mukenanya dan menyimpan di tempatnya.
"Ya, Ayah juga mau menemui mereka lagi," sambil melipat sejadah nya.
Naya sudah berada di dapur, "Bi masak apa, ada yang perlu aku bantu.?"
"Eh Ibu, gak perlu repot-repot, Ibu jaga baby saja, biar yang masak kami berdua ya Mer,?" tutur Bi Taty sambil melirik Bi Meri yang tengah memasak juga.
"Iya Bu, terus baby nya sudah bobo kah,?" tanya Bi Meri menoleh Naya majikannya.
"Sudah Bi, mereka sudah bobo, ya sudah kalau begitu, aku tinggal lagi ya, hik..,hik..,hik.., sedih aku di usir dari sini," sembari berjalan pergi, dari tempat tersebut, membuat kedua asistennya tersenyum lucu.
Aldo, Endro dan Dimas tengah berbincang serius soal Klinik yang sedikit lagi rampung pembangunan nya, itupun baru dua lantai, sementara lantai ketiga akan di pending dulu, dan minggu depan akan di laksanakan peresmiannya, jika dalam waktu dekat ini benar-benar rampung pengerjaannya.
Citra yang dari toilet berjalan sambil sibuk memasang antingnya yang barusan lepas, ketika ingin duduk dekat Endro Citra harus melintasi Dimas, namun kakinya tersandung kaki meja membuat bruggg "Aw...," pekik Citra yang terjatuh, tepat kepangkuan Dimas, dengan refleks tangan Dimas menyangga pinggang Citra dan tangan Citra melingkar di leher Dimas, semua terkejut, terkesima dengan kejadian tersebut.
Dimas dan Citra saling tatap sesaat, Naya yang baru menapaki lantai dua tak sengaja melihat pemandangan yang cukup bikin matanya sakit, Dimas tengah memangku tubuh Citra, tangan kanan melingkar di pinggang Citra dan tangan kiri menyentuh paha Citra yang putih mulus, Naya menutupi mulutnya yang menga-nga tak menyangka akan melihat pemandangan itu, "Astagfirullah," gumamnya.
Matanya langsung berkaca-kaca teramat sakit melihat itu semua, Naya bergegas memasuki kamarnya, sambil menangis.
Dimas tersadar dan melepas rangkulannya, Citra pun segera berdiri seraya berkata, "Maaf,?" dan menjauh menunduk sangat malu, sungguh ini tidak disengaja.
Aldo apa lagi Endro termangu, seakan tidak percaya, dengan apa yang terjadi, keduanya memang melihat itu murni kecelakaan, bahkan yang membuat bikin kacau kepikiran, ya itu pandangan Naya yang pasti salah paham, sebab yang dia lihat pas di pangkuan bukan pas jatuhnya.
****
Bagi reader yang selalu mengikuti novel ini aku ucapkan terimakasih banyak, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya bila ada kata yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan cerita semata-mata atas kekurangan penulis yang baru belajar menulis, doa terbaik aku panjatkan untuk kalian semua reader 'ku love love love ♥️♥️
__ADS_1