
"Bukan buang sampah yang," sambil mungut kembali botol kosong tersebut lalu duduk kembali di sebelah Naya dan berbisik, "I love you Bunda."
Naya senyum tersipu malu, "Aku ingin bertemu anak-anak 'ku."
"Iya besok pagi sayang," mengecup punggung tangan Naya dengan lembut.
"Em.., pengen sekarang yang," Naya cemberut.
"Hem.., boleh lah, tapi dari luar aja lihat nya."
"Beneran boleh, makasih yang," cup mengecup pipi Dimas kanan dan kiri.
Dimas menyiapkan kursi roda untuk Naya, kemudian memindahkan Naya ke kursi roda lalu di dorong nya menuju tempat bayi mereka, tidak lupa inpusa nya juga.
Sesampainya ruang bayi pandangan tertuju pada dua inkubator tempat bayi prematur, yang bertuliskan nama baby Arif Aryadimantara dan baby kayla Aryadimantara, karena memang itulah nama-nama yang mereka siapkan untuk mereka.
Naya melihat kearah Dimas lalu kearah baby nya, Naya tak mampu berkata-kata hanya menatapi putra dan putrinya dari jauh, dan rasa haru memenuhi hati hingga air matanya menetes.
"Masya Allah.., sungguh besar kuasa mu ya Allah..," menutup mulutnya, kebahagiaannya tak bisa di lukis kan dengan kata-kata.
''Ingin sekali menyentuhnya,'' lirih Naya menoleh suaminya yang tengah memandangi kedua bayinya yang lucu.
''Iya sabar ya,'' mencium pucuk kepala Naya.
Kemudian Dimas mendorong kursi roda kembali ke kamar Naya untuk beristirahat.
Dimas pun naik berbaring di sebelah Naya dan memeluk sang istri sangat erat.
Matahari sudah menampakkan dirinya dan suhu hangatnya mulai di rasakan di kulit, Pak Mad sudah tiba di RS dimana Naya di rawat dengan tas pakaian di tangan, semalam Dimas menelpon meminta dikirimkan pakaian ganti buat Naya dan dirinya.
Usai dapat pakaian ganti Dimas langsung masuk ke kamar mandi, badannya sudah lengket dari kemarin tidak mandi.
"Di rumah gimana Pak,?" tanya Naya pada Pak Mad yang duduk di sofa.
"Baik-baik aja Bu, oya nanti Nyonya mau datang tapi menunggu nona Maria dulu," ucap Pak Mad.
"Oh, masya Allah aku lupa, Pak Mad tunggu Abang dulu ya, aku lupa ngasih uang belanja mingguan," Naya menepuk keningnya.
Pak Mad mengangguk dan meneruskan nonton berita di televisi, tidak lama Dimas keluar dengan sangat segar dan wangi, Naya menoleh suaminya yang tampak segar, "Yang tolong berikan Pak Mad uang belanja."
Dimas memberikan dompetnya pada Naya, lalu Naya raih dan mengambil beberapa lembar uang, kemudian diberikan pada Pak Mad.
"Pak ini berikan pada Bibi ya buat belanja," Naya lirih menoleh Pak Mad.
''Baik Bu,'' lalu Pak Mad berpamitan.
''Oya Pak kesini pake motor Endro kan,?" Dimas menghentikan langkah Pak Mad.
"Iya," memutar badannya.
"Tinggalkan motornya, sebentar lagi Endro ke sini bawa mobil, jadi Pak Mad pulang bawa mobilnya, tunggu saja si parkiran."
"Baik Pak," sembari melengos keluar ruangan dan berpapasan dengan dokter yang akan memeriksa Naya.
"Dok, aku ingin bertemu anak-anak 'ku, ingin menggendongnya dok," Naya menatap penuh harap.
"Iya bu sebentar ya, baiknya ibu di periksa dulu," dengan senyum ramahnya.
Naya mengangguk, mengikuti serangkaian pemeriksaan, dan Dimas memerhatikan dari jauh.
Setelah Dokter memberi penyuluhan, dokter pun pergi sebelumnya berkata, "Sebentar lagi baby Ibu akan di bawa kesini sama perawat tapi.., tidak boleh lama-lama ya.?"
"Oh, iya makasih Bu dokter," ucap Naya.
__ADS_1
Kemudian dokter pergi, meninggalkan ruangan tersebut, Dimas mengusap kepala Naya dan menyuapi makan.
"Kamu juga makan dong, itu di meja udah siap kan sarapan dulu sana, nanti sakit," Lirih Naya melirik sarapan Dimas di meja.
"Iya sayang, kamu aja dulu terus minum obat biar cepat sembuh dan cepat pulang juga," ujar Dimas sembari memberikan minum pada Naya.
Selepas Naya minum obat barulah Dimas sarapan, tidak lama datanglah dua perawat membawa baby kayla dan baby Arif, Naya sangat antusias melihat mereka datang, dan segera memeluknya satu /satu di peluknya sangat erat.
"Masya Allah lucunya, wajahnya benar-benar mirip, bisa-bisa aku gak bisa membedakan mana Arif dan mana Kayla yang," melirik Dimas yang menatap baby-nya sembari melukiskan senyuman di bibirnya.
"Kalau gak mirip ya bukan kembar dong sayang," ucap Dimas, "Dia Arif, dan yang ini Kayla Bunda."
"Hem.., kalau di lihat-lihat Arif lebih mirip Ayah deh hidungnya, bibirnya," ucap Naya memandangi putranya dengan lekat.
"Kayla juga mirip Ayah hidung nya, tapi.., wajah mirip Bunda cantik."
"Iya lah cantik, perempuan, kalau laki-laki pasti ganteng."
"Pasti dong ganteng, Ayah nya."
"Sus, boleh aku beri asi,?" Naya menoleh suster.
"Boleh Bu, silahkan."
"Yang, gendong sebentar, aku beri asi dulu Arif," Naya bersiap memberi asi.
"Tapi yang itu kan punya Ayah kok dikasihkan mereka," bisik Dimas namun begitu jelas terdengar.
Naya menatap Dimas lalu menyeringai dan menggeleng, "Apaan sih.?" mulanya Naya kesusahan maklum baru pertama kali menyusui baby sehingga suster bertanya.
"Ini anak pertama dari kehamilan pertama juga ya Bu.?"
"I-iya suster," sahut Naya.
"Iya makasih suster."
Setelah keduanya diberi asi baby Arif dan Kayla di bawa lagi ke tempatnya, kedua suster sudah pergi Dimas duduk di samping Naya, "Gimana rasanya memberi asi baby kita.?"
"Maksudnya,?" Naya mengernyitkan keningnya.
"Iya rasanya gimana,? geli kah, atau gimana gitu kan baru pertama kali memberi asi pada baby kita," Dimas pelan.
"Oh, biasa aja."
"Biasa aja."
"Iya biasa aja."
Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Naya sehingga napasnya menyapu kulit pipi, dan hati Naya dag dig dug seperti baru pertama kali di sentuh saja.
''Kangen," lirih Dimas namun terdengar suara pintu di ketuk dari luar, "Aish..,Ganggu aja," ucap Dimas, lalu keduanya menoleh ke sumber suara.
Tok..
Tok..
Tok.., pintu di ketuk sambil di buka dan masuklah Bu Hesa, Maria dan istri Sandi, "Selamat pagi, permisi kakak ipar, kau baik-baik saja kan,?" sapa Maria memeluk Naya.
"Baik," membalas pelukan Maria dan istri Sandi.
"Selamat ya kak, eh mana keponakan 'ku,?" celingukan.
"Ada, di ruang inkubator," jelas Dimas.
__ADS_1
Bu Hesa berdiri depan Naya, "Kok bisa kau di culik mantan segala,? apa kau suka berhubungan dengan dia.?"
Naya kaget kok Bu Hesa malah bertanya tentang itu, bukannya bertanya kabar atau cucu, malah nanya seperti itu, begitu pun Dimas menatap heran kearah Ibunya.
"Tidak, aku gak pernah hubungan lagi dan aku gak tau kenapa tiba-tiba dia membawa 'ku."
"Kalau gak pernah hubungan kenapa sampai dia tau kau berada,?" menaikan alisnya dan tetap bersikap dingin.
"Naya, tidak tahu Mak," Naya menggeleng.
"Anak buah dia ada yang bekas pekerja Dimas Mak," jelas Dimas tidak ingin istrinya tersudutkan.
"Hem..," gumamnya dengan tatapan curiga, "Jangan sampai kalau bayi kau bukan cucu 'ku."
Naya tercengang mendengar ucapan Bu Hesa yang mencurigai dirinya selingkuh sampai menganggap baby nya bukan anak dari Dimas, "Astagfirullah Mak, kenapa Mama bicara seperti itu,?" Mata Naya berkaca-kaca.
Sesaat Dimas terdiam dan memejamkan matanya, tidak pernah menyangka Ibunya sampai tega bicara seperti itu.
"Mama.., kenapa bicara seperti itu, tentunya baby Kakak cucu Mamak lah, iya kan Kak,?" timpal Maria melihat Mamak nya Dan Naya yang mengusap air mata.
"Mak, kenapa Mama tega bicara seperti itu," suara Dimas serak rasanya suara seakan tercekat di tenggorokan, "Baby kami adalah putra dan putri kami berdua, Naya tidak pernah macam-macam, saya bisa pastikan mereka baru ketemu kemarin saja setelah sekian lama," lalu Dimas menoleh istrinya yang menangis dan mengangguk.
Sakit rasanya, perih, luka bekas sesar terlihat wujudnya setidaknya dapat di raba namun luka hati tak berwujud dan tak berdarah, Naya menangis tersedu, Dimas memeluk sang istri mengecup dan mengelus lembut punggung nya.
"Jangan dengar kata Mama yang, maafkan Mama," terus mengelus lembut punggung Naya, dan melirik kearah Bu Hesa, "Kenapa Mama tega."
"Ck.., udah ah Mama mau melihat cucu Mama," sambil berjalan meninggalkan Tempat itu.
Maria ikut haru dan mengusap matanya yang ikutan basah, Istri Sandi mengikuti Ibu mertuanya, "Kak, maafin Mama ya, mungkin dia hilap sampai bicara seperti itu," ucap Mari sambil mengusap tangan Naya yang memeluk Dimas.
Naya mengangkat kepalanya dari dada Dimas menyeka air matanya dengan masih tersedu, "Gak apa-apa kakak maafin kok."
"Sudah jangan menangis lagi, lihat tuh matanya sembab jadi cantiknya berkurang," Dimas menatap mata Naya dan ikut menyeka pipi Naya yang basah, "Ayah sayang Bunda," kembali mendekapnya.
"Ya sudah Maria ke tempat Baby dulu ya, kalian lanjutkan mesraan nya he..,he..,he..," sembari bergegas meninggalkan Dimas dan Naya di sana.
Maria berjalan di koridor RS tersebut "Mana sih ruang baby Abang,?" sambil celingukan, kebetulan ada suster yang lewat, "Suster, mau tanya tempat eh ruang bayi prematur dimana ya,? jangan bilang di hatiku ya."
"Oh, tuh dikit lagi ketemu mbak," mengangguk dan melanjutkan jalannya.
Maria mengikuti arah yang ditunjukkan oleh suster tersebut, kemudian mempercepat jalannya.
"Aish.., lucu sekali cucu 'ku, Arif ganteng, Kayla cakep, ya Tuhan.., gemess sekali lihat mereka, ingin sekali mencubitnya," gumam Bu Hesa.
"Wah.., lucunya keponakan 'ku, ih gemees.., sayang sekali masih belum bisa di sentuh, ih.., gereget aku," ucap Maria mengaitkan tangan di depan dagunya, "Lucunya seperti anak 'ku waktu masih baby iihh.., jadi pengen punya baby lagi."
Istri Sandi cuma melongo.., melihatnya tak tau harus berkata apa, hanya memandangi dengan senyuman.
Maria melirik kakak iparnya, "Gimana menurut kakak.?"
"Hah..,? lucu menggemaskan, kenapa.?"
"Bener, gemes deh aku lihatnya, bikin gereget em.., pengen nyubit pipinya yang masih merah itu," sambung Maria.
"Mama lihat itu baby nya Abang mirip Abang masa di bilang bukan cucunya Mama, tega benar ngomongnya," Maria gak segan-segan sama Mamanya.
"Ehh.., siapa bilang seperti itu, Mama itu cuma bercanda," sahut Bu Hesa menyunggingkan bibirnya.
"Apa..,? bercanda kata Mama, Mama sungguh keterlaluan," ucap Maria sambil meninggalkan Bu Hesa, istri Sandi mengejar Maria, Bu Hesa hanya memanyunkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dengan ucapan Maria.
,,,,
Apa kabar reader 'ku, yang masih mengikuti kisah recehan ini, semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.., aku mohon dukungannya, dan terimakasih sebanyak-banyak nya, karena kalianlah ada aku yang di kenal sebagai penulis recehan ini, tidak akan ada aku yang sekarang tanpa ada kalian semua🙏🙏🙏
__ADS_1